Tampilkan postingan dengan label REPORTASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REPORTASE. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2015

PASUTRI LANJUT USIA BERCERAI, MENGAPA?

Kali ini saya akan bercerita tentang salah satu kasus mediasi yang saya tangani kemarin, 25 Maret 2015. Datang ke ruang saya sepasangan suami istri lanjut usia yang ingin bercerai untuk kali yang  ketiga. Awalnya saya kaget namun saya tahan perasaan saya dengan meminta mereka bercerita kronologi kisah rumah tangga mereka. Saya sangat menyayangkan mereka harus menghadapi masalah keluarga untuk yang kesekian kali.
Dari uraian yang saya tangkap, sang suami, sebut saja Adang, sudah berusia 71 tahun dan sudah pernah menikah dua kali. Kedua isterinya sudah meninggal.  Adapun isterinya, anggap saja Dewi, berusia 54 tahun dan sudah pernah bercerai dua kali di pengadilan. Mereka ternyata baru menikah sembilan bulan yang lalu. Sayangnya, keduanya belum pernah tinggal satu kamar meskipun mereka bertetangga. Otomatis, mereka tidak pernah berhubungan layaknya suami isteri. Oleh sebab itu, Adang mengajukan permohonan cerai ke Pengadilan Agama Kab Malang di Kepanjen.

Awalnya, Adang tidak terlalu tertarik kepada Dewi. Ia bahkan sudah memiliki wanita yang menjadi calon istri ketiganya. Ia sudah hampir menikahi perempuan itu. Namun,  karena Dewi yang tinggal dekat dengan rumahnya sering memberikan perhatian dan mendorong Adang untuk menikahinya, maka Adang memutus hubungan dengan perempuan itu dan menikah dengan Dewi. Untuk biaya pengurusan pernikahannya, Adang yang pekerjaan sehari-hari sebagai buruh tani dipinjami oleh Dewi yang bekerja sebagai penjual kain. Pinjaman ini baru dilunasi Adang satu hari sebelum sidang pengadilan agama Kepanjen digelar.

Sebagai mediator, saya menyarankan agar mereka rukun kembali. Saya memberikan usulan agar mereka segera introspeksi diri atas masalah yang mereka hadapi. Jika dilihat dari kebutuhan biologis, mereka masih sama-sama menginginkan untuk saling bermesraan. Namun, karena sekian lama tidak ada kontak fisik, Adang sudah tidak punya keinginan lagi mendekati Dewi. Padahal, Dewi siap melayani Adang kapan pun. Adang sangat kesal karena Dewi selalu membawa keponakannya yang baru duduk di kelas II SD tidur bersamanya. Kontak fisik pun sangat jarang mereka lakukan.  Jangankan bermesraan, sekedar jabat tangan pun tidak mereka lakukan. Oleh sebab itu, saya sempat memegang tangan mereka, juga meminta mereka berpelukan layaknya suami isteri. Mereka  mau melakukan walaupun sepertinya hambar tidak bermakna. Akhirnya, mereka pun sepakat untuk melanjutkan perkaranya ke sidang selanjutnya dan ingin berpisah secara baik-baik.

Apa hikmah dari peristiwa ini? Saya mendapat pelajaran berharga bahwa kedekatan fisik antara suami isteri merupakan salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga. Apapun alasannya, baik kesibukan, kelelahan, atau usia, tidak boleh menyebabkan renggangnya hubungan. Kontak fisik, seperti jabat tangan, gandeng tangan, dan pelukan, adalah sarana untuk mendekatkan emosi antara kedua belah pihak.

Bahkan, ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa kontak fisik suami istri dalam bentuk apapun dapat memperpanjang usia. Menikah bukan hanya sekedar status, namun di sana ada hak dan kewajiban, termasuk di dalamnya kontak fisik. Sangatlah tidak menarik ketika status pernikahan hanya sebagai tameng bahwa seseorang sudah terikat dengan seseorang walaupun usia sudah senja. Pernikahan adalah hubungan suci yang seharusnya dibina agar tetap merekah ikatan cinta yang telah ditahbiskan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita yang ingin melanggengkan hubungan kita dengan pasangan satu jiwa. Amin

Juga dipublikasikan via Kompasiana: http://sosbud.kompasiana.com/2015/03/25/pasutri-lanjut-usia-bercerai-mengapa-708904.html

Jumat, 16 Mei 2014

Greg Barton: Jokowi Unggul di Mata Asing

Topik seputar calon presiden kian memanas akhir-akhir ini. Pembicaraan tentang capres potensial sekaligus cawapres menghiasai media massa. Partai-partai papan atas terus bergerilya mencari dukungan, termasuk dari partai Islam. Sebagai salah satu bentuk partisipasi aktif menegakkan demokrasi Indonesia, hari ini, 16 Mei 2014, kampus UIN Maliki Malang menggelar kuliah tamu bertajuk “Pemilu dan Peran Partai Islam” dengan menghadirkan pengamat politik dari Monash University, Australia. Acara dilaksanakan di lantai 5 gedung Ir Soekarno.
Dalam pemaparannya, Barton mengungkapkan data-data seputar pemilu dari tahun 1999 hingga 2014. Menurutnya dinamika partai politik begitu cair meskipun ada beberapa partai besar yang tetap mendapat tempat di hati para pemilih. PDI-P yang berhasil menjadi juara pada tahun 1999 tidak lepas dari pamor Megawati yang dianggap teraniaya semasa pemerintahan Soeharto. Tahun 2004, Golkar sukses menggeser dominasi PDI-P meskipun tidak berhasil menjadikan kadernya menjadi presiden. Selanjutnya, Partai Demokrat yang tergolong partai baru meraih suara tertinggi pada tahun 2009 yang sekaligus menjadi masa keemasannya. Sayangnya, pasca banyaknya kasus korupsi, partai besutan SBY ini tak mampu bicara banyak pada pemilu 2014. Semantara itu, PDI-P yang diprediksi oleh berbagai pihak akan menjadi juara  terbukti sukses meraup suara terbanyak.  Sayangnya Jokowi effect belum mampu mendongkrak perolehan suara secara signifikan.
Sekarang, ketika poros capres mengerucut kepada dua kandidat: Jokowi dan Prabowo, siapa yang kuat? Menurut Barton, kedua tokoh ini mempunyai kekuatan yang hampir berimbang. Jokowi yang merupakan mantan walikota Solo dan sebagai gubernur DKI jakarta sudah cukup lama menjadi media darling. Hampir setiap sepak terjangnya diliput oleh media masa, dalam mapun luar negeri. Di sisi lain, Prabowo yang selama kampanye memberikan kesan tokoh tegas berhasil meyakinkan publik dengan perolehan suara tahun ini meningkat drastis. Masyarakat  menunggu gebrakannya sebagai antitesis dari SBY yang cenderung peragu. Lalu siapa yang kemungkinan unggul?
Dari kalkulasi perolehan legislatif, Barton menilai Jokowi akan meraih 49% suara karena berkoalisi dengan Nasdem, PKB, dan sebentar lagi Golkar. Sebaliknya, Probowo nampaknya hanya mampu mendulang suara sekitar 32 % sebagai konsekuensi berkoalisisnya tokoh partai berlambang kepala burung garuda itu dengan PAN, PKS, dan PPP. Kalaulah demokrat juga gabung dengan Probowo, jumlahnya masih sekitar 42% yang masih kalah dengan Jokowi.
Dari sisi kepemimpinan, kedua tokoh ini memiliki reputasi yang cukup bagus. Jokowi memiliki kemampuan memimpin ala wong cilik sedangkan Probowo lebih terkenal dengan prestasi militernya. Namun, meurut Barton, masyarakat tidak akan lupa dengan track record masing-masing. Kali ini, Barton menegaskan bahwa Jokowi sementara ini unggul 1-0  atas Prabowo karena Jokowi dianggap masih bersih dari kesalahan fatal selama bekerja, baik di Solo maupun di Jakarta. Sementara itu, Prabowo masih menyisakan kenangan buruk saat dia bertugas di militer pada zaman Soeharto. Penculikan aktifis, Tragedi Trisakti, dan Tragedi Semanggi  sering dikait-kaitkan dengan Prabowo. Alhasil, noda sejarah ini masih menyulitkan Prabowo bersaing secara bebas dengan Jokowi.
Masalah lain yang disoroti oleh Barton adalah soal temperamen. Hal ini dia ungkapkan ketika ditanya oleh peserta tentang preferensi asing terhadap presiden Indonesia mendatang. Bagi dia, asing akan menerima siapa pun yang dipilih oleh masyarakat Indonesia. Namun, ia yakin, negara asing termasuk Australia menginginkan sosok yang lebih tenang dalam menghadapi situasi genting. Prabowo bisa saja belajar banyak tentang kekurangan di masa lalu untuk menjadi lebih arif. Namun, trauma yang pernah disaksikan dunia pada awal reformasi nampaknya masih sangat membekas sehingga negara asing masih menyimpan kekhawatiran kalau-kalau ketegasan Prabowo berujung pada kekerasan. Adapun Jokowi, bagi Barton, adalah sosok yang tenang dan berperilaku “wong cilik”. Wong cilik menurut dia belakangan ini terbukti sukses menarik simpati masyarakat karena sosok seperti ini tidak menjaga jarak dengan masyarakat. Alhasil, untuk poin ini Jokowi kembali unggul dibanding Prabowo.
Wah, sepertinya Barton secara halus telah menjadi juru kampanye Jokowi secara gratis di UIN Malang. Bagaimana menurut Anda? Silakan tanyakan pada hati nurani masing-masing. Semoga presiden kita, siapa pun nanti, akan membawa kemashatan bagi bangsa dan negara tercinta. Amin.

UIN Malang Nglurug ke Kejari

Hari Rabu, 14 Mei 2014, keluarga besar UIN Maliki Malang menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor kejaksaan negeri Malang. Aksi ini diawali dengan pengumpulan tanda tangan di atas kain putih sepanjang puluhan meter bertuliskan “Save Our Campus, Save Our Teacher, Imam Suprayogo.” Penggalangan tanda tangan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Prof Imam yang kini disebut sebagai tersangka oleh kejaksaan Malang merupakan sosok yang sangat dicintai. Kiprahnya tak dipungkiri telah meningkatkan martabat kampus Islam yang selama ini kurang berwibawa. UIN Malang yang kini bertengger salah satu kampus favorit adalah sebuah bukti kegigihan dan kerja keras beliau selama 16 tahun memimpin kampus.

Mahasiswa, dosen, dan karyawan dengan semangat berbondong-bondong memadati jalan Raden Intan Malang. Mereka mengendarai bus, mobil, angkot, motor, hingga ambulan agar bisa ikut serta berunjuk rasa. Sesampai di kantor kejaksaan,  massa yang dikomando oleh ketua unit kemahasiswaan dan para kyai makhad duduk bersila secara tertib dan rapi sambil melantunkan shalawat nabi. Selang beberapa waktu, Sesepuh makhad, Kyai Chamzawi, memimpin doa istighatsah bersama. Istighatsah berlangsung dengan khusyu’ meskipun di bawah sinar matahari yang mulai panas. Para polisi yang sejak awal  bertanggung jawab soal keamanan aksi ini setidaknya dapat sejenak bersantai sambil tetap siaga.

Setelah  istighatsah selesai dan sedang dibacakan doa penutup, tiba-tiba massa melihat Prof Imam keluar dari gedung kejaksaan sekitar pukul 10.30 WIB. Spontan,  alunan lagu thala’al badru berkumandang. Suasana semakin haru ketika prof Imam mendatangi massa sambil bercengkrama. Banyak dari mereka yang tak sempat berjabat tangan dengan beliau. Tak lama kemudian, beliau naik mobil dan keluar area kejaksaan. Para pengunjuk rasa terlihat bahagia bahwa pahlawan mereka tetap sehat dan tegar menghadapi cobaan ini. Unjuk rasa selesai dan massa pun membubarkan diri untuk kembali beraktifitas di kampus.

Rabu, 14 Mei 2014

SELAMATKAN PAHLAWAN KAMI, YA ALLAH....!!!

Beberapa hari terakhir ini, saya dan kawan-kawan di kampus UIN Maliki Malang merasakan kesedihan mendalam. Hal ini disebabkan oleh adanya kabar penetapan pahlawan kami, Prof Imam Suprayogo, sebagai tersangka kasus pembelian tanah di Tlekung, Batu. Berita ini sungguh menyentak hati sekaligus membuat kami prihatin. Mengapa orang sebaik Prof Imam harus mendapat ujian ini? Sungguh, perjuangan selalu memerlukan pengorbanan yang tak terhingga, bahkan terkadang jiwa pun harus siap berpisah demi menegakkan kebenaran.

Prof Imam adalah sosok pahlawan bagi saya. Beliau telah meletakkan sendi-sendi pendidikan Islami yang maju dan berwibawa. UIN Malang sebagai laboratorium beliau telah menunjukkan hasil yang mencengangkan. Kampus yang dahulu sederhana dan tak diperhitungkan kini telah menjelma sebagai kampus elit yang disegani. Kampus yang dahulu sering dijuluki kampus “SD Impres” karena bangunannya yang tergolong biasa sekarang telah menjadi kampus dengan gedung megah menjulang. Sungguh, kebanggaan itu tidak hanya bagi kami yang bekerja di dalamnya namun telah menyebar ke seantero negeri sebagai kampus Islam representatif yang layak dipersandingkan dengan kampus-kampus unggulan. Prestasi UIN Maliki Malang sebagai kampus terakreditasi A, BLU terbaik,  dan kampus PTAI No 1 versi webomatrik menunjukkan bahwa UIN Malang bukan sembarang kampus.

Saya memiliki banyak kenangan bersama beliau. Salah satu teladan yang beliau torehkan adalah semangat berjuang tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih. Beliau tidak pernah memikirkan tentang keuntungan yang akan diterima tetapi justru apa yang bisa diberikan untuk pengembangan kampus. Suatu hari beliau memanggil saya ke ruang kerjanya. Saya sempat khawatir jangan-jangan ada tindakan saya yang kurang tepat. Ternyata, sesampai di ruangnya, beliau tersenyum sambil menyerahkan sejumlah uang yang harus disalurkan untuk kaum dhuafa melalui eL-Zawa, lembaga zakat kampus. Beliau selalu memberikan seluruh tunjangan rektornya kepada eL-Zawa untuk digunakan sebagai dana pengembangan masyarakat secara produktif. Pengalaman ini tentu mengukuhkan bahwa beliau tidak terlalu peduli dengan penghasilan yang seharusnya beliau terima. Kebiasaan beliau semacam ini sudah mentradisi sejak dahulu sebelum kampus UIN Malang maju. Kini “sunnah” beliau telah ditiru oleh rektor UIN Malang sekarang prof Mudji yang merelakan zakatnya langsung dipotongkan dari gaji.

Di saat beliau diuji dengan tuduhan korupsi, saya adalah salah satu orang yang tidak percaya kalau beliau terlibat dalam kasus tersebut. Mark up harga tanah yang dilakukan oleh mitra pembebasan tanah tidak memberikan keuntungan sedikit pun bagi beliau. Beliau sering menyatakan bahwa tak sepeser pun dana jual beli tanah itu mengalir ke rekeningnya. Beliau saat itu lebih fokus untuk mencari dana pembangunan kampus III, bukan pada pembebasan lahan yang memang sudah diserahkan teknisnya kepada timnya. Kesalahan prosedur dan korupsi yang dilakukan oleh makelar tanah seharusnya tidak disangkutpautkan kepada beliau yang saat itu sebagai rektor.

Akhirnya, saya sangat percaya, kebenaran pasti akan terungkap. Kalau pahlawan kami dizalimi, sungguh kami akan membela sekuat tenaga. Kami juga sangat yakin, Allah SWT yang Maha Adil akan memberikan bantuan terbaik untuk menyelamatkan hamba yang dicintai umat  di saat yang tepat dengan cara-Nya sendiri tanpa perlu bantuan siapa pun. Semoga ujian beliau segera berakhir dengan manis. Amin.

Senin, 01 Agustus 2011

RAMADHAN TAHUN LALU: SEBUAH KENANGAN PAHIT

Hari ini aku puasa lagi. Ramadhan telah datang menghampiri. Aku harap aku bisa menjalankan ibadah puasa dengan penuh bahagia seperti tahun-tahun sebelumnya, kecuali tahun kemarin. Bila ingat puasa tahun lalu, aku ingin menangis mengenang betapa sedihnya hatiku saat itu. Hidup sebatangkara di negeri orang di bulan puasa adalah salah satu pengalaman paling pahit dalam hidupku. Betapa tidak! Jiwaku benar-benar kering tanpa suasana syahdu seperti biasa yang kurasakan.

Sebenarnya, aku patut berbangga bahwa aku punya kesempatan menginjakkan kaki di tanah Uwak Sam selama beberapa bulan. Perjuanganku untuk bisa lolos seleksi penerima beasiswa riset tidaklah mudah. Serentetan tahapan panjang telah berhasil kulalui hingga aku harus rela berpisah dengan keluarga mungilku demi masa depanku yang semoga lebih cerah. Lelehan air mata dan cucuran keringat aku abaikan agar aku bisa mengenyam secarik pengalaman hidup di kampung Obama. Tetapi apa yang terjadi? Okelah, banyak pengalaman berharga bagi keberlangsungan karir akademikku ke depan. Aku dapat mengakses sumber-sumber pengetahuan yang melimpah-ruah dan mengakses sederet pakar kenamaan yang selama ini hanya kukenal lewat dunia maya. Namun, ada satu bagian hidupku yang hilang, yakni kedamaian hati di bulan suci. Mengapa demikian?

Aku berangkat ke Amerika di akhir bulan Juni. Waktu itu aku harus mengikuti pembekalan budaya di New York. Saat keberangkatan, aku sendirian. Tak ada teman untuk berbagi cerita atau sekedar diskusi tentang rute penerbangan yang harus kutempuh. Tekad bulatku untuk terbang mengitari separuh bumi itu telah membuatku tegar. Alhamdulillah, aku sampai dengan selamat tanpa halangan yan berarti. Setiba di New York, aku bagai anak kecil yang dibuang di hutan belantara. Di hari-hari pertama, aku tak punya kawan Indonesia yang mendampingi. Otomatis, aku harus berjibaku untuk mempertahankan hidup di tengah budaya yang sangat asing.

Setelah sebulan penuh di New York, di awal Agustus aku terbang lagi ke Iowa, sebuah kota kecil yang berada di dekat Chicago, untuk melakukan riset. Di sini aku mulai merasakan hidup yang kian terjal. Lagi-lagi aku kesulitan untuk mengakses kawan-kawan sebangsaku. Untungnya, beberapa saat kemudian, aku kenal dengan Kang Eri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Iowa. Aku banyak membebani dia untuk urusan-urusan kecil, seperti mengantar ke pasar dan menjemputku untuk shalat jumat. Tetapi, karena kesibukan kang Eri yang luar biasa, aku tak bisa mengaksesnya setiap saat. Paling banter, satu minggu cuma sekali. Alhasil, hari-hariku tetap sendirian menjalani hidup tanpa teman.

Saat bulan puasa tiba, suhu di Amerika sedang panas-panasnya. Sengatan matahari harus kurasakan berjam-jam lebih lama ketimbang waktu normal di tanah air. Waktu sahur adalah pukul 02.00 dan waktu buka adalah pukul 08.30. Sungguh waktu puasa terpanjang dalam sejarah hidupku. Selain itu, aku tak melihat sedikitpun suasana gemuruh di bulan suci itu. Seluruh restoran buka setiap saat dan orang-orang menikmati berbagai hidangan makanan lezat dan minuman segar tanpa perasan risih. Aku hanya bisa menelan ludah bila menyaksikan pemandangan yang sedikit aneh itu. Saat maghrib tiba, tak ada kumandang azan yang kudengar. Aku hanya mengandalkan jadwal waktu shalat yang kuunduh dari situs Islamic Finder. Terpaksa, aku bunyikan suara azan dari ponselku untuk menemaniku saat berbuka. Makan sendiri dengan menu seadanya menambah haru dalam hatiku. Hal ini jelas berbeda dengan suasana puasa di kampung halamanku. Aku dapat menikmati hidangan spesial buatan istriku dan dapat bercengkerama dengan kedua balitaku. Aku bisa terawih di mushalla dekat rumah bersama kawan-kawanku. Berbeda dengan itu, di Iowa, untuk ke masjid saja aku harus menempuh jarak satu jam perjalanan dengan mobilnya Kang Eri. Tanpa itu, aku tak bisa ke sana karena bis umum tidak melewati jalur depan masjid. Alhasil, aku tak pernah tawarih ke masjid. Selain jauh, waktu Isya adalah pukul 22.30 sehingga tak memungkinkan untuk ke sana. Akankah aku mampu melewati puasa sebulan penuh? Tak ada pilihan lain. Aku harus tegar melewati hari-hari sulit di negeri orang.

Puncak kesedihanku adalah saat malam takbiran. Adakah takbiran keliling di Amerika? Itu adalah hal yang mustahil alias hil yang mustahal. Jangankan takbir keliling, mendengar takbiran saja aku tak bisa. Suasana kota kecil Iowa dengan penduduk mayoritas non-Muslim mengharuskanku menahan perasaan. Malam Idul Fitri tak berbeda dengan malam-malam biasanya. Aku hanya bisa merayakan hari kemenangan itu sendirian. Ya, sendirian di apartemen yang sunyi. Lagi-lagi, untuk mengusir kesepian, aku buka laptop dan kuperdengarkan takbiran dari situs youtube. Bukannya senang, aku malah menangis sejadi-jadinya. Oalah, nasib-nasib! Betapa tersiksanya hatiku.

Saat shalat Id, aku tak lagi menumpang mobil kang Eri. Aku dengar kabar bahwa shalat Id akan dilaksanakan di sebuah aula hotel di dekat kampusku. Aku hanya butuh waktu 30 menit jalan kaki ke “lapangan” instan itu. Di sana, aku berharap bisa bertemu Kang Eri, kawan satu-satunya yang bisa menjadi pelipur lara. Tapi apa yang terjadi? Aku tak bisa mengakses kang Eri di tengah kerumunan orang-orang Arab yang memenuhi aula. Apalagi, sehari sebelumnya, Kang Eri kurang enak badan sehingga kemungkinan ia tidak bisa hadir di sana. Praktis aku melewati hari spesialku sendirian. Duh, aku sangat iri dengan beberapa orang yang bersalaman dan berangkulan akrab seusai shalat id. Kali ini, aku tak bisa lagi menahan derai air mataku. Gelak tawa bahagia mereka menambah kepedihanku. Aku tutup mukaku yang sembab sambil pulang ke rumah. Ah, ramadhan itu benar-benar sepenggal hidupku yang tak pernah kulupakan.

Dari pengalaman pahit itu, aku bisa menghargai betapa nikmatnya menjalani ibadah puasa di kampung halaman. Kehangatan keluarga dan handai tolan terasa sangat berharga dalam mendukung pelaksanaan puasa. Tahun ini, aku sudah kembali di tanah air. Aku akan lakukan segala cara untuk balas dendam sebagai ganti tahun lalu yang mengharubiru.

Sabtu, 30 Juli 2011

PULUHAN JUTA "SAWERAN" DI MAKAM GUS DUR

Meskipun saya tinggal di Jawa Timur, bukan berarti saya punya kesempatan awal untuk berziarah ke makam Gus Dur. Paling banter, saya hanya lewat depan Pesantren Tebuireng saat melakukan perjalanan antara Jombang-Malang. Barulah bulan ini saya menyempatkan diri untuk bertandang ke Makam “Wali Kesepuluh” itu.

Bagi saya, makam Gus Dur tidak semegah yang saya bayangkan. Predikatnya sebagai mantan presiden, makam tokoh pluralisme itu sama sekali jauh dari kemewahan. Bayangan saya, makam Gus Dur berbentuk istana kecil dengan batu nisan yang terbuat dari marmer mahal. Pusaranya juga dibangun dengan arsitektur indah sehingga kewibawaan tokoh NU itu benar-benar terpancar. Ternyata tidak! Makamnya tidak beda dengan makam orang kebanyakan. Nisannya sederhana dan makamnya masih berupa gundukan tanah. Tak ada asesoris menonjol kecuali sebuah vas yang penuh dengan bunga sedap malam. Betapa kebersahajaan itu membuat hati saya terenyuh. Doa-doa yang dipanjatkan ratusan peziarah tanpa henti di dekat peristirahatannya terakhir mengukuhkan kebesarannya, kedekatannya dengan masyarakat, dan kecintaannya kepada negeri. Saya pun hanyut dalam kesedihan.

Di balik ritualitas di makam itu, ada permandangan tak biasa dibanding dengan kunjungan saya beberapa tahun lalu sebelum Gus Dur Wafat. Di sekitar makam, kini dapat ditemukan sejumlah kotak amal berlabel LSPT (Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng) yang jumlahnya sekitar lima buah. Karena saya kenal dengan bberapa tokoh pesantren itu, saya pun bertanya fungsi kotak tersebut. Pak Muhsin, salah satu tokoh penting di pondok itu mengatakan bahwa sejarah kotak itu diawali dengan munculnya kebiasaan saweran para pengunjung yang melemparkan sejumlah uang di makam Gus Dur. Kadangkala, uang tersebut dilemparkandi depan rumah Gus Sholah yang kini menjabat sebagai Pengasuh pesantren. Celakanya, uang berserakan yang jumlahnya sangat banyak itu diambil oleh sekelompok orang yang memanfaatkan kesempatan. Oleh sebab itu, pihak pondok berinisiatif membuat kotak amal khusus yang diperuntukkan bagi para peziarah yang ingin bersedekah. Sejak itu, masyarakat tidak lagi saweran di makam, namun mengalihkannya ke kotak LSPT.

Mau tahu jumlahnya? Pak Agus Maulana, ketua LSPT, mengatakan bahwa dana yang masuk lebih dari 20 juta perbulan. Bahkan pada bulan-bulan awal wafatnya Gus Dur, dana yang masuk bisa sampai 75 juta! Sungguh fantastik bukan? Meskipun sudah tidak ada di alam dunia ini, Gus Dur masih bisa mendatangkan manfaat bagi fakir miskin dan orang-orang susah yang diberi santunan oleh LSPT. Inilah salah satu bukti kebesaran Gus Dur hingga hari ini….

Rabu, 11 Mei 2011

PRESIDEN ISLAMIC DEVELOPMENT BANK DAN HABIBIE BERI ORIENTASI DI MALANG



Kemarin sore, kota Malang mendadak ramai. Pemandangan tidak biasa itu mulai tampat sejak tengah hari. Jalan-jalan protokol dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Ada apa gerangan? Ternyata, sore itu, mantan presiden RI ke-3 Habibie tiba di Malang bersama presiden Islamic Development Bank (IDB). Tujuan utamanya adalah menyaksikan lebih dekat perkembangan kampus yang mendapat bantuan IDB. Univesritas yang beruntung itu adalah UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) yang terletak di jalan Gajayana 50 Malang. Tentunya, aparat keamanan sudah siaga tatkala mobil yang membawa rombongan istimewa itu tiba di pelataran kampus. Bersama Habibie, terdapat orang-orang penting seperti Ilham Habibie, sejumlah pejabat Konsulat Saudi Arabia, dan perwakilan IDB di Asia Tenggara. Tak kalah pula, para rektor se-Indonesia turut hadir dalam acara tersebut. Kampus hijau UIN Maliki Malang benar-benar penuh pengunjung sehingga auditorium sangat luas di lantai 5 gedung rektorat penuh sesak oleh hadirin.
Dalam ceramahnya, Habibie mengatakan bahwa presiden IDB, Dr Muhammed Ahmed Ali adalah sabahat karibnya sejak ia menjabat sebagai penasehat presiden Suharto di bidang sains dan teknologi pada tahun 1975. Saat itu, Habibie diajak oleh Ali Wardana, mendiknas saat itu, menemui Ahmed Ali untuk bertukar pikiran dalam konsep IDB yang berdiri tahun itu juga. Pertemuan itu kemudian menjadi awal persahabatan mereka. Bahkan lebih dari itu, Habibie menyebut Ahmed Ali sebagai “brother”, sebuah pengakuan kedekatan hati dan emosi antara dua tokoh dunia itu.
Dalam ceramahnya, Habibie menceritakan kisah penamaan dirinya. Nama Baharuddin Yusuf Habibie mempunyai makna yang sangat dalam. Nama pemberian ayahnya itu meniscayakan ia harus konsisten memegang teguh nama tersebut. Dalam ulasannya yang berbahasa Inggris, Habibie mengatakan bahwa kata Banharuddin diambil dari kata “bahr” yang berarti lautan dan “din” yang bermakna agama. Ia kemudian menggabungkan dua kata itu dengan uraian bahwa ia harus menjadi orang yang mempunyai kedalaman ilmu demi tegakkan agama. Bidang yang ia pilih adalah sains. Semangat yang tinggi dan produktifitasnya yang luar biasa telah menjadikannya sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang reputasinya diakui dunia.
Lebih lanjut tentang kata Yusuf, Habibie menerangkan bahwa kata Yusuf merujuk kepada salah satu nabi yang sangat penyabar dan konsisten dalam keyakinannya. Yusuf adalah sosok nabi yang teguh dalam pendirian dan kukuh dalam mengemban tugasnya. Untuk itu, ia harus bisa meniru Yusuf yang agung itu. Untuk itu, Habibie konsisten mengembangkan keahliannya dan akhirnya ia mampu meraih prestasi terbaik dalam hidupnya. Terakhir, nama Habibie. Nama itu adalah nama keluarganya yang mengandung pesan cinta. Cinta menurutnya tidak hanya cinta antara laki-laki dan perempuan atau cinta kepada keluarga, tetapi cinta itu haruslah universal. Kita harus cinta kepada lingkungan, alam semesta, dan yang tak kalah penting adalah cinta kepada sang Pencipta. Untuk itu, harus ada sinergi kekuatan positif yang akan membangun peradaban umat manusia yang sempurna.
Habibie memberikan tiga resep mujarab untuk kemajuan peradaban manusia. Pertama adalah iman. Tanpa iman, mustahil manusia mengenal dan mengakui tuhannya. Manusia hanya akan dibimbing oleh instink dan nalurinya tanpa bimbingan agung dari Tuhannya. Kedua adalah taqwa. Taqwa akan memberikan manusia stimulan dan imun agar dapat menjalankan hidup ini di dalam koridor yang telah ditentukan Tuhan dalam firman-Nya. Terakhir, syaratnya adalah sains. Sains akan membuka tabir penciptaan dan akan mengubah pandangan manusia yang picik dan sempit menjadi dalam dan luas. Ia akan sadar akan kebesaran sang pencipta dan ia akan tunduk patuh terhadap aturan-aturan-Nya. Dari sini, peradaban agung akan muncul akibat sinergi positif antara iman, taqwa, dan sains. Mungkin istilah imtaq bukan hal aneh dan bisa jadi klise, tapi itulah resep manjur yang sudah dirasakan Habibie dan nampaknya akan terus menjadi rumusan kesuksesan suatu bangsa.
Acara puncak diisi oleh Ahmed Ali yang menyampaikan kekaguman terhadap perkembangan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. UIN Maulana Malik Ibrahim diharapkan menjadi pionir kebangkitan pendidikan Islam yang dapat ditiru oleh kampus-kampus yang lain. Ia menyatakan kebanggaannya bahwa bantuan yang diberikan oleh IDB ke Indonesia telah berwujud nyata melebihi harapannya. Oleh sebab itu, Ali menyampaikan empat pesan penting untuk kampus yang dipimpin Imam Suprayogo itu. Pertama, UIN Maulana Malik Ibrahim harus mampu meneladani kiprah Maulana Malik Ibrahim yang berasal sari samarkand itu. Keikhlasan Ibrahim dalam berjuang menegakkan panji-panji Islam di bumi nusantara ini layak untuk ditiru dalam mengembangkan pendidikan di kampus. Salah satu contoh mudahnya, hendaklah kampus UIN ini melahirkan generasi Muslim selevel Habibie karena nama Habibie telah dipahat dalam gedung sains UIN. Ini merupakan janji hati untuk bertekad membidani munculnya para ilmuwan Muslim papan atas dunia dari kampus UIN. Kedua, Ali mengharapkan agar pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa pengantar agama diteruskan dan ditingkatkan. UIN Maliki  yang telah mempunyai Program akselarasi bahasa Arab satu tahun dan wajib mukim di pesantren di awal kuliah dianggap telah berhasil menyiapkan generasi muslim yang kokoh di masa depan. Ketiga, UIN harus memberikan perhatian khusus dalam bidang ekonomi Islam. Ekonomi Islam saat ini diyakini banyak pakar sebagai sistem yang aman dan menguntungkan semua pihak. Dengan ekonomi, umat Islam akan bangkit dan meraih zaman keemasan. Terakhir, Ali berpesan agar kampus UIN Maliki mengembangkan kajian zakat dan wakaf. Zakat dan wakaf dinilai telah berhasil menjadi sumber pendanaan berbagai perguruan tingga ternama, semisal al-Azhar dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Saat ini, IDB bahkan sedang menjalin kerjasama dengan lembaga Wakaf Kuwait untuk mengembangkan berbagai kajian dan pusat-pusat Islam di dunia. Beruntung, saat ini UIN malang sudah mempunyai satu lembaga khusus untuk mengkaji zakat dan wakaf baik dari sisi keilmuan maupun praktik lapangan, yakni Pusat Kajina Zakat dan Wakaf “eL-Zawa”. Lembaga itu telah berdiri sejak tahun 2006 dan kian memberikan manfaat bagi masyarakat kampus dan masyarakat sekitarnya dengan sejumlah program, seperti pemberdayaan usaha kecil menengah. Semoga keempat amanat ini dapat diwujudkan di kampus-kampus Islam di seluruh Indonesia, khususnya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Amin.

Selasa, 10 Mei 2011

"HABIBIE", "GUS DUR" DAN "MEGA" DI UIN MALANG

Belum lama ini, UIN Malang mengundang Sinta Nuriyah ke kampus untuk meresmikan gedung perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang yang bernama KH Abdurrahan Wahid. Gus Dur dipandang layak untuk dijadikan sebagai simbul ilmu pengetahuan. Dengan bangga, Sinta Nuriyah memenjet tombol sirene sebagai tanda dimulainya penyebutan gudang ilmu itu sebagai Gedung Gus Dur.

Sebenarnya, bukan pertama kali nama presiden Indonesia menjadi nama bangunan di UIN Maliki Malang. Beberapa bulan lalu, BJ Habibie juga didaulat untuk meresmikan gedung Fakultas Sains dan teknologi yang diberi nama seperti dirinya. Kiprah Habibie di dunia sains yang mendapat pengakuan dunia layak diabadikan dalam nama pusat sains kampus Islami. Di samping itu, BJ Habibie dipilih karena beliau pernah menjabat sebagai presiden ke-3 republik ini.

Beberapa bulan ke depan, ada satu gedung lagi yang kan mendapat nama presiden. Gedung tersebut adalah gedung ilmu sosial yang meliputi fakultas Ekonomi, Psikologi, Hukum Islam (Syariah), dan Pendidikan Islam (Tarbiyah). Mau tahu namanya? Yakni presiden putri proklamator, Megawati Sukarnoputri. Dipilihnya nama ini karena Megawati dianggap simbul gerakan sosial di Indonesia khususnya di masa awal reformasi sekaligus mengenang jasa Megawati yang telah menandatangi SK perubahan STAIN Malang menjadi UIN Malang.

Lalu mengapa nama-nama presiden diangkat menjadi nama gedung kampus? Pastinya banyak alasannya di samping sejumlah pertimbangan di atas. Salah satu yang sering diungkap rektor, Prof. Imam Suprayogo, adalah agar mahasiswa yang belajar di kampus UIN Maliki Malang  bisa menjadi generasi unggul, unggul, dan unggul sehebat para presidennya….Bisakah? Hanya waktu yang akan menjawab….hehehehe

Introduction