Selasa, 31 Agustus 2010

CARA KREATIF MEMBUAT SURAT ELEKTRONIK


Semenjak teknologi kian berkembang, media komunikasi mengalami perubahan bentuk dari komunikasi tatap muka (face-to-face) menjadi komunikasi jarak jauh (faceless). Begitu pula dalam dunia persuratan, biasanya orang menggunakan kertas sebagai media komunikasi kini bergerak menjadi surat elektronik (paperless). Dengan menggunakan surat tanpa kertas, kita bisa menghemat konsumsi bubur kayu yang menjadi bahan dasar produksi kertas. Pada akhirnya, kita pun bisa mengurangi penebangan pohon di hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Tanpa hutan, niscaya kita akan kekurangan oksigen yang berakibat pada kematian. Oleh sebab itu, dengan kecanggihan teknologi masa kini, kita bisa menggunakan fasilitas kirim surat cukup dengan media elektronik, seperti e-mail, facebook, atau sms.

Terkait dengan surat, kita buat surat sesuka hati. Namun, banyak pula yang menginginkan agar surat itu tetap seperti aslinya, khususnya dalam bentuknya yang benar-benar seperti sebuah kertas surat yang biasa kita kirimkan. Salah satu penanda bahwa surat itu memiliki kemiripan dengan aslinya adalah adanya tanda tangan yang kita bubuhkan di akhir surat. Untuk membuat surat semacam tadi ada beberapa trik khusus yang baru saya pelajari kemarin.

Pada awalnya, jika saya menginginkan adanya surat resmi yang bertandatangan, saya buat surat biasa dengan menggunakan program microsoft-office lalu saya print kemudian saya bubuhkan tanda tangan. Setelah itu saya ambil mesin scanner untuk menyecan surat tersebut. Jadilah surat itu seperti yang saya inginkan, yakni sebuah surat resmi yang bertanda tangan.

Kebiasaan saya di atas, ternyata masih membutuhkan sebuah kertas untuk mencetak surat itu. Ini berarti keinginan untuk mengurangi penggunaan kertas masih tidak dapat dihindari. Barulah kemudian saya tahu bagaimana saya bisa menghindari penggunaan mesin printer agar saya bisa turut serta menjaga keseimbangan alam sekitar. Caranya adalah sebagai berikut.

Tahap pertama saya masih perlu membuat satu surat seperti biasa di program microsoft. Saya kemudian membuat tanda tangan terbaik yang bisa saya lakukan di sebuah kertas bekas. Lalu, tanda tangan itu saya scan dalam bentuk gambar (image) dan saya olah dengan program microsoft picture manager. Setelah mendapat satu tanda tangan yang bagus, saya copy tanda tangan itu ke surat saya yang pertama tadi. jadilah surat itu bertanda tangan seperti layaknya surat kertas. Ada satu langkah lagi untuk menjaga keaslian surat itu agar tidak disalahgunakan oleh orang lain, yakni dengan menyimpan data surat itu dalam file PDF langsung dari komputer, tidak harus dicetak dan discan secara manual. setelah disimpan dalam bentuk PDF, jadilah surat elektronik canggih yang aman dan siap dikirimkan melalui attachment email. Mudah bukan?

Skill baru ini saya dapatkan ketika saya berkonsultasi dengan prof Souaiaia yang memberikan arahan kepada saya dalam membuat instrumen penelitian yang dikirim kepada lembaga-lembaga yang dipilih sebagai responden. Saya harus membuat surat resmi berkop Iowa dan bertanda tangan. Akhirnya saya pun bisa membuat surat canggih itu sesuai dengan harapan beliau. Semoga pengalaman ini bermanfaat. Wa Allah a'lam.

RAMADHAN DAN THE END OF THE WORLD


Belakangan saya tertarik mendengarkan sebuah lagu yang dilantunkan oleh Skeeter Davis, seorang penyanyi asal Amerika yang populer pada tahun 1963. Awalnya, lagu yang berjudul "the End of the World' itu diposting oleh kawan melalui Facebook. Setelah saya dengar, lagu itu ternyata begitu menyentuh dan bisa diterapkan pada berbagai situasi kehidupan kita. lagu itu berkisah tentang berakhirnya dunia karena tiada lagi cinta.

Syair lagu itu adalah sebagai berikut.
Why does the sun go on shining (Mengapa matahari terus bersinar)
Why does the sea rush to shore (mengapa air laut terus ke pantai)
Don't they know it's the end of the world (tak kah mereka tahu bahwa ini adalah akhir kehidupan)
'Cause you don't love me any more (karena kau tak lagi mencintaiku)

Why do the birds go on singing (mengapa burung masih tetap bernyanyi)
Why do the stars glow above (mengapa bintang masih berkelap-kelip di atas sana)
Don't they know it's the end of the world (tak kah mereka tahu bahwa ini adalah akhir kehidupan)
It ended when I lost your love (itu terjadi ketika aku kehilangan cintamu)

Why does my heart go on beating (mengapa jantungku terus berdetak)
Why do these eyes of mine cry (mengapa air mataku mengalir)
Don't they know it's the end of the world (tak kah mereka tahu bahwa ini adalah akhir kehidupan)
It ended when you said goodbye (Ini terjadi ketika kau katakan selamat tinggal)

Lagu itu sebenarnya mengisahkan betapa hancurnya hati seseorang yang ditinggal kekasihnya. Ia mempertanyakan sinar mentari dan nyanyian burung yang masih tetap setia sementara hatinya sedang remuk redam. Lagu itu kemudian saya analogikan dengan kisah cinta kita kepada Ramadhan yang tak lama lagi akan pergi.

Kalau kita merasakan cinta sejati, tentunya kita harus siap-siap pula merasakan masa perpisahan yang sering tidak kita inginkan. Ramadhan yang mulia datang menghampiri kita dengan penuh kasih sayang. Limpahan karunia Tuhan yang dibawanya disebarkan ke seluruh penjuru bumi tanpa kecuali. Kita bahagia karena kita mendapat kesempatan untuk menabung amal kebajikan sebanyak-banyaknya.

Tetapi, kasih Ramadhan tidaklah lama. Ia akan segera pergi, ya pergi untuk sebelas bulan ke depan. Itu pun kalau kita masih ditakdirkan untuk menemuinya lagi kelak. Tetapi jika tidak, Ramadhan kali ini merupakan masa terakhir bagi kita untuk merasakan kelembutan sentuhan Ramadhan. Kita akan kehilangan kesempatan emas untuk berkasih mesra dengannya. Ramadhan pergi meninggalkan kita dan kita tentu saja tidak begitu mudah rela melepasnya. Ia sepertinya pergi terlalu cepat seolah-olah ia sudah tidak mencintai kita lagi. Hati kita hancur lebur seakan-akan dunia sudah kiamat.

Air mata akan jatuh bercucuran akibat cinta yang terpenggal. Kesedihan berantai di saat sang kekasih tak punya waktu lama lagi menemani kita. Oleh sebab itu, di saat cinta Ramadhan masih menyelimuti kita, alangkah indahnya jika kemudian kita layani Ramadhan sepenuh hati dengan senantiasa memanfaatkan setiap jengkal waktu kebersamaan itu untuk menggunungkan kebajikan. Dengan begitu, tatkala sang kekasih berpamitan, kita akan legowo mengiringi kepergiannya seraya berujar "Ku kan selalu setia menunggu kedatanganmu kembali, kekasih..." Wa Allah a'lam.

Jumat, 27 Agustus 2010

MENCARI TUHAN


Pada waktu pertama kali saya datang di New York, saya sudah banyak berkenalan dengan kawan-kawan dari Cina yang mengaku tidak memiliki agama. Mereka tidak punya ritual khusus yang harus dijalankan dalam waktu tertentu. Ketika ditanya tentang pernah tidaknya mereka berdoa, mereka menjawab bahwa mereka sering melakukan doa bersama untuk mengagungkan nenek moyang, bukan kepada zat yang memiliki kekuatan luar biasa. Kalau mau dianggap agama, partai komunislah agama mereka. Jadi mereka melakukan pengabdian yang terbaik untuk keberlangsungan hidup partainya itu. Mereka juga harus tunduk dengan aturan-aturan negara yang dianggap sebagai representasi dari sebuah agama. Menarik bukan?

Pada kesempatan lain saya pernah berbincang-bincang dengan Ali, kawan dari Saudi yang rupanya punya semangat dakwah yang kuat. Pada suatu hari, ia diberi tugas oleh guru kursusnya untuk memberikan satu presentasi sekitar 10 menit di depan kelas. Ia lalu menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan tentang adanya tuhan. Mengawali presentasinya, demikian cerita Ali, ia mengambil satu gelas minuman dan diletakkan di atas meja. Lalu ia bertanya, barang apa yang ada di atas gelas. Semua peserta kursus mengatakan bahwa itu gelas. Kemudian, Ali meminta mereka untuk menutup mata sejenak sementara Ali memindahkan gelas itu ke bawah meja. Ali meminta mereka membuak mata dan bertanya di mana gelas yang tadi di atas meja. Mereka menjawab bahwa barang itu pasti sudah dipindahkan oleh Ali ke tempat lain, bisa di bawah meja atau di dalam laci. Ali bertanya lagi tentang keyakinannya bahwa barang itu telah berpindah tempat dan pasti ada yang memindahkannya. Di sinilah Ali kemudian masuk kepada topik presentasinya. Adanya keyakinan kuat mereka bahwa ada sesuatu atau tepatnya seseorang yang menyebabkan gelas itu berpindah merupakan awal perlunya keyakinan adanya Tuhan. bagaimana mungkin alam raya yang begitu besar dan indah dengan segala keragamannya bisa hadir dengan sendirinya, tanpa adanya zat yang melakukan sesuatu untuk keberadaannya. Ali rupanya telah sukses membuat para peserta terperangah dan tidak bisa lagi mengelak tentang perlunya keyakinan adanya Tuhan. Ini sangat logis dan dapat diterima oleh akal sehat.

Pengalaman Ali di atas semakin mengukuhkan pada diri kita bahwa Tuhan memang tidak bisa dibantah keberadaan-Nya meskipun manusia berusaha mengelak dengan seribu dalih. Allah SWT sebenarnya tidak perlu manusia mengenal-Nya. Namun, karena penciptaan manusia dan jin ditujukan untuk mengabdi pada-Nya, lalu Dia yang Maha Pencipta menyisipkan satu file dalam otak dan hati manusia tentang kebutuhan untuk mengenal diri-Nya.Manusia kemudian mencari jalan untuk menemui sang Khalik itu dengan caranya sendiri. Nabi Ibrahim misalnya, di saat kaumnya menyembah berhala buatan mereka sendiri, Ibrahim mencoba mencari Tuhan dengan usahanya sendiri. Pertama-tama, saat ia melihat bintang gemintang, ia berkata, "inilah Tuhanku," Tapi ketika bintang itu redup dan menghilang, Ibrahim berkata "aku tidak suka kepada yg tenggelam." Ketika melihat bulan terbit, Ibrahim berkata lagi, "inilah Tuhanku." Namun, ketika bulan itu tenggelam Ibrahim kecewa sambil berfikir bahwa Tuhan tidak mungkin tenggelam dan hilang. Kemudian Ibrahim berkata,”sesungguhnya, jika Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yg sesat." Kemudian, di pagi hari, Ibrahim menyaksikan matahari bersinar dengan terangnya, lalu ia pun berseru, "Inilah tuhanku, ini lebih besar." sayangnya, ketika di sore, matahari pun terbenam. Ibrahim lalu berseru "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan" (QS: al-An'am: 75-79). Allah SWT lalu memberi-Nya petunjuk bahwa Tuhan yang ia cari adalah Allah SWT. Itulah Ibrahim, sosok nabi yang hanif yang kemudian hingga kini dijuluki sebagai bapak Monotheisme.

Kisah Ibahim mencari tuhan didukung oleh kisah Musa yang ingin melihat Tuhan. Namun, ketika keinginan Musa dipenuhi Allah SWT dengan memintanya melihat gunung sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, Musa langsung jatuh pingsan dan memohon ampun atas kebodohan permintaannya itu. Itulah Allah SWT, Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada seluruh hamba-hamba-Nya. Kebesaran-Nya tidak akan bertambah dengan banyaknya manusia yang menyembah-Nya dan keagungan-Nya pun tidak berkurang karena tidak ada seorang pun yang mengabdi pada-Nya. Dia sudah Maha Kaya dan Maha Besar dengan sendirinya tanpa secuil bantuan pun dari makhluk-nya. Semoga kita kian beriman dan bertaqwa pada-Nya. Amin. Wa Allah A'lam.

ADA ATHEISME DI AMERIKA


Siang ini saya sempat jalan-jalan ke perpustakaan umum kota. Letaknya tidak jauh dari kampus, cukup dengan jalan kaki sekitar 10 menit. Saya sempat duduk-duduk di taman kota dekat perpustakaan sambil menyaksikan orang lalu lalang di jalan. Udara sejuk di Iowa mengingatkan saya akan kota Malang tempat saya biasa bekerja. Maklum, musim panas hampir lewat dan akan segera datang musim gugur. Udara saat ini sepoi-sepoi basah sehingga ke luar ruangan di siang hari pun terasa sejuk. Setelah cukup nyaman duduk di bawah pohon rindang, saya melangkahkan kaki menuju perpustakaan.

Di perpustakaan umum, saya berkeliling melihat koleksi buku terbaru. Tapi nampaknya tidak ada yang sesuai dengan minat saya. Lalu, saya terus berjalan menuju rak majalah. Saya cukup terkesima dengan sampul majalah "the Nation" yang memunculkan wajah Obama yang sedang bingung. Salah satu artikel utama dalam majalah itu adalah seputar pro-kontra pembangunan masjid di Ground Zero, New York. Setelah cukup membaca artikel utama, saya pindah ke rak lain. Nah, di sini saya temukan satu majalah terbitan kelompok Atheis. Pandangan saya langsung tertuju pada lembaran-lembaran majalah yang mengusung paham tanpa tuhan itu.

Di bagian editorial, ada satu tulisan panjang tentang perdebatan sang atheis dengan seorang kristen via email. Tanya jawab yang diiringi penjabaran dalil cukup seru. Sang atheis, David, berpandangan bahwa hidup ini tidak perlu tuhan. Tidak perlu ada pertanyaan tentang siapa sang pencipta alam. Alam datang begini adanya dan kita menikmatinya. Sang kristen, Jordan, begitu antusiasnya memaparkan pandangannya bahwa tidak mungkin ada alam kecuali ada penciptanya. Ia mengutip beberapa ayat bibel yang menunjukkan bahwa tuhan telah menciptakan ini semua.

Perdebatan berlanjut dengan topik moral. Bagi sang kristen, agamalah yang memberikan arahan mana yang baik dan mana yang buruk. Tanpa agama, orang akan berlaku suka-suka, seperti melakukan pembunuhan. Sang atheis menjawab bahwa moralitas itu diperoleh dari pengalaman manusia dari zaman ke zaman. Misalnya, mereka tidak membunuh bukan karena ada ajaran tuhan yang melarang pembunuhan, melainkan adanya rasa dalam dirinya jika ia membunuh, hal itu akan menyakiti orang lain, sama halnya ia tidak ingin memukul karena ia tidak suka dipukul. Itu adalah nilai yang sudah dimiliki manusia sejak lahir. Kata sejak lahir kemudian menjadi senjata bagi si kristen untuk mendebat. Ia berbalik menyerang dengan mengatakan bagaimana mungkin nilai kebaikan itu dimiliki seorang anak yang baru lahir sementara orang tua begitu getolnya mengajari anaknya untuk berbuat ini dan melarang berbuat itu? Bagi si kristen, itu semua pasti bersumber dari agama yang diajarkan Tuhan.

Peseteruan itu kian memanas, ketika bereka berdebat tentang asal usul manusia. Sang kristen tidak setuju dengan teori evolusi darwin karena Tuhan telah sebegitu canggih membuat manusia seperti sekarang ini, bukan dari kera. Sementara itu, sang atheis menjelaskan bahwa manusia dan kera merupakan satu rumpun makhluk yang memiliki nenek moyang yang berdekatan. Ini merupakan fakta sejarah yang ditemukan oleh para saintis, bukan dari agama. Ia bahkan memberikan informasi alamat website yang harus dikunjungi untuk mendapat data yang akurat tentang hal tersebut.

Pada akhirnya, keduanya saling serang dan kemudian berhenti karena kelelahan. Mereka berkesimpulan bahwa diskusi itu tidak menghasilkan apa-apa. Mereka tetap berpegang teguh dengan keyakinan masing-masing: bagi sang atheis tuhan tidak perlu ada dan bagi sang kristen tuhan pasti ada.

Saya cukup tergelitik dengan diskusi mereka. Satu sisi, sang atheis begitu yakin bahwa hidup ini tidak perlu agama. Tuhan dianggap tidak ada atau telah mati. Manusia terbentuk oleh alam yang telah berevolusi sekian milyar tahun. Mereka tidak perlu berpikir tentang kehidupan akhirat karena dunia adalah dunia. Sementara sisi lain, sang kristen begitu mantapnya berpandangan bahwa Tuhan adalah suatu kepastian. Tuhanlah, termasuk Jesus, yang mengatur semua ini.

Perbicangan tentang ketiadaan tuhan merupakan hal yang baru bagi saya. Selama ini, kita hampir sepakat tuhan itu ada dan melalui agamalah kita bisa mengenal tuhan. Sebutan tuhan yang beragam membuat agama jadi berbeda satu sama lain. Kemudian, munculnya paham tanpa agama menjadi bahasan unik karena pasti akan bertolakbelakang dengan masyoritas manusia, dimana pun mereka berada dan apapun agamanya. Sang atheis rupanya lupa bahwa dalam diri manusia ada satu ruang yang menginginkan adanya pengakuan kekuatan supra natural. Itulah yang kemudian pada zaman purba dikenal istilah animisme dan dinamisme. Mereka membutuhkan pelindung agar hidup mereka nyaman dan sejahtera.

Di zaman yang serba canggih ini, bisa saja manusia kemudian mengandalkan akal pikirannya dengan tidak mengikuti paham animisme dan dinamisme sehingga memilih menjadi atheisme. Mereka bahwa menyebut agama hanya candu, semacam opium yang memberikan dampak ketenangan sesaat. Bolehlah mereka berpendapat semacam itu dan Allah SWT pun sudah merekam semangat tanpa tuhan, misalnya dalam surat al-Kafirun. Di sana dijelaskan bahwa ada dan mungkin akan selalu ada orang yang tidak mengakui adanya tuhan. Mereka memberhalakan dunia atau bahkan dirinya sendiri. Betapa banyak contoh manusia yang kemudian memcoba memposisikan dirinya sebagai tuhan, seperti Firaun dan Namrud. Tapi, zat yang benar-benar Tuhan tentu tidak akan tinggal diam. Azab akan berdatangan ketika mereka benar-benar sudah melampaui batas. Mungkin kelak, ketika Tuhan menunjukkan jati diri-Nya, manusia-manusia atheis itu pasti akan mengakui betapa lengahnya mereka akan adanya kekuatan zat yang Maha Segala seperti pengakuan Firaun saat ia dalam kondisi sekarat. Ia mengakui Tuhannya Musa dan Harun. Semoga kita tetap menjadi muslim yang kian beriman dan bersyukur betapa kita telah mendapat rahmat sebagai manusia yang menyerahkan diri kepada sang Pencipta, Allah SWT. Wa Allah a'lam.

Kamis, 26 Agustus 2010

LEBIH AKRAB DENGAN AL-QURAN KITA


Saya sering berpikir bahwa kita sebagai umat Islam merupakan umat yang paling beruntung. Kita ditakdirkan menjadi umat Nabi Muhammad yang merupakan nabi akhir zaman. Jutaan atau bahkan milyaran manusia pernah hidup di atas bumi ini dengan segenap tingkah polahnya. Kita mendapatkan semua informasi itu dengan begitu validnya melalui firman Allah SWT yang terkodifikasi dalam sebuah kitab suci, yakni al-Qur'an. Kita tidak perlu perlu melihat atau mengalami sendiri berbagai siksaan Tuhan yang ditimpakan kepada sekelompok manusia yang ingkar kepada-Nya. Ada sebagian mereka yang ditenggelamkan, dikubur hidup-hidup dalam gempa, ada pula yang dilempari batu panas hingga mati seperti dimakan ulat. Kita tentu tidak ingin mendapat siksaan itu dengan cukup belajar dari kesalahan kaum terdahulu.

Al-Qur'an merupakan kitab hidayah, yakni buku suci yang memberikan petunjuk bagi umat manusia di akhir zaman. Kitab ini merupakan produk terbaru yang "dilaunching" Tuhan sebagai penyempurna produk terdahulu, seperti Zabur, Taurat, Injil, dan beberapa shuhuf. Sebagai karya ter-up date, al-Qur'an jelas lebih canggih dan lebih lengkap dalam menuturkan berbagai kisah anak cucu Adam sepanjang masa, mulai dari yang shaleh hingga yang thaleh, dari yang paling baik hingga yang super jahat. Berbagai konsekuensinya pun dijabarkan secara gamblang. Misalnya, ketika dua anak Adam berkorban untuk Tuhannya, anak pertama berkorban dari barangnya yang buruk sedangkan yang anak kedua berkorban dengan barang yang paling baik. Lalu, Allah pun menerima korban dari barang yang paling baik. Ini menunjukkan kepada kita bahwa jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain tentulah kita harus memilih barang yang paling baik setidaknya barang yang masih pantas diberikan agar mendapat ridha dari Allah SWT.

Allah SWT begitu jelas menunjukkan berbagai perbuatan yang membuat-Nya senang dan memaparkan pula sejumlah perbuatan yang menjadikan-Nya murka. Misalnya, Dia sangat senang kepada hamba-hambanya yang shaleh yang senantiasa bertaqwa dan bertawakkal kepada-Nya. Begitu pula Allah SWT sangat murka kepada perbuatan manusia yang mencelakakan orang lain. Semua itu dituturkan Allah SWT dalam al-Qur'an yang menjadi buku panduan hidup bagi umat Islam sepanjang masa. Allah SWT tidak segan-segan memberitahukan rahasia kesuksesan orang-orang yang dicintai-Nya, seperti berbakti kepada orang tua dan menjalankan shalat malam. Juga, Allah SWT dengan jelas menjabarkan ciri-ciri orang yang celaka hidupnya, semisal pezina dan peminum khamar yang telah terbujuk rayuan setan. Setan dalam al-Qur'an disebut sebagai musuh yang nyata bagi manusia. Begitu lengkapnya al-Qur'an, seakan-akan kita tidak pantas lagi berbuat salah yang kemudian membuat Allah SWT menurunkan adzab-Nya.

Tapi kita memang manusia yang pada fitrah penciptaannya dibekali dua instink, yakni kecenderungan berbuat baik dan berbuat buruk seperti termaktub dalam surat Al-Syams:8. Dalam lanjutan ayat itu Allah menegaskan bahwa hanya hamba-hamba-Nya yang mau mensucikan jiwanya sajalah yang akan sukses sedangkan orang-orang yang mengotori jiwa mereka pasti akan menyesal. Sungguh, dengan merenungi beberapa ayat saja dari al-Qur'an, kita seperti dibangunkan dari mimpi buruk kehidupan kita yang kadang jauh dari semangat al-Qur'an. Sayang, bujukan hawa nafsu sering membutakan kita dan menjadikan kita seperti umat-umat terdahulu yang sering bermaksiat kepada-Nya. Sungguh amat disayangkan padahal kita adalah umat datang belakangan yang seharusnya bisa belajar dari kesalahan-kesalahan dari umat terdahulu.

Kesimpulannya, kita patut mengenal lebih dekat al-Qur'an kita. Kitab suci itu pada hakikatnya adalah kado Tuhan yang terindah bagi kita umat Islam. Namun sangat disayangkan, kita sendiri sering lupa akan berjuta untaian pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya. Semoga dengan merenungi turunnya al-Qur'an pada ramadhan ini, kita mendapat hidayah Allah SWT sehingga kita diberi kekuatan untuk menjalankan ajaran al-Qur'an semaksimal mungkin. Sungguh, Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Pemberi Petunjuk. Wa Allah a'lam.

Introduction