Selasa, 19 Juli 2016

FAMILY CORNER --- TEROBOSAN UNTUK BENTENG KELUARGA

Kata Family Corner sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi akademisi fakultas Syariah, khususnya UIN Malang, untuk mengekspresikan pengetahuannya tentang hukum keluarga. Family Corner yang diartikan sebagai pojok keluarga dapat dianggap sebagai langkah konkret untuk merespon keprihatinan sebagian masyarakat yang gelisah dengan problem keluarga yang tak kunjung usai. Apalagi, institusi keluarga dianggap tidak sesakral dulu. Masalah anak, remaja, hingga keluarga muda dan bahkan keluarga matang pun tak lepas dari problem keluarga. Oleh sebab itu, keberadaan pojok keluarga menjadi salah satu alternatif menyelesaikan situasi keluarga yang perubahannya sangat dinamis.

Apakah ada sekolah untuk persiapan berkeluarga? Hampir semua orang tidak pernah sekolah untuk menjadi ayah atau ibu yang baik. Umumnya mereka belajar dari situasi keluarga asal mereka atau keluarga di sekelilingnya. Pola asuh anak tak jarang dilakukan secara turun temurun, bahkan dalam hal perbuatan kekerasan yang kerap terjadi diinspirasi oleh pengalaman kecil atau pengaruh lingkungan sehari-hari. Oleh sebab itu, perlu dibuat pojok keluarga yang menyediakan fasilitas belajar untuk menjadi remaja tangguh, keluarga muda kukuh, dan keluarga matang yang kokoh. Bagi remaja, jenis pendidikan yang perlu mereka dapatkan adalah seputar pertumbuhan biologis dan psikologis manusia, fungsi reproduksi, dan penangkalan pola pergaulan bebas serta narkoba. Selanjutnya untuk keluarga muda, mereka perlu mendapat pendampingan pola asuh anak ala nabi Muhammad (parenting islami), sedangkan keluarga matang dapat memperoleh pengetahuan untuk mengatasi problem keluarga melalui sarana mediasi.  Kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan dalam pojok keluarga.

Alhamdulillah, Family Corner Fakultas Syariah UIN Malang sudah digagas sejak tahun 2014. Hingga tahun ketiga ini, Family Corner yang bermarkas di Kelurahan Buring Kecamatan Kedung Kandang sudah kokoh dan tahun ini akan dikembangkan ke beberapa wilayah, di antaranya di Kelurahan Kedung Kandang, Kecamatan Keduang Kandang dan Kelurahan Sumberpucung, Kecamatan Sumber Pucung. Semoga gerakan sadar hukum keluarga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesetabilan keluarga Indonesia. Amin

Senin, 18 Juli 2016

MENGGAGAS FAMILY CORNER (POJOK KELUARGA) UNTUK KELUARGA SAKINAH

Hidup adalah proses. Dinamikanya selalu membuat orang tak bisa awet dalam zona nyaman. Terkadang, jalan datar, namun, tak sedikit harus naik menjulang atau turun terjungkal. Pendeknya, tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk situasi dalam rumah tangga.

Sakinah kata orang bukanlah wujud yang mudah. Ia adalah simbol keberhasilan seseorang dalam melawan derunya ombak dan terjalnya karang. Sakinah berarti tenang setelah kegalauan. Tentunya, sakinah tidak dapat terwujud tiba-tiba. Ia datang di waktu sulitdan menantang pasangan untuk menyelesaikannya.

Nah, karena sakinah tidak tidak pernah diajarkan di sekolah, maka ia perlu dikabarkan ke pasangan. Caranya adalah dengan mengaktifkan pojok keluarga di masyarakat. 

Minggu, 17 Juli 2016

REUNI KELUARGA 2016

Ini adalah salah satu momen terindah di tahun 2016.
Seluruh keluarga bisa gabung merayakan hari lebaran di Ngoro Jombang.... 

Senin, 21 September 2015

TUKANG BECAK MENINGGAL SAAT MENGAYUH

Kejadian ini jelas tak akan terlupakan. Sabtu (22/8/2015), saya dihadapkan pada situasi yang memilukan. Seorang tukang becak lewat di depan sebuah bengkel motor, lalu becak itu berhenti. Tak lama kemudian sang pengemudinya tersungkur ke depan dan tak sadarkan diri. 
Lengkapnya, seperti ini. Pagi itu, saya berniat mau ke kampus untuk menjenguk mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan ospek. Saya berangkat lebih awal dan berencana mampir ke sebuah bengkel untuk ganti oli dan cek mesin. Untuk membunuh waktu, saya gunakan kesempatan untuk baca berita di hp. Saat asyik menikmati berita, tiba-tiba ada seorang ibu penjual makanan di sebuah warung pinggir jalan berteriak minta tolong sambil menunjuk seseorang yang berada di becak. Tak lama kemudian ada beberapa orang bergegas mendekati becak itu. Sang pengayuh becak diam tak bergerak dan posisi kepala tersungkur ke depan di kursi yang kebetulan tidak ada penumpangnya. Tak banyak yang berani menyentuh. Mungkin takut disangka pelaku kejahatan. Ada pula yang berinisiatif menghubungi polisi. Namun, hingga beberapa saat, orang-orang hanya diam berkerumun dan bermain dengan opini masing-masing.
Saya pun ikut bergegas mendekati tukang becak itu. Saya usulkan kepada warga untuk segera membawanya ke sebuah klinik terdekat untuk diperiksa kesehatannya. Maka, sejumlah orang sepakat untuk menurunkan lelaki itu dan membawanya ke klinik. Dengan susah payah kami membopong bersama dan akhirnya sampailah  pada klinik yang dituju. Orang tersebut segera dibaringkan dan diperiksa dokter. Mengejutkan, ternyata orang tersebut dinyatakan sudah meninggal! Uh...menegangkan sekali...
Lalu, karena tidak ada seorang pun yang mengenalnya dan kondisi di tukang becak itu sendirian, upaya untuk menelusuri identitasnya agak sulit. Langkah pertama tentunya mencari identitas yang dibawa. Saya pun memberanikan diri untuk merogoh sejumlah sakunya. Saku bajunya kosong. Saku celana depannya juga kosong. Untung pada saku celana belakangnya ditemukan dompet lusuh yang berisi sejumlah uang namun tidak ada kartu identitas. Orang-orang sempat gusar karena bingung mau diantar kemana jenazah itu. Tak berapa lama kemudian, pihak rumah sakit menemukan fotokopi KTP yang terlipat kecil berada di lipatan dompet. Ketika dicermati secara seksama, fotokopi KTP itu nampaknya milik bapak pengayuh becak tersebut.  Dengan berbekal identitas yang agak buram itulah kami mencari alamat si tukang becak tersebut. 
Dengan dibantu sukarelawan yang peduli dengan nasib bapak tersebut, anggota keluarga bapak itu ditemukan. Alhamdulillah, meskipun agak lama, akhirnya, jenazah tersebut bisa dibawa pulang untuk dimakamkan.
Apa pelajaran dari peristiwa ini? Pertama, ini adalah peringatan jelas bagi kita bahwa kematian bisa datang kapan saja. Mungkin bapak itu terkena serangan jantung saat mengayuh dan langsung meninggal di tempat. Betapa mudahnya kematian datang di perjalanan meskipun tanpa adanya kecelakaan atau luka besar. Berarti, kita pun bisa kapan saja kehilangan nyawa jika Allah SWT menentukannya. Oleh sebab itu, marilah selalu berbuat yang terbaik tanpa harus menunggu waktu.
Kedua, nasehat dari peristiwa ini adalah perlunya kita membawa kartu identitas meskipun hanya fotokopinya. Di saat jumlah manusia kian banyak dan tak semua orang mengenal kita, identitas diri nampaknya perlu disematkan di antara barang yang kita bawa dengan alasan bahwa kita tidak selalu bisa memberitahu identitas kita secara verbal kepada orang yang ada di sekitar kita. Dengan identitas itu, para penolong akan mudah melakukan langkah selanjutnya setelah menolong kita. Semoga kita diberikan keselamatan dan kesehatan prima sehingga kita dapat menghadap Allah dalam situasi khusnul khotimah. Amin!  

Minggu, 20 September 2015

REFLEKSI: MERAIH MIMPI DENGAN BERANI BERKURBAN

Setiap orang boleh bermimpi, mimpi apa saja! Banyak karya besar yang dimulai dari mimpi. Angan-angan untuk menaklukkan dunia bisa dirajut step by step dalam sebuah mimpi. Pendek kata, bermimpilah setinggi langit, toh mimpi itu gratis dan tidak menggangu orang lain.

Namun ternyata, tidak sedikit manusia yang takut bermimpi. Jikamimpi terlalu muluk, takut jika mimpi tak tercapai akan jatuh terlalu dalam dan depresi. Tentu hal ini tidak sepenuhnya benar. Memang, jika seseorang hanya mengandalkan mimpi belaka tanpa melakukan aksi tentu akan kecewa dan hanya isapan jempol. Jika seseorang ingin mewujudkan mimpinya, setidaknya ia akan membuat road map yang mantap. Jalan panjang nan berliku itu harus siap ia tempuh demi kepuasan jiwa yang ia idamkan. Sekali lagi, sebuah pengorbanan harus siap ia lalukan demi cita-cita  suci itu!

Sebuah ilustrasi, jika seseorang ingin membuat artikel yang bagus, maka ia harus membaca bahan bacaan yang cukup, memahaminya, merangkumnya, memberikan komentar dan melakukan analisis sehingga tulisannya mantap dan berbobot. Untuk mendapatkan karya tersebut, ia harus berani berkorban merelakan waktu tidur dan istirahatnya demi impiannya itu. Jika ia hanya melakukan rutinitas, membaca ala kadarnya, bekerja secukupnya, menulis seluangnya, dan masih mempertahankan diri untuk tetap bisa istirahat cukup dan bermain bersama kawan dan keluarganya, maka ia sulit mencapai apa yang ia inginkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan ulasan pikirannya secara jernih dan tajam jika bahan mentah di pikirannya sangat terbatas? Bagaimana mungkin seseorang akan mencapai gelar membanggakan dan prestasi cemerlang jika bekerja dan belajarnya biasa-biasa saja? Maka jawaban tegasnya: pengorbanan! Berkorban adalah memberikan usaha yang maksimal melebihi standar orang biasa dengan langkah terstruktur demi mencapai kesuksesan.

Sayangnya, jarang manusia mau berkorban. Umumnya, manusia ingin hidup nyaman dan sukses namun dengan usaha ringan. Hal ini mirip prinsip ekonomi, yakni mengeluarkan usaha minimal untuk mencapai hasil maksimal. Syukurlah kalau kita bisa melakukan prinsip itu dalam kehidupan global kita. Namun, saya tetap yakin, bahwa hanya dengan pengorbanan maksimallah seseorang akan bisa meraih hasil karya maksimal. Jika masih manja, masih menanti durian runtuh, maka  jangan pernah berharap cita-cita yang diimpikan akan segera terwujud. Memang bisa jadi tercapai, namun dengan waktu yang tidak jelas dan hasil yang tak terukur pula.

Jadi, mari bermimpi....dan mari berkorban....ini juga bisa menjadi refeksi ibadah qurban kita tahun ini, 2015.

Introduction