Jumat, 07 Agustus 2015

ISLAMIC PARENTING: PENGASUHAN ANAK ALA NABI

Hari ini saya merasa bahagia karena ditunjuk untuk mengisi acara Parenting di sebuah sekolah favorit di Malang. Mengapa bahagia? Heem....sebenarnya kebahagiaan itu bukan karena saya ahli di bidang parenting atau sudah benar-benar menjadi orang tua yang baik, namun saya bahagia karena merasa tertantang untuk mendalami peran yang selama ini saya emban namun tanpa ilmu. Saya diminta untuk berbicara tentang bagaimana menjadi orang tua yang mampu meneladani Rasulullah SAW. Bisakah?Jawabnya pasti: Bingung!!!  hehehe
Menjadi orang tua adalah peran yang diamanahkan Allah SWT kepada setiap pasangan yang memiliki anak. Setiap orang tua menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan mampu mengharumkan nama baik keluarga. Namun, untuk mendapatkan generasi harapan itu, tidak banyak orang tua yang memiliki ilmu menjadi orang tua. Umumnya, ilmu tersebut diperoleh secara turun-temurun dan by nature. Alhasil, anak hebat terkadang bukan karena orang tuanya  hebat dalam mendidiknya, akan tetapi mereka lahir dan kebetulan menjadi hebat. Bayangkan, jika anak yang kebetulan hebat itu lahir dari keluarga yang benar-benar memahami peran sebagai orang tua, tentu anak itu akan lebih hebat lagi bukan?
Hal sebaliknya, jika anak potensial hebat namun tidak mendapatkan asuhan yang tepat, potensi itu bisa hilang. Apalagi anak yang tidak hebat dibesarkan dalam keluarga yang kurang tepat, dapat dipastikan ia akan menjadi generasi terbelakang yang kemungkinan tidak dapat berperan aktif dalam memakmurkan dunia ini.
Di sinilah pentingnya pola pengasuhan yang mumpuni yang kini dikenal dengan parenting. Berbagai pakar sudah banyak berbicara tentang parenting. Teori tumbuh kembang anak juga sudah acapkali dibicarakan. Pertanyaannya kemudian, adakah parenting Islami? Parenting Islami meniscayakan cara pengasuhan yang mempunyai nilai-nilai Islam di dalamnya. Saya pun akhirnya hunting buku ke toko buku untuk bahan kajian.
Nah, saya menemukan dua buku bagus yang berkaitan dengan parenting Islami. Pertama adalah buku yang berjudul Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi, karya Syaikh Jamal Abdurrahman. Kedua, buku Prophetic Parenting, Cara nabi SAW mendidik Anak tulisan  Dr Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Kedua  buku terjemahan ini saling melengkapi yang mempunyai ulasan yang mendalam tentang cara Nabi bersikap dan berperilaku menghadapi anak-anak. Misalnya, Nabi selalu menjadi teladan bagi anak, memberikan kesempatan berdialog dengan anak, dan memberikan keleluasaan bagi anak untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Selain itu, Nabi juga selalu memberikan wawasan kepada anak tentang pentingnya berbakti kepada Allah, menyayangi orang tua, dan menempatkan manusia sesamanya sederajat sehingga tidak ada anak yang merasa lebih terhormat dari anak yang lain. Ternyata, begitu banyak akhlak Nabi yang bisa ditularkan kepada anak-anak. 
 Akhirnya, saya semakin yakin, dengan belajar parenting Islami, kita dapat mewujudkan generasi mu'min yang mempunyai kesadaran tinggi tentang kehidupan ini. Generasi yang dapat dibanggakan dengan keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kedalaman spiritual akan mudah kita raih dengan mendalami parenting metode nabi. Semoga kita dapat menjadi keluarga sakinah yang melahirkan khalifah-khalifah penuh amanah di muka bumi ini. Wa Allah a'lam.

Kamis, 23 Juli 2015

KAKEK PECINTA AL-QUR'AN ITU WAFAT

Lebaran tahun ini terasa berbeda. Salah satunya karena  saya kehilangan seorang kakek yang begitu saya cintai. Namanya Mbah Muharror. Beliau adalah ayah dari ibu saya yang berusia hampir satu abad. Beliau bertempat tinggal di Nganjuk, tempat kelahiran ibu saya. Saya sangat menghormati beliau karena beliaulah yang telah mendorong saya untuk betah tinggal pesantren dalam rangka mendalami ilmu-ilmu agama di bangku Aliyah.  

Banyak kenangan yang tak akan terlupa dari ingatan. Di antaranya adalah kebiasaan beliau berkunjung ke makam kyai di Mojoagung setiap Jumat Legi. Kebiasaan ini berlangsung puluhan tahun. Setelah mengkhatamkan al-Qur'an beberapa kali, beliau berkunjung ke anak-anaknya yang tinggal di Jombang. Kebetulan ada tiga anak yang berkeluarga dan berdomisi di Jombang. Salah satunya adalah ibu saya yang tinggal di Ngoro. Saya yang saat itu masih duduk di bangku SD hingga SMP sering berdiskusi dengan kakek saya tentang agama dan beliau tak segan-segan berbagi ilmu tentang pengalaman hidup dan pemahamannya tentang agama. Beliau memang pernah mondok di beberapa pesantren saat remaja. Kemudian, saya sering bertugas mengantar beliau menggunakan sepeda pancal menuju halte bis saat beliau mau pulang ke Nganjuk.

Kebiasaan membaca al-Qur'an membuat kakek memiliki ingatan yang kuat. Hingga akhir hayatnya, ia masih ingat seluruh nama anak-anak dan cucu-cucunya. Ia sangat bangga dengan prestasi keturunannya, terutama jika berkaitan dengan prestasi di bidang agama. Selain itu, kakek adalah modin yang sangat disegani. Entah berapa puluh tahun beliau menjabat sebagai modin. Yang jelas, ketika berada di lingkungan kampung kakek, hampir semua orang tahu dan paham ketika disebut nama mbah modin.

Beberapa tahun terakhir,kebiasaan pergi ke Mojoagung tidak dapat beliau lakukan. Fisiknya yang kian melemah seiring bertambahnya usia membuat beliau hanya tinggal di rumah ditemani al-Qur'an yang sudah menjadi hobinya. Uniknya, meskipun usianya sudah lebih dari 90 tahun, matanya masih mampu membaca huruf-huruf al-Qur'an tanpa bantuan kacamata. Beberapa ayat dan surat juga sudah beliau hafal sehingga jika berdiskusi beliau tidak ragu-ragu menyebut beberapa ayat yang relevan dengan topik pembicaraan. Sungguh teladan yang luar biasa!

Selasa lalu, 21 Juli 2015, beliau dipanggil oleh Allah SWT sebelum subuh, waktu yang biasa beliau isi dengan shalat malam dan membaca al-Qur'an. Sehari sebelumnya, 20 Juli, di Nganjuk diadakan pertemuan keluarga yang dihadiri oleh hampir seluruh anak dan cucunya.  Jadi waktu itu, semua masih bisa menyaksikan kakek dan berdialog dengannya meskipun kondisi kakek memang sudah sangat lemah. Saya pun sempat berdialog dengan beliau. Namun, pertemuan itu nampaknya pertemuan terakhir antara kakek dengan keturunannya. Sehari setelahnya, kami dikejutkan oleh berita wafatnya dan kami pun berkumpul kembali di Nganjuk untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Selamat jalan Kakek! Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Kakek di sisi-Nya. Amin.... 

KH ABDUL AZIZ MASYHURI: KYAI YANG PENULIS, PENULIS YANG KYAI

KH Abdul Aziz Masyhuri adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah, yang berlokasi di Denanyar Jombang. Saya termasuk beruntung pernah menjadi santri beliau saat sekolah di bangku aliyah. Beliau adalah pemrakarsa sekaligus pengasuh Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus yang dulu dikenal sebagai MANPK. Murid-murid MANPK adalah anak-anak lulusan Madrasah Tsanawiyah yang memiliki prestasi akademik tinggi dan lulus seleksi. Waktu saya dulu, MANPK di Jawa Timur hanya ada dua, yakni MANPK Denanyar dan MANPK Jember. Alhamdulillah, saya termasuk beruntung bisa bergabung dengan anak-anak hebat di MANPK Denanyar.

Berkaitan dengan Yai Aziz, demikian sapaan beliau, saya telah belajar banyak ilmu dari beliau. Di antaranya adalah ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, hingga ilmu tarikh. Beliau banyak melahirkan buku-buku, mulai dari buku karya sendiri, hingga buku khulashah (ringkasan) dan buku terjemahan. Puluhan buku sudah beliau terbitkan. Dalam rangka muktamar NU 2015 ini, beliau sudah menyiapkan dua buku baru yang siap dilaunching.

Selama lebaran 2015 ini, saya menyempatkan berkunjung ke rumah beliau. Yai Aziz begitu senang ketika saya datang. Apalagi saya, kangen dan kagum saya kepada beliau terpenuhi sudah. Saya memang termasuk pengagum beliau karena sejak dulu hingga sekarang, beliau tidak segan-segan mengembangkan ilmu dan menuangkannya dalam berbagai media. Meskipun saat ini usia beliau sudah cukup banyak, namun semangat berburu informasi dan berbagi  ilmu masih kuat. Seperti usaha beliau untuk mencari informasi terbaru tentang sosok tokoh yang beliau tulis, beliau harus datang ke kediaman sang tokoh, atau menemui ahwa warisnya jika tokoh itu sudah tiada. Atau, seperti saat ini beliau sedang gencar mengumpulkan berbagai buku tentang syiah sebagai bahan awal penulisan syiah modern yang akan beliau tulis. Luar biasa bukan? Usaha beliau layaknya seorang doktor atau profesor yang akan menulis karya ilmiahnya.

Saya sempat bertanya motivasi di balik kegigihan beliau berkarya. Jawabannya ternyata singkat: hanya ingin punya "peninggalan". Apa maksudnya? Beliau kemudian mengulas beberapa kyai besar yang sangat tersohor dalam pidatonya. Sang kyai berdakwah di mana-mana dan sangat disukai jamaahnya. Namun, tatkala sang kyai itu wafat, hilang pula reputasi dan ketenarannya. Ia bahkan tidak dikenal oleh generasi-generasi berikutnya. Oleh sebab itu, agar bisa lebih lama bermanfaat, menulis adalah salah satu cara termanjur yang sudah terbukti kebenarannya untuk membuat seseorang tetap dikenang meskipun jasadnya sudah dimakamkan. Buku akan tetap bisa dinikmati siapa saja meskipun sang penulis tidak dapat ditemui lagi.  Jadi, Ayooooo menuliiiiiis.......

IDUL FITRI: DARI TOMBO ATI MENUJU JATIDIRI SUCI

Khutbah Pertama
Assalamualaikum Wr. Wb.
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ/ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ  /اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ/ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ  /وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ./ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ/ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
 اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ  عِيْدَ اْلفِطْرِ.
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ,لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ  /وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ/ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.  
اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin dan hadirat jamaah shalat idul fitri yang mulia
Di awal pagi yang sejuk segar ini, marilah kita senantiasa bersyukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan segala kasih sayang-Nya sehingga kita dapat menuntaskan ibadah di bulan ramadhan dengan sempurna dan merayakan kemenangan di Hari Idul Fitri. Semoga kita senantiasa mendapat ridha-Nya dan  menjadi hamba-Nya yang kian bertaqwa. Amin
Kaum Muslimin dan Muslimat yang mulia,
Sejak terbenam matahari di akhir ramadhan, gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang di segenap penjuru. Hal ini menunjukkan pengakuan kita yang tulus akan kebesaran Allah. Luapan hati yang bahagia dapat terlihat dari semangat kita mengikuti ibadah shalat Idul Fitri. Senangnya kalbu kita karena kita telah berhasil melaksanakan latihan ruhani sebulan penuh sehingga kita layak untuk meraih kesucian, kembali ke fitrah kita yang putih dan bersih.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
 قد أفلح من زكىها
Sungguh beruntunglah orang-orang yang senantiasa mensucikan jiwanya.
Kita telah berhasil mencapai garis finis pensucian jiwa melalui beragam kegiatan di bulan Ramadhan. Banyak hal yang sudah kita lakukan, setidaknya menggambarkan lima pelajaran Ramadhan yang sudah kita tuntaskan dalam rangka meraih ketenteraman hati. Kelima pelajaran itu disebut tombo ati atau obat hati.
Hadirin dan hadirat yang berbahagia
Tombo ati yang pertama, moco qur’an sakmanane. Membaca Al-Qur’an dan memahami isinya. Selama satu bulan penuh, kampung kita diramaikan oleh tadarrus al-quran. Alunan ayat suci senantiasa bersahut-sahutan dari mushalla ke mushalla, dari masjid ke masjid. Sungguh, ini merupakan suasana yang syahdu, khas ramadhan yang begitu menentramkan jiwa. Tadarrus al-quran begitu hidup hingga menjelang tengah malam. Selain itu, kita juga saksikan banyaknya majelis taklim, berbagai pengajian dari subuh hingga malam hari dengan tujuan memperdalam pemahaman kita terhadap al-Qur’an. Obat hati yang pertama benar-benar sudah kita laksanakan.
Tombo ati yang kedua, shalat wengi lakonono. Menjalankan shalat malam dengan khusyu’. Shalat malam sudah kita lakukan dengan mendirikan shalat tarawih dan witir. Kalau shalat di luar Ramadhan hanya 17 rakaat, namun shalat di bulan ramadhan, jumlahnya berlipat, setidaknya 40 rokaat. Itu belum ditambah dengan shalat hajat, shalat rawatib, dan shalat-shalat sunnah yang lain. Singkatnya, kita sudah melakukan penambahan shalat-shalat malam untuk menghidupkan ramadhan, sekaligus menghidupkan hati kita.
Kaum Muslimin dan Muslihat yang berbahagia
Tombo ati yang ketiga adalah wong kang sholeh kumpulono. Berkumpul dengan orang-orang soleh. Betapa bahagia kita di bulan ramadhan. Orang-orang soleh begitu dekat dengan kita. Mereka tidak segan-segan memberikan siraman rohani yang menyegarkan, nasehat yang menyejukkan, dan teladan yang menenangkan. Para kyai dan para ustad yang biasanya sibuk, di bulan ramadhan mereka duduk bersama kita dan berbagi ilmunya untuk peningkatan iman dan taqwa kita kepada Allah. Sungguh ini adalah keberuntungan bagi kita.
Selanjutnya, tombo ati yang keempat adalah kudu weteng ingkang luwe. Perut yang dikosongkan. Dengan berpuasa ramadhan, kita mampu menahan hawa nafsu dan godaan syetan. Kita pun dapat merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang lemah dan kekurangan. Rasa persaudaraan kita semakin kokoh dengan ibadah puasa.
Terakhir, tombo ati kelima adalah dzikir wengi ingkang suwe. Dikir malam yang panjang. Sehabis tarawih, kita berzikir, di saat sahur kita juga berzikir. Bahkan,  di masjid kita telah dilaksanakan iktikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan. Banyak jenis dzikir dan doa yang dilantunkan.  Itu berarti kita juga sudah melaksanakan tombo ati yang kelima ini.
Hadirin dan Hadirat yang mulia
Dengan dilaksanakannya seluruh rangkaian tombo ati ini, kita berharap semoga seluruh doa kita dikabulkan oleh Allah dan seluruh dosa kita diampuni oleh Allah swt.  Sehingga dengan demikian, saat kita merayakan idul fitri ini, hati kita bersih, pikiran kita jernih, semangat jiwa kita gigih, dan  keberhasilan hidup lahir dan batin akan mudah kita raih. amin
Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Selain kebiasaan baik tadi, kita di awal Syawal ini diharapkan untuk bersegera meraih keampunan Allah. Dalam Surat Ali Imran 133-134  Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ -
133. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit[1], dan orang-orang yang menahan amarahnya[2] dan mema'afkan (kesalahan) orang lain[3]. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan[4].
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri[5], segera mengingat Allah[6], lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya[7], dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Ayat di atas mendorong kita untuk bersegera menuju keampunan Allah dan mendapatkan surga Allah yang besarnya seluas  langit dan bumi.
Andai saja satu manusia mendapatkan satu bumi untuk surganya,  niscaya bintang-gemintang di langit tidak akan habis dibagi untuk surga manusia. Itu menunjukkan betapa luasnya jagat raya ini. Ini adalah pertanda kemahabesaran Allah swt.
Surga yang begitu besar ternyata hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Sekali lagi, tinggi rendahnya derajat taqwa seseorang menjadi petunjuk seberapa besar derajat seseorang di sisi Allah. Beberapa syarat orang bertaqwa menurut ayat tadi adalah:
Pertama: orang bertaqwa harus berkenan berbagi dengan sesamanya dalam kondisi apapun
Kedua: orang bertaqwa harus mampu menahan emosi
Ketiga: orang bertaqwa harus mau memaafkan orang lain
Keempat: orang bertaqwa harus mau bertaubat
Dari empat syarat ini, semua dapat dilakukan di awal Syawal ini, yakni kita mau berbagi rezeki kepada tetangga dan sanak saudara. Kemudian, kita mau menahan diri dari bergunjing, menyebar fitnah, atau menghina orang lain. Di hati  kita sudah tertanam rasa ingin meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain. Ketika hubungan dengan sesama manusia sudah tuntas, lalu kita sempurnakan ketakwaan kita dengan memohon ampunan kepada Allah.
Terakhir, hal yang perlu kita tegaskan dalam Idul Fitri adalah budaya silaturrahim.
Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.”

Kita harus menjaga tali silaturrahim kita dengan siapa pun. Silaturahim adalah ikatan hati antara sesama manusia. Hal itu bisa karena hubungan darah, hubungan pernikahan, hingga hubungan sosial sesama anggota masyarakat. Selagi punya waktu, mari kita luangkan sejenak untuk berkunjung ke rumah orangtua kita, bermaaf-maafan dengan suami atau istri kita, anak-anak kita, sesepuh kita, kemudian, sanak saudara kita, dan akhirnya dengan sahabat dan tetangga kita.
Kita adalah makhluk yang tidak lepas dari kesalahan. Namun sebaik-baik orang yang salah adalah orang yang mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf atas kekhilafannya. Idul fitri adalah waktu terbaik untuk bermaaf-maafan. Sikap saling memaafkan dapat mencairkan suasana yang kaku, hubungan kekeluargaan yang beku, atau relasi persahabatan yang kurang seru. Semoga semangat idul fitri ini senantiasa memenuhi hati kita sepanjang tahun sehingga kita benar-benar kembali ke jati diri kita yang suci. amin     
  جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الأَمِنِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فيِ زُمْرَةِ الْمُوَحِّدِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،| اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ.| اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ.
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ اْلأَعْيَادَ بِالأَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ| وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ اْلأُجُوْرِ،| فَسُبْحَانَ مَنْ حَرَّمَ صَوْمَهُ وَأَوْجَبَ فِطْرَهُ وَحَذَّرَ فِيْهِ مِنَ الْغُرُوْرِ،| أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهُوَ أَحَقُّ مَحْمُوْدٍ وَأَجَلُّ مَشْكُوْرِ.
أَشْهَدُ أَنَّ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً يَشْرَحُ اللهُ لَهَا لَنَا الصُّدُوْرَ،| وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِىْ أَقَامَ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بَعْدَ الدُّثُوْرِ.| اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ.| أَمَّابَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ. فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِىِّ الْكَرِيْمِ.
 وَقَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ؛ إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمٍِ الدِّيْنِ. وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأْ َمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَنَا أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمَشْرِكِيْنَ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ اكْفِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ وَاكْفِنَا شَرَّ الْحَاسِدِيْنَ. وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ يُؤْذِيْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ أَرَادَنَا بِالسُّوْءِ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اللهُ أَكْبَرُ، عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Wassalamu’alaikum wr. wb                                      

Selasa, 19 Mei 2015

CIKUNGUYA YANG MEWABAH DI KAMPUNGKU

Cikunguya rupanya sedang menjangkiti masyarakat di desaku. Awalnya aku tak peduli. Kukira penyakit ini segera saja lenyap dari kampungku. Ternyata tidak. Satu demi satu keluarga terserang penyakit ini. Tak tanggung-tanggung, bukan hanya satu dua orang dalam satu rumah, namun hampir seluruh penghuni rumah itu terkena penyakit ini. Ngeri namun rasanya tak berdaya.

Untuk kasus keluargaku, mula-mula anak pertamaku mengalami demam tinggi. Lalu, kakinya terasa sakit ketika berjalan. Gejalanya berkembang yang akhirnya berujung pada penyakit tipes. Hal serupa dialami oleh anakku yang kedua. Demam tinggi beberapa hari mirip kakaknya. Kakinya sulit digerakkan dan harus digendong untuk beraktifitas. Untungnya segera kubawa ke dokter dan diberi obat yang juga sejenis dengan obat kakaknya. Dalam waktu satu minggu, semua sehat seperti sedia kala.

Aku berpikir bahwa keluargaku sudah bebas dari penyakit. Ternyata, beberapa hari kemudian, aku merasakan sakit di telapak kakiku. Aku sempat mengira aku terkena asam urat atau kolesterol tinggi. Beberapa saat kemudian, persendian kaki dan tangan terasa ngilu. Bila digerakkan terasa sakit. Aku hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur. Bila badan digerakkan sedikit, sakitnya bukan main. Ketika bagian-bagian kaki dan tangan dipijit, sakitnya makin meningkat. Untuk mengurangi ngilu, aku minum ibuprofen dan parasetamol. Setelah beberapa hari kemudian, sakit linu mulai berkurang dan muncul bintik-bintik merah di area tangan dan kaki yang disertai gatal. Akhirnya, karena badanku sudah bisa lumayan beraktifitas, aku pun ke dokter untuk konsultasi dan minta resep. Kini, setelah satu bulan, badanku sudah cukup pulih namun ngilu di persendian, terutama lutut dan pergelangan tangan masih sering terasa. Jika kakiku ditekuk lama, seperti bersila, nyeri kaki kembali menyerang dan sakitnya luar biasa. Akhirnya, aku konsultasi ke dokter dan diberi natrium deklofenak untuk mengurangi nyeri.

Belum sembuh total badanku, giliran istriku mengalami hal serupa. Beberapa hari ia tidak bisa bangun. Ia harus dituntun untuk sekedar ke kamar mandi atau bahkan bangun dari tempat tidur. Hmmm, pengalaman cikunguya yang benar-benar tak terlupakan!


Introduction