Author: Sudirman Hasan on
Rabu, 06 Februari 2013
Di awal tahun 2013 ini, salah satu produk kebanggaan yang ditorehkan eL-Zawa adalah terbitnya laporan tahun 2012 dalam bentuk Annual Report. Keinginan untuk membuat annual report ini sebenarnya sudah lama, sekitar dua tahun yang lalu, namun baru tahun ini terealisasi.Kalimat pembuka yang menjadi salah satu hiasan di sampul muka adalah "Enam Tahun eL-Zawa, dari 250 ribu Menjadi 1,
4 Milyar".
Bagi sebagian orang, rangkaian kata di atas mungkin dianggap bombastis, tapi itulah kenyataan apa adanya. Saya sebagai salah satu pelaku sejarah penggerak eL-Zawa sejak dibentuk tanggal 22 November 2006, merasakan betul dinamika el-Zawa dari nol. Saya mengalami masa tidak punya kantor, tidak ada komputer, tanpa meja, dan tentu saja tidak punya karyawan. Masa pahit itu pun kini telah berlalu. eL-Zawa telah menjadi salah satu unit di bawah naungan rektor yang mempunyai citra positif yang kian kokoh. Kepercayaan masyarakat dalam dan luar kampus semakin nyata, termasuk pengakuan Rektor bahwa eL-Zawa sudah bukan zamannya lagi bicara juta tapi harus milyar yang kini sudah tercapai.
Annual Report 2012 dicetak sebanyak 1000 eksemplar dan akan dibagikan kepada seluruh stakeholder eL-Zawa secara cuma-cuma. Bagi yang berminat, bisa menghubungi Kantor eL-Zawa di nomor 0341-570575.
Author: Sudirman Hasan on
Satu bulan sudah saya menjalani profesi mediator.
Tugas utama saya adalah menghadapi kasus-kasus yang diajukan ke
Pengadilan Agama setelah sidang pertama. Awalnya saya merasa kikuk,
galau, dan bingung saat berhadapan langsung dengan para pihak yang tak
jarang beruaian air mata atau berwajah garang menahan amarah, tapi makin
lama saya pun bisa menyesuaikan diri dan dapat berperilaku lebih santai.
Dari sekian banyak kasus yang saya tangani, ada benang merah yang patut
dituangkan dalam tulisan ini terkait dengan kasus perceraian. Di
antaranya adalah pelaku utama perceraian dan alasan perceraian.
Pada umumnya, kebanyakan orang mengira bahwa kasus perceraian adalah dominasi kaum lelaki. Ternyata tidak! Malang
yang dikenal memiliki angka perceraian tertinggi di Indonesia
menempatkan perempuan sebagai aktor utama perceraian alias sebagai
penggugat. Tidak kurang dari 60 persen perceraian diajukan oleh
perempuan. Jadi, lelaki kini harus siap-siap untuk menerima panggilan
dari pengadilan karena istrinya melayangkan gugat cerai. Para istri
ternyata lebih berani hidup sendiri ketimbang hidup bersama suami yang
tidak bisa membuatnya bahagia.
Lalu, apa saja yang menjadikan rumah tangga tidak
lagi nyaman? Ada dua motif utama yang sering ditemukan, yakni motif
ekonomi dan motif perselingkuhan. Hidup rumah tangga tidak hanya sekedar
bermodalkan cinta namun juga harus disertai dengan segala piranti hidup
yang layak. Masalah keuangan menempati posisi penting sebagai alasan
perceraian. Misalnya, ketika sang suami hanya bekerja sebagai buruh atau
sopir yang penghasilannya tidak tetap, apalagi istri tidak bekerja,
maka sang istri lebih rela hidup sendiri daripada menahan sedih karena
tidak dinafkahi suami. Meskipun suami sudah banting tulang dari pagi
hingga malam dan penghasilannya tidak jelas, istri tidak bisa terima
karena ia dan anaknya tetap harus makan. Kasus model ini akan semakin
parah kalau sang suami tidak bisa menahan emosi akibat rengekan istri
untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ketika suami dengan kekuatan
fisiknya sudah melakukan kekerasan, seperti memukul, mengumpat, atau
bahkan mengusir istrinya, umumnya istri tidak tahan dan kembali ke rumah
orang tuanya. Dari sinilah, muncul keinginan besar untuk berpisah
dengan suaminya karena sudah tak tahan hidup menderita.
Motif kedua yang juga sangat populer di ruang
mediasi adalah perselingkuhan. Kalau seseorang sudah mapan secara
ekonomi, hal yang harus dijaga adalah hawa nafsunya. Baik laki-laki
maupun perempuan mempunyai peluang yang sama untuk tergoda mencari
kesenangan pribadi dengan orang lain yang bukan pasangannya. Di saat
aktif bekerja di kantor atau perusahaan, godaan dari lawan jenis
acapkali terjadi. Mulanya hanya sekedar curhat, berbagi
cerita suka duka hidup, lalu jalan-jalan bersama, dan akhirnya jatuh
cinta. Sikap mendua ini membuat biduk rumah tangga menjadi goyah. Kalau
tidak bisa memegang amanah dari sebuah ikatan perkawinan, godaan hawa
nafsu ini bisa mengaramkan pondasi rumah tangga yang sudah lama
dibangun. Seorang suami bisa nikah sirri dengan rekan kerjanya. Juga,
seorang istri dapat menduakan suaminya tatkala mendapat perhatian lebih
dari kawan dekatnya.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa
perkawinan dapat saja berakhir ketika suami dan istri kurang memahami
esensi ikatan pernikahan. Permasalahan apa saja bisa terjadi sepanjang
perjalanan berumahtangga. Oleh sebab itu, persiapan matang sebelum
menikah dan kesabaran ekstra selama menikah sangat diperlukan agar tidak
terjadi putusnya perkawinan yang sangat sakral itu.
Author: Sudirman Hasan on
Selasa, 11 Desember 2012
Hidup adalah mimpi. Agar hidup semakin hidup, manusia perlu membangun
mimpi. Tanpa mimpi, berarti mati. Begitu pula eL-Zawa, di usianya yang
keenam, eL-Zawa terus beranjak dari satu mimpi ke mimpi lainnya. Mimpi
besarnya yang baru saja terwujud adalah pameran produk UMKM binaan
eL-Zawa yang tersebar di segenap wilayah Malang Raya. Tujuan dasar
pameran ini adalah untuk memberikan bukti bahwa dana zakat yang dikelola
secara produktif, tidak hanya memberikan manfaat sesaat bagi para
mustahiq, tetapi telah memandirikan mereka untuk bisa hidup layak tanpa
terbelit hutang rentenir dan tanpa membebani orang lain.
Beberapa peserta pameran adalah
orang-orang yang terselamatkan oleh program Qardhul Hasan eL-Zawa
benar-benar murni syariah. Program pembiayaan tanpa bunga ini sangat
dirasakan manfaatnya oleh para pedagang yang menjadi nasabah eL-Zawa.
Sebut saja, Mas Saiful yang dulunya hanya jualan kripik singkong dan
kripik belut di wilayah Sumber Pucung, kini sudah berhasil mengembangkan
usaha itu ke wilayah Malang Raya dan bahkan hingga Pasuruan. Usahanya
pun kian variatif. Hasil simpanannya dapat digunakan untuk membuka usaha
baru berupa es campur di dekat pom bensin yang sangat laris. Tidak jauh
beda dengan mas Syaiful, Pak Adi yang dulunya hanya sebagai pengepul
peralatan pertanian, kini dengan dana pinjaman dari eL-Zawa, ia bisa
membuat pandai sendiri sehingga ia mampu memproduksi berbagai alat
pertanian dengan harga lebih murah. Sekarang, jaringan usahanya sudah
melewati batas wilayah Jawa Timur, bahkan hingga ke pulau Sumatra.Itulah
beberapa bukti konkrit suksesnya pembinaan UMKM yang telah dilakukan
eL-Zawa.
Ke depan, eL-Zawa bermimpi akan membuka gerai eL-Zawa di luar kampus
yang dikhususkan bagi para mustahiq. Program ini sesungguhkan merupakan
kelanjutan dari berbagai program BMT yang sekarang ini ada namun masih
terbatas jangkauannya. Kelak, ketika BMT ini sudah mempunyai beberapa
kantor layanan di luar kampus, manfaat zakat sebagai modal pemberdayaan
masyarakat akan semakin terasa.
Mimpi lainnya adalah dibentukkan orphan-one stop service. Program ini
dirancang untuk memberikan pelayanan lebih kepada anak-anak yatim
unggul yang dimiliki eL-Zawa. Saat ini, eL-Zawa memiliki 46 anak yatim
rumahan yang mendapat bantuan pendidikan setiap bulan, layanan
pendampingan, dan wisata liburan sekolah. Ke depan, program yatim ini
akan dipoles menjadi program utama dengan mencarikan orang tua asuh bagi
para yatim. Kelak, anak yatim tersebut akan dipertemukan dengan orang
tua asuh mereka sehingga akan ada komunikasi intensif antara anak yatim
dan orang tua asuhnya. Para orang tua asuh ini berhak menerima informasi
seputar anak yatim itu, seperti hasil ujian/rapor, kondisi kesehatan,
hingga kehidupan sehari-harinya. Pendeknya, anak yatim unggul akan
merasakan kasih sayang dari orang tua barunya melalui program orphan-one
stop service ini.
Mimpi-mimpi ini perlu terus dipupuk dan semoga menjadi kenyataan,
tentunya atas dukungan semua pihak, termasuk para pejabat kampus dan
para donatur yang telah mempercayakan dana sosialnya ke eL-Zawa. Insya
Allah.
Author: Sudirman Hasan on
Selasa, 27 November 2012
Hari ini aku mendapat wejangan menarik dari rektor. Aku tak menyangka kalau pak rektor begitu santai menceritakan pengalamannya yang sangat banyak tentang kepemimpinan. Menurut beliau seorang pemimpin harus memiliki watak yang dicontohkan oleh rasulullah. Di antaranya adalah cerdas, pandai mengemban amanat,jujur, dipertanggung jawab.
Category: |
Author: Sudirman Hasan on
Sabtu, 17 November 2012
Minggu ini ada tugas dadakan yang kujalani. Hari Selasa pagi (13/11), aku mendapat telepon bahwa aku ditunjuk Dekan untuk berangkat ke Surabaya untuk mengikuti Workshop Internasional tentang Zakat dan Wakaf di Hotel Singgasana. Kegiatan yang diselenggarakan oleh IAIN Sunan Ampel yang berakhir pada kamis (15/11) ini menghadirkan sejumlah narasumber internasional, seperti dari Saudi Arabia, Mesir, dan Malaysia. Sejumlah tokoh nasional yang sangat kompeten di bidangnya pun turut menyemarakkan acara tersebut. Prof Didin Hafidhuddin (Ketua Umum BAZNAS), Prof Tolchah Hasan (Ketua Umum BWI), dan Dr. Ahmad Juwaini (Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa) memberikan pencerahan bagi segenap peserta yang datang dari segenap penjuru tanah air. Aku turut gembira karena dapat berpartisipasi aktif dalam acara workshop tersebut.