Subscribe RSS

Hari ini adalah hari kedua aku di Bali. Rasanya seperti mimpi. Aku tak menyangka kalau aku akan duduk lagi sebagai siswa di IALF Bali. Sungguh, ini adalah pengalaman ulangan untuk yang kedua kali. Dulu, aku pernah kursus di sini selama 6 bulan. Waktu itu program yang aku ikuti adalah EAP (English for Academic Purposes) dalam rangka meningkatkan skor IELTS untuk memenuhi kualifikasi sebagai salah satu peserta Interdisciplinary Islamic Studies (IIS). Program S-2 IIS adalah program kolaborasi antara McGill University Kanada dan Kemenag. Program ini cukup prestisius karena pesertanya terseleksi secara ketat dan mendapatkan beasiswa kuliah sekaligus kursus di IALF Bali serta riset di Kanada.
Nah, setelah aku lulus seleksi, aku harus rela  meninggalkan Jakarta untuk mengenyam pendidikan ala Australia di Bali. Cukup lelah memang dan juga cukup tegang. Bayangkan saja, kami harus mencapai skor IELTS 6.5 jika ingin tetap melaju sebagai peserta IIS. Jika tidak, hemmm, bisa dibebastugaskan alias dikeluarkan. Oleh sebab itu, setia hari yang dipikir dibicarakan dan dikerjakan adalah Inggris, Inggris, dan Inggris. Semua skill harus dikuasai, tidak hanya reading dan listening, tetapi juga speaking dan writing. Dua hal terakhir ini sering jadi momok hampir setiap orang yang memperlajari bahasa asing. Namun, alhamdulillah, akhirnya aku bisa melewati masa-masa sulit itu dengan sempurna. Aku bisa mencapai target 6.5 dan berhasil menyelesaikan studi di IIS dalam waktu 2 tahun.
Kini, selama bulan Maret 2014, aku mengikuti program khusus yang diperuntukkan bagi dosen.  Nama program itu adalah CLIL (Content and Language Integrated Learning).  Aku harus berkompetisi dengan para dosen di UIN Malang untuk mendapat satu tiket ke IALF Bali. Alhamdulillah untuk yang kesekian kali, aku berhasil lulus seleksi dan sekarang kembali duduk sebagai murid. Hemm, senang juga bisa belajar lagi di bawah asuhan para tutor yang profesional. Aku berharap setelah program ini, aku bisa mewujudkan impianku menjadi dosen yang berkualitas dunia seiring dikukuhkannya UIN Malang sebagai World Class University. Semoga. amin

Category: | 2 Comments

Minggu lalu, saya dan beberapa kawan pergi ke Malaysia dalam rangka menjalin kerjasama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kami habiskan waktu empat hari untuk melakukan diskusi bilateral sekaligus merancang program tukar-menukar mahasiswa dan dosen. Kami juga membentuk tim penelitian kolaboratif yang melibatkan para dosen dari UIN Maliki Malang dan UKM.
Pada dua hari pertama, kami manfaatkan waktu untuk memaksimalkan kerjasama. Banyak yang sudah kami hasilkan, antara lain student exchange yang bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Pada hari ketiga, kami ingin mengusir kepenatan dengan melakukan refreshing mengenal kota Kualalumpur. Salah satu tujuan kami adalah Kualalumpur Convention Center (KLCC). KLCC berada di bagian bawah Twin Tower milik Petronas yang menjadi salah satu icon Malaysia.
Dari UKM Bangi, kami naik kereta MRT yang sangat nyaman. Kereta ini seperti kereta yang menghubungkan terminal bandara di Changi Airport, Singapore. Kereta ini tidak mengenal macet dan datang-pergi tepat waktu.  Saya jadi teringat dengan sistem kereta api bawah tanah saat tinggal di Amerika dulu. Tujuan yang kami pilih adalah KL-Central yang menjadi tempat persimpangan kereta untuk menuju berbagai jurusan. Setelah turun, kami naik kereta LRT untuk mencapai KLCC. 

Sesampai di KLCC, kami harus naik eskalator untuk bisa sampai ke gedung Twin Tower. Nah, saat sudah berada di bawah twin tower, kami menemukan satu kejanggalan, yakni adanya sebuat plang nama besar yang bertuliskan "I-Setan." Kami kira, itu adalah peringatan bahwa banyak setan bergentayangan di KLCC mengingat saat membangun twin tower itu banyak korban yang jatuh dari ketinggian. Ternyata, I-Setan adalah sebuah toko seperti pada umumnya. Tidak ada nuansa seram di dalamnya bahkan terang benderang. Nih, foto kami saat di sana, kami malah seperti "setan" karena kalah terang dengan cahaya toko. hehe

Category: | 0 Comments

Hari ini, ada dua berita duka yang saya terima. Berita pertama adalah wafatnya isteri dari prof Djunaidi Ghani, salah satu guru besar UIN Malang. Berita kedua adalah berpulangnya salah satu tetangga saya di Gasek, pak Kaseman namanya. Mendengar kabar duka itu, pikiran saya langsung tertuju kepada suatu kaedah hukum alam bahwa setiap makhluk hidup pasti mati. Kita semua yang merasa hidup hari ini suatu saat nanti wajib meninggal. Ketika meninggal, kita berharap dapat kembali kepada Allah SWT dalam kondisi yang diridhoi.
Berkaitan dengan hakikat kematian, saya teringat pada sebuah ayat dalam surat al-Mulk: 2 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan  kematian dan kehidupan ditujukan untuk mengetahui siapa manusia yang paling baik amalnya.  Ayat ini menyebut kematian lebih dulu daripada kehidupan. Apakah memang kematian lebih utama dari kehidupan? Atau memang setiap hal yang hidup pasti berasal dari sesuatu yang mati? Hanya Allah yang maha tahu maksudnya. Namun, jika kita pahami sejenak, ayat ini menuturkan bahwa manusia tidak perlu khawatir akan datangnya kematian karena kematian adalah awal dan akhir masa manusia. Adapun kehidupan yang berada di sela-selanya dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi manusia untuk berkarya.
Dalam sebuah hadis terkenal, rasulllah SAW mengatakan “Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu meninggal besok.” Hadis ini menyiratkan sejumlah pesan besar. Pertama, kita harus bekerja keras dalam hidup sambil diimbangi dengan kesadaran robbani bahwa kelak kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Motivasi untuk hidup selamanya dapat dimaknai bahwa dalam hidup ini kita harus membuat perencanaan yang matang. Planning dalam bahasa manajemen sangat dibutuhkan karena dengan perencanaan kita dapat mengantisipasi kegagalan. Hidup tanpa perencanaan berarti telah merencanakan untuk gagal. Kedua, kita sangat perlu semangat berkarya. Semangat ini akan mendorong kita untuk menciptakan prestasi gemilang bahkan sebuat capaian yang dapat dikenang lebih lama. Misalnya, kita dapat membuat buku yang masih dibaca meskipun kita telah wafat. Efek dari semangat hidup selamanya adalah tawakkal, kita akan menyerahkan diri kepada sang Khalik dan berharap mendapat keputusan terbaik dari-Nya. Jika ternyata keputusan itu kurang sesuai dengan harapan, kita masih dapat menahan diri dengan bersabar tanpa harus meratapi nasib. Inilah hikmah semangat hidup selamanya yang dapat kita petik dari bagian pertama hadis ini.
Potongan hadis kedua berbunyi bahwa kita harus berjuang keras untuk akhirat kita seakan-akan kita mati besok. Pertanyaannya, perlukah kehidupan akhirat? Bagi kaum atheis atau agnostic, kehidupan dunia ini adalah untuk dunia. Kematian adalah akhir segalanya. Karena akhirat itu ghaib, maka mereka tak perlu mempercayainya. Untuk itu, mereka berusaha menggunakan berbagai cara agar mereka tetap hidup dan eksis di muka bumi. Misalnya, mereka melakukan kloning, mengkonsumsi obat anti penuaan, atau menginvestasikan sebagaian besar hartanya untuk pengembangan sains dengan harapan mereka bisa hidup lebih lama, atau bahwa mereka dapat dihidupkan kembali dengan teknologi canggih itu.
Bagi kita, kematian adalah suatu keniscayaan bahkan suatu kebutuhan. Tanpa kematian, terutama kematian setelah kehidupan dunia ini, kehidupan dunia yang kita jalani ini tidak ada artinya. Ibarat seorang mahasiswa, setiap hari dia diminta untuk belajar dan menghafal  sekaligus berjibaku dalam menghadapi ujian, namun ia tidak pernah mendapat nilai atau rapot. Seorang mahasiswa yang  rajin tidak akan dapat menikmati hasil jerih payahnya jika tidak ada fase wisuda. Kematian adalah satu periode menuju wisuda, satu momen bagi seseorang untuk mendapat penghargaan atas prestasinya. Semoga almahum-almahumah yang hari ini dpanggil Allah mendapat tempat terindah disisi-Nya dan mendapat penghargaan terbaik atas karya-karyanya selama hidup di dunia. Amin.

Category: | 0 Comments

“Mau jadi profesor? Gampang kok!” kalimat itu meluncur dari prof Imam Suprayogo tatkala mengisi acara akselerasi profesor di Auditorium Gedung Ir Soekarno UIN Maliki Malang, siang tadi (7/9/13). Kehadiran beliau sangat dielu-elukan oleh segenap civitas akademika kampus yang pernah dipimpinnya. Suasana begitu cair, syahdu dan haru. Canda tawa khas beliau membuat orang tertawa dan selalu merindukannya. Prof Imam kali ini diundang dalam kapasitasnya sebagai salah satu anggota tim penilai usulan profesor yang diajukan oleh berbagai perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Beliau diminta untuk menyemangati lahirnya para guru besar baru yang siap mengemban amanat pengembangan kampus yang berslogan Ulul Albab itu.
Gelar guru besar atau profesor memang satu kebanggaan yang bukan hanya milik para penerimanya namun juga satu prestise bagi universitas pengusulnya. Bisa dibayangkan, kampus besar dengan mahasiswa ribuan akan jatuh reputasinya ketika jumlah guru besarnya sedikit. Guru besar sebagaimana namanya merupakan sosok ilmuwan sejati yang telah teruji keahliannya. Dalam hal finansial, seorang guru besar dengan segala kemampuannya berhak untuk mendapatkan tunjangan kehormatan yang jumlahnya cukup menggiurkan, sekitar tiga sampai lima gaji pokoknya. Banyak orang yang sangat menginginkannya. Namun sayang harapan itu tidak segera dapat diwujudkan. Masalahnya biasanya sangat tergantung pada keaktifannya dalam menulis. Menulis sebenarnya tidak berat. Menulis hanya membutuhkan ketekunan dan semangat. Tulisan-tulisan yang sudah diterbitkan akan mempermudah jalan seseorang untuk menjadi seorang profesor.
Prof Imam kemudian bercerita tentang kegagalan sejumlah dosen yang tidak bisa diterima usulan gurubesarnya. Menurut beliau, baru-baru ini, dari 50 kandidat profesor di Kementerian Agama, hanya 4 orang yang layak dianugerahi gelar profesor. Mengapa? Apakah ini indikasi bahwa meraih kedudukan profesor sulit? Jawabannya berkali-kali beliau tegaskan: tidak, tidak, dan tidak! Mereka gagal sebenarnya bukan karena mereka tidak cukup mengajar, kurang pengabdian, atau kurang tulisan. Kalau untuk poin terpenuhinya tridarma perguruan tinggi, hampir semua mumpuni. Masalahnya hanya satu, yakni tulisannya kurang relevan dengan keahliannya. Sebagai contoh, seseorang mengusulkan dirinya untuk diangkat menjadi guru besar di bidang Hukum Islam, namun ternyata tulisannya banyak berbicara tentang sejarah. Contoh lain, seseorang yang keahliannya di bidang biologi, namun karya-karyanya bernuansa tasawuf. Memang tidak salah, seseorang memiliki dua atau lebih kecenderungan ilmu, namun harus satu rumpun. Jika satu rumpun, tulisannya pasti tidak akan yang diragukan.
Selain tulisan, nampaknya tidak ada lagi masalah krusial yang menghalangi seseorang untuk menjadi guru besar. Kalaulah ada hanya masalah teknis. Demikian penegasan prof Muhaimin yang juga diundang mendampingi prof Imam. Misalnya berkaitan dengan lokasi penerbitannya. Tulisan dapat diterbitkan dalam bentuk artikel dalam jurnal dan buku. Nah, jurnal mana? Biasanya untuk setiap kenaikan pangkat, ada sejumlah syarat, di antaranya harus diterbitkan di jurnal terakreditasi, minimal tingkat nasional, syukur-syukur kalau internasional. Untuk jurnal terakreditasi nasional, hampir setiap perguran tinggi besar memilikinya. Adapun jurnal internasional tidak selalu berkonotasi bahwa jurnal itu terbitan luar negeri. Sejumlah lembaga pendidikan tinggi Indonesia juga banyak yang berhasil memiliki jurnal internasional terakreditasi, misalnya jurnal dari UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta.
Jadi, intinya, untuk jadi guru besar yang kesejahteraannya cukup tinggi itu hanya membutuhkan ketekunan dalam meneliti dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Kalau sudah begitu, tinggal kemampuan kita untuk mempublikasikan sesuai dengan kebutuhan. Nah, betul kan, jadi guru besar itu mudah? Ayo nulis, nulis dan publish!

Category: | 0 Comments

Sejak 1 Agustus 2013, saya resmi mempunyai tugas baru sebagai ketua jurusan Hukum Keluarga Islam (al-Ahwal al-Syakhshiyyah) Fakultas Syariah UIN Maliki Malang. Jujur, saya tidak menyangka kalau saya kembali ke pangkuan fakultas setelah lebih dari enam tahun melanglang buana untuk mengawal kelahiran eL-Zawa sejak tahun 2007, studi S3 di Semarang sejak 2008 hingga short course di Amerika tahun 2010. Sebenarnya, sejak kembali ke Malang pada awal tahun 2011, saya hanya fokus menyelesaikan studi doktoral dan segera membesarkan eL-Zawa yang sempat saya telantarkan. Kini, di saat eL-Zawa mulai berkibar dan sekian mimpi-mimpi besar saya mulai terwujud, saya diberi amanah oleh rektor untuk membantu fakultas Syariah dalam berkhidmat kepada umat melalui jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah. Awalnya saya terkejut karena banyak dosen yang layak menempati jabatan strategis itu. Namun, entah dengan pertimbangan apa, akhirnya saya dipilih para anggota senat untuk melaksanakan tugas penting ini.Sungguh, ini adalah amanat besar sekaligus paling menantang menjelang ujung tahun 2013.
Saya patut bersyukur bahwa di saat banyak orang berebut jabatan, saya malah mendapat jabatan tanpa saya minta. Kalau dalam konsep berebut, pasti ada pihak yang kalah dan pihak yang menang. Pihak yang kalah biasanya akan sakit hati dan bisa jadi akan melakukan tindakan balas dendam di suatu waktu. Uniknya, saya di fakultas Syariah malah diharapkan dengan sangat oleh dekan dan dimintakan dukungan kepada rektor agar rektor berkenan melepaskan tugas saya di eL-Zawa. Dengan proses seperti ini, saya berdoa tidak ada orang yang tersakiti dengan dipilihnya saya pada posisi sekalrang. Ini adalah sebuah anugerah yang harus saya syukuri. Saya tidak yakin bahwa saya punya skill istimewa. saya hanya orang biasa yang berusaha bekerja semaksimal mungkin sesuai kemampuan saya. Oleh sebab itu, amanah sebagai ketua jurusan yang umumnya diperebutkan harus saya jalankan dengan sebaik-baiknya agar kelak saya bisa memberikan warna baru kemajuan fakultas Syariah yang saya cintai. Semoga.

Category: | 2 Comments

WASHINGTON DC, UNI OF CHICAGO, AND SNOW

PESONA CHICAGO