Subscribe RSS

Alhamdulillah,
Disertasi saya yang telah rampung dipertahankan di sidang ujian terbuka 23 Juni 2012 lalu telah terbit dalam bentuk buku. Buku ini diterbitkan oleh UIN Malang Press tahun 2014. Semoga buku ini bisa memberi manfaat kepada para pecinta wakaf di Indonesia. Amin.

Category: | 0 Comments

Hidup ini selalu memberikan tantangan. Masalah yang kita hadapi senantiasa memberikan warna hari tersendiri. Perubahan masa seakan mewajibkan kita untuk selalu siap siaga bergulat dengan segenap problematika. Terkadang  terbersit dalam hati, kuatkah kita melalui rintangan demi rintangan yang tak berujung? Haruskah kita bertahan dalam situasi yang menyesakkan? Atau segera saja kita mengambil jalan pintas dengan pasrah dan putus asa?
Menjadi juara memang tidak mudah walau kebanyakan orang menginginkannya.  Kita cenderung lebih senang dengan cara instan untuk menyelesaikan masalah dan ingin segera lari dari situasi yang kurang menyenangkan. Meratapi nasib adalah sikap umum yang biasa dilakukan. “Mengapa aku harus mengalami ini?” “Mengapa Tuhan setega ini padaku?” atau “Tuhan, aku sudah nggak kuat” adalah pernyataan yang lazim keluar dari mulut orang-orang yang kehilangan harapan. Beban pikiran yang terasa berat sepertinya menghapus berbagai kenikmatan yang sejatinya masih dirasakan. Semua karunia Tuhan yang masih mengalir seolah-olah sirna dengan cara berpikir pendek yang negatif ini.
Bagaimana kita bisa mengurangi perilaku yang merugikan ini? Ada beberapa tips yang bisa kita gunakan sebagai senjata ampuh mengatasi masalah ini.
Pertama, konsisten bersyukur. Syukur atau rasa terima kasih sangat mujarab untuk mengobati hati yang terluka. Perasaan terbuang atau tersiksa sering muncul tatkala kita merasa lebih rendah atau lebih hina dari orang lain. Hati serasa tercabik, muka serasa dicampakkan, dan jiwa seakan tak berguna dapat dinetralisasi dengan melihat kehidupan ini secara lebih utuh dan adil. Jika kita merasa hina, apakah di sana tak ada orang lain yang lebih merana ketimbang kita? Jika merasa paling “apes”, apakah tidak ada lagi nikmat yang masih kita terima? Bila kita gagal meraih mimpi, apakah hanya kita di dunia ini yang gigit jari? Ternyata jawabannya adalah kita masih beruntung. Sejumlah kenikmatan dan karunia masih bersama kita. Tubuh yang lengkap, indera yang sempurna, darah masih mendesir, udara masih segar ke paru-paru,  dan nyawa masih bersemayam adalah sekian nikmat yang sangat mahal. Kita harus menyadari bahwa rasa terima kasih kepada Tuhan akan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa tuhan masih sayang dan selalu bersama kita.
Kedua, dunia terus berputar. Kesadaran bahwa hidup ini ibarat roda yang terus berputar akan mendorong kita untuk tetap semangat menyongsong matahari di keesokan hari. Setiap matahari tenggelam, kegelapan akan merayap. Kesan sunyi dan seram sering muncul sepanjang lama. Namun, keyakinan bahwa sinar esok masih ada akan membuat seseorang untuk selalu optimis bahwa masa-masa suram akan segera berganti dengan masa-masa jaya. Bendera kemenangan akan segera dikibarkan. Nah, ketika saat kesuksesan datang, seseorang yang sadar perputaran dunia akan selalu waspada bahwa hidupnya tak akan selalu lurus dan mulus. Goncangan dan dinamika hidup akan selalu pasang surut. Oleh karenanya, ia akan selalu siap siaga ketika situasi berubah sewaktu-waktu di luar kendalinya dan ia akan selalu rendah hati.
Ketiga, kesadaran robbani. Ini adalah kunci utama seseorang untuk sukses. Mengapa demikian? Manusia itu sangat terbatas pengalaman dan ruang geraknya. Ia hanya hadir pada masa tertentu dan akan berakhir pada waktu tertentu pula. Ia tak akan sukses selamanya atau susah sepanjang masa. Ia pun tak kuasa untuk menahan laju ujung usia yang akan menjemputnya. Kesadaran ini akan membuatnya selalu bersandar dan bergantung kepada sang pemilik kehidupan. Ia berserah diri secara total dan meminta perlidungan kepada-Nya. Ia selalu khusyuk dalam ibadah di kala suka dan selalu tersenyum sabar di kala duka. Hidupnya sudah digaransikan untuk Tuhannya dan ia bekerja keras untuk selalu mendapatkan cinta-Nya. Kesadaran ini akan menuntunnya untuk selalu di jalan-Nya apapun kondisinya. Inilah puncak kesadaran yang mampu menyeimbangkan hati dan pikiran tatkala beban pikiran mendatanginya. Wa Allah a’lam

Category: | 0 Comments

Hari ini salah satu kawan ceramah di masjid tentang arsitektur makam. Pak Agung, sang kajur Aristektur itu, menguraikan bahwa kini penting kita pikirkan tentang tata ruang tanah makam. Selama ini, makam dianggap sebagai tempat peristirahatan terakhir yang tidak masuk dalam kategori layak arsitektur, kecuali pada lokasi pemakaman khusus, seperti makam wali, pejabat, atau tokoh. Lokasi makam umat Islam umumnya berserakan, tidak simetris, dan terkesan asal-asalan sesuka hati petugas penggali liang lahat. Mengingat tanah makam adalah fasilitas umum yang tidak produktif, jarang sekali ada petugas yang khusus menangani pengelolaannya. Padahal, jika tanah pemakaman itu ditata secara tertib dan rapi, maka kesan angker, kumuh, dan kotor dapat dihindari. Selain itu, daya tampung makam akan dapat maksimal jika pengukurannya tepat.

Sebagai misal, tanah makam di wilayah Malang, banyak ditemukan pemakaman yang padat sehingga menyulitkan bagi peziarah untuk menemukan makam keluarganya. Selain itu, jalan setapak yang seharusnya ada seringkali tidak lurus alias zigzag sehingga pengunjung atau petugas makam tidak bisa menghindarkan diri dari menginjak makam yang sudah ada. Otomatis, penghormatan terhadap jasad para almarhum tidak tercapai.  Ditambah lagi, ada beberapa kawasan makam yang dekat dengan pusat keramaian, seperti pasar atau warung. Para penjual barang seringkali menyimpan barangnya di kawasan makam. Begitu pula para pemilik warung acapkali mencuci piring dan meletakkan perabotnya di dalam kawasan makam. Kondisi ini lebih parah lagi para pengunjung warung makan dan minum di atas makam. Jadilah makam menjadi tempat yang jauh dari nilai sakral dan spiritual.

Dari kenyataan ini, kajian agama sekaligus tata ruang makam nampaknya layak untuk dibuat. Sejumlah pakar harus berkumpul untuk membicarakan tentang solusi dari kesemrawutan pengelolaan tanah makam sehingga ajaran agama tentang penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dunia tetap terjaga.  Semoga...

Category: | 0 Comments

Kemarin, 2 Februari 2015, adalah salah satu hari yang tak terlupakan. Pagi itu, aku dengar kabar bahwa kawanku, Dr Syafaat, M.Pd, menghembuskan nafas terakhir di kediamannya. Hal yang paling mengagetkan adalah bahwa beliau tidak mengalami sakit apapun dan wafat dengan tiba-tiba di waktu subuh. Usianya pun masih tergolong sangat muda, belum mencapai usia 40 tahun. Bagiku, kepergiannya tentu sangat mengejutkan bagi segenap keluarga dan sahabatnya.

Sebenarnya aku jarang bersua dengan beliau. Maklum, tugas dinas kami berbeda. Aku di UIN sedangkan beliau di Universitas Negeri Malang (UM). Aku kenal beliau karena sering mengisi kegiatan pengajian dan tahfid al-Quran di UIN dan di kampungku. Suaranya sangat merdu dan wajahnya sangat teduh. Aku kagum sekaligus salut dengan tingkah lakunya yang selalu tawadhu'.

Suatu ketika, aku pernah berbincang akrab dengan beliau. Kami saling bertukar kabar dan pengalaman. Dari tutur katanya terkesan bahwa beliau sangat peduli dengan situasi masyarakat dan cinta ilmu al-Qur'an yang selama ini digeluti untuk menjadi nafas kehidupan warga. Kawan-kawan yang biasa mendengar uraiannya saat memberikan taushiyah merasakan siraman segar di setiap ucapannya yang selalu bersumber pada al-Qur'an dan hadis.

Beberapa hari lalu isterinya datang ke rumah untuk menemui istriku. Hal ini merupakan kunjungan tak terduga karena rumah kami berjauhan. Rupanya istri beliau aktif bersama istriku di kegiatan muslimat di kampungku. Aku senang bahwa keluarga kami bisa dekat dengan keluarga penghafal al-Qur'an itu.

Sayang sekali, mas Syafaat begitu cepat pergi. Kami kehilangan sosok teladan yang memberikan kesejukan hati. Kami berdoa semoga mas Syafaat mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan khusnul khatimah. aaamiiin!

Link blog beliau yang sarat makna ada di https://cahayaqurani.wordpress.com/tentang-saya/

Category: | 0 Comments

Setiap hari kita beraktifitas dengan beragam kegiatan. Ketika mata terbuka dengan napas panjang pemberian-Nya, sering kita lupa mengucap syukur pada-Nya. Bayangan kita langsung tertuju pada kamar mandi tempat membersihkan diri. Saat memasuki toilet, kita jarang memperhatikan kaki mana yang masuk dan bacaan yang perlu dilafalkan. Begitu pula saat keluar pintu kamar mandi. Kita anggap itu semua rutinitas belaka dan tak perlu ada tuntunan yang mesti dihiraukan. Hal yang diingat daam benak kita hanyalah perkara-perkara besar yang efeknya cepat dan di depan mata. Padahal, sesungguhnya tidaklah begitu cara pandangnya. Banyak hal-hal kecil yang memiliki kekuatan besar yang dapat merubah hidup kita. Marilah sejenak kita merenung dan sekedar membandingkan kebiasaan kita di atas dengan uraian di bawah ini.

Sesungguhnya, Islam mengajarkan setiap langkah kita potensial bernilai ibadah. Hal-hal kecil seperti doa bangun tidur, doa masuk toilet, dan doa makan bukanlah aktifitas sekedar biasa saja. Namun lebih dari itu, panjatan doa senyatanya sebuah panduan betapa kita ini membutuhkan kekuatan sang Maha Khaliq yang membuat kita wujud hingga hari ini. Basmalah dan hamdalah adalah dua doa paling populer yang mengajari kita untuk menyadari hakikat kita sebenarnya. Basmalah menunjukkan betapa Allah dibutuhkan untuk mendampingi langkah kita, apapun itu, hingga akhirnya selesai. Basmalah merupakan manifestasi kebutuhan pengayoman dan perlindungan yang selalu kita idam-idamkan. Dengan basmalah, kita mengakui bahwa apa yang kita perbuat adalah cerminan permohonan petunjuk kepada Allah yang sangat mencintai hamba-Nya. Meskipun kita tidak membaca basmalah, kita masih bisa beraktifitas. Namun hasilnya akan terasa beda. Kesuksesan yang diraih tanpa basmalah bisa jadi dikagumi banyak orang namun justru membuat kita takabur. Beda halnya kesuksesan yang dihasilkan dengan iringan basmalah. Kesuksesan itu, baik dikagumi atau tidak, akan menambah keyakinan dan kesadaran bahwa Allah sebagai pemberi kekuatan dan inspirasi sungguh luar biasa. Kesadaran ini mengajari kita untuk tetap tawadhu dan siap memberikan manfaat kepada orang lain tanpa pamrih. Kemampuan kita yang dimanfaatkan orang lain hanyalah salah satu bentuk cara tuhan untuk memberikan pertolongan-Nya kepada para hamba-Nya. Dengan kata lain, kita hanyalah kepanjangan "tangan" Allah dalam mengatur kehidupan ini. Dengan begitu, kalimat hamdalah akan mudah terucap oleh lisan kita sebagai pengakuan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Jadi, tak akan ada congkak dalam hati karena jika Allah sebagai sang empu menarik segala potensi yang ada pada diri kita, niscaya kita kembali ke titik nol yang sama sekali tidak memiliki nilai guna.

Dari sini dapat ditarik benang merah bahwa setiap awal kegiatan dalam kehidupan kita, perlu untuk diberi sentuhan robbani. Sentuhan robbani maksudnya kesadaran keberadaan Allah di sekitar kita, di setiap hirup nafas kita, di setiap kedip mata kita, dan disetiap degup jantung kita. Allah begitu dekat dengan kita dan Allah begitu sayang kepada kita. Kita yang mungkin selama ini lupa mengingat-Nya dan merasa kuasa dengan kekuatan sementara yang kita rasakan perlu kembali menata hati dan pikiran kita bahwa kita adalah hamba-Nya yang hanya dapat berbuat jika Dia menghendaki. Rutinitas kita yang selama ini terasa hambar mungkin karena tidak diberi sentuhan robani di dalamnya. Oleh sebab itu, di akhir tahun 2014 dan di awal tahun 2015 ini, marilah kita benahi diri dengan menjadikan Allah sebagai tujuan hidup kita. Semoga kita semua berada di bawah lindungan dan ridha-Nya Amin.

Category: | 0 Comments

WASHINGTON DC, UNI OF CHICAGO, AND SNOW

PESONA CHICAGO