Tampilkan postingan dengan label Khutbah Idul Adha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Idul Adha. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2016

BERCERMIN DARI KELUARGA SAKINAH NABI IBRAHIM


Khutbah Pertama
اللهُ اَكْبَرْ٣×) ( اللهُ اَكْبَرْ (٣×) اللهُ اَكبَرْ 
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الْقَائِلِ (وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً)، أَشْهَدُ أنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ| وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين .
(أَمَّا بَعْدُ)
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang mulia,
Maha besar Allah yang telah melimpahkan segala nikmat kepada kita, sehingga pada kesempatan pagi yang segar ini, kita dapat melaksanakan  shalat Idul Adha bersama-sama. Semoga kita senantiasa mendapat ridha-Nya dan  menjadi hamba-Nya yang kian bertaqwa. Amin.
Hadirin hadirat yang berbahagia,
Pada setiap perayaan Idul Adha, kita tidak akan lupa dengan Kisah Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai Kekasih Allah. Beliau  rela menyerahkan apa saja demi cinta dan baktinya kepada Allah SWT.
Kehidupan Nabi Ibrahim sudah berlalu lebih dari 3.900 tahun, namun hingga kini kisah Nabi Ibrahim masih sangat layak untuk diteladani.  Nabi Ibrahim telah memberikan banyak contoh dalam kehidupan.  Kisah Nabi Ibrahim erat hubungannya dengan sejarah dibangunnya Ka’bah, munculnya air zam-zam, rangkaian ibadah haji,  ibadah qurban,  hingga teladan membangun keluarga bahagia. Khusus potret keluarga sakinah beliau akan menjadi bahasan utama pada pagi hari ini.
Hadirin hadirat yang berbahagia,
Sejarah keluarga Nabi Ibrahim dapat dimulai dari kisah pernikahannya dengan Siti Sarah. Mereka tinggal di Palestina. Namun sayang, pernikahan ini tidak kunjung melahirkan keturunan. Akhirnya, atas saran Siti Sarah, Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar yang selama ini melayani rumah tangganya. Dengan ijin Allah, Siti Hajar melahirkan seorang putra, bernama Ismail.
Lahirnya Ismail merubah situasi rumah tangga Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim harus berpisah dengan Siti Hajar dan Ismail yang sangat ia cintai.  Allah telah mengutus Nabi Ibrahim membawa pergi Siti Hajar bersama putranya ke suatu tempat yang belum diketahui. Dengan penuh ketaatan dan rasa tawakkal kepada Allah, Nabi Ibrahim pun meninggalkan Palestina menuju suatu tempat yang sangat jauh, sekitar 1500 KM, seperti perjalanan dari Surabaya ke Jakarta lalu balik ke Surabaya lagi, yang kini dikenal dengan nama Mekkah. Saat itu, Mekkah adalah suatu tempat yang hanya berupa hamparan padang pasir yang kering dan tandus. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tidak ada orang, tidak ada hewan, tidak ada tumbuhan, apalagi mata air kehidupan.
Setelah melakukan perjalanan berminggu-minggu,  sampailah Nabi Ibrahim dan keluarga kecilnya di tempat yang dikehendaki Allah. Nabi Ibrahim menyiapkan tempat tinggal sederhana di lokasi itu. Tatkala dirasa cukup, Nabi Ibrahim pun pamit meninggalkan Siti Hajar dan putranya untuk kembali ke Palestina. Sebenarnya, Nabi Ibrahim merasa sedih tatkala harus meninggalkan istri dan putranya di tempat yang gersang. Hati Siti  Hajar pun diliputi rasa takut karena harus hidup sebatang kara di padang pasir bersama putranya yang masih kecil. Tak terbayang betapa perpisahan itu bagaikan pertemuan terakhir antara mereka. Kalau tidak ada pertolongan Allah, mustahil seseorang akan bisa bertahan hidup di tengah padang pasir yang panas dan sunyi.
Hadirin hadirat yang mulia,
Ada sebuah percakapan menarik sebelum perpisahan itu.
Siti Hajar berkata “Wahai Nabi Ibrahim, kemana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami?” tanya Siti Hajar seraya memegang ujung jubah Ibrahim dengan cemas. Namun, Ibrahim hanya diam seribu bahasa.
“Apakah ini perintah Allah?” tanya Siti Hajar lagi.
“Ya” jawab nabi Ibrahim.
“Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami” tegas Hajar dengan keimanannya yang kuat.
Lalu Ibrahim berpesan kepada Siti Hajar:
"Bertawakkallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya. Allah Yang Maha Perkasa tidak akan melantarkan kalian berdua tanpa perlindungan-Nya. Insya Allah." 
Lalu Ibrahim berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam surat Ibrahim: 37
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah  rezeki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.
Ayat di atas menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya dapa dimaknai sebagai bentuk kepasrahan Ibrahim setelah Allah memberi tugas untuk membangun Ka’bah sebagaimana surat Ali Imran: 96 dan 97.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ () فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imron:96-97)
Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar dan Ismail menjalani hidup berdua  dengan bekal yang tidak banyak. Setelah bekal mereka habis, Siti Hajar dan Ismail mulai kehausan. Siti Hajar berusaha mencari air. Diletakkannya Ismail, lalu ia mulai lari mendaki bukit Shafa untuk melihat siapa tahu ada orang yang bisa menolongnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dilihatnya. Siti Hajar lalu lari  mendaki bukit Marwah. Tetap saja tidak ada orang yang dilihatnya. Siti Hajar berulang-ulang berlari sampai tujuh kali mendaki bukit Shafa dan Marwah sambil berdoa agar Allah menolong mereka. Peristiwa ini kemudian diabadikan sebagai ibadah sai.
Di tengah kelelahan, kehausan, dan kelaparan, Allah kemudian menunjukkan kekuasaan-Nya. Muncullah air zam-zam dari kaki Ismail. Air ini kemudian menjadi sumber kehidupan siti Hajar, Ismail, dan orang-orang yang berdatangan.
Ketika kemudian Nabi Ibrahim menjenguk siti Hajar dan Ismail, betapa terkejutnya beliau karena padang pasir yang dulunya sepi sunyi kini menjadi ramai dengan banyaknya kafilah yang datang dan bermukim di sekitarnya. Ini adalah bentuk jawaban dari doa Nabi Ibrahim yang tulus kepada Allah.
Hadirin hadirat yang mulia,
Dari kisah ini, dapat dipetik pelajaran bahwa untuk membangun keluarga sakinah ada  4 syarat yang harus dipenuhi.
1.      Ketaatan kepada Allah
Iman dan taqwa menjadi penentu kualitas seseorang di hadapan Allah. Nabi Ibrahim telah menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada keluarganya. Cinta yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah menunjukkan bahwa Allah adalah tujuan hidup dan Allah adalah tempat bergantung. Dengan ketaatan kepada Allah, sebuah keluarga akan senantiasa mendapat pertolongan dan perlindungan Allah.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.
2.      Kepatuhan kepada Suami dan Penghormatan kepada Istri
Hajar begitu patuh kepada Ibrahim meskipun harus berpisah secara fisik. Ibrahim pun begitu sayang kepada Siti Hajar. Ini adalah sebuah cermin bahwa dalam keluarga, harus ada kepatuhan kepada suami dan perhormatan kepada isteri. Ketika seorang suami menjadi kepala rumah tangga, maka anggota keluarga termasuk istri harus taat dan patuh kepada suaminya. Bagi suami, ia wajib menghormati hak-hak isterinya dan memberikan tempat terbaik untuk kehidupannya.

3.      Iktiyar Maksimal
Betapa Siti Hajar tidak saja menyerah kepada nasib. Meskipun ia tahu Allah akan menolongnya, tetapi dengan cara apa? Sambil berdoa dan berharap, ia melakukan ikhtiyar maksimal. Tidak hanya sekali atau dua kali, ia harus melakukan ikhtiyar mencari air sampai tujuh kali, bolak balik dari bukit Sofa dan Marwah. Ini adalah  sebuah bukti bahwa untuk menjaga keutuhan rumah tangga dalam menghadapi gelombang kehidupan, kita harus berjuang keras tanpa kenal lelah dan putus asa. Dengan begitu, niscaya pertolongan Allah akan datang.

4.      Tawakkal kepada Allah dengan Doa
Untuk mewujudkan keluarga sakinah, harus ada kepasrahan yang tulus kepada Allah SWT.  Doa adalah senjata seorang muslim. Ketika usaha sudah maksimal, kita serahkan sepenuhnya keputusan terbaik kepada Allah. Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik untuknya.
Allah berfirman dalam surat At-thalaq: 2-3
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
Demikian khutbah ini, semoga kita dapat mencontoh keluarga Nabi Ibrahim dalam mewujudkan keluarga sakinah dengan cara selalu taat kepada Allah, saling menghormati antara suami, isteri, dan anak, ikhtiyar secara maksimal, dan selalu tawakkal dan doa kepada Allah. Semoga khutbah ini bermanfaat. Amin
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر١َ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ ٣
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمْ|  وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْم| وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ| إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ




Khutbah Kedua
  
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ.| اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ اْلأَعْيَادَ بِالأَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ| وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ اْلأُجُوْرِ،|  فَسُبْحَانَ مَنْ حَرَّمَ صَوْمَهُ وَأَوْجَبَ فِطْرَهُ وَحَذَّرَ فِيْهِ مِنَ الْغُرُوْرِ،| أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهُوَ أَحَقُّ مَحْمُوْدٍ وَأَجَلُّ مَشْكُوْرِ.
أَشْهَدُ أَنَّ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ| وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ| اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ| وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين| أَمَّابَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ |اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى|
وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ.| فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِىِّ الْكَرِيْمِ.
 وَقَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ؛| إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ |يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تسْلِيْمًا.| اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ| سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ |وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ| وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ| بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمٍِالدِّيْنِ.| وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ| لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ| وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ| اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأْ َمْوَاتِ،| إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.| اللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ |وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ| وَدَمِّرْ أَعْدَاءَنَا أَعْدَاءَ الدِّيْنِ| وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمَشْرِكِيْنَ،| وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.| اللّٰهُمَّ اكْفِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ |          وَاكْفِنَا شَرَّ الْحَاسِدِيْنَ. وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ يُؤْذِيْنَا | يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.| رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ| وَلاَتَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا | رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اللهُ أَكْبَرُ،| عِبَادَ اللهِ،| إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ| وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ |يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.| فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ،| وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ| وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Wassalamu’alaikum wr. wb                                                                                                      


Jumat, 20 November 2009

IBADAH KURBAN: UPAYA MENGINSANKAN MANUSIA

Assalâmu‘alaykum wa rahmah Allâh wa barakâtuh

Maha besar Allah yang telah melimpahkan nikmat hidup kepada kita, sehingga di kesempatan pagi yang segar dan indah ini, kita dapat mempertautkan kembali hati kita sesama muslim saat beribadah shalat Idul Adha bersama-sama. Allah yang maha Agung, tiada pernah meninggalkan seditik pun mengasihi makhluk-Nya di jagat raya ini. Kegagahan dan keperkasaan-Nya yang tiada banding melunturkan pribadi-pribadi yang hendak menyaingi-Nya. Sungguh sangat kecil dan lemahlah kita jika mengingat dan merenungi hakikat kemanusiaan yang kita sandang.

Teriring shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada junjungan kita, nabi akhir zaman, penyempurna ajaran para rasul, nabi Muhammad saw, yang telah sukses menghantarkan kita ke pintu gerbang kemerdekaan yang hakiki, lahir dan batin. Kegigihan dan kejujuran sikapnya, kesederhanaan dan kebersahajaan pola hidupnya, serta kemuliaan dan keagungan akhlaknya, mampu menebas kejahilan dan kemerosotan moral yang merendahkan martabat umat manusia. Kita tidak bisa melupakan peran besarnya yang telah sukses dengan gemilang mengubah wajah dunia.

Ma‘âsyir al-Muslimîn rahimakum Allâh

Dalam rangka menunaikan ibadah shalat Idul Adha, marilah kita merenung tiga peristiwa penting yang terjadi secara bersamaan pada hari ini. Peristiwa pertama adalah serempaknya umat Islam melaksanakan shalat Idul Adha secara berjamaah di berbagai masjid dan lapangan. Semangat untuk melaksakan ibadah ini telah mengakar di masyarakat karena ritual tahunan yang satu ini menyiratkan kebersamaan dan keharmonisan hubungan antar individu yang mengaku beriman kepada Allah. Apa pun bangsa dan warna kulitnya tidak menghalangi keinginan untuk memadu kasih dengan sang pencipta di pagi 10 Dzulhijjah. Jagat raya terasa begitu bergema dan membahana seiring takbir, tahmid, dan tahlil yang berkumandang bersahut-sahutan di pelbagai pelosok negeri. Momentum yang penuh makna ini juga digunakan untuk merenung ulang semangat yang telah ditunjukkan oleh sang nabi pengembang ajaran yang hanif, Ibrahim as. Betapa perjuangan berat Ibrahim dalam mengubah pandangan dunia--yang seringkali harus mempertaruhkan jiwa raga, diri dan keluarganya--telah berbuah manis dengan dijadikannya ajaran Ibrahim sebagai inti dari ajaran yang disampaikan para nabi setelahnya. Ibrahim sang kekasih Allah telah menjadi penuntun umat manusia dan asal muasal tiga agama samawi terbesar dunia.

Ibrahim, Khalîl al-Rahmân, sang kekasih Allah, mendapat predikat tinggi di sisi-Nya, bukan merupakan prestasi yang tiba-tiba. Ia telah lulus dari berbagai cobaan yang menghampirinya. Antara lain, di saat mengarungi hidup rumah tangganya, Ibrahim sangat merindukan kehadiran buah hati, hingga di pernikahannya yang kedua dengan siti Hajar. Dan harapan itu baru tercapai di saat usianya yang telah senja.

Ujian berikutnya adalah Ibrahim diperintahkan untuk mengungsikan istrinya, siti Hajar dan putra semata wayangnya, Ismail, ke tanah yang tandus dan kering, kota Makkah. Saat itu belum banyak orang yang tinggal di sana. Panas yang terik dan jarangnya pepohonan menjadikan kota Makkah sebagai kota yang gersang dan lengang. Hajar sempat bertanya apa gerangan yang membuat Ibrahim tega meninggalkannya bersama putra kecilnya yang masih butuh kasih sayang ayahnya. Ibrahim menjawab bahwa hal itu dilakukan dalam rangka melaksanakan perintah Allah swt.

Hadirin yang mulia

Siti Hajar dengan tabah merawat Ismail dalam hari-hari yang sepi dan mencekam. Hingga suatu saat, perbekalan telah habis dan Ismail pun menangis. Tidak ada lagi persediaan yang dapat mereka konsumsi. Di tengah kehausan yang menjadi, terbersitlah di hati Hajar untuk berusaha mencari air yang barangkali dapat ia temukan di suatu tempat di dekatnya. Saat melihat Bukit Shafa, seakan tampak di mata Hajar genangan air di atas gurun pasir. Ia pun lari ke sana. Namun yang ia temui hanya hamparan tanah bebatuan yang panas dan tandus. Saat ia berbalik, ia melihat fatamorgana di bukit Marwah yang menyerupai air. Setelah bolak-balik sebanyak tujuh kali, yang kemudian diabadikan dalam ibadah sa’i, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengalirkan air zam-zam di dekat kaki Ismail. Dengan adanya air tersebut, Makkah kini menjadi tempat yang makmur dan aman sebagaimana doa Ibrahim dalam surat Ibrahim: 35:

Ya Allah, jadikanlah kota ini kota yang makmur dan aman, dan berilah penduduknya buah-buahan.

Berikutnya hadirin yang berbahagia.

Ujian yang ketiga adalah Ibrahim harus menyembelih Ismail sebagaimana yang ia lihat dalam tiga kali mimpinya. Dan ia harus menyembelih Ismail dengan tangannya sendiri. Inilah ujian yang sangat berat bagi Ibrahim. Sebagai seorang ayah, tentu tidak mudah baginya melaksanakan perintah itu. Anak yang selama ini ia dambakan kehadirannya, kemudian ditinggalkannya di kota Makkah, harus ia bunuh dengan sembelihan tangan sendiri. Kalaulah bukan karena cintanya yang tulus kepada Allah, niscaya Ibrahim tidak akan kuasa melakukannya. Setelah Ibrahim dan Ismail berpasrah diri kepada Allah, perintah itu pun dilaksanakan dengan ikhlas. Dan dengan kekuasaan-Nya, Ismail diganti oleh Allah dengan seekor kambing yang gemuk dan sehat.

Dalam cerita yang masyhur, kambing yang akhirnya disembelih Ibrahim adalah binatang yang pernah dipersembahkan oleh Habil, saudara Qabil. Peristiwa ini bermula saat kedua anak lelaki Adam beranjak dewasa dan memperebutkan Iqlima, putri Adam yang cantik jelita, kembaran Qabil. Dalam kesepakatan yang dibuat waktu itu, barang siapa yang persembahannya diterima oleh Allah, maka ia berhak menikahi Iqlima. Habil pun memilih domba terbaik yang diternakannya sedangkan Qabil memberikan hasil pertaniannya yang kurang berkualitas. Alhasil, persembahan Habil pun diterima yang ditandai dengan lenyapnya domba Habil bersama kilat yang menyambarnya.

Hadirin yang berbahagia,

Peristiwa kedua yang terjadi pada hari ini adalah ibadah haji di tanah suci Makkah al-Mukarramah yang dilaksanakan oleh kaum muslimin. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai mu’tamar dunia umat Islam yang dihadiri oleh berbagai suku bangsa dengan aneka bahasa dan rasnya, yang menyuarakan nada yang sama: takbîr, tahmîd dan tahlîl. Suaranya membahana, seirama, dan setujuan, yaitu menyahut panggilan Allah swt.

Haji adalah ibadah besar yang sangat membutuhkan kekuatan jasmani selain kekuatan iman yang melandasinya. Semua kegiatan yang dilaksanakan di sana dapat bernilai sebagai ibadah selama dilakukan dengan penuh tulus ikhlas. Penyucian diri, lahir dan batin, terutama saat wukuf di padang Arafah tanggal 9 Dzulhijjah kemarin, menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap jamaah haji. Di sana, mereka dapat mengakui segala dosa yang pernah mereka perbuat. Tangisan taubat terjadi di mana-mana karena rasa haru, berbaur kagum dan gembira. Juga, dalam suasana seperti itu, hati tercekam oleh keagungan dan kebesaran Allah, sehingga terasa benar tuntunan rasûl Allah yang menyampaikan wahyu Allah kepada umat Islam. Islam menentukan arah yang jelas kepada umat Islam agar mencapai tujuan hakiki. Kehidupan dunia hendaknya dijadikan jembatan dalam usaha mencapai tujuan tersebut. Kenikmatan duniawi tetap perlu diusahakan agar dapat hidup layak selaku manusia, hidup tenang, mempunyai kedudukan mantap, sehingga dapat ibadah dengan khusuk kepada Allah swt. Segala kenikmatan yang diperolehnya, dimanfaatkan untuk berbuat kebajikan kepada sesama manusia. Hidup seimbang, menunjukkan sikap taat kepada Allah swt. Usahanya selalu jadi amal, langkahnya selalu jadi ibadah, tak terlintas dalam benaknya untuk merampas dan iri kepada nasib orang lain.

Jamaah shalat Idul Adha yang berbahagia!

Peristiwa ketiga adalah dipersembahkannya binatang kurban yang jumlahnya berjuta-juta bahkan bisa berpuluh-puluh juta. Jika kita cermati lebih mendalam, niscaya kita temukan hikmah besar di balik upacara penyembelihan itu. Kurban yang berarti mendekatkan diri kepada sang Pencipta, mengajak kita untuk menjadi umat manusia yang memiliki keagungan budi pekerti dan keluhuran akhlak sehingga membedakan diri kita dengan segala ciptaan yang bertebaran di jagat raya ini. Manusia yang secara khas dititahkan Allah sebagai khalîfah fîa l ardh, mengungguli makhluk canggih manapun, sehingga kelestarian dunia dan sustanebilitasnya menjadi salah satu tanggung jawabnya. Di sinilah uniknya ibadah kurban. Manusia yang merupakan hewan berakal (hayawân nâthiq) tidak bisa meninggalkan kodratnya yang sedikit banyak tercampuri watak hewan, yakni ingin suka berkuasa, merusak, dan mengandalkan kekuatan.

Hewan terkenal suka merusak. Ia akan menghancurkan apa saja jika keinginannya tidak tercapai. Ia bisa merobohkan rumah penduduk, merusak tanaman penduduk, bahkan bisa membunuh manusia demi terpenuhi kebutuhannya. Hewan juga suka mengandalkan otot daripada otak. Yang kuat adalah yang menang, sehingga hewan-hewan kecil yang tak berdaya harus tunduk patuh pada sang raja rimba jika masih ingin bertahan hidup. Begitulah, dengan menyembelih hewan, kita diharapkan dapat menyembelih sifat kehewanan kita yang tidak jarang menyebabkan kehancuran umat manusia secara umum. Darahnya binatang telah dialirkan untuk menunjukkan penghapusan kebengisan, kekejaman, dan kebinatangan yang sering melekat pada watak manusia. Sesungguhnya Allah telah berfirman, telah nyata bahwa kehancuran di muka bumi ini banyak diakibatkan oleh tangan-tangan jahil manusia.

Peristiwa qurban umat Islam di hari Idul Adha merupakan perwujudan taat kepada Allah swt, dan satu kegiatan sosial yang melambangkan kasih sayang kepada sesama umat, bahkan rahmah li al-‘âlamîn. Penyembelihan ternak qurban ini mempunyai dampak positif terhadap penyelesaian problema kemasyarakatan, di samping peningkatan jiwa semangat pengurbanan. Sebagaiman tercermin dalam tindakan nabi Ibrahim as sudah menunjukkan contoh bahwa beliau tidak ragu-ragu berqurban menyembelih putranya sendiri yang bernama Ismail.

Allâhu akbar, Allâhu akbar Allâhu akbar wa li Allâh al-hamd

Dari uraian di atas, dapat dipetik beberapa kesimpulan bahwa dengan semangat melaksanakan ibadah di hari raya Idul Adha ini, khususnya ibadah kurban, kita hendaknya dapat berintrospeksi diri, apakah kita sudah mampu menjadi insan utama yang memiliki sifat terpuji dengan menjalin hubungan yang baik dengan Allah, sesama manusia, dan sesama makhluk ciptaannya. Kita tentu akan lebih mulia jika kita dapat menekan sifat merusak dan menang sendiri seperti yang biasa dimiliki binatang. Dengan merenungi ibadah kurban di hari raya Idul Adha ini, kita berharap semoga kita dapat memanusiakan diri kita, menjadi manusia yang sempurna. Semoga khutbah singkat ini dapat bermanfaat bagi khatib khususnya dan bagi jamaah sekalian pada umumnya. Amin.

Akhîr al-kalâm, ihdinâ al- shirâth al-mustaqîm.

Wa al-Salâmu ‘alaykum wa rahmah Allâh wa barakâtuh

Introduction