Subscribe RSS

Rabu lalu, 27 Agustus 2014, saya kembali melakukan pekerjaan saya sebagai mediator. Kali ini, kasus yang saya paparkan adalah perceraian yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi yang masih belia. Pihak laki-laki, sebut saja Jame, 19, dan pihak perempuan, Nina, 18. Mereka sudah menikah sejak November 2013 dan sudah dikarunia satu anak umur 4 bulan. Mereka datang ke ruang mediasi dengan wajah tegang ditemani oleh neneknya Nina.

Pertama-tama, saya menyapa mereka dan menanyakan kabar. Kemudian saya menelaah surat permohonan cerai dari Jame dan konfirmasi tentang data yang tertulis di surat tersebut. Lalu saya minta Jame untuk bercerita tentang kemelut rumah tangganya yang belum genap satu tahun itu. Ia menuturkan bahwa istrinya, Nina, adalah tipe perempuan pencemburu. Ia sangat protektif dan terlalu mengatur waktunya. Ia tidak boleh sering keluar malam dan SMS-an dengan perempuan lain. Kali ini, perempuan yang dicemburui adalah Leli (nama samaran) yang bertempat tinggal di Tulung Agung. Jame mengakui bahwa ia sering kontak dengan Leli namun sebatas teman biasa. Hanya saja, perilaku Jame itu mengundang rasa benci yang sangat dalam di hati Nina. Nina merasa diduakan. Oleh sebab itu, Nina sempat mengusir Jame dari rumah dan tidak ingin meneruskan rumah tangganya dengan Jame.

Berikutnya, saya minta Nina untuk ganti bercerita. Dengan berurai air mata dan suara tinggi, menuturkan luka hatinya. Menurutnya, Jame adalah tipe lelaki yang egois, maunya menang sendiri, tidak bertanggung jawab, playboy, dan pemalas. Hal ini terbukti dengan tidak carenya Jame terhadap istri dan anaknya. Jame lebih suka keluyuran daripada membantu istrinya mengurus anak. Belum lagi, perilaku Jame yang banyak menghabiskan waktunya dengan menelepon atau SMS-an dengan perempuan lain. Hati Nina begitu remuk ketika Jame mengatakan bahwa Leli memang teman dekatnya. Oleh sebab itu, Nina sudah bulat untuk bercerai dengan Jame.

Dari perjalanan percakapan saya dengan kedua belah pihak, terlihat jelas bahwa  keduanya masih sangat labil dalam bersikap. Keduanya belum mempunyai rasa saling menghormati dan saling memahami tugas dan kewajiban masing-masing sebagai suami isteri.  Sifat ego masih dominan dan watak hura-hura belum hilang. Jame nampak terlihat sebagai pemuda yang cuek sedangkan Nina nampak sebagai pemudi yang emosinya meledak-ledak. Oleh sebab itu, ketika mereka mempunyai masalah, mereka belum dapat duduk bersama membicarakan persoalan yang mereka hadapi dengan kepala dingin.

Ketika saya telusuri lebih jauh, sebenarnya mereka menikah didasari oleh cinta. Namun, karena usianya yang masih belia, Jame usia 18 dan Nina 17 saat menikah, maka mereka belum mempunyai tameng yang kuat ketika mereka dibakar cemburu atau perilaku yang tidak mereka sukai. Kedewasaan berpikir belum mereka miliki secara sempurna.

Lalu, langkah apa saja yang saya sarankan?
Pertama, saya meminta mereka untuk saling memaafkan. Perilaku Jame dan Nina yang masih belum dewasa mengharuskan kedua mempunyai rentang toleransi yang lebar. Keduanya harus memahami bahwa di usia belia seperti mereka, godaan pihak ketiga sangat besar kemungkinannya untuk mengganggu stabilitas rumah tangga. Belum lagi ditambah dengan situasi ekonomi yang belum mapan. Pekerjaan serabutan yang dilakukan Jame dengan pendidikan SD sulit menghasilkan uang besar dalam satu waktu. Oleh sebab itu, Jame dan Nina harus memaklumi itu dan menumbuhkan rasa saling menerima sehingga akhirnya bisa saling memaafkan. Ketika pintu hati sudah terbuka, mereka bisa kembali merenda mimpi-mimpi mereka dalam berkeluarga sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Kedua, saya selalu menekankan untuk memperhatikan hak anak. Saya bahkan beberapa kali menanyakan apakah bayi yang digendong Nina itu buah hati mereka berdua. Hal itu penting mengingat usia perkawinan mereka yang belum genap setahun (masih 10 bulan) namun usia anaknya sudah empat bulan. Ketika saya meminta ketegasan tentang status anak itu, Jame mengaku bahwa bayi itu anaknya. Lalu, saya sampaikan bahwa anak yang tak bersalah itu semestinya tidak menanggung masalah yang mereka hadapi. Ia butuh kasih sayang dan punya hak menikmati hidup bersama kedua orang tuanya. Apalagi kelak ketika ia dewasa, ia butuh wali ayahnya. Oleh sebab itu, saya menyarankan Jame untuk segera mengurus akte kelahiran putrinya dan tetap memberikan nafkah semampunya.

Terakhir, saya  memastikan apakah kehendak untuk bercerai sudah bulat? Jame sudah yakin sedangkan Nina masih ragu. Dalam hati Nina, ia masih menyimpan cinta kepada Jame.Namun karena Jame tidak dapat memperlakukan Nina dengan baik, akhirnya Nina pun pasrah. Daripada ia sakit hati terus-menerus, ia pun memilih berpisah dengan Jame. Akhirnya, saya pun mengingatkan bahwa kedua masih sangat muda. Mereka suatu saat harus menikah. Kalau mereka sadar dan suatu saat kelak mereka menikah dengan orang yang belum tentu lebih baik, saya menyarankan mereka untuk tidak bercerai. Namun jika perceraian adalah jalan satu-satunya yang terbaik untuk mereka, saya menyarankan untuk menjadikan pengalaman berat sebagai sesuatu yang berharga. Mereka harus berhati-hati saat memilih pasangan baru mereka kelak. Dengan harapan, tidak ada lagi perceraian yang mereka alami nanti.

sumber foto: http://www.muvila.com/read/stefan-willian-dan-nasya-marcella-harus-bohong-akibat-pernikahan-dini

Category: | 0 Comments

Sejak hari kemarin, 13 Agustus 2014, saya kembali menekuni pekerjaan lama sebagai mediator. Sudah lebih dari satu tahun saya absen dari tugas mulia ini. Sejak pagi, saya sudah menata diri untuk bersiap-siap menuju kantor Pengadilan Agama Kab  Malang yang terletak di Jalan Panji 202, Kepanjen.  Hati saya sebenarnya senang karena akan bertemu dengan beragam klien yang butuh pendampingan.  Saya akan berperan sebagai sahabat yang siap sedia menjadi teman curhat tentang permasalahan rumah tangga yang mereka hadapi. Telinga harus lebar, bibir harus selalu menyungging senyuman, serta segenap perhatian harus tercurah untuk mereka sehingga benang kusut yang mereka miliki sedikit demi sedikit terurai. Tidak mudah memang, namun bagi saya profesi ini sangat menantang yang berbeda dengan profesi utama saya sebagai dosen. Kalau di kampus, saya dengan mudah bertemu dengan wajah-wajah semringah, penuh canda tawa, dan deru semangat. Namun di PA,  saya akan berjumpa dengan muka-muka sendu yang siap meneteskan air mata dan perdebatan dari hati-hati yang konfrontasi. Untungnya, saya bukan hakim atau pengacara yang harus memihak atau memenangkan salah satu  pihak. Saya justru memiliki misi mulia, yakni mendamaikan dua pihak yang berseteru. Saya harus berpikir keras namun tetap santun, hangat, dan bersahabat untuk mereka.

Salah satu kasus yang saya tangani adalah permasalahan gugat cerai yang dilayangkan oleh seorang wanita, sebut saja Mawar, yang usianya sekitar 35 tahun. Mawar ingin bercerai dari suaminya, anggap aja namanya Doni, 38 tahun, yang sudah satu tahun tidak memberikan nafkah baik lahir maupun batin. Menurut Mawar, suaminya sering membuat hatinya sedih karena Doni tidak bisa bersikap tegas ketika mereka menghadapi masalah.  Persoalan terakhir yang memicu konflik ini adalah tentang sikap Doni yang tidak memberikan dukungan kepada istrinya ketika Mawar dihakimi oleh ibu, kakak, dan adik Doni. Ketiga perempuan ini menuduh Mawar telah menghabiskan harta suaminya.  Hal ini terkait dengan kepulangan Doni dari Korea yang membawa uang 100 juta yang diberikan kepada istrinya.  Oleh Mawar, uang tersebut digunakan untuk memperbarui rumah, membeli mobil, membuat warung, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan sebagian dipinjamkan kepada orang lain.  Sayangnya, penggunaan uang tersebut tidak secara gamblang disampaikan kepada Doni. Dari sinilah muncul konflik yang terjadi sepanjang satu tahun terakhir ini.

Dalam diskusi dengan mereka, terlihat bahwa Doni sebenarnya tidak ingin berpisah dengan istrinya. Ia masih sayang kepada Mawar apalagi mereka dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan, hasil pernikahan mereka selama 13 tahun. Walaupun begitu, Doni sempat jengkel  ketika istrinya telah meninggalkan rumah ke suatu tempat yang tidak ia ketahui meskipun sebelum berangkat Mawar telah meminta ijin kepadanya. Ia sudah berusaha mencari informasi ke keluarga Mawar namun hasilnya nol. Tidak ada seorang pun yang mau memberitahu keberadaan istrinya. Setelah tiga bulan berlalu, Mawar ternyata diketahui tinggal di salah satu keluarganya di Kalipare. Doni pun sudah bernegosiasi agar istrinya kembali pulang ke rumah bersama di wilayah Sumberpucung.  Namun, rupanya Mawar sudah terlanjur sakit hati akibat perlakuan keluarga suami yang merendahkan derajat harga dirinya serta sudah menuduh dirinya menghambur-hamburkan harta suami. Apalagi, kakak dan adik iparnya sudah meminta Mawar untuk menghitung harta gono-gini yang selazimnya baru dibahas setelah mereka resmi bercerai.

Doni nampaknya tipe lelaki yang kurang bisa berkomunikasi secara lancar dan kurang bergaul. Akibatnya, ia cenderung diam dan membiarkan masalah semakin runyam dan membuat Mawar kian terpojok dan sudah tidak tahan menanggung beban psikologis. Apalagi, secara ekonomi, Doni sudah tidak bisa lagi diandalkan karena tidak pernah memberikan nafkah lahir apalagi batin kecuali hanya memberi uang jajan kepada kedua anaknya yang tinggal bersama Mawar.

Dalam proses mediasi ini, saya mencoba untuk memberikan beberapa solusi:
1. Memperbaiki pola komunikasi yang selama ini terputus.  Ketika suami dan istri tidak tinggal satu rumah, otomatis komunikasi tidak berjalan lancar. Ketika suami menelepon, sang istri biasanya enggan menjawab atau hanya menjawab sekenanya. Oleh sebab itu, mereka disarankan untuk bersedia membuka hati dan pikiran untuk kembali membicarakan masalah mereka berdua dengan pikiran dingin demi mencari solusi terbaik untuk mereka. Solusi itu tidak selalu berupa pencabutan gugatan akan tetapi relasi yang baik dan ikhlas antara suami dan istri dalam menjalani proses perceraian ini penting untuk dibangun.  Oleh sebab itu, diskusi intensif antara suami dan istri perlu dilaksanakan.

2. Mempererat silaturrahim antara istri dan keluarga suami. Pemicu permasalahan yang utama adalah renggangnya hubungan antara istri dan keluarga besar suami, terutama ibu, kakak, dan adiknya. Saran yang disampaikan adalah kesediaan sang istri rela mengurangi egonya dan datang/sungkem ke mertua dan saudara iparnya untuk meminta maaf lahir batin mumpung masih di suasana idul fitri. Kunjungan ini diharapkan  dapat meredakan ketegangan sekaligus mengklarifikasi kesalahpahaman di antara mereka.

3. Menimbang kepentingan anak. Kedua pihak disarankan untuk memperhatikan kepentingan anak, baik secara fisik maupun psikisnya. Pertumbuhan anak kemungkinan besar  tidak dapat maksimal ketika orang tuanya tidak bersatu. Dengan perceraian, kehidupan anak akan timpang dan watak anak akan cenderung rendah diri dan tertutup. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya gunjingan dan cercaan teman sebayanya dan pengalaman kurang menyenangkan saat figur orang tuanya tidak utuh. Anak tentunya sangat mendambakan hidup damai bersama orang tuanya dan mendapat kasih sayang serta contoh total dari mereka. Ketika orang tuanya berpisah, anak akan haus kasih sayang dan hilang figur panutan. Lebih buruk lagi, pengalaman perpisahan orang tuanya ini akan dia tiru kelak di kemudian hari ketika mereka menemukan jalan buntu saat berumah tangga. Ini merupakan rantai broken home yang seharusnya dihindari.

Dari diskusi panjang yang memakan waktu sekitar dua jam, diperoleh kesepakatan  bahwa keduanya ingin memperbaiki hubungan dan mencoba mengerti kondisi masing-masing. Mereka juga sepakat untuk menjalin kembali tali silaturrahim yang sempat koyak dan siap memperhatikan segala kepentingan anak-anak mereka. Namun, meskipun Doni sempat keberatan dengan perpisahan, akhirnya disepakati untuk melanjutkan perkara ke sidang pengadilan. Memang, proses mediasi tidak selalu sukses menghambat laju perkara, namun setidaknya ada pelajaran berharga yang mereka peroleh setelah berkomunikasi dua arah secara langsung dan terbuka. Hal ini diharapkan dapat membuat mereka berpikir kembali tentang rencana perceraian mereka dan siapa tahu mereka akhirnya mencabut gugatannya beberapa waktu mendatang. Semoga

Category: | 0 Comments

Halo sobat! Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalaman unikku di bulan ramadhan ini. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa namun bagiku ada beberapa kegiatan yang cukup menyita konsentrasiku.

Pertama, aku punya tugas untuk untuk mendampingi mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis masjid. Lokasi binaan tahun ini adalah wilayah kecamatan Sumberpucung yang berjarak 30 km dari kampus. Kali ini masjid yang menjadi basecamp mahasiswa adalah masjid Baitunnur dan masjid Barakatul Qur’an. Dua masjid ini belum pernah aku kunjungi sebelumnya meski dulu pernah ditempati mahasiswa untuk kegiatan serupa. Masalah pertama yang harus kuselesaikan adalah adanya penolakan dari pihak takmir masjid Baitunnur karena mereka kecewa dengan pengabdian mahasiswa tahun lalu. Wah, ilmu mediasi harus segera kuterapkan nih… Aku langsung bertandang ke rumah takmir seminggu sebelum mahasiswa turun. Aku harus menjelaskan duduk perkaranya sehingga mahasiswa tahun ini tidak serta merta menanggung sikap negatif yang disebarkan kakak tingkatnya. Awalnya diskusi cukup alot karena pihak takmir tersinggung dengan sikap mahasiswa ditambah lagi keluhan pemilik kos yang kecewa dengan mahasiswa. Namun akhirnya, diperoleh kesepakatan bahwa takmir akan mau menerima jika mahasiswa berjanji akan berbuat baik selama di masyarakat dan mahasiswa harus mau menyerahkan laporan pengabdian masyarakat tahun lalu. Rupanya pihak takmir merasa dibohongi oleh mahasiswa tahun kemarin dan sakit hati dengan sikap-sikap mahasiswa yang kurang menghargai kearifan lokal. Akhirnya, aku bernegosiasi dengan pihak penyelenggara untuk menyiapkan laporan kegiatan tahun lalu. Alhamdulillah, setelah semua permintaan dipenuhi, kegiatan pengabdian di masyarakat sekitar masjid Baitunnur dapat terlaksana.    

Kedua, ada pengalaman unik seperti pejabat untuk meletakkan batu pertama pembangunan wisata religi di sekitar masjid Barakatul Qur’an. Untuk masjid kedua ini aku lebih tertantang karena mahasiswa bimbinganku diminta oleh pengurus masjid untuk menginisiasi pembangunan situs wisata religi pertama di Sumberpucung. Tentunya, masalah utama yang harus dipecahkan adalah pendanaan. Akhirnya, mahasiswa pun bersibuk ria untuk menyebar proposal demi mengumpulkan dana pembangunan makam pendiri masjid sekaligus pesantren Barakatul Qur’an. Alhamdulillah, berkat bantuan segenap pihak termasuk peran besar ahli waris, peletakan batu pertama pembangunan tempat wisata religi itu sukses dilaksanakan pada 17 Juli lalu. Selain diberi kesempatan untuk meletakkan batu pertama bersama sejumlah tokoh, aku didapuk sebagai ‘kiyai’ dadakan untuk memberikan maudhah hasanah jelang buka puasa sekitar 30 menit. Waw, sungguh pengalaman yang tak terlupakan…

Ketiga, pengalaman unik lain yang kukenyam di ramadhan kali ini adalah jadwal tarawih dan ceramah subuh di masjid besar. Di desa tempatku tinggal telah dibangun masjid besar dan gagah. Selama ini, aku jarang ke masjid itu kecuali sesekali shalat jumat karena aku lebih fokus mengurus mushalla dekat rumahku. Di bulan ramadhan, jadwalku biasanya cukup padat untuk kegiatan mushalla. Nah, mungkin karena dianggap sudah bisa aktif di mushalla, kini aku diberi jadwal untuk mengisi pengajian subuh di masjid besar. Aku agak sedikit canggung karena di desaku telah terkumpul para kiyai dan ustad yang bermukim di sekitar pondok pesantren. Aku merasa belum pantas untuk duduk sederet dengan mereka. Namun, dengan terpaksa, aku harus berani mengemban amanat tersebut dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah, semua bisa berjalan lancar, setidaknya tidak mengecewakanlah!! Hehehe... Terakhir, ada kejutan yang sempat membuatku geleng-geleng kepala. Di salah satu kesempatan pengajian subuh, aku dipanggil oleh ketua takmir. Aku diminta untuk menjadi imam dan khatib shalat idul fitri tahun ini di masjid besar itu.  Benarkah? Aku terkejut mendengarnya. Selama ini yang aku tahu, petugas shalat id biasanya berasal dari luar daerah bahkan luar kota yang berlatar belakang kiayi besar atau ustad ternama. Lho kok aku? Ini pasti ada yang salah nih… tapi, untungnya aku punya jawaban jitu, bahwa aku tidak bisa memenuhi harapan ketua takmir karena aku sudah beli tiket mudik ke Jakarta dan berlebaran di sana. Nah, hatiku lega meskipun aku tahu alasan ini membuat takmir kecewa. Untuk mengobati kekecewaan itu, aku berjanji untuk siap diberi tugas di shalat idul adha nanti atau idul fitri tahun depan. Wah, aku harus siap-siap nih…

Demikian, sekelumit ceritaku sebagai pengobat rindu hatiku untuk mengisi blog ini…

Selamat menantikan Idul Fitri…Mohon maaf lahir batin…

Category: | 0 Comments

Salam, Sobat semua...

Sebulan yang lalu, saya diberi amanah oleh UIN Malang untuk mendampingi Dekan Fakultas Syariah dalam rangka menjalin kerjasama dengan Faculty of Arts, McGill University, Canada. Alhamdulillah, ada beberapa hasil kesepakatan yang dicapai. 

1.      Visiting Scholar/Guest Lecturer
Program ini akan memberikan kemudahan bagi UIN Malang untuk mengadakan kegiatan seminar internasional dengan model seperti yang sudah dilakukan dengan Prof Buckley. Lebih lanjut,  kedutaan besar Canada akan membantu menfasilitasi program kuliah tamu ini.
2.      Joint Research
Penelitian kolaboratif ini akan melibatkan dua dosen atau lebih dari UIN  Malang dan McGill. Mereka bisa berkolaborasi untuk mengadakan penelitian yang menjadi konsentrasi bersama, misalnya agama dan budaya. Kedua PT mengirimkan peneliti terbaiknya untuk saling berkunjung. UIN bertanggung jawab untuk menanggung perjalanan ke Kanada sedangkan McGill akan menyiapkan akomodasi selama di Kanada.
3.      Internship/Proof-Reader
McGill siap untuk mengirimkan mahasiswa S1nya yang terpilih untuk magang di UIN Malang selama 3 bulan selama musim panas.  UIN Malang akan segera mengajukan kualifikasi yang dibutuhkan sehingga mereka segera menyeleksi mahasiswanya yang memenuhi standar itu.
4.      Doctoral Program at McGill for UIN Lecturers, All Departments
McGill siap menfasilitasi dosen UIN yang masih S2  untuk studi lanjut S3 di McGill. Mereka siap memberikan beasiswa selama 3-4 tahun yang akan diperoleh dari kolega McGill. 
5.      Editorial Board for International Journal
McGill siap menjadi anggota editoral board  untuk jurnal internasional UIN Malang. 
6.      Sabbatical Leave
Dosen UIN Malang dapat melakukan sabbatical leave di Kanada. McGill siap membantu administrasi yang dibutuhkan.

Wow, keren banget....!!!

Category: | 0 Comments

Topik seputar calon presiden kian memanas akhir-akhir ini. Pembicaraan tentang capres potensial sekaligus cawapres menghiasai media massa. Partai-partai papan atas terus bergerilya mencari dukungan, termasuk dari partai Islam. Sebagai salah satu bentuk partisipasi aktif menegakkan demokrasi Indonesia, hari ini, 16 Mei 2014, kampus UIN Maliki Malang menggelar kuliah tamu bertajuk “Pemilu dan Peran Partai Islam” dengan menghadirkan pengamat politik dari Monash University, Australia. Acara dilaksanakan di lantai 5 gedung Ir Soekarno.
Dalam pemaparannya, Barton mengungkapkan data-data seputar pemilu dari tahun 1999 hingga 2014. Menurutnya dinamika partai politik begitu cair meskipun ada beberapa partai besar yang tetap mendapat tempat di hati para pemilih. PDI-P yang berhasil menjadi juara pada tahun 1999 tidak lepas dari pamor Megawati yang dianggap teraniaya semasa pemerintahan Soeharto. Tahun 2004, Golkar sukses menggeser dominasi PDI-P meskipun tidak berhasil menjadikan kadernya menjadi presiden. Selanjutnya, Partai Demokrat yang tergolong partai baru meraih suara tertinggi pada tahun 2009 yang sekaligus menjadi masa keemasannya. Sayangnya, pasca banyaknya kasus korupsi, partai besutan SBY ini tak mampu bicara banyak pada pemilu 2014. Semantara itu, PDI-P yang diprediksi oleh berbagai pihak akan menjadi juara  terbukti sukses meraup suara terbanyak.  Sayangnya Jokowi effect belum mampu mendongkrak perolehan suara secara signifikan.
Sekarang, ketika poros capres mengerucut kepada dua kandidat: Jokowi dan Prabowo, siapa yang kuat? Menurut Barton, kedua tokoh ini mempunyai kekuatan yang hampir berimbang. Jokowi yang merupakan mantan walikota Solo dan sebagai gubernur DKI jakarta sudah cukup lama menjadi media darling. Hampir setiap sepak terjangnya diliput oleh media masa, dalam mapun luar negeri. Di sisi lain, Prabowo yang selama kampanye memberikan kesan tokoh tegas berhasil meyakinkan publik dengan perolehan suara tahun ini meningkat drastis. Masyarakat  menunggu gebrakannya sebagai antitesis dari SBY yang cenderung peragu. Lalu siapa yang kemungkinan unggul?
Dari kalkulasi perolehan legislatif, Barton menilai Jokowi akan meraih 49% suara karena berkoalisi dengan Nasdem, PKB, dan sebentar lagi Golkar. Sebaliknya, Probowo nampaknya hanya mampu mendulang suara sekitar 32 % sebagai konsekuensi berkoalisisnya tokoh partai berlambang kepala burung garuda itu dengan PAN, PKS, dan PPP. Kalaulah demokrat juga gabung dengan Probowo, jumlahnya masih sekitar 42% yang masih kalah dengan Jokowi.
Dari sisi kepemimpinan, kedua tokoh ini memiliki reputasi yang cukup bagus. Jokowi memiliki kemampuan memimpin ala wong cilik sedangkan Probowo lebih terkenal dengan prestasi militernya. Namun, meurut Barton, masyarakat tidak akan lupa dengan track record masing-masing. Kali ini, Barton menegaskan bahwa Jokowi sementara ini unggul 1-0  atas Prabowo karena Jokowi dianggap masih bersih dari kesalahan fatal selama bekerja, baik di Solo maupun di Jakarta. Sementara itu, Prabowo masih menyisakan kenangan buruk saat dia bertugas di militer pada zaman Soeharto. Penculikan aktifis, Tragedi Trisakti, dan Tragedi Semanggi  sering dikait-kaitkan dengan Prabowo. Alhasil, noda sejarah ini masih menyulitkan Prabowo bersaing secara bebas dengan Jokowi.
Masalah lain yang disoroti oleh Barton adalah soal temperamen. Hal ini dia ungkapkan ketika ditanya oleh peserta tentang preferensi asing terhadap presiden Indonesia mendatang. Bagi dia, asing akan menerima siapa pun yang dipilih oleh masyarakat Indonesia. Namun, ia yakin, negara asing termasuk Australia menginginkan sosok yang lebih tenang dalam menghadapi situasi genting. Prabowo bisa saja belajar banyak tentang kekurangan di masa lalu untuk menjadi lebih arif. Namun, trauma yang pernah disaksikan dunia pada awal reformasi nampaknya masih sangat membekas sehingga negara asing masih menyimpan kekhawatiran kalau-kalau ketegasan Prabowo berujung pada kekerasan. Adapun Jokowi, bagi Barton, adalah sosok yang tenang dan berperilaku “wong cilik”. Wong cilik menurut dia belakangan ini terbukti sukses menarik simpati masyarakat karena sosok seperti ini tidak menjaga jarak dengan masyarakat. Alhasil, untuk poin ini Jokowi kembali unggul dibanding Prabowo.
Wah, sepertinya Barton secara halus telah menjadi juru kampanye Jokowi secara gratis di UIN Malang. Bagaimana menurut Anda? Silakan tanyakan pada hati nurani masing-masing. Semoga presiden kita, siapa pun nanti, akan membawa kemashatan bagi bangsa dan negara tercinta. Amin.

Category: | 0 Comments

WASHINGTON DC, UNI OF CHICAGO, AND SNOW

PESONA CHICAGO