Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2016

GELAPNYA HATI DAN SOLUSINYA




Tahukah kalian kapan hati menjadi gelap? Setiap orang pasti mempunyai pengalaman yang berbeda dalam merasakan hati. Hati adalah kunci kebahagiaan namun juga sumber kegelisahan. Ketika seseorang melakukan sebuah kebaikan, hatinya akan senang. Satu kebaikan menanamkan satu kebahagiaan. Namun, di saat satu keburukan dilakukan, hal ini menjadi investasi kegelisahan di dalam hatinya. Misalnya, ketika seseorang dapat membantu meringankan beban hidup saudaranya, dengan memberikan uang semampunya, ia akan merasakan getaran jiwa yang dasyat yang memberikan sinyal bahwa hidupnya memiliki makna bagi orang lain. Hasil jerih payahnya bekerja tidak hanya untuk menambah jumlah rekeningnya, namun dapat membuat orang lain lepas dari derita. Tatkala hal ini ia nikmati, maka ia tidak hanya mendapat senyuman mengembang dari saudaranya itu, tetapi ia akan memperoleh kedamaian hati yang mendalam. Kedamaian ini merasuk dalam relung jiwanya yang mengirimkan sensasi kebahagiaan luar biasa. Oleh sebab itu, orang yang biasa peduli dengan lingkungan sekitarnya dan berusaha membantu semaksimal yang ia bisa lakukan, niscaya ia akan merasakan bahagianya hidup dalam hatinya.
Jika hal ini dikaitkan dengan ajaran Islam, banyak ayat yang memberikan dorongan untuk melakukan hal ini. Misalnya, firman ALLH SWT dalam Ali Imran 92 yang intinya “tidaklah kalian akan mendapatkan kebaikan sampai kalian mampu memberikan apa yang kalian sukai kepada orang lain.” Ayat ini sering ditafsirkan sebagai ayat yang memotivasi seseorang untuk memberikan harta terbaiknya. Cukup sampai di situ. Ternyata tidak!  Ayat ini bisa dimaknai bahwa seseorang tidak akan merasakan kebahagiaan hakiki dalam hatinya jika ia belum bisa berbagi dengan orang lain, terlebih dapat memberikan harta yang layak diterima. Dengan kata lain, salah satu sebab kecerahan hati seseorang adalah kemampuan orang itu mengurangi egonya dan mau mencerahkan hati orang lain sehingga kebahagiaan hati orang lain itu memantul kepada hatinya.
Hal lain yang dapat menenteramkan hati adalah bangunan relasi antara manusia dengan tuhannya. Allah SWT adalah sang pencipta. Ia telah memberikan resep terbaik agar seseorang mencapai kebahagiaan hakiki. Misalnya, Allah SWT memberikan tuntunan seseorang untuk tidak melakukan maksiat. Maksiat berarti perbuatan tidak baik yang dilarang oleh Allah SWT. Larangan ini tidak jarang  sangat sesuai dengan hati nurani manusia. Sebagai contoh konkret, Allah SWT tidak mengizinkan kita melihat aurat orang lain. Aurat adalah hal yang semestinya ditutupi. Ketika seseorang menggunakan inderanya melihat aurat orang lain, maka ia akan merendahkan harga diri orang lain itu sekaligus merendahkan harga dirinya sendiri. Ia telah merusak etika yang semestinya ia jaga. Kesalahan yang demikian ini akan berbekas dalam hatinya yang berefek pada kegelapan hati. Sadar atau tidak, dipungkiri atau tidak, semakin banyak kesalahan yang kita lakukan, sebanyak keburukan yang kita perbuat, lambat laun akan meredupkan sinar hati. Akibatnya, orang tersebut akan kehilangan keseimbangan hatinya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, memutuskan dengan teliti, atau mengerjakan tugas dengan sempurna. Hati yang kotor ibarat cermin yang tertutup oleh debu keburukan yang akhirnya memudarkan cahaya hatinya. Hidup menjadi kehilangan arah, pikiran jadi keruh, sikap yang diekspresikan pun cenderung keras dan tak beraturan. Itulah pentingnya menjadi kejernihan hati. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, semakin bening hati kita. Semakin bening hati kita, semakin cerah wajah kita dan semakin besar semangat kita untuk hidup lebih optimistik. Jadi, jangan pernah berhenti menebar kebaikan. Semoga hati kita tetap jernih sepanjang masa. Amin....
    

Minggu, 20 September 2015

REFLEKSI: MERAIH MIMPI DENGAN BERANI BERKURBAN

Setiap orang boleh bermimpi, mimpi apa saja! Banyak karya besar yang dimulai dari mimpi. Angan-angan untuk menaklukkan dunia bisa dirajut step by step dalam sebuah mimpi. Pendek kata, bermimpilah setinggi langit, toh mimpi itu gratis dan tidak menggangu orang lain.

Namun ternyata, tidak sedikit manusia yang takut bermimpi. Jikamimpi terlalu muluk, takut jika mimpi tak tercapai akan jatuh terlalu dalam dan depresi. Tentu hal ini tidak sepenuhnya benar. Memang, jika seseorang hanya mengandalkan mimpi belaka tanpa melakukan aksi tentu akan kecewa dan hanya isapan jempol. Jika seseorang ingin mewujudkan mimpinya, setidaknya ia akan membuat road map yang mantap. Jalan panjang nan berliku itu harus siap ia tempuh demi kepuasan jiwa yang ia idamkan. Sekali lagi, sebuah pengorbanan harus siap ia lalukan demi cita-cita  suci itu!

Sebuah ilustrasi, jika seseorang ingin membuat artikel yang bagus, maka ia harus membaca bahan bacaan yang cukup, memahaminya, merangkumnya, memberikan komentar dan melakukan analisis sehingga tulisannya mantap dan berbobot. Untuk mendapatkan karya tersebut, ia harus berani berkorban merelakan waktu tidur dan istirahatnya demi impiannya itu. Jika ia hanya melakukan rutinitas, membaca ala kadarnya, bekerja secukupnya, menulis seluangnya, dan masih mempertahankan diri untuk tetap bisa istirahat cukup dan bermain bersama kawan dan keluarganya, maka ia sulit mencapai apa yang ia inginkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan ulasan pikirannya secara jernih dan tajam jika bahan mentah di pikirannya sangat terbatas? Bagaimana mungkin seseorang akan mencapai gelar membanggakan dan prestasi cemerlang jika bekerja dan belajarnya biasa-biasa saja? Maka jawaban tegasnya: pengorbanan! Berkorban adalah memberikan usaha yang maksimal melebihi standar orang biasa dengan langkah terstruktur demi mencapai kesuksesan.

Sayangnya, jarang manusia mau berkorban. Umumnya, manusia ingin hidup nyaman dan sukses namun dengan usaha ringan. Hal ini mirip prinsip ekonomi, yakni mengeluarkan usaha minimal untuk mencapai hasil maksimal. Syukurlah kalau kita bisa melakukan prinsip itu dalam kehidupan global kita. Namun, saya tetap yakin, bahwa hanya dengan pengorbanan maksimallah seseorang akan bisa meraih hasil karya maksimal. Jika masih manja, masih menanti durian runtuh, maka  jangan pernah berharap cita-cita yang diimpikan akan segera terwujud. Memang bisa jadi tercapai, namun dengan waktu yang tidak jelas dan hasil yang tak terukur pula.

Jadi, mari bermimpi....dan mari berkorban....ini juga bisa menjadi refeksi ibadah qurban kita tahun ini, 2015.

PENTINGNYA TRAINING PETUGAS QURBAN

Sebentar lagi hari raya Idul Adha akan tiba. Segenap umat Islam telah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut ibadah tahunan itu. Sejumlah masjid telah berbenah diri untuk melaksanakan solat id sekaligus membuat kepanitiaan khusus untuk ibadah qurban. Panitia telah membentuk tim penerimaan hewan qurban, pemotongan, hingga penyaluran daging qurban. Namun, pertanyaannya, sudahkah panitia ini memiliki pengetahuan mantap dan skil mumpuni dalam penyelenggaraan ibadah qurban ini?
Mungkin bagi sebagian masyarakat, pertanyaan itu teramat klise. Ibadah qurban telah dilaksanakan bertahun-tahun dan tidak ada masalah. Seruan semacam yang dilontarkan Ahok untuk lokalisasi pemotongan beramai-ramai ditolak, tak terkecuali pengurus MUI Pusat. Hal itu wajar karena selama ini kegiatan pemotongan hewan sudah sedemikian memasyarakat. Semua aktifitas pemotongan dengan gaya apapun dianggap tradisi dan saling memaklumi jika terjadi hal-hal yang sebenarnya kurang patut dan perlu dibenahi.
Baiklah, saya  ingin memberikan contoh pemotongan hewan yang pernah saya lihat. Suatu waktu saya lewat sekerumunan orang yang menyaksikan pemotongan sapi di suatu tempat. Ada lima atau enam orang yang bertugas menjagal sapi itu. Dua orang mengikat kaki sapi, dua orang menarik sapi dan satu orang lagi sebagai penjagal leher sapi. Nampaknya,  mereka ingin menarik sapi itu agar terjatuh, namun sapi itu terlalu luat sehingga sang jagal terpaksa, maaf, menebas leher sapi itu berkali-kali sambil berdiri. Otomatis, darah sapi itu munyebar ke mana-mana dan sapi yang kesakitan itu pun bisa dirobohkan. Sang penjagal sekali lagi, menggorok sapi itu dengan gerakan seperti memotong kayu sampai kepala sapi itu putus. Astaghfirullah! Apakah begitu ajaran Islam dalam memotong hewan kurban? Saya bukanlah ahli memotong sapi, namun melihat  kenyataan tersebut, saya merasa miris, betapa sadisnya penjagal tersebut.
Saya tidak tahu, apakah sang jagal itu sudah terbiasa memotong sapi atau karena tugas dadakan sehingga ia melakukan segala cara yang menurutnya efektif untuk segera mematikan sapi tersebut. Dugaan saya, akan banyak jagal dadakan yang muncul selama prosesi ibadah qurban dari tahun ke tahun. Bagi saya, ibadah qurban bukan hanya sekedar membunuh hewan qurban sesuka hati, namun  ada sejumlah etika  penyembelihan hewan qurban yang harus diperhatikan. Misalnya, membaca basmalah, penggunaan pisau yang tajam, pemotongan leher pada saluran nafas (hulqum), saluran makanan (mari'), dan saluran vena-arteri (wadajaini), dan menghindari penganiayaan terhadap hewan tersebut. Oleh sebab itu, nampaknya perlu diadakan pelatihan atau training pemotongan hewan qurban yang syar'i.
Selain pemotongan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengemasan hewan qurban.  Kita tentu berharap hewan qurban memenuhi asas ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal. Asas ini bisa  dimaksudkan untuk menjaga daging sehat dan aman dikonsumsi, daging hewan harus dikemas dengan kemasan yang sehat, misalnya dengan kantong plastik tarnsparan, bukan plastik hitam hasil daur ulang. Untuk itu, pelatihan panitia hewan kurban nampaknya  sudah menjadi kebutuhan. Kegiatan ini bisa dimotori Dewan Masjid Indonesia di setiap kecamatan, MUI Kecamatan, KUA, atau kampus yang peduli dengan keselamatan dan kesehatan umat. Semoga...  

Jumat, 07 Agustus 2015

ISLAMIC PARENTING: PENGASUHAN ANAK ALA NABI

Hari ini saya merasa bahagia karena ditunjuk untuk mengisi acara Parenting di sebuah sekolah favorit di Malang. Mengapa bahagia? Heem....sebenarnya kebahagiaan itu bukan karena saya ahli di bidang parenting atau sudah benar-benar menjadi orang tua yang baik, namun saya bahagia karena merasa tertantang untuk mendalami peran yang selama ini saya emban namun tanpa ilmu. Saya diminta untuk berbicara tentang bagaimana menjadi orang tua yang mampu meneladani Rasulullah SAW. Bisakah?Jawabnya pasti: Bingung!!!  hehehe
Menjadi orang tua adalah peran yang diamanahkan Allah SWT kepada setiap pasangan yang memiliki anak. Setiap orang tua menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan mampu mengharumkan nama baik keluarga. Namun, untuk mendapatkan generasi harapan itu, tidak banyak orang tua yang memiliki ilmu menjadi orang tua. Umumnya, ilmu tersebut diperoleh secara turun-temurun dan by nature. Alhasil, anak hebat terkadang bukan karena orang tuanya  hebat dalam mendidiknya, akan tetapi mereka lahir dan kebetulan menjadi hebat. Bayangkan, jika anak yang kebetulan hebat itu lahir dari keluarga yang benar-benar memahami peran sebagai orang tua, tentu anak itu akan lebih hebat lagi bukan?
Hal sebaliknya, jika anak potensial hebat namun tidak mendapatkan asuhan yang tepat, potensi itu bisa hilang. Apalagi anak yang tidak hebat dibesarkan dalam keluarga yang kurang tepat, dapat dipastikan ia akan menjadi generasi terbelakang yang kemungkinan tidak dapat berperan aktif dalam memakmurkan dunia ini.
Di sinilah pentingnya pola pengasuhan yang mumpuni yang kini dikenal dengan parenting. Berbagai pakar sudah banyak berbicara tentang parenting. Teori tumbuh kembang anak juga sudah acapkali dibicarakan. Pertanyaannya kemudian, adakah parenting Islami? Parenting Islami meniscayakan cara pengasuhan yang mempunyai nilai-nilai Islam di dalamnya. Saya pun akhirnya hunting buku ke toko buku untuk bahan kajian.
Nah, saya menemukan dua buku bagus yang berkaitan dengan parenting Islami. Pertama adalah buku yang berjudul Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi, karya Syaikh Jamal Abdurrahman. Kedua, buku Prophetic Parenting, Cara nabi SAW mendidik Anak tulisan  Dr Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Kedua  buku terjemahan ini saling melengkapi yang mempunyai ulasan yang mendalam tentang cara Nabi bersikap dan berperilaku menghadapi anak-anak. Misalnya, Nabi selalu menjadi teladan bagi anak, memberikan kesempatan berdialog dengan anak, dan memberikan keleluasaan bagi anak untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Selain itu, Nabi juga selalu memberikan wawasan kepada anak tentang pentingnya berbakti kepada Allah, menyayangi orang tua, dan menempatkan manusia sesamanya sederajat sehingga tidak ada anak yang merasa lebih terhormat dari anak yang lain. Ternyata, begitu banyak akhlak Nabi yang bisa ditularkan kepada anak-anak. 
 Akhirnya, saya semakin yakin, dengan belajar parenting Islami, kita dapat mewujudkan generasi mu'min yang mempunyai kesadaran tinggi tentang kehidupan ini. Generasi yang dapat dibanggakan dengan keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kedalaman spiritual akan mudah kita raih dengan mendalami parenting metode nabi. Semoga kita dapat menjadi keluarga sakinah yang melahirkan khalifah-khalifah penuh amanah di muka bumi ini. Wa Allah a'lam.

Selasa, 03 Februari 2015

PEJUANG QUR'AN ITU TELAH PERGI...

Kemarin, 2 Februari 2015, adalah salah satu hari yang tak terlupakan. Pagi itu, aku dengar kabar bahwa kawanku, Dr Syafaat, M.Pd, menghembuskan nafas terakhir di kediamannya. Hal yang paling mengagetkan adalah bahwa beliau tidak mengalami sakit apapun dan wafat dengan tiba-tiba di waktu subuh. Usianya pun masih tergolong sangat muda, belum mencapai usia 40 tahun. Bagiku, kepergiannya tentu sangat mengejutkan bagi segenap keluarga dan sahabatnya.

Sebenarnya aku jarang bersua dengan beliau. Maklum, tugas dinas kami berbeda. Aku di UIN sedangkan beliau di Universitas Negeri Malang (UM). Aku kenal beliau karena sering mengisi kegiatan pengajian dan tahfid al-Quran di UIN dan di kampungku. Suaranya sangat merdu dan wajahnya sangat teduh. Aku kagum sekaligus salut dengan tingkah lakunya yang selalu tawadhu'.

Suatu ketika, aku pernah berbincang akrab dengan beliau. Kami saling bertukar kabar dan pengalaman. Dari tutur katanya terkesan bahwa beliau sangat peduli dengan situasi masyarakat dan cinta ilmu al-Qur'an yang selama ini digeluti untuk menjadi nafas kehidupan warga. Kawan-kawan yang biasa mendengar uraiannya saat memberikan taushiyah merasakan siraman segar di setiap ucapannya yang selalu bersumber pada al-Qur'an dan hadis.

Beberapa hari lalu isterinya datang ke rumah untuk menemui istriku. Hal ini merupakan kunjungan tak terduga karena rumah kami berjauhan. Rupanya istri beliau aktif bersama istriku di kegiatan muslimat di kampungku. Aku senang bahwa keluarga kami bisa dekat dengan keluarga penghafal al-Qur'an itu.

Sayang sekali, mas Syafaat begitu cepat pergi. Kami kehilangan sosok teladan yang memberikan kesejukan hati. Kami berdoa semoga mas Syafaat mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan khusnul khatimah. aaamiiin!

Link blog beliau yang sarat makna ada di https://cahayaqurani.wordpress.com/tentang-saya/

Selasa, 26 Juni 2012

SETELAH DOKTOR, SO WHAT?

ALHAMDU LILLAH...

Tak habis-habis aku memuji kebesaran Gusti Allah....
Rasanya, tak habis-habis Dia memberikan segala karunia sepanjang waktu...

 Salah satu anugerah terindah dan terbesar yang baru saja kuterima adalah selesainya aku dalam studi program S3 di IAIN Walisongo Semarang. Jenjang terakhir yang terasa sangat berat itu kini sudah terlewati...yang terlampaui dengan sangat manis. Gelar doktor kini sudah di tangan, apalagi yudisiumnya pun cukup membanggakan, Cum Laude. Rasanya, segala penderitaan lahir batin yang cukup mengenaskan terbayar sudah. Ibarat seorang ibu yang bersusah payah mengandung dan berjuang hebat dalam melahirkan. Saat sang bayi lahir, segala penderitaannya pun seakan lenyap dan tergantikan oleh tangisan sang buah hati yang mendamaikan jiwa. Kini ia punya tugas baru, yakni mengasuh dan mendidik manusia baru itu yang tak kalah menantangnya. Begitu pula diriku, gelar pendidikan akademik puncak itu adalah langkah awal bagiku untuk masuk dunia lain, dunia yang lebih menuntut pengerahan kemampuan intelektual, emosional, dan juga spiritual hingga akhir hayat. Semoga, Allah SWT senantiasa memberiku petunjuk ke jalan yang diridhai-Nya dalam proses pengabdianku yang kian tanpa batas.

Selasa, 10 Januari 2012

JAD MUSLIM YANG KAFFAH, APAAN TUH?

Sejak lahir, kita sudah disambut dengan kumandang adzan oleh ayah kita. Bacaan itu menjadi pondasi awal aqidah yang ditanamkan orang tua kita. Bacaan adzan yang intinya mengagungkan asma Allah SWT dan pengakuan akan kebesaran-Nya diharapkan akan mampu membentengi diri kita dari godaan syetan yang menjelma dalam berbagai bentuk. Doa tulus agar kita menjadi anak sholeh selalu terucap dari bibir orang tua kita. Meskipun begitu, sudahkah kita benar-benar menjadi muslim sejati?

Pertanyaan itu sering menggelitik saya. Di tengah banyaknya orang yang mengaku sebagai Muslim karena keturunan, saya malah ingin menantang diri saya sendiri apakah saya memilih Islam sebagai jalan hidup hanya karena didikan orang tua atau karena Islam benar-benar jalan lurus yang saya pilih dengan ikhlas. Pembiasaan diri sebagai Muslim ternyata bukan satu-satunya jalan untuk membuat seseorang benar-benar Muslim. Justru sebaliknya, karena adanya gejolak jiwa dan kegelisahan hati tentang ajaran agama, atau bahkan perlu tidaknya seseorang memeluk agama, seseorang menjadi yakin sepenuh hati bahwa Islam adalah jalan hidup pilihannya. Dari mana datangnya keyakinan yang berbentuk hidayah itu? Apakah semua orang dapat memperolehnya?

Manusia terlahir di dunia ini dengan bekal indera yang tajam. Meski ukuran ketajaman itu masih ada yang mengungguli, indera manusia dapat menangkap hal-hal nyata yang menjadi kebutuhannya. Keperluan jasmani seperti makan dan minum dapat mereka peroleh dengan kekuatan indera yang dimiliki. Kemampuan mata melihat sumber-sumber kehidupan dan kemampuan anggota badan untuk bergerak dan mengolah hasil alam membuat manusia dapat bertahan hidup. Kecerdasan ini diberikan hampir kepada seluruh umat manusia, baik yang beragama atau tidak.
 
Berbeda dengan itu, kebutuhan ruhani tidak selamanya disadari. Tatkala seseorang hanya menggunakan akalnya dalam menerjemahkan sesuatu yang nyata, maka ia hanya akan terkungkung oleh keterbatasan inderawinya. Cobalah kita ingat, betapa manusia dahulu menganggap bahwa bumi ini ibarat lempengan piring atau nampan yang pipih dan lebar. Mereka sempat mewanti-wanti kepada segenap anggota keluarganya untuk tidak jauh-jauh pergi karena bisa jadi akan jatuh ke jurang yang amat dalam di tepi piringan itu dan tak akan pernah bisa kembali. Itulah salah satu bukti bahwa inderawi manusia mengajarkan hal-hal semacam itu. Begitu pula ketika kita melihat matahari. Benda ini hanyalah seperti buah durian yang menggantung di atas dan bergerak melingkar dari timur ke barat. Itu karena mata kita memberitahu kepada kita semacam itu. Paham di atas tentu untuk zaman teknologi modern saat ini sudah ketinggalan dan kuno. Kita semua kini yakin bahwa bumi berbentuk bulat dan matahari merupakan benda langit yang besarnya berkali-kali lipat dari ukuran bumi. Lalu, apakah kita masih percaya dengan indera kita?Apakah indera kita dapat membuat kita mampu memenuhi kebutuhan ruhani kita?

Jawaban singkat yang ekstrim adalah tidak bisa. Atau, kalau memang bisa, manusia harus mampu menggunakan inderanya secara cerdas bukan hanya dengan cara biasa. Cara itu sebenarnya sudah lama diajarkan al-Qur'an bahwa kita manusia harus mau melihat alam raya  ini dan berpikir kritis tentang hal itu. Ketika kita mau menjelajahi alam ini, setidaknya alam sekitar kita, niscaya kita akan mengakui adanya kekuatan besar yang merajai alam ini. Pengalaman hidup kita juga mengajari kita untuk tidak congkak dengan kemampuan kita yang sangat terbatas. Dari sanalah akan timbul sebuah tuntutan untuk mengakui adanya zat yang maha. Ia adalah zat yang menguasai alam ini dan mengaturnya sesuai dengan kehendak-Nya.

Banyak nabi dan rasul yang pernah diutus Allah SWT ke muka bumi. Tantangan dan hambatan sudah pasti mereka hadapi. Kondisi umat yang tidak cerdas ruhani dan sangat terbelenggu dengan kemampuan inderawi sangat sulit untuk diajak berpikir luas dan jauh ke depan. berbagai dalih mereka lontarkan demi mempertahankan kebodohan ruhani yang sudah turun-temurun. Ada umat yang meminta makanan dari langit. Ada umat yang meminta unta dari batu. Ada pula segolongan manusia yang menantang dengan meminta untuk didatangkan azab yang pedih. Bahkan, tidak hanya manusia biasa, seorang nabi sekaliber Musa pun ingin melihat Allah SWT yang mengaku sebagai sang pencipta alam. Sayangnya, ketika Allah SWT "menjelmakan diri" di gunung Tursina, Musa jatuh tak sadarkan diri dan bertobat atas kebodohannya. Tuhan memang sepantasnya tidak dapat dilihat oleh indera manusia, namun hanya bisa dirasa oleh hati yang jernih dan pikiran yang bening. Untuk dapat merasakan siapa Tuhan, mengapa manusia perlu diciptakan, bagaimana manusia mengatur hidupnya serta kemana manusia akan pergi, Islam dengan Al-Qur'annya telah memberikan jawaban yang tegas dan jelas kepada mereka yang mau percaya. Muhammad, yang sejak lahirnya sudah menunjukkan kualitas manusia sempurna,dipilih Allah SWT untuk menjelaskan apa itu Islam dan bagaimana menjadi manusia muslim yang kaffah. Umat Islam tentunya beruntung bahwa mu'jizat nabi Muhammad tidak hanya dapat dinikmati oleh manusia semasanya, namun mu'jizat terbesar yang berupa al-Qur'an dapat dibaca, dipelajari, didiskusikan serta dilaksanakan hingga kini oleh manusia-manusia yang hidup di zaman modern hingga akhir dunia. Sayangnya, tak semua orang berpandangan demikian.

Jadi, kesimpulannya, untuk menjadi Muslim sejati, patut kiranya kita mempelajari agama kita, kalau perlu membandingkan dengan agama atau kepercayaan yang lain, sehingga kita benar-benar yakin bahwa agama yang kita pilih  bukan hanya karena terpaksa, atau karena keturunan, tetapi karena kita benar-benar yakin bahwa Islam adalah the only choice atau the only way of life yang terbaik sepanjang masa. Sudah banyak contoh manusia teladan yang memeluk Islam hingga akhir hayat dan sampai hari ini nama besar dan perjuangan mereka tetap dikenang oleh masyarakat dunia. Akhirnya, syahadat kita tidak hanya bacaan kosong yang berulang kali kita ucapkan, tetapi merupakan kesaksian kita, lahir batin kita, bahwa memang tidak ada yang layak disembah melainkan Allah SWT, sang Maha Agung, dan Muhammad, manusia unggul yang tiada banding, sebagai acuan hidup final sepanjang waktu. Semoga dengan begitu, kelak Allah SWT akan meletakkan kita di antara hamba-hamba-Nya yang shaleh, yang layak mendapat ampunan dan cinta-Nya. Amin. 

Minggu, 20 Februari 2011

KEBAHAGIAAN ITU BERAWAL DARI RUMAH

Percayakah Anda bahwa banyak pemimpin sukses berasal dari keluarga yang damai? Mungkin ada sebagaian pembaca yang tidak setuju dengan pernyataan di atas. Tetapi saya meyakini bahwa kalau seseorang ingin meraih kebahagiaan lahir dan batin, ia harus mampu mengatasi segala masalah yang timbul dalam rumah tangganya. Jika tidak, nampaknya, kata bahagia itu akan tetap jauh dari kehidupannya.

Saya tidak akan mengutip kisah sukses para tokoh dunia yang hingga kini dikenang sebagai orang-orang besar dalam sejarah, seperti Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim. Saya juga tidak bermaksud mengambil contoh para selebriti papan atas yang bergelimang harta sehingga layak dianggap bahagia. Saya hanya ingin mengambil satu contoh kecil dari lingkungan terdekat yang saya amati. Saya mempunyai seorang tetangga yang kalau dilihat dari ekonominya sangatlah pas-pasan. Setiap hari ia mengajar di sebuah sekolah dasar dengan gaji minim. Tetapi, apa yang dilakukan telah mampu memberikan inspirasi kepada saya bahwa bahagia itu letaknya di hati, yakni hati yang damai sejak pertama kali melangkah ke luar rumah.

Seperti biasa, untuk menciptakan suasana batin yang teduh itu tidak berarti tanpa tantangan. Istrinya tentu tidak sepenuhnya mendukung perjuangannya sebagai pengerak masyarakat gratisan. Sebagaimana umumnya wanita, rasanya sulit jika terus-menerus hidup dalam himpitan ekonomi. Rumahnya yang terbuat dari bambu tua yang sudah agak reyot dan berlubang sana sini tidak dilengkapi dengan tempat tidur yang hangat dan empuk. Kursi tamunya hanyalah berupa dipan lusuh yang agak lebar sehingga mampu menampung beberapa orang untuk duduk bersila di atasnya. Untuk itu, sang istri beberapa kali menuntut untuk perbaikan hidup. Mengambek adalah menu harian. Lelaki mana yang suka melihat istrinya cemberut? Tentu hati menjadi sedih dan pikiran pun melayang-layang. Ingin rasanya membangun istana untuk sang permaisuri namun apa daya tak ada modal untuk itu. Lalu apa yang dilakukan tetangga saya tadi?

Ia mengajak istrinya bersabar, berdoa, dan tersu berusaha. Setiap hari ia meluangkan waktu untuk shalat malam dan memohon karunia keberkahan hidup. Lambat laun, gaya hidup sederhana menjadi bagian integral keluarga itu. Sang istri sudah mulai mampu mengatasi gejolak emosinya yang kadang meledak saat teman-temannya memamerkan perhiasannya. Ia kini mulai bisa tersenyum mensyukuri hidupnya yang masih diberi kesehatan prima dan anggota tubuh yang utuh sehingga ia masih bisa bekerja serabutan demi mengepulkan dapurnya. Selang beberapa tahun kemudian, tetangga saya kini telah menjadi salah satu warga yang sukses dalam wirausahanya yang dirintis dengan istiqamah dan kerjasama yang baik dalam keluarga tersebut.

Berbeda halnya dengan kawan saya yang lain. Ia termasuk berasal dari keluarga berada. Namun, akibat pasangannya yang terus-menerus memintanya untuk memenuhi segala kemewahan hidup, saat ini kawan saya itu kurus dan sering sakit-sakitan. Ia tak lagi bisa bekerja dengan sempurna dan terancam dirumahkan oleh perusahaannya. Ada apa ini? Menurut pandangan saya, kenyataan buruk itu terjadi karena keluarga itu tidak bisa menciptakan suasana damai dalam keluarganya. Kebahagiaan tidak selalu diasosiasikan dengan harta yang banyak, tetapi lebih disebabkan oleh manajemen keluarga yang didasari oleh syukur bukan dengan kufur. Sebanyak rezeki yang dibawa pulang suami seakan tiada guna tatkala sang istri tidak mampu memberikan seulas senyum tanda bahagia. Sayang sekali, bukan? Semoga, dua cerita singkat di atas dapat menggugah kita untuk lebih sabar dalam menghadapi gelombang hidup dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang bersyukur atas segala nikmat yang kita terima. Dengan begitu, nampaknya syarat utama untuk hidup bahagia sudah ada di depan mata.

Selasa, 20 Oktober 2009

MENUDUH TANPA BUKTI

Seminggu yang lalu saya pulang ke Malang untuk silaturahmi dengan keluarga besar UIN Malang, khususnya dengan eL-Zawa, lembaga yang menjadi tempat pengabdian saya. Awalnya semua baik-baik saja. Karyawan mitra kerja masuk seperti biasa. Ketika saya bertanya tentang perkembangan terakhir ketika saya tinggal di Semarang, mereka semua menjawab tak ada masalah. Namun ketika hari mulai siang, nampaknya staf saya sudah tidak sabar untuk menyampaikan kejadian baru yang butuh penyelesaian segera.


Sang bendahara staf saya memulai ceritanya dengan latar belakang acara buka puasa bersama yang digelar eL-Zawa pada awal september lalu. Pada saat itu, bingkisan yang diberikan kepada pada mustahiq adalah sebuah bingkisan sarung. Anehnya, di akhir acara, dua buah bingkisan dinyatakan hilang sehingga ada yang tidak kebagian. Waktu itu saya tidak dapat memantau sampai detail karena harus segera berangkat ke Semarang, sehingga kejadian sehabis acara tidak saya ketahui. Singkat cerita, dua bingkisan yang hilang itu ternyata diambil oleh dua anak yang sedang Praktik Kerja Lapangan (PKL) di eL-Zawa. Untuk membuktikan hal tersebut, prosesnya cukup panjang. Awalnya, si A dan B, dua anak PKL itu, tidak mengaku kalau mereka mengambil. Mereka hanya mengaku mengambil jatahnya, masing-masing satu. Perihal hilangnya dua bingkisan mereka tidak tahu menahu. akan tetapi, dengan pendekatan khusus dan persaudaraan, akhirnya terkuak bahwa mereka mengaku mengambil dua bingkisan yang hilang itu karena merasa kesal hanya menerima satu bingkisan saja. Mereka tidak senang melihat orang diberi bingkisan secara cuma-cuma bahkan ada yang harus diantar ke rumahnya karena tidak datang, padahal dua anak itu merasa bahwa mereka lebih pantas menerima bingkisan itu karenatelah bekerja membungkus bingkisan yang jumlahnya 60 buah. Agak aneh memang alasan mereka, tapi sudahlah, namanya juga anak-anak, masih labil pikirannya.

Kalau hanya perkara sarung di atas, mungkin tidak terlalu bermasalah. Ada yang lebih besar, yakni lenyapnya uang kas baitul Mal sebanyak sekitar 1,6 juta dari tas bendahara. Kronologinya, pada hari Jumat pagi, bendahara sudah menyetorkan semua uang cash yang ia terima dari perputaran beberapa hari terakhir ke Bank. Berhubung masih ada transaksi pada Jumat sore dan Sabtu pagi, uang yang diterima bendahara tidak bisa dikirim ke bank yang telah tutup. Praktis, uang disimpan di dompet kas. Sayangnya, biasanya bendahara menyimpan uangnya di laci dan dikunci, namun siang itu ia lupa. Ia hanya menyiman di dalam tas. Sada saat adzan duhur, semua staf shalat berjamaah ke masjid, kecuali satu anak PKL yang tidak ikut shalat. Ia lebih senang memandangi layar komputer ketimbang shalat ke masjid. Padahal, jarak masjid begitu dekat, hanya beberapa meter saja dari kantor.

Setelah shalat dhuhur, semua staf siap-siap pulang karena memang jam kantor hanya sampai pukul 13.00 wib. Bendahara tidak sempat mengecek lagi kondisi keuangannya di tas. Ia langsung bergegas pulang dengan berprasangka baik bahwa uangnya tetap berada di dalam tasnya. Sesampai di rumah, ia langsung mengurusi pekerjaan rumah bersama anak dan suaminya sembari melupakan kegiatan kantor. Pada hari berikutnya, ia baru sadar bahwa ia membawa uang kantor ke rumah dan ingin mengecek jumlahnya. Namun betapa kagetnya, dompet kas yang ia cari tidak ditemukan. Ia pun panik sambil bertanya kepada suami dan pembantunya. Sayangnya, tak ada tahu soal dompet yang ia maksud. Mulailah bendahara itu curiga kepada anak PKL yang tadi tidak ikut shalat berjamaah.

Pada Senin pagi, sesampainya di kantor, bendahara langsung bercerita kepada anak yang dimaksud dan bertanya apakah ia tahu uang itu. Anak PKL itu mengaku tidak tahu dan tidak mengambilnya. Bendahara tidak begitu saja percaya, sebab pada kasus sarung yang baru saja berlalu, anak PKL itu juga mengelak. Berbagai macam cara pun dilakukan, termasuk minta petuah orang "pintar". Kesimpulannya, anak itu dituduh mencuri uang kas karena hanya ia sendiri yang ada di kantor saat semua orang berjamaah dhuhur di samping trade recordnya juga pernah mengambil bingkisan tanpa ijin.

Saya, selaku ketua lembaga itu, akhirnya memanggil anak PKL itu dan mencoba berbicara dari hati ke hati. Ia tetap saja merasa bukan pencurinya. Karena tidak ada bukti yang mendukung, saya pun memutuskan untuk tidak menghukum anak itu dan membebankan pengembalian uang itu kepada pengurus lembaga untuk urunan semampunya hingga mencukupi jumlah uang yang hilang. Akan tetapi, setelah meminta pendapat dewan pembina yang posisinya sebagai penasehat lembaga, nampaknya berdasarkan berbagai indikasi, walau bukan bukti konkret, anak itu ditetapkan sebagai pencuri dan harus mengembalikan uang yang diambilnya. Saya sebenarnya masih tetap pada pendirian awal, tapi karena semua orang setuju dengan keputusan dewan pembina, saya pun tidak bisa berbuat banyak. Saya pun pada hari yang sama harus kembali ke Semarang.

Satu hari setelah kejadian itu, saya menerima sms dari anak PKL itu bahwa ia tidak sanggup mengembalikan uang yang cukup besar itu dalam waktu hanya dua minggu. Saya tidak menghiraukannya karena agak bingung harus jawab bagaimana. Satu sisi saya tidak tega membebaninya untuk mengembalikan uang itu karena ia sudah bersumpah bahwa ia bukanlah pengambil uang tersebut. Pada sisi yang lain, forum telah memutuskan bahwa ia harus menanggung uang yang hilang dengan batas pengembalian yang tidak terlalu lama. Tapi, Subhanallah, pada esok harinya, ada berita yang menjadi penjelas semua masalah itu, yakni uang tersebut ternyata telah ditemukan di rumah bendahara. Dompet itu telah pindah tempat, dari tas ke beberapa tumpukan pakaian yang ia juga tidak mengerti kapan dompet itu dipindahkan. Alhasil, uang telah kembali, namun satu yang mengganjal, bahwa anak PKL yang ternyata tidak bersalah, telah dituduh sebagai pencuri dan bahkan telah dibebani untuk mengembalikan uang secepatnya.

Wah, kalau sudah begini siapa yang salah? Bagi saya, dua-duanya salah, karena pertama, bendahara teledor tidak menyimpan uang di tempat yang aman. kedua, anak PKL juga bersalah karena tidak ikut shalat jamaah pada hari hilangnya uang tersebut. Andai ia ikut jamaah, tentu ia tidak akan dicurigai sebagai pengambil uang itu. Ketiga, ada yang lebih penting, yakni kebiasaan menuduh tanpa bukti ternyata dapat menyengsarakan orang. Anak PKL itu tentu terancam posisinya, baik di lingkungan keluarga ataupun sekolah. Ia tentu tertekan karena sungguh tidak melakukan perbuatan pencurian yang dituduhkan. Mungkin, untuk pelajaran ke depan, hendaknya saat menuduh seseorang harus didasarkan pada bukti konkret atau saksi yang kuat. Tanpa itu, sumpah adalah bukti terakhir dan final bila tidak ada bukti fisik. Jika seseorang sudah bersumpah, berarti urusannya tinggal ia dengan Allah SWT. Kita lebih baik menyelesaikan masalah dengan lebih mengedepankan kekeluargaan dan persaudaraan ketimbang main hakim sendiri tanpa bukti yang kuat. Semoga.

Introduction