Tampilkan postingan dengan label Renungan Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2012

PUASA BICARA TERNYATA PERLU

Dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa puasa merupakan kegiatan menahan makan-minum dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari. Para muballigh hampir serempak menekankan keutamaan puasa fisik.

Jumat, 27 Agustus 2010

MENCARI TUHAN


Pada waktu pertama kali saya datang di New York, saya sudah banyak berkenalan dengan kawan-kawan dari Cina yang mengaku tidak memiliki agama. Mereka tidak punya ritual khusus yang harus dijalankan dalam waktu tertentu. Ketika ditanya tentang pernah tidaknya mereka berdoa, mereka menjawab bahwa mereka sering melakukan doa bersama untuk mengagungkan nenek moyang, bukan kepada zat yang memiliki kekuatan luar biasa. Kalau mau dianggap agama, partai komunislah agama mereka. Jadi mereka melakukan pengabdian yang terbaik untuk keberlangsungan hidup partainya itu. Mereka juga harus tunduk dengan aturan-aturan negara yang dianggap sebagai representasi dari sebuah agama. Menarik bukan?

Pada kesempatan lain saya pernah berbincang-bincang dengan Ali, kawan dari Saudi yang rupanya punya semangat dakwah yang kuat. Pada suatu hari, ia diberi tugas oleh guru kursusnya untuk memberikan satu presentasi sekitar 10 menit di depan kelas. Ia lalu menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan tentang adanya tuhan. Mengawali presentasinya, demikian cerita Ali, ia mengambil satu gelas minuman dan diletakkan di atas meja. Lalu ia bertanya, barang apa yang ada di atas gelas. Semua peserta kursus mengatakan bahwa itu gelas. Kemudian, Ali meminta mereka untuk menutup mata sejenak sementara Ali memindahkan gelas itu ke bawah meja. Ali meminta mereka membuak mata dan bertanya di mana gelas yang tadi di atas meja. Mereka menjawab bahwa barang itu pasti sudah dipindahkan oleh Ali ke tempat lain, bisa di bawah meja atau di dalam laci. Ali bertanya lagi tentang keyakinannya bahwa barang itu telah berpindah tempat dan pasti ada yang memindahkannya. Di sinilah Ali kemudian masuk kepada topik presentasinya. Adanya keyakinan kuat mereka bahwa ada sesuatu atau tepatnya seseorang yang menyebabkan gelas itu berpindah merupakan awal perlunya keyakinan adanya Tuhan. bagaimana mungkin alam raya yang begitu besar dan indah dengan segala keragamannya bisa hadir dengan sendirinya, tanpa adanya zat yang melakukan sesuatu untuk keberadaannya. Ali rupanya telah sukses membuat para peserta terperangah dan tidak bisa lagi mengelak tentang perlunya keyakinan adanya Tuhan. Ini sangat logis dan dapat diterima oleh akal sehat.

Pengalaman Ali di atas semakin mengukuhkan pada diri kita bahwa Tuhan memang tidak bisa dibantah keberadaan-Nya meskipun manusia berusaha mengelak dengan seribu dalih. Allah SWT sebenarnya tidak perlu manusia mengenal-Nya. Namun, karena penciptaan manusia dan jin ditujukan untuk mengabdi pada-Nya, lalu Dia yang Maha Pencipta menyisipkan satu file dalam otak dan hati manusia tentang kebutuhan untuk mengenal diri-Nya.Manusia kemudian mencari jalan untuk menemui sang Khalik itu dengan caranya sendiri. Nabi Ibrahim misalnya, di saat kaumnya menyembah berhala buatan mereka sendiri, Ibrahim mencoba mencari Tuhan dengan usahanya sendiri. Pertama-tama, saat ia melihat bintang gemintang, ia berkata, "inilah Tuhanku," Tapi ketika bintang itu redup dan menghilang, Ibrahim berkata "aku tidak suka kepada yg tenggelam." Ketika melihat bulan terbit, Ibrahim berkata lagi, "inilah Tuhanku." Namun, ketika bulan itu tenggelam Ibrahim kecewa sambil berfikir bahwa Tuhan tidak mungkin tenggelam dan hilang. Kemudian Ibrahim berkata,”sesungguhnya, jika Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yg sesat." Kemudian, di pagi hari, Ibrahim menyaksikan matahari bersinar dengan terangnya, lalu ia pun berseru, "Inilah tuhanku, ini lebih besar." sayangnya, ketika di sore, matahari pun terbenam. Ibrahim lalu berseru "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan" (QS: al-An'am: 75-79). Allah SWT lalu memberi-Nya petunjuk bahwa Tuhan yang ia cari adalah Allah SWT. Itulah Ibrahim, sosok nabi yang hanif yang kemudian hingga kini dijuluki sebagai bapak Monotheisme.

Kisah Ibahim mencari tuhan didukung oleh kisah Musa yang ingin melihat Tuhan. Namun, ketika keinginan Musa dipenuhi Allah SWT dengan memintanya melihat gunung sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, Musa langsung jatuh pingsan dan memohon ampun atas kebodohan permintaannya itu. Itulah Allah SWT, Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada seluruh hamba-hamba-Nya. Kebesaran-Nya tidak akan bertambah dengan banyaknya manusia yang menyembah-Nya dan keagungan-Nya pun tidak berkurang karena tidak ada seorang pun yang mengabdi pada-Nya. Dia sudah Maha Kaya dan Maha Besar dengan sendirinya tanpa secuil bantuan pun dari makhluk-nya. Semoga kita kian beriman dan bertaqwa pada-Nya. Amin. Wa Allah A'lam.

ADA ATHEISME DI AMERIKA


Siang ini saya sempat jalan-jalan ke perpustakaan umum kota. Letaknya tidak jauh dari kampus, cukup dengan jalan kaki sekitar 10 menit. Saya sempat duduk-duduk di taman kota dekat perpustakaan sambil menyaksikan orang lalu lalang di jalan. Udara sejuk di Iowa mengingatkan saya akan kota Malang tempat saya biasa bekerja. Maklum, musim panas hampir lewat dan akan segera datang musim gugur. Udara saat ini sepoi-sepoi basah sehingga ke luar ruangan di siang hari pun terasa sejuk. Setelah cukup nyaman duduk di bawah pohon rindang, saya melangkahkan kaki menuju perpustakaan.

Di perpustakaan umum, saya berkeliling melihat koleksi buku terbaru. Tapi nampaknya tidak ada yang sesuai dengan minat saya. Lalu, saya terus berjalan menuju rak majalah. Saya cukup terkesima dengan sampul majalah "the Nation" yang memunculkan wajah Obama yang sedang bingung. Salah satu artikel utama dalam majalah itu adalah seputar pro-kontra pembangunan masjid di Ground Zero, New York. Setelah cukup membaca artikel utama, saya pindah ke rak lain. Nah, di sini saya temukan satu majalah terbitan kelompok Atheis. Pandangan saya langsung tertuju pada lembaran-lembaran majalah yang mengusung paham tanpa tuhan itu.

Di bagian editorial, ada satu tulisan panjang tentang perdebatan sang atheis dengan seorang kristen via email. Tanya jawab yang diiringi penjabaran dalil cukup seru. Sang atheis, David, berpandangan bahwa hidup ini tidak perlu tuhan. Tidak perlu ada pertanyaan tentang siapa sang pencipta alam. Alam datang begini adanya dan kita menikmatinya. Sang kristen, Jordan, begitu antusiasnya memaparkan pandangannya bahwa tidak mungkin ada alam kecuali ada penciptanya. Ia mengutip beberapa ayat bibel yang menunjukkan bahwa tuhan telah menciptakan ini semua.

Perdebatan berlanjut dengan topik moral. Bagi sang kristen, agamalah yang memberikan arahan mana yang baik dan mana yang buruk. Tanpa agama, orang akan berlaku suka-suka, seperti melakukan pembunuhan. Sang atheis menjawab bahwa moralitas itu diperoleh dari pengalaman manusia dari zaman ke zaman. Misalnya, mereka tidak membunuh bukan karena ada ajaran tuhan yang melarang pembunuhan, melainkan adanya rasa dalam dirinya jika ia membunuh, hal itu akan menyakiti orang lain, sama halnya ia tidak ingin memukul karena ia tidak suka dipukul. Itu adalah nilai yang sudah dimiliki manusia sejak lahir. Kata sejak lahir kemudian menjadi senjata bagi si kristen untuk mendebat. Ia berbalik menyerang dengan mengatakan bagaimana mungkin nilai kebaikan itu dimiliki seorang anak yang baru lahir sementara orang tua begitu getolnya mengajari anaknya untuk berbuat ini dan melarang berbuat itu? Bagi si kristen, itu semua pasti bersumber dari agama yang diajarkan Tuhan.

Peseteruan itu kian memanas, ketika bereka berdebat tentang asal usul manusia. Sang kristen tidak setuju dengan teori evolusi darwin karena Tuhan telah sebegitu canggih membuat manusia seperti sekarang ini, bukan dari kera. Sementara itu, sang atheis menjelaskan bahwa manusia dan kera merupakan satu rumpun makhluk yang memiliki nenek moyang yang berdekatan. Ini merupakan fakta sejarah yang ditemukan oleh para saintis, bukan dari agama. Ia bahkan memberikan informasi alamat website yang harus dikunjungi untuk mendapat data yang akurat tentang hal tersebut.

Pada akhirnya, keduanya saling serang dan kemudian berhenti karena kelelahan. Mereka berkesimpulan bahwa diskusi itu tidak menghasilkan apa-apa. Mereka tetap berpegang teguh dengan keyakinan masing-masing: bagi sang atheis tuhan tidak perlu ada dan bagi sang kristen tuhan pasti ada.

Saya cukup tergelitik dengan diskusi mereka. Satu sisi, sang atheis begitu yakin bahwa hidup ini tidak perlu agama. Tuhan dianggap tidak ada atau telah mati. Manusia terbentuk oleh alam yang telah berevolusi sekian milyar tahun. Mereka tidak perlu berpikir tentang kehidupan akhirat karena dunia adalah dunia. Sementara sisi lain, sang kristen begitu mantapnya berpandangan bahwa Tuhan adalah suatu kepastian. Tuhanlah, termasuk Jesus, yang mengatur semua ini.

Perbicangan tentang ketiadaan tuhan merupakan hal yang baru bagi saya. Selama ini, kita hampir sepakat tuhan itu ada dan melalui agamalah kita bisa mengenal tuhan. Sebutan tuhan yang beragam membuat agama jadi berbeda satu sama lain. Kemudian, munculnya paham tanpa agama menjadi bahasan unik karena pasti akan bertolakbelakang dengan masyoritas manusia, dimana pun mereka berada dan apapun agamanya. Sang atheis rupanya lupa bahwa dalam diri manusia ada satu ruang yang menginginkan adanya pengakuan kekuatan supra natural. Itulah yang kemudian pada zaman purba dikenal istilah animisme dan dinamisme. Mereka membutuhkan pelindung agar hidup mereka nyaman dan sejahtera.

Di zaman yang serba canggih ini, bisa saja manusia kemudian mengandalkan akal pikirannya dengan tidak mengikuti paham animisme dan dinamisme sehingga memilih menjadi atheisme. Mereka bahwa menyebut agama hanya candu, semacam opium yang memberikan dampak ketenangan sesaat. Bolehlah mereka berpendapat semacam itu dan Allah SWT pun sudah merekam semangat tanpa tuhan, misalnya dalam surat al-Kafirun. Di sana dijelaskan bahwa ada dan mungkin akan selalu ada orang yang tidak mengakui adanya tuhan. Mereka memberhalakan dunia atau bahkan dirinya sendiri. Betapa banyak contoh manusia yang kemudian memcoba memposisikan dirinya sebagai tuhan, seperti Firaun dan Namrud. Tapi, zat yang benar-benar Tuhan tentu tidak akan tinggal diam. Azab akan berdatangan ketika mereka benar-benar sudah melampaui batas. Mungkin kelak, ketika Tuhan menunjukkan jati diri-Nya, manusia-manusia atheis itu pasti akan mengakui betapa lengahnya mereka akan adanya kekuatan zat yang Maha Segala seperti pengakuan Firaun saat ia dalam kondisi sekarat. Ia mengakui Tuhannya Musa dan Harun. Semoga kita tetap menjadi muslim yang kian beriman dan bersyukur betapa kita telah mendapat rahmat sebagai manusia yang menyerahkan diri kepada sang Pencipta, Allah SWT. Wa Allah a'lam.

Kamis, 26 Agustus 2010

LEBIH AKRAB DENGAN AL-QURAN KITA


Saya sering berpikir bahwa kita sebagai umat Islam merupakan umat yang paling beruntung. Kita ditakdirkan menjadi umat Nabi Muhammad yang merupakan nabi akhir zaman. Jutaan atau bahkan milyaran manusia pernah hidup di atas bumi ini dengan segenap tingkah polahnya. Kita mendapatkan semua informasi itu dengan begitu validnya melalui firman Allah SWT yang terkodifikasi dalam sebuah kitab suci, yakni al-Qur'an. Kita tidak perlu perlu melihat atau mengalami sendiri berbagai siksaan Tuhan yang ditimpakan kepada sekelompok manusia yang ingkar kepada-Nya. Ada sebagian mereka yang ditenggelamkan, dikubur hidup-hidup dalam gempa, ada pula yang dilempari batu panas hingga mati seperti dimakan ulat. Kita tentu tidak ingin mendapat siksaan itu dengan cukup belajar dari kesalahan kaum terdahulu.

Al-Qur'an merupakan kitab hidayah, yakni buku suci yang memberikan petunjuk bagi umat manusia di akhir zaman. Kitab ini merupakan produk terbaru yang "dilaunching" Tuhan sebagai penyempurna produk terdahulu, seperti Zabur, Taurat, Injil, dan beberapa shuhuf. Sebagai karya ter-up date, al-Qur'an jelas lebih canggih dan lebih lengkap dalam menuturkan berbagai kisah anak cucu Adam sepanjang masa, mulai dari yang shaleh hingga yang thaleh, dari yang paling baik hingga yang super jahat. Berbagai konsekuensinya pun dijabarkan secara gamblang. Misalnya, ketika dua anak Adam berkorban untuk Tuhannya, anak pertama berkorban dari barangnya yang buruk sedangkan yang anak kedua berkorban dengan barang yang paling baik. Lalu, Allah pun menerima korban dari barang yang paling baik. Ini menunjukkan kepada kita bahwa jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain tentulah kita harus memilih barang yang paling baik setidaknya barang yang masih pantas diberikan agar mendapat ridha dari Allah SWT.

Allah SWT begitu jelas menunjukkan berbagai perbuatan yang membuat-Nya senang dan memaparkan pula sejumlah perbuatan yang menjadikan-Nya murka. Misalnya, Dia sangat senang kepada hamba-hambanya yang shaleh yang senantiasa bertaqwa dan bertawakkal kepada-Nya. Begitu pula Allah SWT sangat murka kepada perbuatan manusia yang mencelakakan orang lain. Semua itu dituturkan Allah SWT dalam al-Qur'an yang menjadi buku panduan hidup bagi umat Islam sepanjang masa. Allah SWT tidak segan-segan memberitahukan rahasia kesuksesan orang-orang yang dicintai-Nya, seperti berbakti kepada orang tua dan menjalankan shalat malam. Juga, Allah SWT dengan jelas menjabarkan ciri-ciri orang yang celaka hidupnya, semisal pezina dan peminum khamar yang telah terbujuk rayuan setan. Setan dalam al-Qur'an disebut sebagai musuh yang nyata bagi manusia. Begitu lengkapnya al-Qur'an, seakan-akan kita tidak pantas lagi berbuat salah yang kemudian membuat Allah SWT menurunkan adzab-Nya.

Tapi kita memang manusia yang pada fitrah penciptaannya dibekali dua instink, yakni kecenderungan berbuat baik dan berbuat buruk seperti termaktub dalam surat Al-Syams:8. Dalam lanjutan ayat itu Allah menegaskan bahwa hanya hamba-hamba-Nya yang mau mensucikan jiwanya sajalah yang akan sukses sedangkan orang-orang yang mengotori jiwa mereka pasti akan menyesal. Sungguh, dengan merenungi beberapa ayat saja dari al-Qur'an, kita seperti dibangunkan dari mimpi buruk kehidupan kita yang kadang jauh dari semangat al-Qur'an. Sayang, bujukan hawa nafsu sering membutakan kita dan menjadikan kita seperti umat-umat terdahulu yang sering bermaksiat kepada-Nya. Sungguh amat disayangkan padahal kita adalah umat datang belakangan yang seharusnya bisa belajar dari kesalahan-kesalahan dari umat terdahulu.

Kesimpulannya, kita patut mengenal lebih dekat al-Qur'an kita. Kitab suci itu pada hakikatnya adalah kado Tuhan yang terindah bagi kita umat Islam. Namun sangat disayangkan, kita sendiri sering lupa akan berjuta untaian pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya. Semoga dengan merenungi turunnya al-Qur'an pada ramadhan ini, kita mendapat hidayah Allah SWT sehingga kita diberi kekuatan untuk menjalankan ajaran al-Qur'an semaksimal mungkin. Sungguh, Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Pemberi Petunjuk. Wa Allah a'lam.

Selasa, 06 April 2010

BERCERMIN PADA FATIHAH KITA (1)


Setiap hari kita wajib mendirikan shalat sebanyak lima kali dengan rakaat yang berjumlah 17. Kurang dari itu,seorang muslim akan dipertanyakan keislamannya. Bangunan keislaman seseorang akan dinilai kokoh ketika pelaksanaan shalatnya lengkap dan sempurna. Sebaliknya, kehancuran pilar-pilar keislaman seseorang bergantung pada pengabaikan shalatnya. Dalam shalat, kita wajib membaca surat al-Fatihah pada setiap rakaat. Tanpa itu, rakaat yang dilakukan dianggap tidak sah, kecuali statusnya sebagai makmum masbuq dalam shalat jamaah. Oleh sebab itu, dalam satu hari, seorang muslim pasti membaca surat pembuka kitab itu paling tidak sebanyak 17 kali. Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa harus berkali-kali?

Allah sangat paham karakter manusia. Untuk menancapkan sebuah keyakinan dalam hati seseorang, perlu sejumlah proses pengulangan. Eksperimen dan ekperien keberagamaan menjadi penting. Keyakinan seseorang akan begitu mendalam jika ia melihat, merasakan, atau mengalami hal tertentu beberapa kali. Misalnya, air mendidih dapat menyebabkan kulit melepuh. Jika belum ada kasus yang menunjukkan hal itu beberapa kali, niscaya orang tidak akan percaya. Karena banyaknya pengalaman yang menguatkan statemen bahwa air mendidih itu panas dan karena itu jika mengenai kulit akan membuatnya melepuh, maka dengan penuh keyakinan, orang tersebut akan waspada ketika berdekatan dengan air mendidih. Contoh lain, bir itu memabukkan. Pada awalnya, orang beranggapan bahwa bir hanyalah sebuah jenis minuman biasa. Tetapi, karena banyaknya kasus yang mengindikasikan bahwa bir bisa membuat orang tidak dapat mengontrol kesadaran dirinya, maka akhirnya dipercaya bahwa bir bisa memabukkan. Keyakinan ini tentu tidak lepas dari proses pengulangan yang terjadi.

Hal ini sama dengan perintah shalat yang diwajibkan Allah kepada hamba-Nya yang beriman. "Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku" demikian firman Allah tentang tujuan utama shalat. Shalat tidak hanya rangkaian gerakan dari takbiratul ihram hingga salam, lebih dari itu, shalat adalah sekumpulan doa yang menghubungkan seorang hamba untuk lebih dekat dengan penciptanya. Kesadaran itu tercermin dalam bait-bait bacaan dalam shalat termasuk surat al-Fatihah. Karena banyaknya bacaan dalam shalat, baiklah pada kesempatan ini, kita fokuskan bahasan tulisan ini kepada surat al-Fatihah.

Surat al-Fatihah diawali dengan basmalah. Mayoritas ulama sepakat bahwa lafal basmalah merupakan ayat pertama dalam surat al-Fatihah. Hal ini dapat dilihat pada setiap lembar pertama al-Qur'an yang memberikan angka 1 pada kalimat basmalah ini. Basmalah mengandung pernyataan kesadaran seseorang akan keberadaan Tuhannya, "Dengan menyebut Nama Allah, yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang." Allah diakui sebagai nama agung (lafal jalalah) yang mengungguli sekian nama tuhan buatan manusia. Diakui bahwa kesadaran akan ketuhanan selalu bersemayam di hati manusia. Bahkan dalam berbagai penelitian ilmiah ditemukan dalam otak manusia, ada sebuah titik yang disebut sebagai Godspot. Titik ketuhanan ini selalu bergetar ketika seseorang menyadari kelemahan dirinya dan mengakui kebesaran sang Pencipta. Ia yakin, ada kekuatan besar yang berada di luar dirinya yang berkuasa mengontrol roda kehidupannya. Ia adalah Tuhan. Allah dalam al-Fatihah ini hendak menuntun manusia bahwa hanya Allah SWT-lah Tuhan yang patut disembah. Dia adalah Tuhan yang memiliki kasih sayang sempurna untuk semua hamba-Nya sepanjang masa, baik yang kelihatan mata maupun tidak, baik di bumi maupun di langit. Seluruh maha karya-Nya di jagat raya ini selalu menerima tumpahan cinta kasih-Nya. Dengan demikian, basmalah yang sering disebut sebagai induk dari surat al-Fatihah mendorong manusia untuk meneguhkan keimanan bahwa Allah adalah Tuhannya, Tuhan yang Maha Pengasih untuk kehidupan dunianya dan Maha Penyayang untuk kehidupan akhiratnya.Itulah sebabnya basmalah dianjurkan untuk dibaca di awal setiap perbuatan kita agar aktifitas kita itu menjadi bernilai ibadah dan akan mendapat perlindungan dari-Nya.

Ayat kedua adalah kalimat hamdalah yang berbunyi "Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam." Mustahil kiranya mencari tandingan atas kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Jelas, memang Dia adalah Tuhan yang Satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak butuh pengabdian manusia tetapi sebaliknya justru manusia membutuhkan untuk mengabdi pada-Nya. Tentu merupakan tindakan tidak masuk akal ketika seorang manusia mengunggul-unggul dirinya dan menganggap sempurna dengan segala kemampuannya. Ia bahkan ingin menandingi Tuhan. Sungguh, segala pujian hanya milik Allah. Tak ada manusia manapun yang berhak atas sebuah pujian. Apa yang mampu dilakukan orang seorang manusia hanyalah manifestasi dari kekuatan Allah yang dititipkan pada dirinya. Misalnya, kesempatan menulis semacam ini tidak lepas dari energi Allah yang ditransfer melalui makanan yang diasup dan rangkaian anggota tubuh yang bekerja secara simultan. Jika Allah menghendaki lain, misalnya sakit mata, sakit kepala, atau sakit pada jemari, niscaya tulisan ini tidak akan pernah terwujud. maha Suci Allah, yang memiliki kekuasaan yang tiada batas. Ungkapan syukur hanya patut dipersembahkan untuk-Nya. Wa Allah a'lam (bersambung)

Introduction