Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

SENI MEDIASI: KETRAMPILAN UNIK BAGI SANG PENDAMAI

Satu minggu penuh saya mengikuti training Mediasi yang dilaksanakan oleh Maliki Mediation Center (M2C) Malang. Sungguh lelah badan saya karena harus masuk ruangan dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 05.00 sore. Untungnya, para trainer yang datang dari Walisongo Mediation Center (WMC) Semarang pandai membawa suasana sehingga waktu berlalu begitu cepat dan ilmu bermanfaat pun didapat. Awalnya saya agak khawatir bahwa materi yang akan disampaikan akan sama dengan pengetahuan umum yang bisa dipelajari dari kehidupan biasa tapi ternyata beda. Banyak teknik mediasi yang belum saya ketahui sebelumnya namun baru saya rasakan pentingnya saat menjalani pelatihan ini. Alhasil, saya puas dan gembira dengan skil baru yang kini memenuhi otak saya.

Pada jam-jam awal dana hari pertama, saya tak mendapat kesan apa-apa. Acara serimonial pembukaan berjalan biasa saja. Perkenalan para trainer juga tak terlalu istimewa. Bahkan, materi perdana tentang definisi konflik, sumber-sumber konflik, dan cara mengatasi konflik sudah sangat mafhum karena saya biasa membaca dan bahkan sering terlibat konflik, baik dalam sekala kecil maupun besar. Namun, ketika masuk hari kedua, saya baru merasa mendapat tantangan. Saat itu, sang trainer meminta kami membuat analisis tentang kasus konflik yang ada di sekitar kami. Saya dan kawan-kawan satu kelompok kecil menentukan satu topik hangat tentang perebutan masjid antara golongan NU dan Muhammadiyah. Nah, kali ini kami ditugasi untuk membuat model analisis yang dipetakan dalam beberapa ragam diagram. Pertama, kami membuat analisis konflik komunal ini dalam bentuk concept mapping. Lalu masalah yang sama harus diuraikan dalam bentuk conflict onion. Tugas terakhir adalah menuangkan konflik itu dalam bentuk conflict tree. Di sinilah, titik awal saya kagum dengan ilmu mediasi. Kami yang ditraining untuk menjadi mediator profesional harus mampu memetakan masalah secara obyektif dan cerdas. Obyektif mengandung arti bahwa kami harus mampu lepas dari atribut pribadi saat menghadapi fenomena konflik. Cerdas berarti kami harus jeli dan teliti memetakan masalah sehingga hubungan antara para pihak yang berseteru, unsur masyarakat yang terlibat, dan garis koneksi harus tertuang dengan lengkap. Dari gambar-gambar tersebut, sang mediator dapat memberikan jalan tengah yang "win-win solution" sehingga konflik bisa diatasi tanpa ada pihak yang merasa kalah. Inilah inti sari mediasi yang memberikan fasilitas bagi para pihak yang bersengketa untuk menemukan jalan keluar yang damai dan memuaskan.

Hari-hari berikutnya, saya dan kawan-kawan dilatih memerankan beberapa tokoh, dari para pihak yang bersengketa, mediator, co-mediator, dan observer. Dari pengalaman latihan langsung inilah saya melihat bahwa skil seorang mediator sangat menentukan berhasil tidaknya ia mengatasi masalah. Beberapa ketrampilan dasar yang harus dimiliki seorang mediator antara lain adalah kemampuannya menurunkan ketegangan konflik, menangkap akar masalah, mengembangkan sejumlah opsi solusi, dan membuat akta kesepakatan.

Pertama, skil yang dibutuhkan untuk menurunkan ketegangan konflik antara lain adalah sikap empati dan gaya bahasa yang menyejukkan. Untuk itu, mediator harus meluangkan waktu yang cukup dan pikiran yang jernih saat menerima para pihak yang bersengketa. Selain itu, gaya bahasa yang soft dan kemampuan memparafrasekan setiap kalimat negatif menjadi kalimat positif menjadi sebuah keniscayaan. Parafrase merupakan ketrampilan menangkap inti kalimat yang diucapkan oleh para pihak yang sedang emosi lalu ditransfer ke dalam  bahasa yang halus dan menenangkan. Hal ini jelas tidak mudah dan butuh latihan berkali-kali sehingga menjadi satu skil yang menyatu dalam kehidupan.

Ketrampilan yang kedua adalah menangkap akar masalah. Saat kedua belah pihak mengungkapkan masalahnya, sang mediator harus memiliki skil mendengarkan dengan baik. Ia harus bersikap ramah dan mencatat hal-hal penting yang menjadi kerisauan para pihak. setelah itu, ia harus pandai membuat kesimpulan tentang posisi masing-masing dan menentukan poin-poin tuntutan kedua belah pihak. Misalnya, pihak satu menginginkan bercerai sedangkan pihak kedua ingin mempertahankan keluarga. Dari keduanya akan diketahui akar masalah yang melandasi perseteruan itu, contohnya masalah kurang kasih sayang.

Ketiga adalah ketrampilan memberikan pilihan-pilihan solusi. Kecerdasan mediator di sini akan diuji. Saat ia mampu menemukan akar masalah konflik tersebut, ia harus mampu membuat pilihan-pilihan solusi yang variatif sehingga kedua belah pihak akan menemukan titik temu kepentingan. Sebagai contoh, pihak suami sering keluar kota karena sang isteri kurang sabar dalam mengurus keluarga. Adapun sang isteri tidak bisa mengurus keluarga dengan baik karena uang belanja kurang dan suami jarang memberikan pujian. Nah, solusi yang ditawarkan bisa bermacam-macam, antara lain suami perlu memberikan uang belanja lebih banyak dan rela memberikan pujian kepada sang isteri sedangkan sang isteri perlu hemat dan lebih telaten mengurus keluarga. Jika kedua sepakat dengan pilihan ini, masalah konflik dapat diatasi dan perceraian dapat dihindari tanpa ada pihak yang dirugikan.

Terakhir, mediator perlu menuangkan kesepakatan para pihak dalam sebuah akta perdamaian. Akta ini akan menjadi landasan bagi kedua pihak seusai mediasi. Setiap poin harus dibacakan kepada kedua belah pihak sehingga setiap orang paham dengan kesepakatan yang dibuat. Di bagian akta perdamaian itu dibubuhkan tandatangan para pihak dan mediator.

Dari ketrampilan mediasi ini, saya berkesimpulan bahwa untuk menjadi pendamai ulung, dibutuhkan kesabaran yang ekstra, kemampuan komunikasi yang handal, dan kecerdasan yang mumpuni. Seni mediasi ini sangat bermanfaat tidak hanya untuk mengatasi konflik besar di masyarakat, tetapi juga sangat berguna untuk menyelesaikan konflik kecil dalam keluarga dan bahkan untuk konflik batin yang terjadi dalam diri sendiri. Salam damai dan semoga bermanfaat!

   

Senin, 21 Februari 2011

BELAJAR MANDIRI DARI PENULIS “INSPIRING MUSLEM ENTERPRENEURSHIP”



Saya sebenarnya asing dengan istilah enterpreneur. Maklum, latar belakang pendidikan saya adalah hukum islam sehingga tidak terlalu bersentuhan langsung dengan dunia wirausaha. Kalaulah ada, saya hanya mempelajari tentang dalil-dalil syariat yang terkait dengan etika berbisnis. Hari ini, saya mendapat berkah tatkala saya dipertemukan oleh rektor UIN dengan penulis sekaligus pemilik hak cipta pelatihan “Inspiring Muslim Enterpreneur”, Dr. Bambang Triono. Ia adalah konsultan ahli pemberdayaan masyarakat berbasis swadaya dan keunggulan lokal. Ia adalah “arsitek” pengembangan desa agrowisata dan agroisndustri di Kelaten dan Sidogiri. Tangan dinginnya telah mengubah wajah perkampungan yang gersang menjadi hijau ranau dengan aneka usaha yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

Pertemuan pertama terjadi di ruang lobi rektorat pagi ini. Saya begitu gembira bisa bersua dengan orang berpengaruh itu. Sambil basa-basi sejenak, saya mengajaknya ke ruang kantor kami di gedung sebelah masjid. Di sana, saya berdiskusi hangat tentang berbagai program aplikatif untuk memberdayakan masyarakat dengan dana bergulir. Terbentang di konsep kami, bahwa kami akan memulai proyek besar yang berpotensi untuk mengembalikan kekuatan rakyat yang masih berada di pedesaan.  Beberapa program sudah kami rencanakan untuk diimplementasikan di Sumber Pucung, Malang.  Namun, ke depan, kami akan membuat satu kawasan training center yang diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin berwiraswasta dengan berbagai budidaya tanaman dan ternak. Sungguh luar biasa jika kemudian masyarakat kita yang tinggal di pelosok desa mampu berdaya dengan kekayaan alam yang mereka miliki.

Kembali ke sosok Pak Bambang. Saya awalnya ragu bahwa seorang ekonom yang sukses dengan teori dan praktiknya akan selalu mengukur setiap kalimat dan ilmu yang keluar dengan materi. Artinya, ia akan menjaga rahasia kedalaman ilmunya kecuali bila ada imbalan yang pantas diterima. Namun, sontak anggapan saya itu hilang ketika saya mendengar mengakuannya bahwa ia berdiskusi berbagi pengalaman dan pengetahuan bukan semata-mata karena uang. Ia malah siap memberikan pelatihan enterpreneur gratis kepada seluruh dosen UIN. Wah, saya pun menyambut tawaran tersebut. Bagaimana seorang ilmuwan begitu ikhlas berbagai ilmu tanpa mengharap imbalan apapun?

Ternyata ada rahasianya. Ia bersikap seperti itu karena ia berprinsip bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain. Ia yakin, tatkala ia membantu orang lain baik dalam hal harta maupun non harta, Allah SWT tidak akan melupakan amal baiknya. Ia pun percaya bahwa bila ia berbuat baik, maka Allah SWT akan berbuat baik padanya. Hukum karma kebaikan senantiasa terpatri kuat dalam hatinya. Oleh sebab itu, dengan memperkukuh silaturahim dan berbagi ilmu, pak Bambang merasa bahagia dan bangga akan hidupnya. Jiwanya merasa puas bila orang yang dibantunya mampu tersenyum lega. Wow, kapan kita bisa seperti ini?

Rabu, 06 Oktober 2010

MANAJEMEN BERBASIS KEMAMPUAN KERJA, MASIH VALIDKAH?


Manajemen memang tidak bisa lepas dari pembahasan bisnis. Pada era industri, banyak perusahaan bermunculan dengan gayanya masing-masing. Ketika mesin belum diperkenalkan, tenaga manusia merupakan sumber energi utama dalam proyek perusahaan. Ambil contoh, ketika orang mulai merakit mobil, para ahli mesin berkumpul di satu lokasi dan bahu-membahu merangkai mobil. Kerja gotong-royong ini ternyata hanya mampu membuat satu mobil dalam satu hari. Tenaga pekerja terkuras habis dengan hasil maksimalnya sebuah mobil rampung. Melihat pasar yang cukup menjanjikan, produksi satu mobil sehari rupanya masih kurang memuaskan. Manajer perusahaan berpikir keras untuk menciptakan alat dan sistem yang bisa mempercepat pekerjaan itu.

Introduction