Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

TUKANG BECAK MENINGGAL SAAT MENGAYUH

Kejadian ini jelas tak akan terlupakan. Sabtu (22/8/2015), saya dihadapkan pada situasi yang memilukan. Seorang tukang becak lewat di depan sebuah bengkel motor, lalu becak itu berhenti. Tak lama kemudian sang pengemudinya tersungkur ke depan dan tak sadarkan diri. 
Lengkapnya, seperti ini. Pagi itu, saya berniat mau ke kampus untuk menjenguk mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan ospek. Saya berangkat lebih awal dan berencana mampir ke sebuah bengkel untuk ganti oli dan cek mesin. Untuk membunuh waktu, saya gunakan kesempatan untuk baca berita di hp. Saat asyik menikmati berita, tiba-tiba ada seorang ibu penjual makanan di sebuah warung pinggir jalan berteriak minta tolong sambil menunjuk seseorang yang berada di becak. Tak lama kemudian ada beberapa orang bergegas mendekati becak itu. Sang pengayuh becak diam tak bergerak dan posisi kepala tersungkur ke depan di kursi yang kebetulan tidak ada penumpangnya. Tak banyak yang berani menyentuh. Mungkin takut disangka pelaku kejahatan. Ada pula yang berinisiatif menghubungi polisi. Namun, hingga beberapa saat, orang-orang hanya diam berkerumun dan bermain dengan opini masing-masing.
Saya pun ikut bergegas mendekati tukang becak itu. Saya usulkan kepada warga untuk segera membawanya ke sebuah klinik terdekat untuk diperiksa kesehatannya. Maka, sejumlah orang sepakat untuk menurunkan lelaki itu dan membawanya ke klinik. Dengan susah payah kami membopong bersama dan akhirnya sampailah  pada klinik yang dituju. Orang tersebut segera dibaringkan dan diperiksa dokter. Mengejutkan, ternyata orang tersebut dinyatakan sudah meninggal! Uh...menegangkan sekali...
Lalu, karena tidak ada seorang pun yang mengenalnya dan kondisi di tukang becak itu sendirian, upaya untuk menelusuri identitasnya agak sulit. Langkah pertama tentunya mencari identitas yang dibawa. Saya pun memberanikan diri untuk merogoh sejumlah sakunya. Saku bajunya kosong. Saku celana depannya juga kosong. Untung pada saku celana belakangnya ditemukan dompet lusuh yang berisi sejumlah uang namun tidak ada kartu identitas. Orang-orang sempat gusar karena bingung mau diantar kemana jenazah itu. Tak berapa lama kemudian, pihak rumah sakit menemukan fotokopi KTP yang terlipat kecil berada di lipatan dompet. Ketika dicermati secara seksama, fotokopi KTP itu nampaknya milik bapak pengayuh becak tersebut.  Dengan berbekal identitas yang agak buram itulah kami mencari alamat si tukang becak tersebut. 
Dengan dibantu sukarelawan yang peduli dengan nasib bapak tersebut, anggota keluarga bapak itu ditemukan. Alhamdulillah, meskipun agak lama, akhirnya, jenazah tersebut bisa dibawa pulang untuk dimakamkan.
Apa pelajaran dari peristiwa ini? Pertama, ini adalah peringatan jelas bagi kita bahwa kematian bisa datang kapan saja. Mungkin bapak itu terkena serangan jantung saat mengayuh dan langsung meninggal di tempat. Betapa mudahnya kematian datang di perjalanan meskipun tanpa adanya kecelakaan atau luka besar. Berarti, kita pun bisa kapan saja kehilangan nyawa jika Allah SWT menentukannya. Oleh sebab itu, marilah selalu berbuat yang terbaik tanpa harus menunggu waktu.
Kedua, nasehat dari peristiwa ini adalah perlunya kita membawa kartu identitas meskipun hanya fotokopinya. Di saat jumlah manusia kian banyak dan tak semua orang mengenal kita, identitas diri nampaknya perlu disematkan di antara barang yang kita bawa dengan alasan bahwa kita tidak selalu bisa memberitahu identitas kita secara verbal kepada orang yang ada di sekitar kita. Dengan identitas itu, para penolong akan mudah melakukan langkah selanjutnya setelah menolong kita. Semoga kita diberikan keselamatan dan kesehatan prima sehingga kita dapat menghadap Allah dalam situasi khusnul khotimah. Amin!  

Kamis, 23 Juli 2015

KAKEK PECINTA AL-QUR'AN ITU WAFAT

Lebaran tahun ini terasa berbeda. Salah satunya karena  saya kehilangan seorang kakek yang begitu saya cintai. Namanya Mbah Muharror. Beliau adalah ayah dari ibu saya yang berusia hampir satu abad. Beliau bertempat tinggal di Nganjuk, tempat kelahiran ibu saya. Saya sangat menghormati beliau karena beliaulah yang telah mendorong saya untuk betah tinggal pesantren dalam rangka mendalami ilmu-ilmu agama di bangku Aliyah.  

Banyak kenangan yang tak akan terlupa dari ingatan. Di antaranya adalah kebiasaan beliau berkunjung ke makam kyai di Mojoagung setiap Jumat Legi. Kebiasaan ini berlangsung puluhan tahun. Setelah mengkhatamkan al-Qur'an beberapa kali, beliau berkunjung ke anak-anaknya yang tinggal di Jombang. Kebetulan ada tiga anak yang berkeluarga dan berdomisi di Jombang. Salah satunya adalah ibu saya yang tinggal di Ngoro. Saya yang saat itu masih duduk di bangku SD hingga SMP sering berdiskusi dengan kakek saya tentang agama dan beliau tak segan-segan berbagi ilmu tentang pengalaman hidup dan pemahamannya tentang agama. Beliau memang pernah mondok di beberapa pesantren saat remaja. Kemudian, saya sering bertugas mengantar beliau menggunakan sepeda pancal menuju halte bis saat beliau mau pulang ke Nganjuk.

Kebiasaan membaca al-Qur'an membuat kakek memiliki ingatan yang kuat. Hingga akhir hayatnya, ia masih ingat seluruh nama anak-anak dan cucu-cucunya. Ia sangat bangga dengan prestasi keturunannya, terutama jika berkaitan dengan prestasi di bidang agama. Selain itu, kakek adalah modin yang sangat disegani. Entah berapa puluh tahun beliau menjabat sebagai modin. Yang jelas, ketika berada di lingkungan kampung kakek, hampir semua orang tahu dan paham ketika disebut nama mbah modin.

Beberapa tahun terakhir,kebiasaan pergi ke Mojoagung tidak dapat beliau lakukan. Fisiknya yang kian melemah seiring bertambahnya usia membuat beliau hanya tinggal di rumah ditemani al-Qur'an yang sudah menjadi hobinya. Uniknya, meskipun usianya sudah lebih dari 90 tahun, matanya masih mampu membaca huruf-huruf al-Qur'an tanpa bantuan kacamata. Beberapa ayat dan surat juga sudah beliau hafal sehingga jika berdiskusi beliau tidak ragu-ragu menyebut beberapa ayat yang relevan dengan topik pembicaraan. Sungguh teladan yang luar biasa!

Selasa lalu, 21 Juli 2015, beliau dipanggil oleh Allah SWT sebelum subuh, waktu yang biasa beliau isi dengan shalat malam dan membaca al-Qur'an. Sehari sebelumnya, 20 Juli, di Nganjuk diadakan pertemuan keluarga yang dihadiri oleh hampir seluruh anak dan cucunya.  Jadi waktu itu, semua masih bisa menyaksikan kakek dan berdialog dengannya meskipun kondisi kakek memang sudah sangat lemah. Saya pun sempat berdialog dengan beliau. Namun, pertemuan itu nampaknya pertemuan terakhir antara kakek dengan keturunannya. Sehari setelahnya, kami dikejutkan oleh berita wafatnya dan kami pun berkumpul kembali di Nganjuk untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Selamat jalan Kakek! Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Kakek di sisi-Nya. Amin.... 

KH ABDUL AZIZ MASYHURI: KYAI YANG PENULIS, PENULIS YANG KYAI

KH Abdul Aziz Masyhuri adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah, yang berlokasi di Denanyar Jombang. Saya termasuk beruntung pernah menjadi santri beliau saat sekolah di bangku aliyah. Beliau adalah pemrakarsa sekaligus pengasuh Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus yang dulu dikenal sebagai MANPK. Murid-murid MANPK adalah anak-anak lulusan Madrasah Tsanawiyah yang memiliki prestasi akademik tinggi dan lulus seleksi. Waktu saya dulu, MANPK di Jawa Timur hanya ada dua, yakni MANPK Denanyar dan MANPK Jember. Alhamdulillah, saya termasuk beruntung bisa bergabung dengan anak-anak hebat di MANPK Denanyar.

Berkaitan dengan Yai Aziz, demikian sapaan beliau, saya telah belajar banyak ilmu dari beliau. Di antaranya adalah ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, hingga ilmu tarikh. Beliau banyak melahirkan buku-buku, mulai dari buku karya sendiri, hingga buku khulashah (ringkasan) dan buku terjemahan. Puluhan buku sudah beliau terbitkan. Dalam rangka muktamar NU 2015 ini, beliau sudah menyiapkan dua buku baru yang siap dilaunching.

Selama lebaran 2015 ini, saya menyempatkan berkunjung ke rumah beliau. Yai Aziz begitu senang ketika saya datang. Apalagi saya, kangen dan kagum saya kepada beliau terpenuhi sudah. Saya memang termasuk pengagum beliau karena sejak dulu hingga sekarang, beliau tidak segan-segan mengembangkan ilmu dan menuangkannya dalam berbagai media. Meskipun saat ini usia beliau sudah cukup banyak, namun semangat berburu informasi dan berbagi  ilmu masih kuat. Seperti usaha beliau untuk mencari informasi terbaru tentang sosok tokoh yang beliau tulis, beliau harus datang ke kediaman sang tokoh, atau menemui ahwa warisnya jika tokoh itu sudah tiada. Atau, seperti saat ini beliau sedang gencar mengumpulkan berbagai buku tentang syiah sebagai bahan awal penulisan syiah modern yang akan beliau tulis. Luar biasa bukan? Usaha beliau layaknya seorang doktor atau profesor yang akan menulis karya ilmiahnya.

Saya sempat bertanya motivasi di balik kegigihan beliau berkarya. Jawabannya ternyata singkat: hanya ingin punya "peninggalan". Apa maksudnya? Beliau kemudian mengulas beberapa kyai besar yang sangat tersohor dalam pidatonya. Sang kyai berdakwah di mana-mana dan sangat disukai jamaahnya. Namun, tatkala sang kyai itu wafat, hilang pula reputasi dan ketenarannya. Ia bahkan tidak dikenal oleh generasi-generasi berikutnya. Oleh sebab itu, agar bisa lebih lama bermanfaat, menulis adalah salah satu cara termanjur yang sudah terbukti kebenarannya untuk membuat seseorang tetap dikenang meskipun jasadnya sudah dimakamkan. Buku akan tetap bisa dinikmati siapa saja meskipun sang penulis tidak dapat ditemui lagi.  Jadi, Ayooooo menuliiiiiis.......

Selasa, 19 Mei 2015

CIKUNGUYA YANG MEWABAH DI KAMPUNGKU

Cikunguya rupanya sedang menjangkiti masyarakat di desaku. Awalnya aku tak peduli. Kukira penyakit ini segera saja lenyap dari kampungku. Ternyata tidak. Satu demi satu keluarga terserang penyakit ini. Tak tanggung-tanggung, bukan hanya satu dua orang dalam satu rumah, namun hampir seluruh penghuni rumah itu terkena penyakit ini. Ngeri namun rasanya tak berdaya.

Untuk kasus keluargaku, mula-mula anak pertamaku mengalami demam tinggi. Lalu, kakinya terasa sakit ketika berjalan. Gejalanya berkembang yang akhirnya berujung pada penyakit tipes. Hal serupa dialami oleh anakku yang kedua. Demam tinggi beberapa hari mirip kakaknya. Kakinya sulit digerakkan dan harus digendong untuk beraktifitas. Untungnya segera kubawa ke dokter dan diberi obat yang juga sejenis dengan obat kakaknya. Dalam waktu satu minggu, semua sehat seperti sedia kala.

Aku berpikir bahwa keluargaku sudah bebas dari penyakit. Ternyata, beberapa hari kemudian, aku merasakan sakit di telapak kakiku. Aku sempat mengira aku terkena asam urat atau kolesterol tinggi. Beberapa saat kemudian, persendian kaki dan tangan terasa ngilu. Bila digerakkan terasa sakit. Aku hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur. Bila badan digerakkan sedikit, sakitnya bukan main. Ketika bagian-bagian kaki dan tangan dipijit, sakitnya makin meningkat. Untuk mengurangi ngilu, aku minum ibuprofen dan parasetamol. Setelah beberapa hari kemudian, sakit linu mulai berkurang dan muncul bintik-bintik merah di area tangan dan kaki yang disertai gatal. Akhirnya, karena badanku sudah bisa lumayan beraktifitas, aku pun ke dokter untuk konsultasi dan minta resep. Kini, setelah satu bulan, badanku sudah cukup pulih namun ngilu di persendian, terutama lutut dan pergelangan tangan masih sering terasa. Jika kakiku ditekuk lama, seperti bersila, nyeri kaki kembali menyerang dan sakitnya luar biasa. Akhirnya, aku konsultasi ke dokter dan diberi natrium deklofenak untuk mengurangi nyeri.

Belum sembuh total badanku, giliran istriku mengalami hal serupa. Beberapa hari ia tidak bisa bangun. Ia harus dituntun untuk sekedar ke kamar mandi atau bahkan bangun dari tempat tidur. Hmmm, pengalaman cikunguya yang benar-benar tak terlupakan!


Kamis, 24 Juli 2014

Uniknya Ramadhanku 2014

Halo sobat! Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalaman unikku di bulan ramadhan ini. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa namun bagiku ada beberapa kegiatan yang cukup menyita konsentrasiku.

Pertama, aku punya tugas untuk untuk mendampingi mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis masjid. Lokasi binaan tahun ini adalah wilayah kecamatan Sumberpucung yang berjarak 30 km dari kampus. Kali ini masjid yang menjadi basecamp mahasiswa adalah masjid Baitunnur dan masjid Barakatul Qur’an. Dua masjid ini belum pernah aku kunjungi sebelumnya meski dulu pernah ditempati mahasiswa untuk kegiatan serupa. Masalah pertama yang harus kuselesaikan adalah adanya penolakan dari pihak takmir masjid Baitunnur karena mereka kecewa dengan pengabdian mahasiswa tahun lalu. Wah, ilmu mediasi harus segera kuterapkan nih… Aku langsung bertandang ke rumah takmir seminggu sebelum mahasiswa turun. Aku harus menjelaskan duduk perkaranya sehingga mahasiswa tahun ini tidak serta merta menanggung sikap negatif yang disebarkan kakak tingkatnya. Awalnya diskusi cukup alot karena pihak takmir tersinggung dengan sikap mahasiswa ditambah lagi keluhan pemilik kos yang kecewa dengan mahasiswa. Namun akhirnya, diperoleh kesepakatan bahwa takmir akan mau menerima jika mahasiswa berjanji akan berbuat baik selama di masyarakat dan mahasiswa harus mau menyerahkan laporan pengabdian masyarakat tahun lalu. Rupanya pihak takmir merasa dibohongi oleh mahasiswa tahun kemarin dan sakit hati dengan sikap-sikap mahasiswa yang kurang menghargai kearifan lokal. Akhirnya, aku bernegosiasi dengan pihak penyelenggara untuk menyiapkan laporan kegiatan tahun lalu. Alhamdulillah, setelah semua permintaan dipenuhi, kegiatan pengabdian di masyarakat sekitar masjid Baitunnur dapat terlaksana.    

Kedua, ada pengalaman unik seperti pejabat untuk meletakkan batu pertama pembangunan wisata religi di sekitar masjid Barakatul Qur’an. Untuk masjid kedua ini aku lebih tertantang karena mahasiswa bimbinganku diminta oleh pengurus masjid untuk menginisiasi pembangunan situs wisata religi pertama di Sumberpucung. Tentunya, masalah utama yang harus dipecahkan adalah pendanaan. Akhirnya, mahasiswa pun bersibuk ria untuk menyebar proposal demi mengumpulkan dana pembangunan makam pendiri masjid sekaligus pesantren Barakatul Qur’an. Alhamdulillah, berkat bantuan segenap pihak termasuk peran besar ahli waris, peletakan batu pertama pembangunan tempat wisata religi itu sukses dilaksanakan pada 17 Juli lalu. Selain diberi kesempatan untuk meletakkan batu pertama bersama sejumlah tokoh, aku didapuk sebagai ‘kiyai’ dadakan untuk memberikan maudhah hasanah jelang buka puasa sekitar 30 menit. Waw, sungguh pengalaman yang tak terlupakan…

Ketiga, pengalaman unik lain yang kukenyam di ramadhan kali ini adalah jadwal tarawih dan ceramah subuh di masjid besar. Di desa tempatku tinggal telah dibangun masjid besar dan gagah. Selama ini, aku jarang ke masjid itu kecuali sesekali shalat jumat karena aku lebih fokus mengurus mushalla dekat rumahku. Di bulan ramadhan, jadwalku biasanya cukup padat untuk kegiatan mushalla. Nah, mungkin karena dianggap sudah bisa aktif di mushalla, kini aku diberi jadwal untuk mengisi pengajian subuh di masjid besar. Aku agak sedikit canggung karena di desaku telah terkumpul para kiyai dan ustad yang bermukim di sekitar pondok pesantren. Aku merasa belum pantas untuk duduk sederet dengan mereka. Namun, dengan terpaksa, aku harus berani mengemban amanat tersebut dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah, semua bisa berjalan lancar, setidaknya tidak mengecewakanlah!! Hehehe... Terakhir, ada kejutan yang sempat membuatku geleng-geleng kepala. Di salah satu kesempatan pengajian subuh, aku dipanggil oleh ketua takmir. Aku diminta untuk menjadi imam dan khatib shalat idul fitri tahun ini di masjid besar itu.  Benarkah? Aku terkejut mendengarnya. Selama ini yang aku tahu, petugas shalat id biasanya berasal dari luar daerah bahkan luar kota yang berlatar belakang kiayi besar atau ustad ternama. Lho kok aku? Ini pasti ada yang salah nih… tapi, untungnya aku punya jawaban jitu, bahwa aku tidak bisa memenuhi harapan ketua takmir karena aku sudah beli tiket mudik ke Jakarta dan berlebaran di sana. Nah, hatiku lega meskipun aku tahu alasan ini membuat takmir kecewa. Untuk mengobati kekecewaan itu, aku berjanji untuk siap diberi tugas di shalat idul adha nanti atau idul fitri tahun depan. Wah, aku harus siap-siap nih…

Demikian, sekelumit ceritaku sebagai pengobat rindu hatiku untuk mengisi blog ini…

Selamat menantikan Idul Fitri…Mohon maaf lahir batin…

Senin, 05 November 2012

PENGALAMAN MENYERAHKAN PENGANTIN

Minggu lalu aku punya pengalaman yang unik. Aku diberi amanah untuk menjadi wakil dari salah satu warga yang menikahkan anak laki-lakinya dengan seorang perempuan asal Banyuwangi. Jauh-jauh hari, aku sudah dipesan untuk mengosongkan kegiatan tanggal 30 Oktober. Untungnya, setelah aku cek, ternyata tanggal 30 Oktober adalah hari Selasa dan merupakan hari ujian UTS bagi seluruh mahasiswa. Alhasil, aku tidak harus masuk kelas karena biasanya ada petugas khusus fakultas yang ditunjuk mendampingi mahasiswa. Aku yang sebenarnya merasa belum pantas menerima amanah ini akhirnya menyatakan kesanggupan untuk bisa ikut serta rombongan ke Banyuwangi.

Tepat pukul 4.30 pagi, aku bersama rombongan keluarga besar pak Madi berangkat ke Banyuwangi menggunakan bis besar. Perjalanan cukup melelahkan, setidaknya butuh waktu 7-8 jam untuk mencapai Banyuwangi. Kami akirnya sampai di rumah calon pengantin wanita pukul 12.00 dan langsung mengikuti proses akad nikah dan resepsi walimahan. Dalam upacara walimahan itulah, aku harus melaksanakan tugas pertama seumur hidup mewakili keluarga untuk menyerahkan pengantin pria kepada keluarga pengantin pria. Alhamdulillah, meskipun agak deg-degan, amanah itu berhasil kulaksanakan dengan baik. Ya, pengalaman pertama yang cukup menegangkan syaraf. Aku bersyukur bisa menyampaikan beberapa informansi yang dipesan oleh pemberi amanah, seperti mengundang keluarga pengantin wanita untuk datang ke acara syukuran pengantin pria pada tanggal 3 November. Bagiku, aku sangat gembira karena usai sudah tugasku.

Pukul 15.00, kami mohon pamit. Bis meluncur ke Malang dan baru sampai rumah pukul 24.00 malam. Aku sangat lelah meskipun hatiku gembira. Paginya, Rabu 31 Oktober, aku langsung beraktifitas seperti sediakala.
 Hari Kamis, 1 November, pak Madi mendatangiku untuk meminta kesedianku kembali untuk menerima pengantin wanita pada upacara tasyakuran tanggal 3 November di Malang. Wah, berhubung tanggal 3 aku dapat jadwal ceramah di masjid UIN, aku menolak permintaan itu denga halus. Menurutku, pak Madi akan dengan mudah meminta bantuan tokoh-tokoh masyarakat untuk mewakilinya. Tapi, pada tanggal 3 Nov itu, tokoh yang katanya siap menggantikanku tidak bisa hadir. Terpaksa, aku harus tampil ke depan lagi. Acara kampus sedikit kuabaikan demi menjaga perasaan tetanggaku.Alhamdulillah, untuk yang kedua kali, aku bisa menjalankan tugasku dengan baik. Meskipun aku masih anak bau kencur. ternyata masyarakat sekitarku menanggapku sudah layak tampil memerankan tokoh yang dituakan alias sesepuh. Hahaha, ternyata aku sudah tua ya...hehehe

Sabtu, 21 Juli 2012

SEPENGGAL KISAH WISUDA TERAKHIRKU...


Pada hari Senin dan Selasa lalu, saya sangat bahagia karena mendapatkan anugerah yang luar biasa dari Allah SWT. Mungkin, bagi sebagian orang, anugerah itu biasa saja, tetapi bagi saya, pemberian Tuhan tersebut jauh melebihi dari angan-angan saya. Tak terbayang sebelumnya kalau ternyata dua penghargaan bergengsi dari Rektor IAIN Walisongo itu diberikan kepada saya dalam waktu yang sama. Saya tahu bahwa saya hanyalah manusia biasa yang tak punya kelebihan apa-apa. Jadi, rasanya saya tak pantas mendapat penghargaan itu.

Mulanya, saya mendapat telepon dari salah satu staf Pascasarjana. Saat itu, sang penelepon meminta saya agar hadir dalam acara wisuda yang digelar pada 16-17 Juli 2012. Tanggal 16 Juli, pascasarjana akan menggelar acara syukuran wisudawan di kampus 2 sedangkan tanggal 17 Juli, wisuda bersama seluruh  wisudawan IAIN yang akan dilaksanakan di Aula kampus 3. Bagi saya, ketika saya lulus ujian terbuka dan berhak menyandang gelar doktor, itu sudah anugerah luar biasa. Lalu, saya bisa ikut wisuda bersama keluarga kecil, itu juga sudah sangat luar biasa. Jadi, telepon dari pasca yang menginformasikan bahwa saya adalah kandidat terkuat menjadi wisudawan doktor terbaik tidak saya hiraukan. Toh, masih kandidat dan masih ada beberapa calon doktor yang sedang menanti ujian terbukanya.

Tanggal 15 Juli, saya  merencanakan  pergi ke Semarang. Berhubung saya harus mengisi Sarasehan Manajemen Masjid se-Malang Raya yang dilaksanakan ICMI di kota Batu pada hari itu juga, saya akhirnya tidak bisa banyak membuat persiapan untuk berangkat. Istri saya yang sebenarnya kurang enak badan terpaksa harus bantu kemas-kemas barang bawaan. Setelah sarasehan berakhir pukul 15.00, saya langsung meluncur pulang karena saya harus berangkat ke terminal pukul 17.00. Jika tidak, saya dan keluarga akan ketinggalan bis Handoyo yang akan mengantar ke Semarang. Saya sempat tergesa-gesa karena waktu yang sedemikian pendek dan sejumlah kegiatan yang beruntun. Pendek kata, saya akhirnya harus carter angkot agar bisa sampai terminal bis tepat waktu.

Sepanjang perjalanan ke semarang, badan saya agak penat. Maklum tenaga sudah terkuras saat ceramah di Sarasehan dan tempat duduk bis yang kurang nyaman. Saya dapat kursi paling belakang sehingga hentakan bis sangat terasa. Praktis saya dan anak-anak kurang tidur. Tapi, sudahlah, hal erpenting saya bisa sampai Semarang esok harinya.

Senin, 16 Juli, saya mendapat SMS dari Admin pasca kalau saya harus mengurus administrasi wisuda yang sempat tertunda. Saya juga ditanya tentang posisi saya saat itu. Saya sampaikan kalau saya sudah di Semarang meski agak terlambat karena ada truk berguling di jalan raya antara Kalibanteng-Jrakah. Sesampai di tempat penginapan, saya bergegas menuju kantor pascasarjana. Di sana saya langsung menemui bendahara pasca untuk melunasi biaya wisuda. Saat itulah saya diberi tahu bahwa ada pengumuman final bahwa saya akan dinobatkan sebagai wisudawan doktor terbaik. Hah? benarkah? Rasanya saya tak percaya mengingat banyak mahasiswa yang jauh lebih pintar dan potensial dibanding saya. Saya tetap tidak peduli hingga saya mengikuti gladi resik yang dilakukan pada siang hari. Lebih mantap lagi, saat wisuda pascasarjana di sore hari saya mendapat kehormatan untuk memberikan pidato kesan-pesan alumni S3 di atas panggung dan diberi hadiah spesial. Barulah saya percaya kalau penghargaan penting itu diperuntukkan bagi saya.

Kejutan lainnya terus berlanjut. Saat saya dipastikan akan mendapat penghargaan sebagai wisudawan berprestasi, saya menelepon ibu. Saya jelaskan bahwa atas doa restu ibu, saya berhasil mendapatkan anugerah itu. Tak banyak bicara, ibu saya yang awalnya tak berkeinginan untuk menghadiri wisuda saya langsung berubah pikiran. Ibu rupanya turut bangga mendengar anaknya meraih prestasi tinggi. Ia berjanji akan berkemas-kemas dan langsung berangkat ke Semarang. Lho, kok jadi berubah? Saya jadi agak bingung. Tapi, saya tidak bisa menghalangi ibu untuk datang. Saya senang sekaligus khawatir.

Alhamdulillah, ibu telah sampai pada pukul 20.00 di terminal Terboyo dengan selamat. Saya harus menjemput ibu dan mendampinginya hingga sampai penginapan. Ibu rupanya ingin menyaksikan saya menerima penghargaan besok dalam acara wisuda institut.

Detik-detik penantian pun berlalu. Sampailah pada acara wisuda, 17 Juli. Seluruh wisudawan sudah hadir di ruangan sedangkan para orang tua berada di tenda-tenda yang berada di sayap kanan-kiri aula. Hal ini karena jumlah wisudawan lebih dari seribu orang sehingga aula hanya mampu menampung wisudawan. Untungnya, ibu saya mendapat keistimewaan untuk masuk aula dan duduk di barisan depan bersama para orang tua mahasiswa yang menjadi wisudawan terbaik di fakultas masing-masing yang jumlahnya hanya 8 orang. Ibu terlihat bangga sebagai salah satu dari orang tua yang berhak menjadi tamu istimewa di momen penting itu.

Tibalah saatnya Pembantu Rektor III membacakan nama-nama wisudawan berprestasi. Dari 1012 wisudawan, terpilih 8 orang wisudawan terbaik yang berhak mendapatkan hadiah dari rektor dan sponsor. Alhamdulillah, saya termasuk dalam deretan wisudawan yang dipanggil ke depan dan diwisuda terlebih dahulu oleh rektor. Selain itu, saya juga disebut sebagai wisudawan doktor termuda. Tak habis-habis saya mengucap alhamdulillah sepanjang waktu. Ternyata perjuangan panjang yang melelahkan dan penuh pengorbanan itu telah berbuah manis.
 
Akhirnya, ucapan terima kasih saya sampikan kepada segenap anggota keluarga, saudara, dan  seluruh kawan yang telah menghantarkan saya meraih prestasi ini.  Untuk itu, dengan tulus, saya dedikasikan penghargaan ini kepada semua  pihak yang telah turut serta mendukung saya selama ini.



Rabu, 23 November 2011

KEARIFAN TUKANG KAYU

Sejak kembali ke Malang, saya sangat berkeinginan untuk memperbaiki kondisi rumah yang sudah tiga tahun tak berpenghuni. Banyak bagian rumah yang sudah mulai rusak. Maklum, meski bangunan rumah tergolong baru, namun bahan yang digunakan oleh sang pemilik sebelumnya tergolong pas-pasan. Kayu yang digunakan untuk pintu, kusen, dan bahkan atap jauh dari kata berkualitas. Alhasil, daun pintu rumah beserta kusennya keropos dimakan rayap. Pernah suatu ketika, rayap-rayap itu yang sudah berubah menjadi laron pesta pora keluar dari sela-sela kusen. Anak-anak sempat ketakutan melihat banyaknya hewan yang berterbangan secara liar.  Oleh sebab itu, saya berangan-angan untuk segera merehap pintu utama rumah yang sudah tidak layak itu.

Saya pun mencari informasi tentang tukang kayu terdekat. Tersebutlah sebuah nama yang masih asing bagi saya. Pak Miadi namanya. Ia bertempat tinggal di RW yang sama namun beda RT. Suatu hari ia datang ke rumah atas ajakan kawan saya yang saya pesan mencarikan tukang. Karena saya tidak ada di rumah dan hanya ditemui isteri saya, ia pun pulang dan menunggu informasi lanjutan dari saya. Tak lama kemudian saya berkunjung ke rumahnya dan mengajaknya ke rumah saya untuk mengukur pintu dan jendela. Dari satu pembicaraan ke pembicaraan yang lain, saya merasakan bahwa pak Miadi bukan sekedar tukang kayu. Ia mempunyai perilaku yang sopan dan rendah hati. Ia bahkan tak segan-segan memberikan wejangan kepada saya tentang cara menjalani hidup. saya jadi kian penasaran untuk mengetahui siapa dia sebenarnya.

Ketika saya berkunjung untuk yang kedua kali ke rumahnya, barulah saya tahu lebih dalam tentang sosoknya. Saat menemui saya, ia menggunakan baju koko dan kopiah hitam. Dari raut wajahnya, terpancar senyuman tulus yang menyejukkan. Ternyata, seperti yang saya duga, ia adalah pengurus mushalla di dekat rumahnya. Ia juga orang kepercayaan pak RW untuk mengurusi kegiatan keagamaan di tingkat RW. Sejumlah acara ritual melibatkannya demi suksesnya acara tersebut. Pantas saja kalau kemudian saya disambut dengan ramah dengan penuh persaudaraan meskipun belum lama saling kenal.

Filsafat hidup pak Miadi berorientasi kepada kehidupan akhirat. Ia berkata bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah bekal untuk menuju akhirat. Oleh sebab itu, ia mendorong anak-anaknya untuk mendalami ajaran agama meski mengambil pendidikan formal yang umum. Ia juga mengajak anak-anaknya untuk terus belajar menuntut ilmu demi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Mungkin, pikiran semacam pak Miadi bukan hal yang baru bagi sebagian orang, apalagi bagi mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi. Tapi bagi saya, apa yang menjadi keyakinan hidup pak Miadi adalah sebuah kemajuan yang luar biasa karena pak Miadi hanyalah tukang kayu yang tidak pernah menikmati pendidikan formal yang memadai. Cara hidupnya sangat religius meski harus menghadapi dinamika kehidupan yang tak menentu.
  
Satu hal lagi yang membuat saya kagum adalah wataknya yang mengutamakan kepentingan orang lain dari pada kepentingan dirinya sendiri. Beberapa hari yang lalu, saya meminta bantuan kepadanya untuk memperbaiki pintu dan jendela rumah saya yang agak melar akibat hujan deras setiap hari. Saya tahu bahwa ia sedang sibuk mengerjakan proyek perbaikan asrama di sebuah pesantren. Namun, ia berjanji akan segera datang ke rumah di sela-sela pekerjaannya yang padat. Tak lama kemudian, ia datang bersama dua tukang yang membantunya untuk memperbaiki pintu dan jendela. Saya tidak tahu bagaimana ia meminta ijin ke pimpinan asrama itu untuk memperbaiki pintu saya terlebih dahulu. Kurang lebih dua jam mereka membenahi daun pintu dan daun jendela. Setelah selesai, pak Miadi berbincang-bincang sejenak dan meneguk minuman teh yang disediakan. Ketika saya tanya berapa biaya perbaikan itu, pak Miadi mengatakan bahwa tidak selalu pekerjaan yang dia lakukan selalu berorientasi pada uang. Ia senang telah bisa membantu saya mengatasi masalah pintu yang macet dan seret. Ia kemudian meminta saya untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan melakukan sedekah walau tidak harus kepadanya. Ia menolak dengan halus uang lelah yang sudah saya siapkan. Heran sekali saya menghadapi sikapnya. Bagaimana mungkin orang bekerja keras dengan memeras keringat lalu tidak berkenan menerima upahnya? Saya tetap memaksanya untuk menerima ongkos pekerjaannya tetapi tetap saja tak berhasil. Akhirnya, pak Miadi dan kedua temannya itu mohon pamit dan saya pun hanya terbengong-bengong sambil mengucapkan terima kasih.

Saya hingga hari ini masih belum bisa menghilangkan keheranan saya bahwa di jaman yang serba materialistik seperti saat ini masih ada orang yang punya prinsip hidup seperti pak Miadi. Saya jadi malu dibuatnya. Saya ingin meneladaninya untuk kehidupan saya selanjutnya. Semoga...

Selasa, 08 Maret 2011

NAPAK TILAS KE MAKAM MBAH MARIDJAN

Kemarin pagi, aku punya acara penting di Klaten. Sejak Minggu malam, aku berangkat bersama rombongan satu mobil dari Malang untuk belajar secara langsung ke PT Kepurun Pawana Indonesia (KPI) yang lokasinya hanya 14 km dari puncak gunung Merapi. Perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis ini sempat tutup satu bulan tatkala Merapi menyemburkan asap tebalnya. Walau tidak parah terkena imbas musibah alam itu, PT KPI sempat mengungsikan puluhan sapi dan hewan ternak lainnya ke tempat yang lebih aman. Ikan dan angsa yang tak sempat dievakuasi harus tewas diterjang awan panas dan abu beracun. Namun, saat ini, kondisi perusahaan itu sudah pulih kembali.

Kami keliling menikmati alam sejuk di kaki gunung itu. Tanaman organik menghijau dan hewan ternak yang sehat membuat kami betah berlama-lama di PT KPI itu. Aneka tanaman dalam pot yang tersusun ke atas menginspirasiku untuk membuatnya di pekarangan rumah. Daripada ditumbuhi rumput dan bunga liar, alangkah baiknya jika aku bisa menanam sayuran atau tanaman sehat tanpa pupuk kimia di halaman rumah. Nantinya, aku bisa memetik dedaunan untuk lauk tanpa mengeluarkan biaya. Asyik, bukan?

Nah, setelah puas melakukan observasi dan diskusi sambil jalan, aku dan kawan-kawan diajak untuk mengunjungi kawasan korban Merapi. Kami diantar menaiki gunung hingga tampak dekat sekali gunung Merapi itu. Sebelum sampai di kaki gunung, terhampar olehku pemandangan yang tak lazim. Ribuan pepohonan tumbang dengan warna kehitaman akibat terbakar saat wedus gembel turun. Pohon kelapa yang gundul, pohon bambu yang berserakan, serta serpihan bangunan rumah terhampar di mana-mana. Aku tak bisa membayangkan betapa dasyatnya peristiwa alam itu. Aku yakin orang-orang yang berada di sekitar gunung berapi itu pasti sangat panik ketika awan panas menimpa mereka. Kata kawan dari PT KPI, penduduk yang berada tepat di kaki gunung sudah lama mengungsi sehingga mereka aman. Namun, justru korban banyak berjatuhan dari kawasan yang diperkirakan tidak terkena musibah.

Saat ini puluhan rumah semi permanen dibangun di sekitar gunung. Para warga korban Merapi bisa tinggal di rumah bambu itu selama dua tahun dan mendapat bantuan berupa 15 kg beras dan uang lauk sebesar 5 ribu per orang. Uang tersebut nampaknya hanya bisa mengganjal perut demi bertahan hidup. Adapun kebutuhan sandang dan peralatan keluarga bisa jadi sulit dipenuhi. Sedih nian kehidupan mereka. Harta benda yang hilang musnah ditelan lahar panas tak ada yang bisa diselamatkan. Begitulah kisah sedih dari dua kampung telah rata dengan tanah.

Di tengah keharuan itu, kami ditunjukkan sebuah lokasi yang menyimpan keharuan mendalam. Tempat itu adalah makam Mbah Maridjan. Hampir semua orang di penjuru tanah air mengenal sosok penunggu Merapi ini. Keberaniannya sempat menjadi buah bibir di sepanjang tahun 2010. Kematiannya tanggal 26 Oktober 2010 menggegerkan masyarakat karena beliau meninggal dalam keadaan sujud setelah tersambar wedus gembel. Seminggu kemudian, Merapi meletus lebih dasyat lagi sehingga banyak korban yang berjatuhan. Makam Mbah Marijan sendiri yang berada di sekitar gunung itu sempat dipenuhi abu panas sehingga nisannya yang terbuat dari kayu pun kelihatan agak kehitaman gosong.

Makam Mbah Maridjan sangat sederhana. Kukira makam beliau ditempatkan di lokasi khusus karena beliau adalah salah satu abdi dalem. Ternyata tidak, makam tokoh iklan yang terkenal dengan kata “Rosa” itu dikebumikan di tempat pemakaman umum dan kondisinya “sangat biasa” untuk seorang tokoh sekaliber beliau. Bahkan kuburan itu lebih biasa dari beberapa makam di sekitarnya. Tak ada bangunan nisan panjang di atasnya. Makamnya hanyalah tanah dengan tinggi sejengkal dan dua buah kayu penanda di kedua ujungnya. Ada dua kendi besar yang berada di sekitar nisan. Aneka bunga yang mulai layu masih banyak ditemukan di atas makamnya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pengunjung yang sempat berziarah ke makam tersebut beberapa hari ini.

Apa yang bisa kita petik dari Mbah Mardjan? Salah satunya adalah kesederhanaan. Mbah Maridjan adalah sosok manusia yang tak mabuk oleh popularitas. Banyak orang yang menganggapnya sebagai orang “pintar.” Keahlian ruhaninya sebagai juru kunci telah membuatnya “berhasil” meredam gunung Merapi yang tidak jadi meletus tahun 2006. Beliau tetap tidak mau beranjak untuk “menjaga” gunung hingga akhir hayatnya. Kebersahajaan Mbah Marijan hingga kini masih terpancar melalui makamnya yang sama sekali tak mewah. Ini adalah sebuah pesan moral yang agung bagi generasi masa kini.

MENDIDIK ANAK TANPA AMARAH, MEMANG BISA?

Anak adalah anugerah. Hampir semua orang ingin memiliki keturunan sebagai generasi penerus sekaligus investasi masa depan. Bagi pasangan yang tidak memiliki anak, mereka rela mengeluarkan biaya besar demi hadirnya sang buah hati di tengah-tengah keluarga. Berbagai ikhtiyar lahir seperti mengunjungi dokter spesialis kandungan hingga dukun tiban pun dilakukan. Tak ketinggalan pula, ikhtiyar batin semisal menjalankan wirid tertentu sampai mengunjungi baitullah di Mekkah juga menjadi salah satu alternatif. Pendeknya, anak merupakan salah satu penyempurna kebahagiaan hidup. Kekayaan melimpah serasa tak lengkap bila tanpa anak. Begitu pula jabatan tinggi, popularitas mencorong, hingga kemolekan tubuh serasa hambar bila tak bisa mendatangkan keturunan.

Namun, ternyata, tidak semua orang tua bisa melaksanakan amanat Tuhan untuk memelihara dan menjaga anak dengan baik. Banyak anak-anak yang akhirnya hidup terlunta-lunta akibat dibuang atau disia-siakan oleh orang tua,. Bahkan, tidak sedikit anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Perdagangan anak yang kini kian marak menjadikan anak-anak itu kehilangan masa depannya. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, semestinya kita bersyukur bahwa kita telah dipilih menjadi salah satu orang yang pantas menerima amanat mulia, yakni menjadi penyambung garis keturunan dari sebuah generasi mendatang. Kita tentu sadar bahwa kita bisa hidup hingga detik ini berkat curahan kasih sayang orang tua. Bagaimana jadinya bila orang tua kita menyia-nyiakan kita? Tentu, kita tak mungkin bisa menikmati hari ini. Oleh sebab itu, syukur adalah salah satu tindakan mulia atas segala karunia yang diberikan Tuhan kepada kita.

Kedua, kita seharusnya memperlakukan anak secara lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kita pasti masih ingat betapa kita dulu pernah dihinggapi perasaan harap-harap cemas tentang kehadiran anak. Pernah terpikir oleh kita jangan-jangan kita tidak mempunyai anak, atau anak kita nanti tidak sempurna. Ada saja kegalauan hati sebelum akhirnya kita dapati anak-anak kita lahir dengan selamat dan tumbuh sesuai dengan usianya. Bangga sekali, bukan? Hanya, tak dapat dipungkiri bahwa tindakan anak tidak selalu sesuai dengan kemauan kita. Ada saja tingkah polahnya yang kadang menyebalkan, menjengkelkan, dan bahkan membuat kita naik darah. Marah adalah salah satu ekspresi umum yang dipertunjukkan oleh para orang tua ketika mereka tidak dapat meraih impian dari anak-anak mereka. Ini tentu sangat merugikan banyak pihak, terutama orang tua dan anak-anak. Misalnya, pertumbuhan psikologis anak akan terhambat seiring dengan emosi orang tua yang kian tidak stabil. Lalu bagaimana cara bijak memperlakukan anak? Jujur, saya bukanlah orang tua yang baik untuk anak-anak saya. Oleh sebab itu, tulisan ini juga berfungsi untuk menyadarkan saya atas kekeliruan dalam mendidik anak. Mungkin, cara bijak mendidik anak adalah poin tiga di bawah ini.

Ketiga, menyikapi anak sesuai dengan usianya. Anak tumbuh dari bayi hingga besar dan dewasa. Setiap perkembangan itu menuntut pelayanan yang berbeda. Sejauh pengalaman saya hingga enam tahun mendidik anak (anak tertua saya umur 6 tahun), saya melihat bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh usia dan lingkungannya. Saya belum mendeteksi tentang pengaruh genetika dalam perkembangan anak kecuali bentuk fisiknya. Ketika anak usia 0-2 tahun, mereka menunjukkan fase yang menyenangkan. Tubuhnya yang imut dan gerakannya yang masih polos dan belum tkkordinasi seringkali menimbulkan kegelian tersendiri sehingga orang tua pun terhibur. Hiburan ini penting karena orang tua harus melayani hampir 100% kegiatan anak, dari makan, pakaian, hingga membersihkan badan. Kemudian, ketika usia anak memasuki usia 3 tahun, anak kian mandiri. Ia sudah mulai mempunyai obsesi tersendiri sehingga sering membuat emosi orang tua kian tertantang. Anak mulai membangkang dan minta semua keinginannya dituruti. Jika tidak, menangis dan mengamuk adalah senjata utamanya. Reaksi umum orang tua adalah memarahi anaknya yang dinilai bandel. Barang-barang di rumah kian berantakan dan rusak akibat ulah anak. Apakah sikap marah orang tua bisa menyelesaikan masalah? Ternyata tidak, tingkah anak malah menjadi-jadi. Ia bahkan melakukan tindakan-tindakan lain yang justru membuat hati orang tua kian terbakar. Lalu apa solusinya?

Saya sering membaca artikel tentang tumbuh kembang anak. Salah satu saran utama yang selalu disampaikan adalah mendekati anak dengan hati. Artinya, anak bandel tidak seharusnya disikapi dengan keras oleh orang tua. Meskipun secara reflek orang tua akan marah bila menemukan banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Sikap tahan diri dan mengajak anak untuk berdiskusi nampaknya menjadi pilihan terbaik. Boleh saja orang tua marah dalam batas kewajaran, tetapi frekuensinya jangan sampai melebihi dari sikap sayangnya orang tua kepada anak. Dalam pengalaman saya, saya pernah bertanya kepada anak saya ketika saya selesai memarahinya, “Apakah kakak senang dimarahi ayah?” jawabnya, “Tidak.” “Lalu bagaimana biar ayah tidak marah?” “Ayah harusnya bilang pelan-pelan, jangan membentak!” Eh, ternyata menyuruh anak dengan membentak ternyata membuat anak malah membangkang. Anak saya berkata lagi, “Kalau membangunkan kakak, ayah harusnya bilang, kakak yang cantik, bangun dong, sudah siang nih! Nanti kalau bangun pagi terus, ayah akan beri hadiah!” O, ternyata saya harus mengucapkan dengan lembut dan memberikan janji “reward” bila sang anak bisa melakukan dengan baik. Baru tahulah saya kemudian tentang cara mengasuh anak-anak agar bisa patuh dengan saran dan nasehat orang tua. Sikap lemah lembut penuh kasih sayang nampaknya masih tetap menjadi pilihan utama bila menginginkan anak-anak kita tumbuh dengan sempurna. Gimana, setuju? Semoga tulisan bermanfaat! Amin.

Senin, 28 Juni 2010

SEKILAS PERJALANAN JAKARTA-SINGAPURA

Hari ini adalah salah satu hari yang sangat melelahkan, Dari malam sebelumnya, saya harus memastikan semua barang bawaan harus sia. Kemudian, sehabis subuh saya harus segera berangkat ke kantor Aminef di Jalan Sahari Raya, dekat Pasar Senin. Sesuai dengan saran istri, saya lebih baik menggunakan motor untuk menghindari kemacetan di pagi hari. Maklum, Jakarta selalu bekerjaran dengan waktu. Karena saya belum hapal jalan-jalan Jakarta dari Bekasi, maka istri tercinta siap menemani untuk memberikan petunjuk arah. Denagn modal keberanian dan sedikit nekad, saya akhirnya bisa melewati keramaian Jakarta dengan motor untuk yang pertama kali. Biasanya saya hanya sampai Taman Mini atau Bekasi Kota. Kini saya sudah bisa sampai ke Jantung Ibukota dekat sialng Monas. hehehe. Di Aminef, saya mengambil berkas keberangkatan yang isinya antara lain paspor, visa, tiket, dan biaya perjalanan.

Setelah urusan administrasi yang cukup memakan waktu, akhirnya saya balik ke Bekasi dan baru sampai rumah pukul 2 siang. Saya harus berlari-lari untuk dapat berangkat pukul 3 karena check in sudah dimuali pukul 5 sore. Alhamdulillah, dengan menggunakan mobil kakak dan didampingi oleh Bapak mertua, istri dan anak-anak, saya bisa sampai bandara pukul 4.30. Saya pun segera melakukan prosesi bandara, mulai check in, bayar airport tax, isi form imigrasi, urus viskal, dan terakhir menghadap petugas imigrasi. setelah semua beres, saya kemudian masuk ruang tunggu.

Tepat pukul 8.15, saya dan para penumpang memasuki pesawat Singapore Airlines. Pesawatnya cukup besar, satui deret berisi 9 kursi yang terbagi dalam tiga lajur. Saya baru pertama kali menggunakan pesawat ini. Kesan yang muncul adalah bahwa model pesawat serupa dengan Cathay Pasific yang pernah saya gunakan untuk ke Kanada 6 tahun yang lalu. Di depan setiap penumpang, ada layar monitor kecil yang berisi tentang informasi pesawat, mulai cara menggunakan sabuk pengaman hingga cara penyelamatan dalam pesawat. Pelayanannya juga serupa dengan cathay. Saya mendapat satu porsi besar makanan dengan dua jenis munuman dan satu kue manis. Lumayan untuk mengganjak perut yang tidak sempat makan siang.

Sesampai di bandara Changi, Singapura, saya langsung mencari tempat penginapan saya yang sudah dipesankan. Rainforest namanya. saya tak malu-maul bertanya kepada beberapa petugas tentang keberadaan penginapan tersebut. Ternyata, saya harus naik Skytrain, sebuah kereta api listrik yang menghubungkan terminal 3, tempat saya mendarat, ke terminal 1, lokasi Rainforest. Seneng juga berjalan-jalan di bandara yang sangat luas yang terdiri dari 3 terminal. itu. Toko-toko sepanjang jalan dengan tata ruang yang artistik.

Sesampai di penginapan, saya melapor dahulu ke petugas, bahwa saya akan menginap sekitar 6 jam seperti yang tertera di vocer yang telah diberikan Aminef. Petugas kemudian mengecek di komputer tentang status sya dan akhirnya saya mendapat satu ruang untuk sekedar merebahkan punggung. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Saya pun mencoba tidur meskipun agak sulit terpejam mata ini. berkali-kali saya bangun karena kahwatir kalau-kalau saya akan ketinggalan pesawat di pagi hari. Saya harus bangun pukul 4 untuk dapat check ini pada pukul 5.

Sekarang, alhamdulillah, saya sudah selesai check in dan dapat menulis cerita ini. Wah, sebanarnya banyak hal yang akan saya tumpahkan, tetapi karena waktu internet gratis di bandara dibatasi, maka saya cukupkan sampai di sini. Selanjutnya saya akan boarding untuk keberangkatan ke Narita, Tokyo. Kemudian, baru perjalanan ke San Fransisco akan dimulai.

Minggu, 27 Juni 2010

SIAP-SIAP ...

Besok malam, saya akan memulai perjalanan menuju kota New York. Penerbangan akan dimulai dari Bandara Sukarno-Hatta menuju Singapura menggunakan Singapore Airlines. Selanjutnya saya akan ganti pesawat milik Amerika, United Airlines, hingga sampai di San Fransisco, melalui transit di Tokyo lebih dahulu. Kemudian, saya akan meneruskan perjalanan Chicago dan berakhir di Buffalo Niagara International Airport. Kata kawan-kawan, waktu tempuhnya tidak kurang dari 30 jam. Wow...betapa melelahkan...Tetapi karena sudah diniati secara bulat, saya harus siap melanglang buana seorang diri.

Sekarang ini, saya sedang kemas-kemas barang yang akan saya bawa besok malam. Lumayan banyak juga yang harus dipersiapkan, mulai dokumen, pakaian, hingga obat-obatan. Belum lagi, menata perasaan yang akan berpisah dengan istri dan anak-anak. Seperti kata Mas Har, berpisah dengan keluarga akan menyisakan rasa sepi yang mendalam. Ya, tentu saya akan mengalami hal yang sama. Namun, sekali lagi, wis kadung nyemplung, udah terlanjur basah, mandi sekalian. Saya tentu akan teringat dengan tingkah laku anak-anak yang lucu dan kadan menyebalkan. Saya juga pasti kangen dengan masakan istri yang kian mahir mengolah makanan penuh cita rasa. Wah, kalau ingat semua itu, mungkin saya akan batalkan saja tiket saya...hehe

Perjuangan memang menuntut pengorbanan. Tak ada suatu prestasi yang dicapai dengan usaha biasa-biasa saja. Oleh sebab itu, keberanian menanggung konsekuensi dari sebuah sikap adalah bukti kedewasaan seseorang dalam mengusung suatu keputusan. Oleh sebab itu, saya pun harus siap lahir batin untuk mengasah kemampuan, rela berpisah dengan orang-orang yang sangat berarti, demi teraihnya impian menjadi manusia yang punya nilai guna bagi sesama. Semoga pengorbanan ini tidak sia-sia...amin...

Sabtu, 26 Juni 2010

BERKUNJUNG KE RUMAH GURU


Dari sekian guru yang berkesan, saya mempunyai satu guru nyentrik yang penuh inspirasi. Namanya Pak Didin. Orang asli Sunda satu ini adalah guru kaligrafi terbaik papan atas Indonesia yang sering menjadi Ketua Dewan Hakim Musabaqah Kaligrafi tingkat Nasional. Orangnya sangat sederhana tetapi saya selalu kagum dibuatnya, terutama cara beliau memotivasi dan selera humor yang tinggi.

Sejak tahun 1998, saya sudah berguru kepada beliau. Bahkan, pada tahun 2000, ketika saya terpilih menjadi salah satu duta kaligrafi propinsi DKI Jakarta untuk mengikuti MTQ bidang kaligrafi tingkat Nasional, pak Didin adalah guru utamanya. Selama satu bulan penuh saya harus menginap di Traning center untuk terus membuat karya goresan huruf-huruf Arab di bawah bimbingannya. Alhasil, meskipun akhirnya tidak mendapat penghargaan nasional, kiprah saya di dunia kaligrafi tetap cemerlang dengan memenangi sejumlah kejuaraan baik tingkat kabupaten maupun propinsi. Karir kaligrafi saya akhirna harus surut ketika saya memutuskan untuk memilih dosen sebagai profesi utama saya. Meskipun begitu, semangat untuk menulis dan melukis kaligrafi masih tetap membara hingga kini, hanya menunggu waktu saja.

Hari Kamis yang lalu, sebelum melakukan riset di Dompet Dhuafa, saya sempatkan untuk bertandang ke kediaman pak Didin. Sudah lebih dari empat tahun saya tidak bersua beliau. Ada kerinduan tersendiri di hati. Saya masih ingat betapa beliau rela hadir jauh-jauh dari Ciputat pada upacara pernikahan saya enam tahun yang lalu di Bekasi. Sebagai penghormatan, saya memohon kesediaan beliau untuk memberikan pesan-pesan dalam kehidupan berumah tangga pada acara tersebut. Ketika saya datang, betapa senangnya beliau. Senyum semringah dan jabat tangan hangat saya peroleh. Saya cium tangan beliau sebagai ungkapan rasa ta'dhim.

Bincang-bincang berlangsung santai. Istri beliau, Cek Aah, sesekali menanyakan kabar keluarga saya. Kang Dede, adik pak Didin yang sedang berada di sana, juga tak ketinggalan ikut nimbrung dalam perbincangan. Sayangnya, saya tidak punya waktu banyak untuk berlama-lama di rumah beliau karena ada janji dengan pihak Dompet Dhuafa. Akhirnya, saya pun mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Saya pun diantar sampai pintu gerbang rumah beliau. Duh, bahagianya bertemu lagi dengan guru yang sangat inspiratif!

Jumat, 25 Juni 2010

MEMULAI PENELITIAN DISERTASI

Sejak tiba di Jakarta, saya segera menyusun rencana untuk melakukan penelitian disertasi. Tempat utama yang harus saya kunjungi adalah Dompet Dhuafa (DD) di wilayah Ciputat. Hari Senin saya mencoba menjalin hubungan dengan direktur Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ), ibu Nana. Alhamdulillah, beliau siap menerima saya untuk diskusi tentang manajemen pada hari Selasa. Saya merasa tersanjung, ternyata orang sekaliber bu Nana berkenan membantu saya untuk memahami Total Quality Management (TQM) yang menjadi topik penelitian saya.

Sesuai dengan janji, hari Selasa pagi saya sudah siap berangkat ke Ciputat. Waktu perjalanan lumayan lama, setidaknya harus sedia 2 jam. Sesampai di lokasi, di luar perkiraan, saya mendapat sambutan hangat dari bu Nana. Rasanya saya sudah kenal lama dengan beliau, padahal, baru hari itu saya bertemu. Tiga jam saya ditemani beliau untuk bercengkrama dan berdiskusi tentang banyak hal. Pengalamannya yang malang melintang di dunia filantropi dan manajemen membuat setiap kalimatnya penuh informasi yang berbobot. Saya sempat mengatakan bahwa saking banyaknya informasi, kepala saya bisa meledak. hehehe.

Hari selanjutnya saya membuat janji dengan pak Joko. Tokoh satu ini merupakan kepala pusat informasi dan dokumentasi DD. Penampilannya yang agak serem ternyata tidak berbanding lurus dengan keramahannya menjawab sejumlah pertanyaan saya. Meskipun ia sedang sibuk dengan berbagai kegiatan Dompet Dhuafa yang rencana akan menggelar kegiatan jalan sehat dan acara ramadhan, Pak Joko masih sigap memberikan banyak keterangan penting. Darinya, saya mendapat arahan untuk menemui beberapa petinggi Dompet Dhuafa untuk memperoleh informasi lebih lengkap. Orang pertama yang direkomendasikan adalah ketua manajemen ISO 9001:2008. Mbak Tri namanya.

Saya agak sulit menemui orang penting ini. Saya harus sabar menunggu waktu luangnya. Saya pun berpikir macam-macam tentang Mbak Tri. Bayangan saya, saya akan bertemu dengan orang yang selalu dikejar waktu dan sulit untuk diajak berdiskusi. Ternyata, pada hari Kamis yang lalu, perkiraan saya benar-benar meleset. Mbak Tri tidak kalah ramah dengan bu Nana. Bahkan, karena topik penelitian saya terkait erat dengan manajemen mutu yang menjadi tanggung jawabnya, Mbak Tri tanpa ragu-ragu memberikan dokumen penting yang menjadi dasar prestasi Dompet Dhuafa (DD) meraih sertifikat ISO bergensi itu. Wow...subhanallah...kunci dasar penyelesaian disertasi saya sudah keemu.

Untuk melengkapi data, saya disarankan untuk menemui ketua Human Resource Development (HRD) dan ketua Customer Relationship Management (CRM). Pak Herman, sang ketua HRD kebetulan sedang melintas di ruang tamu. Oleh petugas penerima tamu, saya langsung dipertemukan dengan beliau dan ternyata pak Herman tidak keberatan untuk langsung wawancara meski tidak melalui perjanjian terlebih dahulu. Perbincangan semakin hangat ketika saya tahu ternyata pak Herman adalah orang Jawa Timur, jadi kami sempat ngomong bahasa Jawa. Betapa senangnya...

Terakhir, orang yang saya butuhkan informasinya adalah Mbak Dona, ketua CRM. Saya agak kaget ketika melihatnya, ternyata Mbak Dona adalah orang yang pernah saya temui saat saya dan pak Rektor Malang menghadiri acara kerjasama antara UIN Malang dengan Institut Kajian Zakat Malaysia di Hotel Sofyan 3 tahun yang lalu. Wah, jaminan nih, informasi bakal mudah diperoleh. Sikap "welcome" yang ditunjukkan oleh kru Dompet Dhuafa benar-benar membuat pencitraan Dompet Dhuafa yang saya miliki berubah total. Dulu, memang saya pernah datang ke DD saat mengawali penelitian tesis S2. Kesan saya waktu itu, DD adalah sebuah lembaga yang sulit disentuh oleh publik. Ada kesan tertutup dan prosedur berbelit ketika saya ingin mendapatkan informasi lebih banyak. Ternyata semua berbeda dengan apa yang sekarang saya alami. Semoga, mereka yang saat ini telah menyatakan siap membantu saya dalam pengumpulan data tetap konsisten dengan pernyataan mereka sehingga disertasi saya yang kelak akan menjabarkan pola manajemen mutu terpadu yang diterapkan di DD dapat selesai dengan sempurna. Amin. Wa Allah a'lam.

Minggu, 20 Juni 2010

LEMBARAN BARU

Setelah selesai boyongan dari Semarang, saya melanjutkan perjalanan hidup ke beberapa kota. Kota pertama yang saya singgahi adalah Yogyakarta. Di propinsi istimewa ini saya berkunjung ke rumah kakak di wilayah Godean. Senang rasanya bisa bertemu kembali dengan saudara yang biasanya hanya kontak lewat telepon. Ponakan, si Zidan, begitu gembira menyambut kami, khususnya kedua anak kami, Tia dan Taqi, yang sebaya dengannya. Mereka bertiga akhirnya bermain dan bercanda sepuasnya. Jalan-jalan bersama menyusuri Malioboro, Pasar Bringharjo, dan Taman Pintar setidaknya dapat memberikan suasana baru. Setidaknya dapat menghibur hati saya yang masih belum rela berpisah dengan kawan-kawan Semarang. Bergaul dengan mereka sangat mengesankan.

Di Maliboro, kami mengkhususkan diri untuk mencari toko Sovenir. Di deretan yang panjang, kami menemukan satu tempat belanja yang menawarkan berbagai ragam buah tangan dengan harga terjangkau. Gantunga kunci dengan motif wayang, candi, dan andong cukup menyita perhatian saya. Juga, beragam hiasan dari logam dan kaca nampaknya layak untuk dijadikan oleh-oleh. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke pasar Bringharjo. Pasar ini merupakan salah satu pasar terlengkap dan termurah di Jogja. Aneka batik dijual dengan harga murah. Maklum, para pedagang yang jumlahnya ratusan menjajakan barang yang relatif sama sehingga mereka berani menawarkan barang dengan harga bersaing.

Setelah puas di Jogja, perjalanan saya dilanjutkan ke Jakarta. Kali ini, tujuan utamanya adalah mengantar istri dan anak-anak ke rumah orang tua di Bekasi. Waktu tempuh Jogja-Jakarta sekitar 10 jam, dari magrib hingga subuh. Alhamdulillah, pagi tadi kami semua telah sampai di Jatiasih. Tujuan berikutnya adalah melakukan penelitian di Dompet Dhuafa. Ini merupakan rangkaian dari penulisan disertasi yang proposalnya baru awal bulan ini disetujui oleh dewan penguji.

Amerika? Wah, banyak yang tanya kapan saya akan ke negeri Obama. Jawabnya adalah saya sedang menunggu keluarnya visa. Informasi terakhir, Jumat lalu saya ditelepon oleh pihak kedutaan Amerika untuk melengkapi berkas yang mereka butuhkan. Langsung, hari itu juga saya kirim email ke kedutaan untuk melengkapi berkas yang mereka inginkan. Kini, saya harus tawakkal setelah berusaha sekuat tenaga untuk meraih kesempatan riset di luar negeri. Semoga atas doa dan dukungan semua pihak, Allah SWT akan memberikan keputusan terbaik untuk saya. Amin

Jumat, 18 Juni 2010

MEMORI JATISARI

Sejak pagi kemarin, saya tak dapat menutupi kesedihan saya. Berjamaah terakhir dengan kawan-kawan di Mushalla membuat hati saya terenyuh. Ada satu kerinduan tersendiri bila kelak saya tidak lagi di Jatisari. Nuansa ketenangan, kedamaian, keakraban, persahabatan, dan persaudaraan begitu kental. Belajar bersama selepas shalat Shubuh menambah ikatan batin yang mendalam. Materi apa saja, mulai email, blog, hingga power point dibahas dengan santai dan menyenangkan. Wajah-wajah sumringah ketika keluar dari mushalla diiringi dengan gelak tawa semakin menyentuh kalbu.

Nah, ketika harus berpisah, rasa haru tak tertahankan. Ada sebuah pertanyaan dalam hati, akankah saya dapat menemui suasana seindah di Jatisari? Walau saya hanyalah seorang pendatang baru, saya seperti sudah lama berada di lingkungan ini. Artinya, perpisahan begitu terasa berat. Saya sudah terlanjur senang tinggal di perumahan ini. Di bawah bimbingan Ustad Nurudin, saya bisa mengenal Mas Yasmidi, Mas Hartono, Mas Sembodo, Mas Wisnu, Mas Yudha, Mas Nadhirin, Mas Wakhidin, Mas Giyanto, Mas Edi, Mas Bejo, Mas Banteng, Mas Sholihin, Mas Kuat, Mas Mahsun, dan banyak lagi yang tak dapat saya sebut satu persatu. Bangga rasanya bersama mereka...

Tapi, saya harus ikhlas untuk meneruskan langkah saya di tempat yang lain. Tentunya, Saya harus kembali mengabdi di tempat tugas, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Untungnya, Semarang Malang tidaklah jauh. Suatu saat nanti, saya berniat untuk meluangkan waktu secara khusus untuk berkunjung ke kampung yang telah mengajari saya banyak hal dalam beragama dan bermasyarakat. Semoga kawan-kawan saya di Jatisari masih tetap berkenan menjadikan saya sebagai salah satu kawannya yang pernah hidup dan bergaul bersama. Amin.

Selasa, 15 Juni 2010

PENGALAMAN MENGURUS VISA AMERIKA (2)


Saya ingin meneruskan cerita tentang pengurusan visa. Dulu ketika saya berkesempatan mengunjungi Kanada, pengurusan visa langsung ditangani pihak sponsor, yakni CIDA (Canadian International Development Agency). Saya dan kawan-kawan yang jumlah 25 orang hanya diminta untuk menyerahkan paspor. Berbeda halnya dengan pengalaman ke Malaysia, visa langsung distempel saat tiba di Bandara Kualalumpur. Tidak ada hal yang harus dipersiapkan dari rumah. Begitu pula saat memasuki wilayah Singapura. Visa diurus langsung di saat masuk gerbang pertama di negeri itu. Intinya, prosedur tidak ribet dan melelahkan.

Nah beda halnya dengan pengalaman mengurus visa Amerika. Wuih, butuh kesabaran dan waktu ekstra lho! Selain aplikasinya harus online--dan prosesnya tidak mudah, seperti jenis dan ukuran foto harus memenuhi syarat, pengisian formulir yang berlembar-lembar, dan barcode aplikasi harus jelas--para pelamar juga harus rela antri di tengah terik matahari dan ancaman hujan. Sebelum masuk lingkungan kedutaan, para pelamar harus rela antri di luar pagar dengan pemeriksaan ketat. Pengunjung yang namanya tidak ada dalam daftar pelamar hari itu dapat dipastikan harus pulang dengan gigit jari. Begitu pula, barang bawaan yang dianggap tidak perlu semisal kamera dan laptop harus dititipkan ke petugas. Para petugas yang berlagak keras terkadang terkesan arogan dan superior.

Setelah melalui pemeriksaan ketat di depan pintu, pelamar yang lolos dipersilakan memasuki kedutaan. Saya agak kaget ketika ternyata ratusan orang masih antri di depan loket dengan wajah lelah. Gimana tidak? Loket yang tersedia hanya dua meja, sedangkan setiap orang harus menghabiskan waktu sekitar 5 menit untuk memproses aplikasinya. Saya yang datang agak siang sudah dipastikan harus menunggu giliran lebih dari 5 jam. Wow, berdiri di bawah terik matahari di lapangan bola basket tentu dapat dibayangkan. Keringat mengucur deras sedangkan gerak antrian sangat lamban. Alhasil, saya yang sejak pukul 8.30 sudah menunggu baru mendapat giliran menyerahkan persyaratan aplikasi pada pukul 14.00. Wow!

Saat berhadapan dengan petugas, perasaan saya was-was jangan-jangan barcode saya tidak terbaca. Jika demikian, penantian panjang dari pagi akan sia-sia sebab sang pelamar harus memulai lagi proses dari nol, yakni memulai dari aplikasi online. Sehari sebelumnya, barkode saya sudah saya kirim ke pihak Aminef-Fulbright. Mereka bilang kalau barcode saya tidak terbaca. Saya pun mengulang aplikasi lagi. Oleh sebab itu, saya khawatir kalau barcode saya masih juga belum dapat dibaca oleh sinar merah.
Untungnya, kali ini barcode saya tidak bermasalah. Setidaknya saya bisa bernafas lega untuk dapat memasuki tahap selanjutnya. Tapi sayang, kawan saya yang berasal dari Papua harus pulang lebih awal karena barcodenya tidak terdeteksi. Ia diminta untuk datang lagi esok hari.

Setelah tahap penyerahan aplikasi, saya dan kawan-kawan memasuki ruang pemeriksaan metal detector dengan X-ray persis seperti ketika masuk bandara. saya yakin saja kalau saya dapat melewatinya tanpa kendala. Tetapi apa yang terjadi? Saya diminta balik lagi untuk dicek ulang karena pintu keamanan itu mengeluarkan bunyi. Saya pun digeledah padahal saya tidak membawa apa-apa. Tas sudah diletakkan di meja pemeriksaan barang. Ternyata, mereka mendeteksi bahwa di sepatu saya ada lempengan besi yang dicurigai sebagai bahan berbahaya. O ya? Saya agak kaget. Akhirnya, sepatu saya harus dilepas untuk diperiksa secara khusus. Wow! Seumur-umur baru kali ini saya harus 'nyeker' saat melewati pintu detektor tersebut. Sungguh terlampau ketat!

Setelah semua dipastikan aman, saya dan kawan-kawan disilakan memasuki ruang wawancara. Di ruang ini, para eksekutor kedutaan melancarkan aksinya. Saya yang sudah kelelahan hanya duduk diam menunggu giliran. Tak lama kemudian, saya dipanggil untuk sidik jari, persis dengan proses pengurusan paspor. Lalu saya menunggu lagi untuk mendapat giliran wawancara. Awalnya, saya agak cemas tentang materi wawancara. Namun, karena saya sudah diberitahu bahwa isi wawancara adalah seputar kegiatan saya di negera tujuan, saya pun bisa lebih rileks. Saya lihat orang-orang yang diwawancarai, ada yang lancar, tetapi ada pula yang harus pulang dengan kecewa. Ketika selesai wawancara, ada dua kemungkinan: permohonan diterima atau ditolak. Jika diterima, paspor ditahan dan diberi kartu putih atau kuning. tetapi jika ditolak, paspor akan dikembalikan. Uang pendaftaran sebesar 1.400.000 harus rela melayang dan harus membayar dengan jumlah yang sama jika akan aplikasi lagi.

Saya melihat kawan-kawan saya dilayani dengan baik. Semuanya mendapatkan kartu putih. Itu berarti permohonan visa diterima dan tinggal mengambil visa pada tanggal yang tertera dalam kartu putih itu. Saya pun optimis ketika diwancarai kalau saya akan lolos dengan mudah. tetapi apa yang terjadi? Paspor saya ditahan dan saya diberi kartu kuning. Saya agak kaget, lho kok tidak sama dengan kawan-kawan saya yang sama-sama dipayungi oleh lembaga Beasiswa Fulbright yang notabene sangat prestisius itu? Saya baru sadar ketika saya bertanya kepada kawan-kawan, ternyata visa saya dipending alias harus melalui administrative process. Waktunya juga tidak jelas, bisa dua minggu, tiga minggu, sebulan atau bahkan bisa satu tahun. Inilah yang membuat saya agak shock. Harus berapa lama saya menanti? Padahal, saya sebenarnya harus sudah mengikuti Summer Program mulai tanggal 22 Juni. Nah, jika waktu tunggu melebihi batas waktu kontrak saya yang hanya sampai 9 Februari, apakah ini berarti perjuangan saya selama berbulan-bulan akan percuma begitu saja?

Mengapa visa saya harus dipending? Sejumlah analisis pun bermunculan. Menurut pengalaman kawan-kawan, visa dipending itu disebabkan oleh ketakutan Amerika kepada hal-hal yang berbau Islam. Mereka masih trauma dengan tragedi 11 September. Mereka seperti tidak begitu senang ketika kedatangan tamu dari negara-negara yang dicurigai sebagai sarang gerakan Islam fundamentalis yang sering dianggap sebagai pemicu tindakan terorisme. Indonesia, menurut mereka, termasuk dalam daftar hitam. Oleh sebab itu, para pelamar visa dari Indonesia, apalagi beragama Islam, tentu mendapat pengawalan ekstra-ketat agar tidak melakukan hal-hal yang mengancam keamanan negeri mereka. Nah, kebetulan saya berlatarbelakang Islam yang kental meskipun nama saya tidak ada berbau Arab sama sekali. Riset saya di Amerika juga terkait dengan filantropi Islam yang dicurigai sebagai pemasok dana gerakan terorisme. Jadi, akhirnya saya paham mengapa visa saya harus dikroscekkan dengan data dari departemen keamanan Amerika yang berada di Washington, jangan-jangan saya termasuk dalam jaringan al-Qaeda atau mantan tentara Afaganistan....(hehe)

Jujur saya agak sedih ketika nasib saya terkatung-katung antara bingung dan kecewa. Saya sudah terlanjur siap-siap untuk berangkat pada akhir bulan ini. Saya sudah melayangkan surat ijin cuti mengajar dan studi. Saya tidak tahu harus bagaimana menjelaskan status saya kepada orang-orang yang bertanya tentang keberangkatan saya ke Amerika. Mungkin, saya harus tegar untuk menyampaikan bahwa saya sedang bermasalah di pengurusan visa. Tatkala ternyata saya tidak mendapatkan visa, saya harus ikhlas untuk segera membuat rencana baru demi penyelesaian studi saya. Tak harus ke Amerika kan untuk sekedar penelitian?

Beberapa hari terakhir ini, saya seperti mendapat angin segar. Meskipun saya masih juga menunggu proses keluarnya visa yang tak jelas tanggalnya, saya dimotivasi oleh banyak pihak, seperti kawan Fubrighter lama dan promotor saya bahwa saya insya Allah pasti akan mendapat visa. Saya kemungkinan besar akan berangkat meskipun studi saya di Semarang telah usai. Ini artinya, durasi waktu yang telah ditetapkan Fubright mulai 22 Juni hingga 9 Februari masih bisa dijadwal ulang. Oleh sebab itu, saya harus tetap optimis untuk terus menjalankan aktifitas saya dalam proses penyelesaian studi seperti sediakala. Semoga pengalaman ini bermanfaat. Wa Allah a'lam.

Rabu, 09 Juni 2010

MENGURUS VISA AMERIKA

Visa merupakan surat ijin masuk ke negeri orang. Ketika seseorang ingin berkunjung ke luar negeri, apapun tujuannya, ia harus mengantongi visa di paspornya. Jika tidak, harapan untuk menikmati suasana lain di negara seberang hanya akan menjadi isapan jempol belaka meski bekal materi telah berjibun.

Mengurus visa dari satu negara ke negara lain tentu berbeda. Ada visa yang gampang sekali seperti visa masuk negara Asean, namun ada pula pengurusan visa yang sangat sulit dan seperti bermain judi, seperti bisa Amerika. Mengapa demikian? Warga negara yang tergabung dalam nota kesepahaman Asean telah memberikan jaminan kemudahan agar para warga mudah melakukan aktifitas di kawasan tersebut. Berbeda dengan Amerika, sejak luluhlantaknya gedung WTC, Amerika menerapkan prosedur pengamanan yang superketat agar negaranya tidak kecolongan lagi. Oleh sebab itu, para pemohon visa harus siap gigit jari jika berhadapan dengan konsular saat wawancara.

Senin, 24 Mei 2010

ONE DAY OFF, PERLUKAH?

Dulu, sewaktu saya mengikuti kursus bahasa di IALF Bali, saya pernah disarankan oleh sang tutor, Lis Hunt, untuk selalu membuat planning kegiatan, mulai harian, mingguan hingga bulanan. Perencanaan itu dimaksudkan agar keseluruhan waktu saya tertata rapi dan terisi oleh sejumlah aktifitas yang bermanfaat. Misalnya, pada hari Senin, saya harus membaca buku A untuk mendalami skill A dari pukul sekian ke sekian. Besoknya, Selasa, saya juga membuat agenda kegiatan untuk latihan membuat karangan mini dengan panduan buku B selama sekian jam. Begitu seterusnya sehingga selama satu minggu, saya mempunyai jadwal kegiatan yang jelas. Selain itu, saya harus konsisten dengan jenis program sekaligus target yang akan dicapai. Jika ada suatu halangan, saya harus menjadwal ulang kegiatan yang tertunda itu pada minggu berikutnya. Menariknya, jadwal tersebut harus ditunjukkan ke tutor untuk mendapat arahan dan masukan. Dengan demikian, waktu kursus yang terbatas dapat saya gunakan dengan maksimal.

Ada satu hal yang tidak boleh tidak harus saya cantumkan dalam jadwal kegiatan saya, yakni one day off. Apa itu? One day off adalah konsep libur satu hari penuh tanpa memikirkan beban studi atau pekerjaan yang sedang dijalankan. Itu artinya saya harus menuliskan satu hari kosong dalam jadwal saya. Tidak boleh ada kegiatan membaca, menulis, atau diskusi pada hari itu. Biasanya hari yang disarankan adalah hari Sabtu atau Minggu. Berhubung di tempat kursus pada hari Sabtu masih ada kegiatan pilihan, seperti nonton film bareng atau nonton TV channel asing, maka tidak ada pilihan kecuali hari Minggu untuk ditulis sebagai one day off. Dulu, saya sedikit berontak dengan konsep itu. Bagi saya yang saat itu sedang semangat-semangatnya belajar (wah wah wah sombong nih), one day off rasanya tidak perlu. Saya ingin menjadikan hari-hari saya penuh dengan kegiatan belajar meskipun tidak seluruhnya. Misalnya, pagi olah laga hingga siang, namun sore hingga malam harus belajar, entah membaca buku, mendengar kaset, atau mengerjakan tugas-tugas yang tertunda. Saya sering menggunakan hari Minggu pagi untuk latihan soal-soal yang mungkin bisa muncul di ujian akhir. Pokoknya, saya tidak ingin menyesal di kemudian hari hanya gara-gara konsep one day off.

Tetapi, kini, ada pergeseran gaya pikir dalam diri saya. Konsep one day off mulai terngiang kembali. Ketika aktifitas harian saya begitu padat, tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri seperti saat kursus di Bali, nampaknya keinginan untuk punya hari khusus kosong dari semua kegiatan rutin mulai terasa. Sebagai contoh, bulan ini termasuk salah satu bulan yang paling sibuk sepanjang sejarah hidup saya. Saya harus mengatur waktu kapan harus memikirkan tugas kuliah, tugas kantor, tugas keluarga, hingga tugas masyarakat. Semua menuntut saya untuk bisa dilaksanakan dengan jeli dan cermat. Dalam tugas kuliah, saya harus mempersiapkan konsep proposal yang harus dikonsultasikan dengan pembimbing. Dalam hal kerja, saya harus merencanakan sebuah pelatihan besar yang akan melibatkan banyak pihak. Selain itu, dalam keluarga, saya mempunyai tugas untuk mengurus berbagai hal terkait dengan perpindahan tempat yang akan segera saya lakukan. Pusing dan lelah sudah biasa menghampiri saya. Oleh sebab itu, saya ingin sekali menikmati satu hari yang bebas dari semua beban hidup yang memenuhi kepala saya. Ternyata saya butuh one day off. Saya ingin menikmati satu waktu untuk memikirkan diri saya sendiri. Saya ingin memanjakan diri saya sendiri selepas bekerja keras untuk orang lain.

Hari minggu kemarin benar-benar berkesan bagi saya. Sejak datang dari Malang pukul 6 pagi, saya langsung gunakan waktu untuk bercanda dengan anak-anak saya. Mereka tentu kangen karena sudah hampir dua minggu berturut-turut saya pergi meninggalkan mereka. Lalu, sehabis sarapan, saya mengajak mereka untuk sekedar jalan-jalan di sekitar perumahan. Saya beri kesempatan mereka untuk bermain dan belanja sesuai dengan keinginan mereka. Siang hari saya istirahat di rumah tanpa memikirkan pekerjaan sedikitpun. Rasanya saya juga ingin mematikan telepon seluler. Tetapi daripada dimatikan, mendingan saya gunakan untuk menelepon saudara dan keluarga jauh untuk menanya kabar. Saya tidak ingin diganggu oleh tugas-tugas hari Senin yang pasti sudah menunggu. Akhirnya, saya merasakan betapa one day off diperlukan untuk me-recharge energi yang sudah terkuras habis pada minggu lalu untuk siap menuntaskan pekerjaan minggu yang akan datang. Semoga pengalaman ini bermanfaat. Wa Allah A’lam.

Jumat, 21 Mei 2010

BERKUNJUNG KE RUMAH KAKEK


Saya termasuk beruntung bahwa hingga saat ini saya masih mempunyai seorang kakek yang setia menemani cucu-cucunya. Kemarin, saya berkunjung ke rumah kakek di Nganjuk. Saat ini beliau tinggal bersama Bulek Nik. Betapa senangnya kakek melihat saya datang. Tak berhenti-hentinya kakek bersyukur masih dapat melihat saya lagi. Beberapa bulan yang lalu, kakek memang pernah berharap saya datang menjenguknya. Namun, karena saya masih ada tugas di Semarang, baru kali ini harapan itu terpenuhi.

Kakek adalah sosok bersahaja yang religius. Pendidikan pesantren yang pernah dikenyam saat muda begitu membekas dalam kehidupannya. Beliau tidak pernah hidup berfoya-foya meskipun anak keluarga terpandang. Bahkan, untuk menghidupi keluarganya, beliau rela menjadi petani biasa yang harus bekerja keras mengolah sawahnya sendiri. Ibu saya yang dikirim ke pondok tidak jarang harus menahan diri ketika kiriman tidak datang pada waktunya. Kakek perlu banting tulang membiayai sekolah ibu dan harus mengantarkan bekal ke pondok dengan mengayuh sepeda tuanya. Kini, hampir seluruh putra-putri kakek telah sukses dalam karirnya. Saatnya kakek menikmati hari-harinya dengan lebih banyak ibadah. Beliau tidak lepas dari membaca al-Qur'an setiap hari.

Ada sejumlah pelajaran yang dapat saya petik dari kakek. Pertama, kesederhanaan. Kedua, kesabaran. Ketiga, istiqamah, dan terakhir tawakkal. Kesederhanaan kakek mengajarkannya untuk tidak malas bekerja. Ia tidak pernah malu melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup asalkan halal. Kesabarannya juga luar biasa. Ia mengalami banyak cobaan yang sangat berat, namun tetap dijalaninya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Justru, dengan ujian itu, kakek semakin giat beribadah. istiqamah adalah hal lain yang dimiliki kakek, Ia rutin menghidupkan mushalla yang ada di sebelah rumahnya hinga akhirnya beliau tidak bisa lagi berjalan jauh seperti sekarang. Tiga tahun lalu, beliau masih mampu melakukan rutinitasnya berkunjung ke anak-anaknya setiap bulan. Ia tidak perlu ditemani oleh siapapun meskipun usianya sudah lebih dari 80 tahun. Pandangan matanya masih tajam setajam ingatannya. ia tidak lupa nama-nama cucunya dan bahkan sering bercerita tentang kawan-kawannya dulu. Semua dituturkan dengan lugas dan runtut. Terakhir, kakek selalu mengajarkan kepada kami untuk selalu bersandar kepada Allah SWT. Hidup ini perlu dijalani dengan tabah dan tawakkal karena semua sudah menjadi kehendak-Nya. Tidak ada seorangpun yang bisa merubah ketentuan Allah jika memang sudah ditakdirkan. Oleh sebab itu, dekat dengan Allah adalah suatu keniscayaan agar hati kita tetap tenang dan tentram.

Introduction