Media informasi dan komunikasi saat ini begitu banyak jenisnya. Orang tua hingga anak-anak sudah terbiasa dengan aneka media. untuk sekedar mencari informasi, rasanya tidak perlu harus keluar rumah, bahkan tidak perlu bergeser sekalipun. Televisi misalnya, dengan remote kontrol kita bisa langsung menonton siaran berita, hiburan, hingga iklan. Dengan komputer apalagi, internet dapat diselami sesuka hati sepanjang waktu. Saat bepergian, musik dapat senantiasa didengar dengan ratusan album pilihan dalam satu perjalanan. Untuk sekedar tahu kabar saudara atau kawan, juga tidak harus mencari wartel dan mengangkat gagang telepon. Penjet nomor-nomor tujuan sudah bukan jamannya. Kini tinggal klik dan klik semua sudah dapat dilakukan. Pendeknya, media begitu lekat dengan kehidupan dengan sedikit usaha dan biaya terjangkau.
Masalahnya kemudian, dapatkah kita menggunakan begitu banyak ragam media untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan iman kita? Bagaimana strategi menata hati dan pikiran sehingga selalu mampu memanfaatkan media dengan baik? Bagaimana kita mampu membentengi diri dan keluarga agar terhindar dari massifnya efek negatif dari media? Pertanyaan-pertanyaan itu jelas membutuhkan perenungan sekaligus aksi konkret dalam kehidupan kita.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, perlu disadari bahwa media sebenarnya bersifat netral. Teknologi yang dikembangkan dengan sedekian pesat harus disikapi dengan wajar dan dewasa. Ini berarti kita harus belajar banyak untuk bisa menguasai penggunaan media secara proporsional dan profesional. Misalnya, komputer. Seberapa ahlikah kita menggunakan media komputer untuk menambah dan mengasah ilmu kita? Dalam hal mengetik, kita tentu tidak perlu lagi mencari pita atu karbon seperti yang dilakukan orang pada 10-20 tahun yang lalu. Hasil ketikan (tulisan) kita pun bisa diperbaiki setiap saat tanpa memulai dari awal. Dengan komputer (dengan segala variannya, seperti laptop atau netbook), kita bisa mengakses berbagai sumber informasi terkini, baik yang tersedia di database tertentu atau internet. Khusus untuk yang terakhir, internet yang dapat menghubungkan orang dengan dunia maya yang laur biasa besar bisa memberikan kesempatan orang untuk beribadah di satu sisi dan berbuat maksiat di sisi lain. Agar bernilai manfaat yang kemudian bernuansa ibadah, internet dapat digunakan untuk mengakses informasi yang kita butuhkan, seperti informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan yang kita gandrungi. Tulisan-tulisan religius juga tak kalah banyaknya. Kita bahkan bisa menanyakan apa saja kegalauan kita kepada ahlinya melalui internet. Internet benar-benar menjadi sarana pertama dan bisa jadi utama bagi seseorang yang ingin memulai dan kemudian mendalami ilmunya, tentu saja masih perlu disempurnakan dengan sumber yang lain.
Sayangnya, sarana komunikasi mutakhir saat ini sering disalahgunakan orang untuk hal-hal yang berbau dosa. Media yang tadinya sifatnya netral ditarik menjadi sarana untuk menyebar berita, gambar, atau film tak layak konsumsi. Belum lagi, sensor untuk penyalahgunaan tersebut sungguh tak mudah atau bahkan tak mungkin dilakukan. Di sinilah peran agama menjadi penting. Agama menanamkan pada diri seseorang bahwa suatu perbuatan salah bukan selalu berarti karena dilihat orang atau terdapat dalam aturan hukum negara. Perbuatan dosa itu menyangkut keyakinan dan ketulusan hati (iman dan ikhsan). Kalau kita yakin kalau agama melarang, maka dengan sekuat tenaga, apapun rayuan maksiat yang dilancarkan orang lain melalui media, tentu tidak akan berpengaruh apa-apa baginya. Ia juga tidak gentar untuk melakukan ibadah di saat tak seorang pun peduli dengan ajaran agama. Selain itu, di saat media begitu gencar digunakan untuk keperluan negatif, justru ia bangkit untuk memanfaatkan media secara positif. Dengan demikian, hatinya akan kukuh menjalankan perbuatan baik meskipun tak ada seorang pun yang mendukungnya. Juga ia tidak akan berbuat kesalahan walau tak ada seorang pun yang melihatnya. Inilah manfaat konkret ada kuatnya pemahaman agama dalam menghadapi era informasi yang begitu canggih dengan aneka media.
Alhasil, kita perlu memiliki skil dalam memanfaatkan media. Di samping itu,kita perlu bentengi diri dengan kekuatan agama. Hanya kepada Allah SWT kita bermohon dan hanya kepada-Nya pula kita bergantung. Semoga, di era teknologi informasi yang serba canggih ini, kita tidak terperosok ke jurang maksiat, tetapi sebaliknya, kita mampu memanfaatkan kekuatan tersebut untuk dakwah Islam secara kaffah. Wa Allah a'lam.
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 Juli 2010
Rabu, 09 Juni 2010
TABAH
Setiap hari kita sudah terbiasa untuk menata, membangun, dan mengejar impian. Berbagai usaha kita lakukan demi tercapainya cita-cita. Kita tentu ingin sehat, sukses, dan selamat. Kita berharap hidup kita bahagia, lahir dan batin, tidak kurang suatu apapun. Tetapi, siapa yang bisa menjamin bahwa jalan hidup ini lurus dan mulus? Bagaimana jika muncul halangan dan hambatan yang menyesakkan dada?
Reaksi pertama yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang tatkala impiannya terancam sirna adalah bersedih, menangis, dan mencari kambing hitam. Ia bisa mengumpat orang-orang sekitarnya yang tidak mendukung tercapainya harapan. Ia bahkan tidak segan memaki Tuhan yang dianggap tidak sayang dan telah begitu tega menyakitinya. Tuhan kini telah meninggalkannya.
Namun, apakah dengan begitu ia dapat menyelesaikan masalahnya? mengurung diri di kamar sambil menangis tersedu-sedu dan meratapi nasib ternyata tidak mengurangi luka hatinya akibat kegagalan. Justru, dengan 'ngambek' tidak shalat karena shalatnya tidak menjadikan hidupnya kian sukses malah akan memperburuk keadaan. Memang, kalau seseorang sedang mengalami kesedihan, jiwanya akan mudah goyah, kesadarannya terganggu, dan alur pikirnya terhambat. Ia hanya akan mengandalkan luapan emosi sesaat yang didukung kekuatan egonya. Alhasil, masalah kian runyam.
Jalan terbaik adalah bersandar kepada sang Pencipta. Mengapa malah menjauhi-Nya? Seseorang yang dirundung kesedihan lalu berusaha lari Tuhan sungguh telah melakukan kesalahan yang dapat berakibat fatal. Ia akan tersesat sejauh-jauhnya dan akan menyesal sedalam-dalamnya tanpa bisa kembali lagi, misalnya mabuk, menenggak racun, atau bahkan gantung diri, naubillah min dzalik. Ia anggap Tuhan telah mati, Tuhan tidak kuasa lagi membantunya, lalu untuk apa menyembah-Nya? Jalan pikiran cekak ini bisa menghinggapi hati siapa saja yang sedang kecewa, marah, dan trauma. Padahal, Allah SWT telah berfirman, "Allah sama sekali tidak pernah meninggalkanmu dan membencimu...(al-Dhuha:3)." Allah justru akan memberikan bantuan tepat pada waktunya dan Dia-lah yang Maha Tahu bagian terbaik bagi setiap hamba-Nya. Oleh sebab itu, ketika masalah datang menyapa, kita semestinya kian mengencangkan ikat pinggang untuk lebih giat beribadah memohon pertolongan kepada-Nya. Pertolongan Allah sesungguhnya begitu dekat untuk orang-orang yang beriman dan yakin akan kekuatan-Nya.
Kesimpulannya, hidup harus tetap berjalan. Tak ada jalan hidup yang selalu lebar dan lengang tetapi justru berkelok dan berliku. Drama hidup yang dinamis dan kadang melankolis merupakan ladang ujian bagi kita umat Islam yang beriman untuk mengetahui apakah kita termasuk pemilik tauhid emas atau loyang. Semoga, di sisa-sisa hidup ini, kita selalu sadar untuk selalu bersimpuh kepada zat yang Maha Perkasa agar hidup kita selalu berada di jalan-Nya. Amin. Wa Allah a'lam.
Reaksi pertama yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang tatkala impiannya terancam sirna adalah bersedih, menangis, dan mencari kambing hitam. Ia bisa mengumpat orang-orang sekitarnya yang tidak mendukung tercapainya harapan. Ia bahkan tidak segan memaki Tuhan yang dianggap tidak sayang dan telah begitu tega menyakitinya. Tuhan kini telah meninggalkannya.
Namun, apakah dengan begitu ia dapat menyelesaikan masalahnya? mengurung diri di kamar sambil menangis tersedu-sedu dan meratapi nasib ternyata tidak mengurangi luka hatinya akibat kegagalan. Justru, dengan 'ngambek' tidak shalat karena shalatnya tidak menjadikan hidupnya kian sukses malah akan memperburuk keadaan. Memang, kalau seseorang sedang mengalami kesedihan, jiwanya akan mudah goyah, kesadarannya terganggu, dan alur pikirnya terhambat. Ia hanya akan mengandalkan luapan emosi sesaat yang didukung kekuatan egonya. Alhasil, masalah kian runyam.
Jalan terbaik adalah bersandar kepada sang Pencipta. Mengapa malah menjauhi-Nya? Seseorang yang dirundung kesedihan lalu berusaha lari Tuhan sungguh telah melakukan kesalahan yang dapat berakibat fatal. Ia akan tersesat sejauh-jauhnya dan akan menyesal sedalam-dalamnya tanpa bisa kembali lagi, misalnya mabuk, menenggak racun, atau bahkan gantung diri, naubillah min dzalik. Ia anggap Tuhan telah mati, Tuhan tidak kuasa lagi membantunya, lalu untuk apa menyembah-Nya? Jalan pikiran cekak ini bisa menghinggapi hati siapa saja yang sedang kecewa, marah, dan trauma. Padahal, Allah SWT telah berfirman, "Allah sama sekali tidak pernah meninggalkanmu dan membencimu...(al-Dhuha:3)." Allah justru akan memberikan bantuan tepat pada waktunya dan Dia-lah yang Maha Tahu bagian terbaik bagi setiap hamba-Nya. Oleh sebab itu, ketika masalah datang menyapa, kita semestinya kian mengencangkan ikat pinggang untuk lebih giat beribadah memohon pertolongan kepada-Nya. Pertolongan Allah sesungguhnya begitu dekat untuk orang-orang yang beriman dan yakin akan kekuatan-Nya.
Kesimpulannya, hidup harus tetap berjalan. Tak ada jalan hidup yang selalu lebar dan lengang tetapi justru berkelok dan berliku. Drama hidup yang dinamis dan kadang melankolis merupakan ladang ujian bagi kita umat Islam yang beriman untuk mengetahui apakah kita termasuk pemilik tauhid emas atau loyang. Semoga, di sisa-sisa hidup ini, kita selalu sadar untuk selalu bersimpuh kepada zat yang Maha Perkasa agar hidup kita selalu berada di jalan-Nya. Amin. Wa Allah a'lam.
Jumat, 28 Mei 2010
BERHENTILAH MENGGUNJING...

Setiap harinya, manusia tidak lepas dari pergaulan dengan berbagai jenis karakter orang di sekelilingnya. Aneka watak dan kebiasaan yang berbeda seringkali memicu timbulnya masalah. Sebagai contoh, kebiasaan di meja makan atau berpakaian, tentu satu sama lain tidak dapat disamakan dan sering menimbulkan cemoohan. Nah, sayangnya tidak semua orang berani menunjukkan rasa ketidaksetujuannya di depan orang yang bersangkutan. Bahkan, karena hatinya tidak cocok, tak jarang mereka bercerita kesana kemari dengan "bumbu-bumbu penyedapnya" sehingga kesalahan yang sesungguhnya kecil dan dapat dinetralisasi dengan cepat malah menjadi runyam dan berbuntut panjang. Andai saja mereka bertemu dan saling berbicara dari hati ke hati, tentunya persoalan yang timbul dari keduanya akan dapat diselesaikan dengan mudah.
Dalam kasus lain, ketika sekumpulan orang berkumpul di suatu tempat dan bercengkrama, topik menarik yang sering mereka bicarakan adalah seputar kekurangan orang lain. Misalnya, si A itu orangnya tidak pernah senyum, galak, dan sombong. Kemudian, si B selalu ribut dengan istrinya di rumah karena banyak hutang. Lalu si C, jarang bergaul dengan orang lain karena kuper dan gaptek. Begitulah, semua orang yang ada di sekelilingnya selalu dalam posisi salah dan rendah seolah-olah kedua orang yang sedang "ngasani" itu lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Percakapan yang isinya gunjingan itu ternyata hanya akan menyakitkan hati para korbannya. Dalam al-Qur'an surat al-Hujurat: 12, Allah telah menyindir para penggunjing itu ibarat orang-orang yang gemar memakan daging saudaranya yang sudah mati. Jijik bukan?
Bunyi surat al-Hujurat: 12 selengkapnya adalah "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." Ayat di atas mengajari kita untuk mengurangi rasa buruk sangka. Buruk sangka atau su'udhan kadang diperlukan untuk berhati-hati. Contohnya, ketika kita sedang naik bis umum, lalu ada orang yang dengan sengaja mendekati kita sambil melirik tas kita, kita perlu waspada dengan segar mengamankan barang bawaan agar tidak dicopet oleh orang tidak dikenal. Rumah kita juga perlu dikunci di malam hari agar tidak mengundang potensi orang lain untuk berbuat jahat.
pelajaran lain yang bisa kita petik dari ayat di atas adalah kita tidak diperkenankan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Memang, jujur saja, membicarakan kekurangan orang lain itu terasa 'sedap' sekali. Kita seolah-olah menang dan lebih unggul. Padahal, belum tentu orang yang sedang kita korek kekurangannya itu lebih buruk dari kita. Bisa jadi, untuk menutupi kekurangan kita, kita kemudian begitu getol dan semangat membongkar aib orang lain. Sungguh naif bukan? Padahal, sekali kita memaparkan keburukan orang lain, itu berarti kita berinvestasi suatu saat orang lain akan dengan bebas mengorek keburukan kita. 'Ngrasani' orang akan dibalas 'dirasani' orang. Masuk akal bukan?
Selanjutnya, Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak bergunjing. Menggunjing orang akan berakibat fatal. Orang yang sebenarnya baik-baik saja tetapi karena kita pergunjingkan akan rendah harga dirinya dan bisa jadi akan hancur karirnya. Lebih bahaya lagi, kekurangan yang kita gembor-gemborkan adalah hanya fitnah belaka. Ini tentu lebih kejam dari pada pembunuhan. Perumpamaan makan bangkai saudara sendiri merupakan sindiran tegas atas kebiasaan orang membicarakan keburukan orang lain. Dalam perumpaan lain yang telah Allah tunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW saat isra' mi'raj, para penggunjing itu seperti dua orang yang saling mencakar, memukul dan menyakiti. Oleh sebab itu, di akhir ayat al-Hujurat di atas, Allah mengajak kita untuk bertaubat atas kebiasaan buruk kita. Semoga kita diampuni atas dosa dan kesalahan kita akibat kebiasaan mengorek keburukan orang dan menggunjingnya di depan orang banyak. Astaghfirullahal Adzim. Wa Allah a'lam.
Minggu, 31 Januari 2010
ESENSI BACAAN BASMALAH
“Awali harimu dengan basmalah.” Demikian pesan sederhana yang seringkali kita dengar. Sejak kecil, kita tentu telah diajari oleh orang tua kita untuk selalu mengawali setiap pekerjaan dengan basmalah, seperti sebelum makan, sebelum berangkat sekolah, sebelum naik kendaraan, hingga sebelum tidur. Basmalah ibarat pintu pembuka berkah. Jika setiap pekerjaan dimulai dengan basmalah, niscaya Allah akan membukakan pintu-pintu kemudahan dan keselamatan.
Namun, seiring dengan proses perkembangan jiwa dan bertambahnya pengalaman, nampaknya basmalah tidak lagi populer. Beruntunglah bagi sebagian kita yang akrab dengan lingkungan religius. Basmalah sudah menjadi bagian dari rutinitas. Namun, bagi sebagian kita yang lain yang terjun dalam dinamika dunia sekuler, nampaknya basmalah merupakan benda asing. Logika kita mengatakan, tanpa basmalah pun semua keinginan dapat diwujudkan asalkan ada perencanaan yang matang, pelaksanaan yang prosedural, pengawasan yang ketat hingga evaluasi yang komprehensif. Allah yang termaktub dalam lafal basmalah hanyalah kata klise yang berlaku bagi orang-orang awam yang terbelakang pendidikannya.
Dalam pengalaman keseharian yang lain, kita bisa sukses tanpa memulai dengan basmalah. Misalnya, saat makan, tanpa basmalah, kita pun bisa kenyang. Ketika kita berkendara, tanpa basmalah pun kita bisa selamat sampai tujuan. Tatkala kita mengerjakan tugas-tugas kantor, kita mampu menyelesaikannya dengan hasil sempurna. Apalagi kalau kita melihat bahwa berbagai prestasi telah ditorehkan para pakar sains yang tidak pernah membasahi muka mereka dengan air wudhu. Lalu, apa makna esensi bacaan basmalah? Benarkah pekerjaan tanpa basmalah akan terputus dan gagal?
Pada dasarnya ada alur pikir yang terputus ketika kita mengikuti cara pandang di atas. Benar memang, basmalah bukanlah kata-kata mantra yang diucapkan para penyihir. Basmalah juga bukanlah kalimat yang bisa merubah gunung menjadi emas (kecuali mukjizat). Tetapi, esensi basmalah adalah adanya pengakuan kita kepada kekuatan ghaib Tuhan yang Maha Perkasa. Kalau kita mau jujur, seberapa besar kemampuan manusia mengontrol segala keinginannya? Pernahkah kita teliti berapa banyak orang yang depresi berat gara-gara hanya mengandalkan logika matematika belaka? Di sinilah letak fungsi basmalah yang dapat menjadi perisai seorang mukmin untuk tetap bekerja keras sesuai dengan keahliannya lalu berserah diri atas segala usahanya. Ia akan bersyukur ketika semua usahanya sukses dan akan tabah serta tawakkal tatkala usahanya gagal. Ia selalu memiliki tempat berteduh dan bergantung di saat suka dan duka.
Ada beberapa contoh yang bisa diambil dari perjalanan sejarah untuk menguatkan esensi basmalah. Fir’aun dan Abrahah adalah dua sosok manusia yang ingin mengungguli kekuatan Allah. Fir’aun dengan segala kekuasaan dan keangkuhannya menyatakan diri sebagai tuhan yang dapat menimpakan azab kepada orang yang menentangnya, seperti kisah Masyitah. Perempuan yang biasa membantu merawat anaknya itu harus rela dihukum akibat melafalkan kata basmalah ketika sisirnya terjatuh. Abrahah pada kisah yang lain ingin merobohkan Ka’bah agar pusat ibadah itu pindah ke negerinya. Menurut logika biasa, Fir’aun pastilah berada di atas angin karena tidak ada pesaing yang bisa mengalahkannya. Bahkan saat mengejar Musa dan kawan-kawannya, sebenarnya Fir’aun akan dengan mudah menangkap mereka untuk segera disalib. Tetapi, Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Laut merah tiba-tiba terbelah, lalu rombongan Musa lewat dengan selamat, sedangkan Fir’aun dan pasukannya harus rela meregang nyawa di laut itu. Begitu juga Abrahah dan pasukan gajahnya seakan-akan tak ada yang bisa menghalangi keinginannya. Tapi, Allah mengirimkan kawanan burung ababil yang membawa kerikil panas sehingga meluluhlantakkan mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat. Inilah sebagian dari tanda-tanda keperkasaan Allah SWT yang ditunjukkan agar manusia tidak tertipu oleh pikiran piciknya.
Dengan memahami kisah di atas, tampak jelas bahwa lafal basmalah merupakan bentuk pertahanan bagi seorang muslim dalam mengarungi samudera kehidupannya. Walau manusia dikarunia kemampuan untuk merencanakan hidupnya, tetapi Allahlah yang berhak menentukan jalannya. Sedetail apapun pikiran manusia untuk mengantisipasi segala kemungkinan, ia tidak akan berani menjamin 100% kebenaran perkiraannya. Dalam dunia ilmiah, hal ini pun diakui sebagai unsur probabilitas, atau faktor X yang umumnya ditulis dengan angka sekitar 1%. Faktor X itu mampu membalikkan 99% keyakinan perhitungan manusia dalam waktu sekejap. Itulah kekuatan Allah yang tak terdeteksi oleh daya nalar manusia.
Akhirnya, membaca basmalah selain bernilai ibadah, juga bermanfaat sebagai penyandaran diri kita kepada zat yang Maha Gagah. Kepada-Nyalah kita bermohon dan kepada-Nyalah kita berharap. Tak ada kekuatan apa pun yang bisa menandingi kebesaran-Nya. Karena Dia memang pemilik segala sesuatu di langit dan di bumi. Dia Maha Satu dan Maha Kekal. Usaha keras yang disertai dengan kepasrahan yang tulus kepada-Nya adalah kombinasi harmonis bagi kesuksesan seseorang, baik untuk keperluan dunianya maupun untuk kepentingan akhiratnya. Semoga kita bisa membiasakan diri dengan membaca basmalah secara tulus di setiap aktifitas serta mampu menghayatinya dengan penuh kesadaran. Wa Allah a’lam.
Namun, seiring dengan proses perkembangan jiwa dan bertambahnya pengalaman, nampaknya basmalah tidak lagi populer. Beruntunglah bagi sebagian kita yang akrab dengan lingkungan religius. Basmalah sudah menjadi bagian dari rutinitas. Namun, bagi sebagian kita yang lain yang terjun dalam dinamika dunia sekuler, nampaknya basmalah merupakan benda asing. Logika kita mengatakan, tanpa basmalah pun semua keinginan dapat diwujudkan asalkan ada perencanaan yang matang, pelaksanaan yang prosedural, pengawasan yang ketat hingga evaluasi yang komprehensif. Allah yang termaktub dalam lafal basmalah hanyalah kata klise yang berlaku bagi orang-orang awam yang terbelakang pendidikannya.
Dalam pengalaman keseharian yang lain, kita bisa sukses tanpa memulai dengan basmalah. Misalnya, saat makan, tanpa basmalah, kita pun bisa kenyang. Ketika kita berkendara, tanpa basmalah pun kita bisa selamat sampai tujuan. Tatkala kita mengerjakan tugas-tugas kantor, kita mampu menyelesaikannya dengan hasil sempurna. Apalagi kalau kita melihat bahwa berbagai prestasi telah ditorehkan para pakar sains yang tidak pernah membasahi muka mereka dengan air wudhu. Lalu, apa makna esensi bacaan basmalah? Benarkah pekerjaan tanpa basmalah akan terputus dan gagal?
Pada dasarnya ada alur pikir yang terputus ketika kita mengikuti cara pandang di atas. Benar memang, basmalah bukanlah kata-kata mantra yang diucapkan para penyihir. Basmalah juga bukanlah kalimat yang bisa merubah gunung menjadi emas (kecuali mukjizat). Tetapi, esensi basmalah adalah adanya pengakuan kita kepada kekuatan ghaib Tuhan yang Maha Perkasa. Kalau kita mau jujur, seberapa besar kemampuan manusia mengontrol segala keinginannya? Pernahkah kita teliti berapa banyak orang yang depresi berat gara-gara hanya mengandalkan logika matematika belaka? Di sinilah letak fungsi basmalah yang dapat menjadi perisai seorang mukmin untuk tetap bekerja keras sesuai dengan keahliannya lalu berserah diri atas segala usahanya. Ia akan bersyukur ketika semua usahanya sukses dan akan tabah serta tawakkal tatkala usahanya gagal. Ia selalu memiliki tempat berteduh dan bergantung di saat suka dan duka.
Ada beberapa contoh yang bisa diambil dari perjalanan sejarah untuk menguatkan esensi basmalah. Fir’aun dan Abrahah adalah dua sosok manusia yang ingin mengungguli kekuatan Allah. Fir’aun dengan segala kekuasaan dan keangkuhannya menyatakan diri sebagai tuhan yang dapat menimpakan azab kepada orang yang menentangnya, seperti kisah Masyitah. Perempuan yang biasa membantu merawat anaknya itu harus rela dihukum akibat melafalkan kata basmalah ketika sisirnya terjatuh. Abrahah pada kisah yang lain ingin merobohkan Ka’bah agar pusat ibadah itu pindah ke negerinya. Menurut logika biasa, Fir’aun pastilah berada di atas angin karena tidak ada pesaing yang bisa mengalahkannya. Bahkan saat mengejar Musa dan kawan-kawannya, sebenarnya Fir’aun akan dengan mudah menangkap mereka untuk segera disalib. Tetapi, Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Laut merah tiba-tiba terbelah, lalu rombongan Musa lewat dengan selamat, sedangkan Fir’aun dan pasukannya harus rela meregang nyawa di laut itu. Begitu juga Abrahah dan pasukan gajahnya seakan-akan tak ada yang bisa menghalangi keinginannya. Tapi, Allah mengirimkan kawanan burung ababil yang membawa kerikil panas sehingga meluluhlantakkan mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat. Inilah sebagian dari tanda-tanda keperkasaan Allah SWT yang ditunjukkan agar manusia tidak tertipu oleh pikiran piciknya.
Dengan memahami kisah di atas, tampak jelas bahwa lafal basmalah merupakan bentuk pertahanan bagi seorang muslim dalam mengarungi samudera kehidupannya. Walau manusia dikarunia kemampuan untuk merencanakan hidupnya, tetapi Allahlah yang berhak menentukan jalannya. Sedetail apapun pikiran manusia untuk mengantisipasi segala kemungkinan, ia tidak akan berani menjamin 100% kebenaran perkiraannya. Dalam dunia ilmiah, hal ini pun diakui sebagai unsur probabilitas, atau faktor X yang umumnya ditulis dengan angka sekitar 1%. Faktor X itu mampu membalikkan 99% keyakinan perhitungan manusia dalam waktu sekejap. Itulah kekuatan Allah yang tak terdeteksi oleh daya nalar manusia.
Akhirnya, membaca basmalah selain bernilai ibadah, juga bermanfaat sebagai penyandaran diri kita kepada zat yang Maha Gagah. Kepada-Nyalah kita bermohon dan kepada-Nyalah kita berharap. Tak ada kekuatan apa pun yang bisa menandingi kebesaran-Nya. Karena Dia memang pemilik segala sesuatu di langit dan di bumi. Dia Maha Satu dan Maha Kekal. Usaha keras yang disertai dengan kepasrahan yang tulus kepada-Nya adalah kombinasi harmonis bagi kesuksesan seseorang, baik untuk keperluan dunianya maupun untuk kepentingan akhiratnya. Semoga kita bisa membiasakan diri dengan membaca basmalah secara tulus di setiap aktifitas serta mampu menghayatinya dengan penuh kesadaran. Wa Allah a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)