Senin, 12 September 2016

BERCERMIN DARI KELUARGA SAKINAH NABI IBRAHIM


Khutbah Pertama
اللهُ اَكْبَرْ٣×) ( اللهُ اَكْبَرْ (٣×) اللهُ اَكبَرْ 
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الْقَائِلِ (وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً)، أَشْهَدُ أنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ| وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين .
(أَمَّا بَعْدُ)
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang mulia,
Maha besar Allah yang telah melimpahkan segala nikmat kepada kita, sehingga pada kesempatan pagi yang segar ini, kita dapat melaksanakan  shalat Idul Adha bersama-sama. Semoga kita senantiasa mendapat ridha-Nya dan  menjadi hamba-Nya yang kian bertaqwa. Amin.
Hadirin hadirat yang berbahagia,
Pada setiap perayaan Idul Adha, kita tidak akan lupa dengan Kisah Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai Kekasih Allah. Beliau  rela menyerahkan apa saja demi cinta dan baktinya kepada Allah SWT.
Kehidupan Nabi Ibrahim sudah berlalu lebih dari 3.900 tahun, namun hingga kini kisah Nabi Ibrahim masih sangat layak untuk diteladani.  Nabi Ibrahim telah memberikan banyak contoh dalam kehidupan.  Kisah Nabi Ibrahim erat hubungannya dengan sejarah dibangunnya Ka’bah, munculnya air zam-zam, rangkaian ibadah haji,  ibadah qurban,  hingga teladan membangun keluarga bahagia. Khusus potret keluarga sakinah beliau akan menjadi bahasan utama pada pagi hari ini.
Hadirin hadirat yang berbahagia,
Sejarah keluarga Nabi Ibrahim dapat dimulai dari kisah pernikahannya dengan Siti Sarah. Mereka tinggal di Palestina. Namun sayang, pernikahan ini tidak kunjung melahirkan keturunan. Akhirnya, atas saran Siti Sarah, Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar yang selama ini melayani rumah tangganya. Dengan ijin Allah, Siti Hajar melahirkan seorang putra, bernama Ismail.
Lahirnya Ismail merubah situasi rumah tangga Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim harus berpisah dengan Siti Hajar dan Ismail yang sangat ia cintai.  Allah telah mengutus Nabi Ibrahim membawa pergi Siti Hajar bersama putranya ke suatu tempat yang belum diketahui. Dengan penuh ketaatan dan rasa tawakkal kepada Allah, Nabi Ibrahim pun meninggalkan Palestina menuju suatu tempat yang sangat jauh, sekitar 1500 KM, seperti perjalanan dari Surabaya ke Jakarta lalu balik ke Surabaya lagi, yang kini dikenal dengan nama Mekkah. Saat itu, Mekkah adalah suatu tempat yang hanya berupa hamparan padang pasir yang kering dan tandus. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tidak ada orang, tidak ada hewan, tidak ada tumbuhan, apalagi mata air kehidupan.
Setelah melakukan perjalanan berminggu-minggu,  sampailah Nabi Ibrahim dan keluarga kecilnya di tempat yang dikehendaki Allah. Nabi Ibrahim menyiapkan tempat tinggal sederhana di lokasi itu. Tatkala dirasa cukup, Nabi Ibrahim pun pamit meninggalkan Siti Hajar dan putranya untuk kembali ke Palestina. Sebenarnya, Nabi Ibrahim merasa sedih tatkala harus meninggalkan istri dan putranya di tempat yang gersang. Hati Siti  Hajar pun diliputi rasa takut karena harus hidup sebatang kara di padang pasir bersama putranya yang masih kecil. Tak terbayang betapa perpisahan itu bagaikan pertemuan terakhir antara mereka. Kalau tidak ada pertolongan Allah, mustahil seseorang akan bisa bertahan hidup di tengah padang pasir yang panas dan sunyi.
Hadirin hadirat yang mulia,
Ada sebuah percakapan menarik sebelum perpisahan itu.
Siti Hajar berkata “Wahai Nabi Ibrahim, kemana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami?” tanya Siti Hajar seraya memegang ujung jubah Ibrahim dengan cemas. Namun, Ibrahim hanya diam seribu bahasa.
“Apakah ini perintah Allah?” tanya Siti Hajar lagi.
“Ya” jawab nabi Ibrahim.
“Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami” tegas Hajar dengan keimanannya yang kuat.
Lalu Ibrahim berpesan kepada Siti Hajar:
"Bertawakkallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya. Allah Yang Maha Perkasa tidak akan melantarkan kalian berdua tanpa perlindungan-Nya. Insya Allah." 
Lalu Ibrahim berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam surat Ibrahim: 37
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah  rezeki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.
Ayat di atas menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya dapa dimaknai sebagai bentuk kepasrahan Ibrahim setelah Allah memberi tugas untuk membangun Ka’bah sebagaimana surat Ali Imran: 96 dan 97.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ () فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imron:96-97)
Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar dan Ismail menjalani hidup berdua  dengan bekal yang tidak banyak. Setelah bekal mereka habis, Siti Hajar dan Ismail mulai kehausan. Siti Hajar berusaha mencari air. Diletakkannya Ismail, lalu ia mulai lari mendaki bukit Shafa untuk melihat siapa tahu ada orang yang bisa menolongnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dilihatnya. Siti Hajar lalu lari  mendaki bukit Marwah. Tetap saja tidak ada orang yang dilihatnya. Siti Hajar berulang-ulang berlari sampai tujuh kali mendaki bukit Shafa dan Marwah sambil berdoa agar Allah menolong mereka. Peristiwa ini kemudian diabadikan sebagai ibadah sai.
Di tengah kelelahan, kehausan, dan kelaparan, Allah kemudian menunjukkan kekuasaan-Nya. Muncullah air zam-zam dari kaki Ismail. Air ini kemudian menjadi sumber kehidupan siti Hajar, Ismail, dan orang-orang yang berdatangan.
Ketika kemudian Nabi Ibrahim menjenguk siti Hajar dan Ismail, betapa terkejutnya beliau karena padang pasir yang dulunya sepi sunyi kini menjadi ramai dengan banyaknya kafilah yang datang dan bermukim di sekitarnya. Ini adalah bentuk jawaban dari doa Nabi Ibrahim yang tulus kepada Allah.
Hadirin hadirat yang mulia,
Dari kisah ini, dapat dipetik pelajaran bahwa untuk membangun keluarga sakinah ada  4 syarat yang harus dipenuhi.
1.      Ketaatan kepada Allah
Iman dan taqwa menjadi penentu kualitas seseorang di hadapan Allah. Nabi Ibrahim telah menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada keluarganya. Cinta yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah menunjukkan bahwa Allah adalah tujuan hidup dan Allah adalah tempat bergantung. Dengan ketaatan kepada Allah, sebuah keluarga akan senantiasa mendapat pertolongan dan perlindungan Allah.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.
2.      Kepatuhan kepada Suami dan Penghormatan kepada Istri
Hajar begitu patuh kepada Ibrahim meskipun harus berpisah secara fisik. Ibrahim pun begitu sayang kepada Siti Hajar. Ini adalah sebuah cermin bahwa dalam keluarga, harus ada kepatuhan kepada suami dan perhormatan kepada isteri. Ketika seorang suami menjadi kepala rumah tangga, maka anggota keluarga termasuk istri harus taat dan patuh kepada suaminya. Bagi suami, ia wajib menghormati hak-hak isterinya dan memberikan tempat terbaik untuk kehidupannya.

3.      Iktiyar Maksimal
Betapa Siti Hajar tidak saja menyerah kepada nasib. Meskipun ia tahu Allah akan menolongnya, tetapi dengan cara apa? Sambil berdoa dan berharap, ia melakukan ikhtiyar maksimal. Tidak hanya sekali atau dua kali, ia harus melakukan ikhtiyar mencari air sampai tujuh kali, bolak balik dari bukit Sofa dan Marwah. Ini adalah  sebuah bukti bahwa untuk menjaga keutuhan rumah tangga dalam menghadapi gelombang kehidupan, kita harus berjuang keras tanpa kenal lelah dan putus asa. Dengan begitu, niscaya pertolongan Allah akan datang.

4.      Tawakkal kepada Allah dengan Doa
Untuk mewujudkan keluarga sakinah, harus ada kepasrahan yang tulus kepada Allah SWT.  Doa adalah senjata seorang muslim. Ketika usaha sudah maksimal, kita serahkan sepenuhnya keputusan terbaik kepada Allah. Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik untuknya.
Allah berfirman dalam surat At-thalaq: 2-3
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
Demikian khutbah ini, semoga kita dapat mencontoh keluarga Nabi Ibrahim dalam mewujudkan keluarga sakinah dengan cara selalu taat kepada Allah, saling menghormati antara suami, isteri, dan anak, ikhtiyar secara maksimal, dan selalu tawakkal dan doa kepada Allah. Semoga khutbah ini bermanfaat. Amin
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر١َ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ ٣
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمْ|  وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْم| وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ| إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ




Khutbah Kedua
  
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ.| اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ اْلأَعْيَادَ بِالأَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ| وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ اْلأُجُوْرِ،|  فَسُبْحَانَ مَنْ حَرَّمَ صَوْمَهُ وَأَوْجَبَ فِطْرَهُ وَحَذَّرَ فِيْهِ مِنَ الْغُرُوْرِ،| أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهُوَ أَحَقُّ مَحْمُوْدٍ وَأَجَلُّ مَشْكُوْرِ.
أَشْهَدُ أَنَّ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ| وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ| اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ| وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين| أَمَّابَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ |اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى|
وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ.| فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِىِّ الْكَرِيْمِ.
 وَقَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ؛| إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ |يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تسْلِيْمًا.| اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ| سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ |وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ| وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ| بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمٍِالدِّيْنِ.| وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ| لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ| وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ| اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأْ َمْوَاتِ،| إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.| اللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ |وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ| وَدَمِّرْ أَعْدَاءَنَا أَعْدَاءَ الدِّيْنِ| وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمَشْرِكِيْنَ،| وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.| اللّٰهُمَّ اكْفِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ |          وَاكْفِنَا شَرَّ الْحَاسِدِيْنَ. وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ يُؤْذِيْنَا | يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.| رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ| وَلاَتَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا | رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اللهُ أَكْبَرُ،| عِبَادَ اللهِ،| إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ| وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ |يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.| فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ،| وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ| وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Wassalamu’alaikum wr. wb                                                                                                      


Rabu, 07 September 2016

GELAPNYA HATI DAN SOLUSINYA




Tahukah kalian kapan hati menjadi gelap? Setiap orang pasti mempunyai pengalaman yang berbeda dalam merasakan hati. Hati adalah kunci kebahagiaan namun juga sumber kegelisahan. Ketika seseorang melakukan sebuah kebaikan, hatinya akan senang. Satu kebaikan menanamkan satu kebahagiaan. Namun, di saat satu keburukan dilakukan, hal ini menjadi investasi kegelisahan di dalam hatinya. Misalnya, ketika seseorang dapat membantu meringankan beban hidup saudaranya, dengan memberikan uang semampunya, ia akan merasakan getaran jiwa yang dasyat yang memberikan sinyal bahwa hidupnya memiliki makna bagi orang lain. Hasil jerih payahnya bekerja tidak hanya untuk menambah jumlah rekeningnya, namun dapat membuat orang lain lepas dari derita. Tatkala hal ini ia nikmati, maka ia tidak hanya mendapat senyuman mengembang dari saudaranya itu, tetapi ia akan memperoleh kedamaian hati yang mendalam. Kedamaian ini merasuk dalam relung jiwanya yang mengirimkan sensasi kebahagiaan luar biasa. Oleh sebab itu, orang yang biasa peduli dengan lingkungan sekitarnya dan berusaha membantu semaksimal yang ia bisa lakukan, niscaya ia akan merasakan bahagianya hidup dalam hatinya.
Jika hal ini dikaitkan dengan ajaran Islam, banyak ayat yang memberikan dorongan untuk melakukan hal ini. Misalnya, firman ALLH SWT dalam Ali Imran 92 yang intinya “tidaklah kalian akan mendapatkan kebaikan sampai kalian mampu memberikan apa yang kalian sukai kepada orang lain.” Ayat ini sering ditafsirkan sebagai ayat yang memotivasi seseorang untuk memberikan harta terbaiknya. Cukup sampai di situ. Ternyata tidak!  Ayat ini bisa dimaknai bahwa seseorang tidak akan merasakan kebahagiaan hakiki dalam hatinya jika ia belum bisa berbagi dengan orang lain, terlebih dapat memberikan harta yang layak diterima. Dengan kata lain, salah satu sebab kecerahan hati seseorang adalah kemampuan orang itu mengurangi egonya dan mau mencerahkan hati orang lain sehingga kebahagiaan hati orang lain itu memantul kepada hatinya.
Hal lain yang dapat menenteramkan hati adalah bangunan relasi antara manusia dengan tuhannya. Allah SWT adalah sang pencipta. Ia telah memberikan resep terbaik agar seseorang mencapai kebahagiaan hakiki. Misalnya, Allah SWT memberikan tuntunan seseorang untuk tidak melakukan maksiat. Maksiat berarti perbuatan tidak baik yang dilarang oleh Allah SWT. Larangan ini tidak jarang  sangat sesuai dengan hati nurani manusia. Sebagai contoh konkret, Allah SWT tidak mengizinkan kita melihat aurat orang lain. Aurat adalah hal yang semestinya ditutupi. Ketika seseorang menggunakan inderanya melihat aurat orang lain, maka ia akan merendahkan harga diri orang lain itu sekaligus merendahkan harga dirinya sendiri. Ia telah merusak etika yang semestinya ia jaga. Kesalahan yang demikian ini akan berbekas dalam hatinya yang berefek pada kegelapan hati. Sadar atau tidak, dipungkiri atau tidak, semakin banyak kesalahan yang kita lakukan, sebanyak keburukan yang kita perbuat, lambat laun akan meredupkan sinar hati. Akibatnya, orang tersebut akan kehilangan keseimbangan hatinya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, memutuskan dengan teliti, atau mengerjakan tugas dengan sempurna. Hati yang kotor ibarat cermin yang tertutup oleh debu keburukan yang akhirnya memudarkan cahaya hatinya. Hidup menjadi kehilangan arah, pikiran jadi keruh, sikap yang diekspresikan pun cenderung keras dan tak beraturan. Itulah pentingnya menjadi kejernihan hati. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, semakin bening hati kita. Semakin bening hati kita, semakin cerah wajah kita dan semakin besar semangat kita untuk hidup lebih optimistik. Jadi, jangan pernah berhenti menebar kebaikan. Semoga hati kita tetap jernih sepanjang masa. Amin....
    

Selasa, 19 Juli 2016

FAMILY CORNER --- TEROBOSAN UNTUK BENTENG KELUARGA

Kata Family Corner sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi akademisi fakultas Syariah, khususnya UIN Malang, untuk mengekspresikan pengetahuannya tentang hukum keluarga. Family Corner yang diartikan sebagai pojok keluarga dapat dianggap sebagai langkah konkret untuk merespon keprihatinan sebagian masyarakat yang gelisah dengan problem keluarga yang tak kunjung usai. Apalagi, institusi keluarga dianggap tidak sesakral dulu. Masalah anak, remaja, hingga keluarga muda dan bahkan keluarga matang pun tak lepas dari problem keluarga. Oleh sebab itu, keberadaan pojok keluarga menjadi salah satu alternatif menyelesaikan situasi keluarga yang perubahannya sangat dinamis.

Apakah ada sekolah untuk persiapan berkeluarga? Hampir semua orang tidak pernah sekolah untuk menjadi ayah atau ibu yang baik. Umumnya mereka belajar dari situasi keluarga asal mereka atau keluarga di sekelilingnya. Pola asuh anak tak jarang dilakukan secara turun temurun, bahkan dalam hal perbuatan kekerasan yang kerap terjadi diinspirasi oleh pengalaman kecil atau pengaruh lingkungan sehari-hari. Oleh sebab itu, perlu dibuat pojok keluarga yang menyediakan fasilitas belajar untuk menjadi remaja tangguh, keluarga muda kukuh, dan keluarga matang yang kokoh. Bagi remaja, jenis pendidikan yang perlu mereka dapatkan adalah seputar pertumbuhan biologis dan psikologis manusia, fungsi reproduksi, dan penangkalan pola pergaulan bebas serta narkoba. Selanjutnya untuk keluarga muda, mereka perlu mendapat pendampingan pola asuh anak ala nabi Muhammad (parenting islami), sedangkan keluarga matang dapat memperoleh pengetahuan untuk mengatasi problem keluarga melalui sarana mediasi.  Kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan dalam pojok keluarga.

Alhamdulillah, Family Corner Fakultas Syariah UIN Malang sudah digagas sejak tahun 2014. Hingga tahun ketiga ini, Family Corner yang bermarkas di Kelurahan Buring Kecamatan Kedung Kandang sudah kokoh dan tahun ini akan dikembangkan ke beberapa wilayah, di antaranya di Kelurahan Kedung Kandang, Kecamatan Keduang Kandang dan Kelurahan Sumberpucung, Kecamatan Sumber Pucung. Semoga gerakan sadar hukum keluarga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesetabilan keluarga Indonesia. Amin

Senin, 18 Juli 2016

MENGGAGAS FAMILY CORNER (POJOK KELUARGA) UNTUK KELUARGA SAKINAH

Hidup adalah proses. Dinamikanya selalu membuat orang tak bisa awet dalam zona nyaman. Terkadang, jalan datar, namun, tak sedikit harus naik menjulang atau turun terjungkal. Pendeknya, tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk situasi dalam rumah tangga.

Sakinah kata orang bukanlah wujud yang mudah. Ia adalah simbol keberhasilan seseorang dalam melawan derunya ombak dan terjalnya karang. Sakinah berarti tenang setelah kegalauan. Tentunya, sakinah tidak dapat terwujud tiba-tiba. Ia datang di waktu sulitdan menantang pasangan untuk menyelesaikannya.

Nah, karena sakinah tidak tidak pernah diajarkan di sekolah, maka ia perlu dikabarkan ke pasangan. Caranya adalah dengan mengaktifkan pojok keluarga di masyarakat. 

Minggu, 17 Juli 2016

REUNI KELUARGA 2016

Ini adalah salah satu momen terindah di tahun 2016.
Seluruh keluarga bisa gabung merayakan hari lebaran di Ngoro Jombang.... 

Senin, 21 September 2015

TUKANG BECAK MENINGGAL SAAT MENGAYUH

Kejadian ini jelas tak akan terlupakan. Sabtu (22/8/2015), saya dihadapkan pada situasi yang memilukan. Seorang tukang becak lewat di depan sebuah bengkel motor, lalu becak itu berhenti. Tak lama kemudian sang pengemudinya tersungkur ke depan dan tak sadarkan diri. 
Lengkapnya, seperti ini. Pagi itu, saya berniat mau ke kampus untuk menjenguk mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan ospek. Saya berangkat lebih awal dan berencana mampir ke sebuah bengkel untuk ganti oli dan cek mesin. Untuk membunuh waktu, saya gunakan kesempatan untuk baca berita di hp. Saat asyik menikmati berita, tiba-tiba ada seorang ibu penjual makanan di sebuah warung pinggir jalan berteriak minta tolong sambil menunjuk seseorang yang berada di becak. Tak lama kemudian ada beberapa orang bergegas mendekati becak itu. Sang pengayuh becak diam tak bergerak dan posisi kepala tersungkur ke depan di kursi yang kebetulan tidak ada penumpangnya. Tak banyak yang berani menyentuh. Mungkin takut disangka pelaku kejahatan. Ada pula yang berinisiatif menghubungi polisi. Namun, hingga beberapa saat, orang-orang hanya diam berkerumun dan bermain dengan opini masing-masing.
Saya pun ikut bergegas mendekati tukang becak itu. Saya usulkan kepada warga untuk segera membawanya ke sebuah klinik terdekat untuk diperiksa kesehatannya. Maka, sejumlah orang sepakat untuk menurunkan lelaki itu dan membawanya ke klinik. Dengan susah payah kami membopong bersama dan akhirnya sampailah  pada klinik yang dituju. Orang tersebut segera dibaringkan dan diperiksa dokter. Mengejutkan, ternyata orang tersebut dinyatakan sudah meninggal! Uh...menegangkan sekali...
Lalu, karena tidak ada seorang pun yang mengenalnya dan kondisi di tukang becak itu sendirian, upaya untuk menelusuri identitasnya agak sulit. Langkah pertama tentunya mencari identitas yang dibawa. Saya pun memberanikan diri untuk merogoh sejumlah sakunya. Saku bajunya kosong. Saku celana depannya juga kosong. Untung pada saku celana belakangnya ditemukan dompet lusuh yang berisi sejumlah uang namun tidak ada kartu identitas. Orang-orang sempat gusar karena bingung mau diantar kemana jenazah itu. Tak berapa lama kemudian, pihak rumah sakit menemukan fotokopi KTP yang terlipat kecil berada di lipatan dompet. Ketika dicermati secara seksama, fotokopi KTP itu nampaknya milik bapak pengayuh becak tersebut.  Dengan berbekal identitas yang agak buram itulah kami mencari alamat si tukang becak tersebut. 
Dengan dibantu sukarelawan yang peduli dengan nasib bapak tersebut, anggota keluarga bapak itu ditemukan. Alhamdulillah, meskipun agak lama, akhirnya, jenazah tersebut bisa dibawa pulang untuk dimakamkan.
Apa pelajaran dari peristiwa ini? Pertama, ini adalah peringatan jelas bagi kita bahwa kematian bisa datang kapan saja. Mungkin bapak itu terkena serangan jantung saat mengayuh dan langsung meninggal di tempat. Betapa mudahnya kematian datang di perjalanan meskipun tanpa adanya kecelakaan atau luka besar. Berarti, kita pun bisa kapan saja kehilangan nyawa jika Allah SWT menentukannya. Oleh sebab itu, marilah selalu berbuat yang terbaik tanpa harus menunggu waktu.
Kedua, nasehat dari peristiwa ini adalah perlunya kita membawa kartu identitas meskipun hanya fotokopinya. Di saat jumlah manusia kian banyak dan tak semua orang mengenal kita, identitas diri nampaknya perlu disematkan di antara barang yang kita bawa dengan alasan bahwa kita tidak selalu bisa memberitahu identitas kita secara verbal kepada orang yang ada di sekitar kita. Dengan identitas itu, para penolong akan mudah melakukan langkah selanjutnya setelah menolong kita. Semoga kita diberikan keselamatan dan kesehatan prima sehingga kita dapat menghadap Allah dalam situasi khusnul khotimah. Amin!  

Minggu, 20 September 2015

REFLEKSI: MERAIH MIMPI DENGAN BERANI BERKURBAN

Setiap orang boleh bermimpi, mimpi apa saja! Banyak karya besar yang dimulai dari mimpi. Angan-angan untuk menaklukkan dunia bisa dirajut step by step dalam sebuah mimpi. Pendek kata, bermimpilah setinggi langit, toh mimpi itu gratis dan tidak menggangu orang lain.

Namun ternyata, tidak sedikit manusia yang takut bermimpi. Jikamimpi terlalu muluk, takut jika mimpi tak tercapai akan jatuh terlalu dalam dan depresi. Tentu hal ini tidak sepenuhnya benar. Memang, jika seseorang hanya mengandalkan mimpi belaka tanpa melakukan aksi tentu akan kecewa dan hanya isapan jempol. Jika seseorang ingin mewujudkan mimpinya, setidaknya ia akan membuat road map yang mantap. Jalan panjang nan berliku itu harus siap ia tempuh demi kepuasan jiwa yang ia idamkan. Sekali lagi, sebuah pengorbanan harus siap ia lalukan demi cita-cita  suci itu!

Sebuah ilustrasi, jika seseorang ingin membuat artikel yang bagus, maka ia harus membaca bahan bacaan yang cukup, memahaminya, merangkumnya, memberikan komentar dan melakukan analisis sehingga tulisannya mantap dan berbobot. Untuk mendapatkan karya tersebut, ia harus berani berkorban merelakan waktu tidur dan istirahatnya demi impiannya itu. Jika ia hanya melakukan rutinitas, membaca ala kadarnya, bekerja secukupnya, menulis seluangnya, dan masih mempertahankan diri untuk tetap bisa istirahat cukup dan bermain bersama kawan dan keluarganya, maka ia sulit mencapai apa yang ia inginkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan ulasan pikirannya secara jernih dan tajam jika bahan mentah di pikirannya sangat terbatas? Bagaimana mungkin seseorang akan mencapai gelar membanggakan dan prestasi cemerlang jika bekerja dan belajarnya biasa-biasa saja? Maka jawaban tegasnya: pengorbanan! Berkorban adalah memberikan usaha yang maksimal melebihi standar orang biasa dengan langkah terstruktur demi mencapai kesuksesan.

Sayangnya, jarang manusia mau berkorban. Umumnya, manusia ingin hidup nyaman dan sukses namun dengan usaha ringan. Hal ini mirip prinsip ekonomi, yakni mengeluarkan usaha minimal untuk mencapai hasil maksimal. Syukurlah kalau kita bisa melakukan prinsip itu dalam kehidupan global kita. Namun, saya tetap yakin, bahwa hanya dengan pengorbanan maksimallah seseorang akan bisa meraih hasil karya maksimal. Jika masih manja, masih menanti durian runtuh, maka  jangan pernah berharap cita-cita yang diimpikan akan segera terwujud. Memang bisa jadi tercapai, namun dengan waktu yang tidak jelas dan hasil yang tak terukur pula.

Jadi, mari bermimpi....dan mari berkorban....ini juga bisa menjadi refeksi ibadah qurban kita tahun ini, 2015.

PENTINGNYA TRAINING PETUGAS QURBAN

Sebentar lagi hari raya Idul Adha akan tiba. Segenap umat Islam telah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut ibadah tahunan itu. Sejumlah masjid telah berbenah diri untuk melaksanakan solat id sekaligus membuat kepanitiaan khusus untuk ibadah qurban. Panitia telah membentuk tim penerimaan hewan qurban, pemotongan, hingga penyaluran daging qurban. Namun, pertanyaannya, sudahkah panitia ini memiliki pengetahuan mantap dan skil mumpuni dalam penyelenggaraan ibadah qurban ini?
Mungkin bagi sebagian masyarakat, pertanyaan itu teramat klise. Ibadah qurban telah dilaksanakan bertahun-tahun dan tidak ada masalah. Seruan semacam yang dilontarkan Ahok untuk lokalisasi pemotongan beramai-ramai ditolak, tak terkecuali pengurus MUI Pusat. Hal itu wajar karena selama ini kegiatan pemotongan hewan sudah sedemikian memasyarakat. Semua aktifitas pemotongan dengan gaya apapun dianggap tradisi dan saling memaklumi jika terjadi hal-hal yang sebenarnya kurang patut dan perlu dibenahi.
Baiklah, saya  ingin memberikan contoh pemotongan hewan yang pernah saya lihat. Suatu waktu saya lewat sekerumunan orang yang menyaksikan pemotongan sapi di suatu tempat. Ada lima atau enam orang yang bertugas menjagal sapi itu. Dua orang mengikat kaki sapi, dua orang menarik sapi dan satu orang lagi sebagai penjagal leher sapi. Nampaknya,  mereka ingin menarik sapi itu agar terjatuh, namun sapi itu terlalu luat sehingga sang jagal terpaksa, maaf, menebas leher sapi itu berkali-kali sambil berdiri. Otomatis, darah sapi itu munyebar ke mana-mana dan sapi yang kesakitan itu pun bisa dirobohkan. Sang penjagal sekali lagi, menggorok sapi itu dengan gerakan seperti memotong kayu sampai kepala sapi itu putus. Astaghfirullah! Apakah begitu ajaran Islam dalam memotong hewan kurban? Saya bukanlah ahli memotong sapi, namun melihat  kenyataan tersebut, saya merasa miris, betapa sadisnya penjagal tersebut.
Saya tidak tahu, apakah sang jagal itu sudah terbiasa memotong sapi atau karena tugas dadakan sehingga ia melakukan segala cara yang menurutnya efektif untuk segera mematikan sapi tersebut. Dugaan saya, akan banyak jagal dadakan yang muncul selama prosesi ibadah qurban dari tahun ke tahun. Bagi saya, ibadah qurban bukan hanya sekedar membunuh hewan qurban sesuka hati, namun  ada sejumlah etika  penyembelihan hewan qurban yang harus diperhatikan. Misalnya, membaca basmalah, penggunaan pisau yang tajam, pemotongan leher pada saluran nafas (hulqum), saluran makanan (mari'), dan saluran vena-arteri (wadajaini), dan menghindari penganiayaan terhadap hewan tersebut. Oleh sebab itu, nampaknya perlu diadakan pelatihan atau training pemotongan hewan qurban yang syar'i.
Selain pemotongan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengemasan hewan qurban.  Kita tentu berharap hewan qurban memenuhi asas ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal. Asas ini bisa  dimaksudkan untuk menjaga daging sehat dan aman dikonsumsi, daging hewan harus dikemas dengan kemasan yang sehat, misalnya dengan kantong plastik tarnsparan, bukan plastik hitam hasil daur ulang. Untuk itu, pelatihan panitia hewan kurban nampaknya  sudah menjadi kebutuhan. Kegiatan ini bisa dimotori Dewan Masjid Indonesia di setiap kecamatan, MUI Kecamatan, KUA, atau kampus yang peduli dengan keselamatan dan kesehatan umat. Semoga...  

Jumat, 07 Agustus 2015

ISLAMIC PARENTING: PENGASUHAN ANAK ALA NABI

Hari ini saya merasa bahagia karena ditunjuk untuk mengisi acara Parenting di sebuah sekolah favorit di Malang. Mengapa bahagia? Heem....sebenarnya kebahagiaan itu bukan karena saya ahli di bidang parenting atau sudah benar-benar menjadi orang tua yang baik, namun saya bahagia karena merasa tertantang untuk mendalami peran yang selama ini saya emban namun tanpa ilmu. Saya diminta untuk berbicara tentang bagaimana menjadi orang tua yang mampu meneladani Rasulullah SAW. Bisakah?Jawabnya pasti: Bingung!!!  hehehe
Menjadi orang tua adalah peran yang diamanahkan Allah SWT kepada setiap pasangan yang memiliki anak. Setiap orang tua menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan mampu mengharumkan nama baik keluarga. Namun, untuk mendapatkan generasi harapan itu, tidak banyak orang tua yang memiliki ilmu menjadi orang tua. Umumnya, ilmu tersebut diperoleh secara turun-temurun dan by nature. Alhasil, anak hebat terkadang bukan karena orang tuanya  hebat dalam mendidiknya, akan tetapi mereka lahir dan kebetulan menjadi hebat. Bayangkan, jika anak yang kebetulan hebat itu lahir dari keluarga yang benar-benar memahami peran sebagai orang tua, tentu anak itu akan lebih hebat lagi bukan?
Hal sebaliknya, jika anak potensial hebat namun tidak mendapatkan asuhan yang tepat, potensi itu bisa hilang. Apalagi anak yang tidak hebat dibesarkan dalam keluarga yang kurang tepat, dapat dipastikan ia akan menjadi generasi terbelakang yang kemungkinan tidak dapat berperan aktif dalam memakmurkan dunia ini.
Di sinilah pentingnya pola pengasuhan yang mumpuni yang kini dikenal dengan parenting. Berbagai pakar sudah banyak berbicara tentang parenting. Teori tumbuh kembang anak juga sudah acapkali dibicarakan. Pertanyaannya kemudian, adakah parenting Islami? Parenting Islami meniscayakan cara pengasuhan yang mempunyai nilai-nilai Islam di dalamnya. Saya pun akhirnya hunting buku ke toko buku untuk bahan kajian.
Nah, saya menemukan dua buku bagus yang berkaitan dengan parenting Islami. Pertama adalah buku yang berjudul Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi, karya Syaikh Jamal Abdurrahman. Kedua, buku Prophetic Parenting, Cara nabi SAW mendidik Anak tulisan  Dr Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Kedua  buku terjemahan ini saling melengkapi yang mempunyai ulasan yang mendalam tentang cara Nabi bersikap dan berperilaku menghadapi anak-anak. Misalnya, Nabi selalu menjadi teladan bagi anak, memberikan kesempatan berdialog dengan anak, dan memberikan keleluasaan bagi anak untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Selain itu, Nabi juga selalu memberikan wawasan kepada anak tentang pentingnya berbakti kepada Allah, menyayangi orang tua, dan menempatkan manusia sesamanya sederajat sehingga tidak ada anak yang merasa lebih terhormat dari anak yang lain. Ternyata, begitu banyak akhlak Nabi yang bisa ditularkan kepada anak-anak. 
 Akhirnya, saya semakin yakin, dengan belajar parenting Islami, kita dapat mewujudkan generasi mu'min yang mempunyai kesadaran tinggi tentang kehidupan ini. Generasi yang dapat dibanggakan dengan keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kedalaman spiritual akan mudah kita raih dengan mendalami parenting metode nabi. Semoga kita dapat menjadi keluarga sakinah yang melahirkan khalifah-khalifah penuh amanah di muka bumi ini. Wa Allah a'lam.

Kamis, 23 Juli 2015

KAKEK PECINTA AL-QUR'AN ITU WAFAT

Lebaran tahun ini terasa berbeda. Salah satunya karena  saya kehilangan seorang kakek yang begitu saya cintai. Namanya Mbah Muharror. Beliau adalah ayah dari ibu saya yang berusia hampir satu abad. Beliau bertempat tinggal di Nganjuk, tempat kelahiran ibu saya. Saya sangat menghormati beliau karena beliaulah yang telah mendorong saya untuk betah tinggal pesantren dalam rangka mendalami ilmu-ilmu agama di bangku Aliyah.  

Banyak kenangan yang tak akan terlupa dari ingatan. Di antaranya adalah kebiasaan beliau berkunjung ke makam kyai di Mojoagung setiap Jumat Legi. Kebiasaan ini berlangsung puluhan tahun. Setelah mengkhatamkan al-Qur'an beberapa kali, beliau berkunjung ke anak-anaknya yang tinggal di Jombang. Kebetulan ada tiga anak yang berkeluarga dan berdomisi di Jombang. Salah satunya adalah ibu saya yang tinggal di Ngoro. Saya yang saat itu masih duduk di bangku SD hingga SMP sering berdiskusi dengan kakek saya tentang agama dan beliau tak segan-segan berbagi ilmu tentang pengalaman hidup dan pemahamannya tentang agama. Beliau memang pernah mondok di beberapa pesantren saat remaja. Kemudian, saya sering bertugas mengantar beliau menggunakan sepeda pancal menuju halte bis saat beliau mau pulang ke Nganjuk.

Kebiasaan membaca al-Qur'an membuat kakek memiliki ingatan yang kuat. Hingga akhir hayatnya, ia masih ingat seluruh nama anak-anak dan cucu-cucunya. Ia sangat bangga dengan prestasi keturunannya, terutama jika berkaitan dengan prestasi di bidang agama. Selain itu, kakek adalah modin yang sangat disegani. Entah berapa puluh tahun beliau menjabat sebagai modin. Yang jelas, ketika berada di lingkungan kampung kakek, hampir semua orang tahu dan paham ketika disebut nama mbah modin.

Beberapa tahun terakhir,kebiasaan pergi ke Mojoagung tidak dapat beliau lakukan. Fisiknya yang kian melemah seiring bertambahnya usia membuat beliau hanya tinggal di rumah ditemani al-Qur'an yang sudah menjadi hobinya. Uniknya, meskipun usianya sudah lebih dari 90 tahun, matanya masih mampu membaca huruf-huruf al-Qur'an tanpa bantuan kacamata. Beberapa ayat dan surat juga sudah beliau hafal sehingga jika berdiskusi beliau tidak ragu-ragu menyebut beberapa ayat yang relevan dengan topik pembicaraan. Sungguh teladan yang luar biasa!

Selasa lalu, 21 Juli 2015, beliau dipanggil oleh Allah SWT sebelum subuh, waktu yang biasa beliau isi dengan shalat malam dan membaca al-Qur'an. Sehari sebelumnya, 20 Juli, di Nganjuk diadakan pertemuan keluarga yang dihadiri oleh hampir seluruh anak dan cucunya.  Jadi waktu itu, semua masih bisa menyaksikan kakek dan berdialog dengannya meskipun kondisi kakek memang sudah sangat lemah. Saya pun sempat berdialog dengan beliau. Namun, pertemuan itu nampaknya pertemuan terakhir antara kakek dengan keturunannya. Sehari setelahnya, kami dikejutkan oleh berita wafatnya dan kami pun berkumpul kembali di Nganjuk untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Selamat jalan Kakek! Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Kakek di sisi-Nya. Amin.... 

KH ABDUL AZIZ MASYHURI: KYAI YANG PENULIS, PENULIS YANG KYAI

KH Abdul Aziz Masyhuri adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah, yang berlokasi di Denanyar Jombang. Saya termasuk beruntung pernah menjadi santri beliau saat sekolah di bangku aliyah. Beliau adalah pemrakarsa sekaligus pengasuh Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus yang dulu dikenal sebagai MANPK. Murid-murid MANPK adalah anak-anak lulusan Madrasah Tsanawiyah yang memiliki prestasi akademik tinggi dan lulus seleksi. Waktu saya dulu, MANPK di Jawa Timur hanya ada dua, yakni MANPK Denanyar dan MANPK Jember. Alhamdulillah, saya termasuk beruntung bisa bergabung dengan anak-anak hebat di MANPK Denanyar.

Berkaitan dengan Yai Aziz, demikian sapaan beliau, saya telah belajar banyak ilmu dari beliau. Di antaranya adalah ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, hingga ilmu tarikh. Beliau banyak melahirkan buku-buku, mulai dari buku karya sendiri, hingga buku khulashah (ringkasan) dan buku terjemahan. Puluhan buku sudah beliau terbitkan. Dalam rangka muktamar NU 2015 ini, beliau sudah menyiapkan dua buku baru yang siap dilaunching.

Selama lebaran 2015 ini, saya menyempatkan berkunjung ke rumah beliau. Yai Aziz begitu senang ketika saya datang. Apalagi saya, kangen dan kagum saya kepada beliau terpenuhi sudah. Saya memang termasuk pengagum beliau karena sejak dulu hingga sekarang, beliau tidak segan-segan mengembangkan ilmu dan menuangkannya dalam berbagai media. Meskipun saat ini usia beliau sudah cukup banyak, namun semangat berburu informasi dan berbagi  ilmu masih kuat. Seperti usaha beliau untuk mencari informasi terbaru tentang sosok tokoh yang beliau tulis, beliau harus datang ke kediaman sang tokoh, atau menemui ahwa warisnya jika tokoh itu sudah tiada. Atau, seperti saat ini beliau sedang gencar mengumpulkan berbagai buku tentang syiah sebagai bahan awal penulisan syiah modern yang akan beliau tulis. Luar biasa bukan? Usaha beliau layaknya seorang doktor atau profesor yang akan menulis karya ilmiahnya.

Saya sempat bertanya motivasi di balik kegigihan beliau berkarya. Jawabannya ternyata singkat: hanya ingin punya "peninggalan". Apa maksudnya? Beliau kemudian mengulas beberapa kyai besar yang sangat tersohor dalam pidatonya. Sang kyai berdakwah di mana-mana dan sangat disukai jamaahnya. Namun, tatkala sang kyai itu wafat, hilang pula reputasi dan ketenarannya. Ia bahkan tidak dikenal oleh generasi-generasi berikutnya. Oleh sebab itu, agar bisa lebih lama bermanfaat, menulis adalah salah satu cara termanjur yang sudah terbukti kebenarannya untuk membuat seseorang tetap dikenang meskipun jasadnya sudah dimakamkan. Buku akan tetap bisa dinikmati siapa saja meskipun sang penulis tidak dapat ditemui lagi.  Jadi, Ayooooo menuliiiiiis.......

IDUL FITRI: DARI TOMBO ATI MENUJU JATIDIRI SUCI

Khutbah Pertama
Assalamualaikum Wr. Wb.
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ/ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ  /اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ/ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ  /وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ./ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ/ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
 اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ  عِيْدَ اْلفِطْرِ.
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ,لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ  /وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ/ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.  
اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin dan hadirat jamaah shalat idul fitri yang mulia
Di awal pagi yang sejuk segar ini, marilah kita senantiasa bersyukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan segala kasih sayang-Nya sehingga kita dapat menuntaskan ibadah di bulan ramadhan dengan sempurna dan merayakan kemenangan di Hari Idul Fitri. Semoga kita senantiasa mendapat ridha-Nya dan  menjadi hamba-Nya yang kian bertaqwa. Amin
Kaum Muslimin dan Muslimat yang mulia,
Sejak terbenam matahari di akhir ramadhan, gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang di segenap penjuru. Hal ini menunjukkan pengakuan kita yang tulus akan kebesaran Allah. Luapan hati yang bahagia dapat terlihat dari semangat kita mengikuti ibadah shalat Idul Fitri. Senangnya kalbu kita karena kita telah berhasil melaksanakan latihan ruhani sebulan penuh sehingga kita layak untuk meraih kesucian, kembali ke fitrah kita yang putih dan bersih.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
 قد أفلح من زكىها
Sungguh beruntunglah orang-orang yang senantiasa mensucikan jiwanya.
Kita telah berhasil mencapai garis finis pensucian jiwa melalui beragam kegiatan di bulan Ramadhan. Banyak hal yang sudah kita lakukan, setidaknya menggambarkan lima pelajaran Ramadhan yang sudah kita tuntaskan dalam rangka meraih ketenteraman hati. Kelima pelajaran itu disebut tombo ati atau obat hati.
Hadirin dan hadirat yang berbahagia
Tombo ati yang pertama, moco qur’an sakmanane. Membaca Al-Qur’an dan memahami isinya. Selama satu bulan penuh, kampung kita diramaikan oleh tadarrus al-quran. Alunan ayat suci senantiasa bersahut-sahutan dari mushalla ke mushalla, dari masjid ke masjid. Sungguh, ini merupakan suasana yang syahdu, khas ramadhan yang begitu menentramkan jiwa. Tadarrus al-quran begitu hidup hingga menjelang tengah malam. Selain itu, kita juga saksikan banyaknya majelis taklim, berbagai pengajian dari subuh hingga malam hari dengan tujuan memperdalam pemahaman kita terhadap al-Qur’an. Obat hati yang pertama benar-benar sudah kita laksanakan.
Tombo ati yang kedua, shalat wengi lakonono. Menjalankan shalat malam dengan khusyu’. Shalat malam sudah kita lakukan dengan mendirikan shalat tarawih dan witir. Kalau shalat di luar Ramadhan hanya 17 rakaat, namun shalat di bulan ramadhan, jumlahnya berlipat, setidaknya 40 rokaat. Itu belum ditambah dengan shalat hajat, shalat rawatib, dan shalat-shalat sunnah yang lain. Singkatnya, kita sudah melakukan penambahan shalat-shalat malam untuk menghidupkan ramadhan, sekaligus menghidupkan hati kita.
Kaum Muslimin dan Muslihat yang berbahagia
Tombo ati yang ketiga adalah wong kang sholeh kumpulono. Berkumpul dengan orang-orang soleh. Betapa bahagia kita di bulan ramadhan. Orang-orang soleh begitu dekat dengan kita. Mereka tidak segan-segan memberikan siraman rohani yang menyegarkan, nasehat yang menyejukkan, dan teladan yang menenangkan. Para kyai dan para ustad yang biasanya sibuk, di bulan ramadhan mereka duduk bersama kita dan berbagi ilmunya untuk peningkatan iman dan taqwa kita kepada Allah. Sungguh ini adalah keberuntungan bagi kita.
Selanjutnya, tombo ati yang keempat adalah kudu weteng ingkang luwe. Perut yang dikosongkan. Dengan berpuasa ramadhan, kita mampu menahan hawa nafsu dan godaan syetan. Kita pun dapat merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang lemah dan kekurangan. Rasa persaudaraan kita semakin kokoh dengan ibadah puasa.
Terakhir, tombo ati kelima adalah dzikir wengi ingkang suwe. Dikir malam yang panjang. Sehabis tarawih, kita berzikir, di saat sahur kita juga berzikir. Bahkan,  di masjid kita telah dilaksanakan iktikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan. Banyak jenis dzikir dan doa yang dilantunkan.  Itu berarti kita juga sudah melaksanakan tombo ati yang kelima ini.
Hadirin dan Hadirat yang mulia
Dengan dilaksanakannya seluruh rangkaian tombo ati ini, kita berharap semoga seluruh doa kita dikabulkan oleh Allah dan seluruh dosa kita diampuni oleh Allah swt.  Sehingga dengan demikian, saat kita merayakan idul fitri ini, hati kita bersih, pikiran kita jernih, semangat jiwa kita gigih, dan  keberhasilan hidup lahir dan batin akan mudah kita raih. amin
Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Selain kebiasaan baik tadi, kita di awal Syawal ini diharapkan untuk bersegera meraih keampunan Allah. Dalam Surat Ali Imran 133-134  Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ -
133. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit[1], dan orang-orang yang menahan amarahnya[2] dan mema'afkan (kesalahan) orang lain[3]. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan[4].
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri[5], segera mengingat Allah[6], lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya[7], dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Ayat di atas mendorong kita untuk bersegera menuju keampunan Allah dan mendapatkan surga Allah yang besarnya seluas  langit dan bumi.
Andai saja satu manusia mendapatkan satu bumi untuk surganya,  niscaya bintang-gemintang di langit tidak akan habis dibagi untuk surga manusia. Itu menunjukkan betapa luasnya jagat raya ini. Ini adalah pertanda kemahabesaran Allah swt.
Surga yang begitu besar ternyata hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Sekali lagi, tinggi rendahnya derajat taqwa seseorang menjadi petunjuk seberapa besar derajat seseorang di sisi Allah. Beberapa syarat orang bertaqwa menurut ayat tadi adalah:
Pertama: orang bertaqwa harus berkenan berbagi dengan sesamanya dalam kondisi apapun
Kedua: orang bertaqwa harus mampu menahan emosi
Ketiga: orang bertaqwa harus mau memaafkan orang lain
Keempat: orang bertaqwa harus mau bertaubat
Dari empat syarat ini, semua dapat dilakukan di awal Syawal ini, yakni kita mau berbagi rezeki kepada tetangga dan sanak saudara. Kemudian, kita mau menahan diri dari bergunjing, menyebar fitnah, atau menghina orang lain. Di hati  kita sudah tertanam rasa ingin meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain. Ketika hubungan dengan sesama manusia sudah tuntas, lalu kita sempurnakan ketakwaan kita dengan memohon ampunan kepada Allah.
Terakhir, hal yang perlu kita tegaskan dalam Idul Fitri adalah budaya silaturrahim.
Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.”

Kita harus menjaga tali silaturrahim kita dengan siapa pun. Silaturahim adalah ikatan hati antara sesama manusia. Hal itu bisa karena hubungan darah, hubungan pernikahan, hingga hubungan sosial sesama anggota masyarakat. Selagi punya waktu, mari kita luangkan sejenak untuk berkunjung ke rumah orangtua kita, bermaaf-maafan dengan suami atau istri kita, anak-anak kita, sesepuh kita, kemudian, sanak saudara kita, dan akhirnya dengan sahabat dan tetangga kita.
Kita adalah makhluk yang tidak lepas dari kesalahan. Namun sebaik-baik orang yang salah adalah orang yang mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf atas kekhilafannya. Idul fitri adalah waktu terbaik untuk bermaaf-maafan. Sikap saling memaafkan dapat mencairkan suasana yang kaku, hubungan kekeluargaan yang beku, atau relasi persahabatan yang kurang seru. Semoga semangat idul fitri ini senantiasa memenuhi hati kita sepanjang tahun sehingga kita benar-benar kembali ke jati diri kita yang suci. amin     
  جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الأَمِنِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فيِ زُمْرَةِ الْمُوَحِّدِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ.| اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ.
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ اْلأَعْيَادَ بِالأَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ| وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ اْلأُجُوْرِ،| فَسُبْحَانَ مَنْ حَرَّمَ صَوْمَهُ وَأَوْجَبَ فِطْرَهُ وَحَذَّرَ فِيْهِ مِنَ الْغُرُوْرِ،| أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهُوَ أَحَقُّ مَحْمُوْدٍ وَأَجَلُّ مَشْكُوْرِ.
أَشْهَدُ أَنَّ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً يَشْرَحُ اللهُ لَهَا لَنَا الصُّدُوْرَ،| وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِىْ أَقَامَ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بَعْدَ الدُّثُوْرِ.| اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ.| أَمَّابَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ. فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِىِّ الْكَرِيْمِ.
 وَقَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ؛ إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمٍِ الدِّيْنِ. وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأْ َمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَنَا أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمَشْرِكِيْنَ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ اكْفِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ وَاكْفِنَا شَرَّ الْحَاسِدِيْنَ. وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ يُؤْذِيْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ أَرَادَنَا بِالسُّوْءِ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اللهُ أَكْبَرُ، عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Wassalamu’alaikum wr. wb                                      

Introduction