Sejak meninggalkan tanah air, aku merasa betapa sulitnya shalat tepat waktu. Apalagi negara tujuanku bukan negara berpenduduk mayoritas muslim. Shalat seringkali menjadi nomor tak terhingga dalam hidupku. Sedih nian dalam hati tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
Dalam perjalanan menuju Amerika, aku sulit mendeteksi waktu, apakah sudah masuk shalat tertentu atau belum. Jendela pesawat ditutup rapat agar para penumpang dapat istirahat. Ijtihadku mengatakan bahwa aku shalat sesuai dengan keyakinanku. Bila kuanggap sudah masuk shalat, aku langsung shalat dengan tayammum sebisanya.
Tampilkan postingan dengan label New York. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label New York. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Oktober 2010
Rabu, 04 Agustus 2010
PERPISAHAN
Saat tiba di New York, saya merasa asing dan terisolasi. Setelah mengikuti kursus bahasa selama satu bulan, saya sudah mulai dapat menyesuiakan diri dan bersosialisasi dengan beragam orang dengan latar belakang bermacam-macam. Tetapi, waktu belajar sudah usai. Hari ini adalah hari terakhir kuliah. Suasana dibuat santai. Para guru tidak lagi memberikan PR. Jadi, tadi malam bisa tidur nyenyak. hehehe.
Banyak hal yang saya dapatkan selama belajar di English Language Institute (ELI) SUNY Buffalo. Para guru yang profesional, peralatan kelas yang lengkap, hingga materi pelajaran yang menantang. Ada tiga guru yang membimbing kami setiap hari. Pukul 9 tepat, Beth, guru writing dan grammar, selalu sudah berada di kelas. Ia begitu telaten mengajari mahasiswa untuk bisa menulis dengan baik. Setelah dua jam belajar writing, Pat masuk. Guru satu ini memberikan bekal kepada murid untuk bisa berbicara dengan lancar sesuai dengan gaya penutur asli. Pelajaran speaking dan note-taking begitu menyenangkan karena fasilitas belajarnya dilengkapi dengan video dan projector.
Banyak hal yang saya dapatkan selama belajar di English Language Institute (ELI) SUNY Buffalo. Para guru yang profesional, peralatan kelas yang lengkap, hingga materi pelajaran yang menantang. Ada tiga guru yang membimbing kami setiap hari. Pukul 9 tepat, Beth, guru writing dan grammar, selalu sudah berada di kelas. Ia begitu telaten mengajari mahasiswa untuk bisa menulis dengan baik. Setelah dua jam belajar writing, Pat masuk. Guru satu ini memberikan bekal kepada murid untuk bisa berbicara dengan lancar sesuai dengan gaya penutur asli. Pelajaran speaking dan note-taking begitu menyenangkan karena fasilitas belajarnya dilengkapi dengan video dan projector.
Sabtu, 31 Juli 2010
TINGGAL SEMINGGU...

Tak lama lagi, saya harus angkat kaki dari New York. Saya harus beres-beres barang untuk segera pindah ke Iowa. Satu bulan, ya satu bulan saya menikmati suasana Buffalo yang sejuk dan alami. Tanah terhampar luas, pohon-pohon rindang diiringi dengan kicauan burung yang bersahutan, semua tentu tak mudah dilupakan. Selain itu, banyak kawan baik yang sudah kenal akrab dan nyaman: dari Indonesia atau pun dari negara lain, pastilah menjadi kenangan indah yang menyenangkan. Begitulah, program kursus hampir usai. Hari ini, Jumat,30 Juli, para peserta kursus mengikuti ujian terakhir. Hasilnya akan dibagi minggu depan saat closing ceremony yang akan diadakan pada hari Kamis. Berarti, saya hanya punya waktu tiga hari lagi untuk kuliah kelas, menyelesaikan tugas-tugas akhir yang menjadi penutup perkuliahan.
Di Buffalo, saya punya kawan yang sangat banyak membantu, yakni Ali dari Saudi, selain kawan-kawan Indonesia yang memang ringan tangan. Anak muda ini pertama kali ketemu saya ketika pihak pengelola kursus, Kathy, memintanya untuk mengajak saya ke masjid untuk shalat Jumat. Waktu itu saya sedang ngantri menunggu giliran untuk daftar menjadi peserta dalam acara yang digelar kampus. Saya senang sekali ketika Ali menyapa dan mengatakan kalau ia diberi amanat oleh Kathy untuk menjemput saya.
Beberapa kali Jumatan bersama Ali, hari Jumat kali ini tergolong spesial. Sepulang Jumatan, Ali mengajak saya untuk mampir ke rumahnya. Saya pun setuju saja. Di rumahnya, ternyata Ali sudah menyiapkan beberapa bahan makanan yang sengaja digunakan untuk menyambut kedatangan saya. Sesampai di rumah, ia menyilakan saya duduk di ruang tamu sementara ia mulai mengolah makanan khas Arab Saudi. Kali ini ia membuat semacam nasi kebuli dengan racikan bumbu khusus. Ia juga menyiapkan menu pelengkapnya berupa ayam panggang dan jus buah. Wah, senangnya punya kawan baik.
Minggu depan, saya berencana akan membuat masakan Indonesia di rumahnya. Rencananya saya mau membuat kare ayam atau rawon. Lho kok bisa? Saya bawa bumbu instant dari Jakarta. Jadi, biar nantinya tidak memalukan, saya sudah siap senjata pamungkasnya. Untuk itu, saya hanya tinggal beli dagingnya. Beres kan? Hehe
Kamis, 29 Juli 2010
INTERNATIONAL SUMMER FUN DAY
Wow, senangnya hari kemarin. Setelah lelah melakukan aktifitas kelas, kebetulan saya kebagian giliran presentasi tentang Bali, kuliah berakhir lebih cepat. Hal ini dilakukan oleh pihak pengelola kursus karena ada even penting di kampus, yakni International Summer Fun Day. Acara ini adalah acara rutin tahunan yang mengumpulkan seluruh mahasiswa non-Amerika untuk bergabung dalam acara seni dan hiburan. Ramai banget. Ada pertandingan voli, hula hop, sepak bola, hingga layang-layang. Mahasiswa tumpah ruah di lapangan menyaksikan berbagai pertandingan.
Ada satu hal yang paling saya suka, yakni stand makanan berbagai negara. Awalnya saya ragu, jangan-jangan harus bayar. Ternyata, setelah saya tanya, gratis, alias free. Wah, kesempatan nih. Beberapa minggu lalu, dalam acara Taste of Buffalo saya harus merogoh saku untuk bisa mencicipi masalah khas Buffalo, kini saya bisa menikmati aneka makanan berbagai negara tanpa bayar. Langsung saja saya gabung di baris antrian. Saya akhirnya bisa mencicipi masakan Thailand, Vietnam, Arab, Belanda, Inggris, Rumania, dan banyak lagi...lupa nama-namanya. Amerika menawarkan makanan berupa brownis. Wah, kenyang juga akhirnya sepulang sekolah....
Ada satu hal yang paling saya suka, yakni stand makanan berbagai negara. Awalnya saya ragu, jangan-jangan harus bayar. Ternyata, setelah saya tanya, gratis, alias free. Wah, kesempatan nih. Beberapa minggu lalu, dalam acara Taste of Buffalo saya harus merogoh saku untuk bisa mencicipi masalah khas Buffalo, kini saya bisa menikmati aneka makanan berbagai negara tanpa bayar. Langsung saja saya gabung di baris antrian. Saya akhirnya bisa mencicipi masakan Thailand, Vietnam, Arab, Belanda, Inggris, Rumania, dan banyak lagi...lupa nama-namanya. Amerika menawarkan makanan berupa brownis. Wah, kenyang juga akhirnya sepulang sekolah....
Rabu, 28 Juli 2010
MENGGUNAKAN MONEYGRAM

Saya termasuk orang yang tidak banyak punya pengalaman tentang teknik mengirim uang selain bank dan pos. Pagi ini saya dapat tantangan baru untuk mengirim uang melalui MoneyGram atas permintaan teman. Saat membaca email kawan tadi yang sangat berharap untuk dibantu, saya sempat bingung karena tidak tahu cara membantunya. Lengkap ceritanya begini.
Kawan saya, Dion, sesama Fulbrighter dari Jogja, hingga kini belum berangkat. Ia baru saja selesai mengurus visa yang akan keluar minggu depan. Meskipun begitu, ia sudah mulai menata diri dengan mencari penginapan di Ohio, tempat risetnya. Untungnya, ia punya kenalan di sana, Peter namanya. Dion sudah lama mengontak Peter untuk mencarikan tempat tinggal. Peter menyanggupi, bahkan ia menawarkan tempat tinggalnya jika Dion mau. Kebetulan, Peter sudah selesai masa studinya dan akan pulang ke Afrika. Peter akan meninggalkan Ohio sebelum kedatangan Dion.
Berhubung Peter akan segera balik kampung sedangkan ia punya sejumlah barang yang diperlukan Dion, maka Peter menawarkan barang tersebut jika memang Dion mau dan bisa membayar sebelum kepulangan Peter. Dion agak bingung, satu sisi ia memang membutuhkan barang-barang itu, seperti dipan dan kasur (kebetulan tempat tinggal Peter hanya menyewakan tempat saja, soal perabotan harus beli sendiri), tapi ia tidak tahu harus bagaimana mengirim uang ke Amerika dengan cepat. Untuk mengatasi hal itu, Dion meminta bantuan saya agar mengirim sejumlah dolar ke Peter. Karena jumlahnya tidak terlalu besar, saya pun menyanggupi. Saya meminta Dion untuk mengirimkan nama, alamat, dan nomor rekening bank yang dituju. Saya rencananya akan tarnsfer via bank yang bagi saya sangat mudah.
Selang beberapa hari, Dion kemudian mengirim email bahwa Peter minta agar uangnya dikirim melalui MoneyGram. Ia memberikan alamat lengkap rumahnya. Peter menyarankan agar transaksi dilakukan di Swalayan Walmart. Ketika saya menerima email tersebut, satu hal yang langsung terjadi adalah saya bingung. Mengapa? Saya ini belum pernah mengirim uang via MoneyGram dan saya tidak tahu di mana Walmart berada (lucu kan...hehe). Selain itu, saya tidak bisa begitu saja meninggalkan kuliah yang sangat padat dari pagi hingga sore. Kalaulah saja jadi ke Walmart, saya pasti 'ngrusuhi' kawan-kawan yang punya mobil untuk mengantarkan saya ke sana. Padahal, kawan saya, seperti mas Faisal, bekerja dari pagi hingga sore. Lalu kapan saya bisa melaksanakan tugas 'mulia' ini?
Di tengah kebingungan itu, saya terpikir untuk menghubungi kawan senior yang dulu pertama kali menolong saya. Mbak Nuning namanya. Di saat break kuliah di siang hari, saya coba telepon Mbak Nuning. Saya awali dengan basi-basi sebentar kemudian menjurus kepada persoalan utama yakni minta tolong. Namun, sebelum meminta tolong untuk mengantarkan saya ke Walmart, saya sempat iseng mengharap saran dari Mbak Nuning tentang cara saya mengirim uang melalui MoneyGram. Tak disangka, tak diduga, tak dikira, ternyata Mbak Nuning sudah punya pengalaman mengirim uang via MoneyGram dan tidak harus ke Walmart, cukup datang ke semacam pusat bisnis kampus SUNY Buffalo dan menemui petugas kasir di sebuah Farmasi, CVS namanya. Tanpa pikir panjang, saya langsung bergegas mencari lokasi tersebut yang saya juga belum pernah ke sana. Setelah putar-putar dan tanya sana-sini akhirnya sampailah saya di farmasi CVS.
Sesampai di depan kasir, saya kemudian menanyakan kemungkinan saya mengirim uang ke Ohio via MoneyGram. Weladalah, saya hanya disuruh menuju satu selepon di atas meja dan mengangkatnya. Sambil terheran-heran, saya turuti saja perintahnya. Awalnya, saya pikir saya bisa mengirim uang lewat kasir itu yang kemudian tinggal menunggu slip transaksi. Tapi ternyata, saya malah disuruh berhadapan dengan benda mati, yakni sebuah telepon. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap telepon tersebut. Setelah bertanya lagi ke petugas kasir, lalu saya diberitahu bahwa saya harus mengangkat gagang telepon itu dan mengikuti bunyi perintah yang didengar. Dengan agak ragu, saya pun mencoba mengangkat pesawat telepon itu mendengarkan dengan seksama.
Bunyi pertama yang saya dengan adalah bahwa saya harus memencet tombol pemilihan bahasa, 1 untuk Inggris, 2 utuk spanyol, 3 dan seterusnya banyak pilihan lain. Langsung saja saya pencet angka satu. Kemudian terdengar perintah lagi, suara otomatis itu menanyakan apakah saya mau mengirim, mengambil, atau melakukan transaksi lainnya melalui MoneyGram. Saya yang masih tidak paham maksud perintah itu diam sejenak. Suara itu pun kembali terdengar. Dengan agak kurang yakin saya pun bilang, "send" (mengirim). Rupanya suara saya direkam oleh mesin itu. Beberapa saat kemudian ada perintah baru lagi yang menanyakan negara tujuan. Di sini saya pun dibuat bingung. Saya ini kan mau mengirim uang ke Amerika, kok masih ditanya mau mengirim kemana? Saya pun menjawab sekenanya "America". Ternyata, jawaban saya salah. Pertanyaan itu kembali terdengar. Saya pun merubah jawaban saya dengan "United States". Nah, untuk kali ini, mesin itu bisa merekam. Lalu, ada bunyi lagi, "You say United States?" Saya pun menjawab "Yes". (Walah, mau ngirim uang sedikit aja kok ribet banget ya..pikir saya.) Setelah beberapa saat, mesin itu berbunyi, "tunggu sebentar, anda akan dihubungkan dengan petugas MoneyGram." (Yah...kenapa nggak dari tadi....)
Petugas MoneyGram di seberang sana menyapa dengan ramah. Kemudian menanyakan kota tujuan, jumlah uang, nama pengirim, nomor telepon, dan alamat pengirim beserta kode posnya. Saya harus mengeja nama saya beberapa kali karena memang nama saya cukup asing bagi si petugas itu. Terakhir, petugas meminta saya untuk menyebutkan nama penerima. Lho kok cuma nama saja? Begitu tanya saya. Petugas itu menjelaskan bahwa sistem MoneyGram itu hanya cukup menyebut nama penerima. Sang penerima nantinya akan mendatangi kantor MoneyGram di mana saja untuk mengambil uangnya. (Ooo, begitu tho, pikir saya. Maklum, orang kampung bergaya kota...hehe)
Setelah menyetujui jumlah uang dan biaya kirim, saya pun menutup telepon itu. Tapi kemudian, saya bertanya-tanya lagi, kemana saya membayar transaksi tadi? Uang masih ada di tangan dan belum berkurang sedikit pun. Petugas tadi juga tidak memberitahu dan saya pun tidak bertanya. (Nah, klop kan? Beginilah nasib orang yang tak punya ilmu, bisanya cuma bingung terus hehe). Agar tidak terjadi kesalahan yang berlipat-lipat, saya mendekati kasir farmasi tadi. Ternyata, saya bisa membayar lewat kasir itu namun saya harus menunggu proses elektronik laporan pengiriman beberapa saat. Tak lama kemudian, mesin ke meja kasir mengeluarkan kertas panjang yang isinya laporan bahwa saya sudah melakukan transaksi pengiriman lewat MoneyGram di konter CVS. Setelah membayar semuanya, saya pulang dengan lega. (O.., begitu tho cara kirim uang via MoneyGram. Aneh banget ya...)
Sesampai di kelas, saya langsung menyalakan komputer untuk segera mengirim kabar ke Dion dan Peter bahwa uang sudah saya kirim sesuai dengan harapan. Menurut berita, uang bisa langsung bisa diambil dalam tempo 5 menit dari pengiriman. Saya pikir tugas saya telah selesai dan kini kembali konsentrasi kuliah hingga sore.
Malam hari, saya coba buka yahoo untuk melihat perkembangan email saya. Ternyata, ada email masuk dari Peter yang menerangkan bahwa ia membutuhkan nomor referensi yang tertulis di surat bukti transaksi. Saya pun mencari nomor yang dimaksud dan akhirnya saya bisa menemukan. Saya kemudian membalas email itu dengan mencantumkan nomor referensi yang diinginkan. Sudah selesaikah? Ternyata belum, tadi pagi sesaat sebelum kuliah, saya mendapat email dari Peter bahwa uangnya belum bisa diambil karena ia harus menunjukkan kepada petugas MoneyGram informasi seputar nama pengirim, alamat, dan nomor teleponnya. Lho kok begitu ya aturannya? Bukannya semuanya sudah tertulis saat transaksi kemarin? Tapi tanpa pikir panjang, saya pun memberikan rincian informasi yang saya sampaikan kepada petugas saat pengiriman kemarin.
Okay. saat ini saya sedang menunggu kabar teakhir dari Peter, apakah ia sukses mengambil uangnya atau masih ada masalah lagi. Saya berharap ia bisa lancar mengurus administrasinya di MoneyGram. Wah, pengalaman baru yang bagi saya sangat menantang ya.....Wa Allah a'lam.
Selasa, 27 Juli 2010
ASYIKNYA MENCUCI DI KAMPUNG UWAK SAM

Mencuci merupakan aktifitas rutin untuk membersihkan pakaian yang telah dipakai dalam jangka waktu cukup lama, bisa beberapa jam atau beberapa hari. Caranya bisa dikucek dengan tangan, dibilas lalu dijemur, atau dimasukkan ke mesin cuci lalu tinggal jemur. Kedua teknik ini biasa saya lakukan saat masih berkumpul dengan keluarga. Namun, saat di perantauan kini, saya tidak dengan mudah melakukan itu karena ternyata ada cara yang belum saya kuasai dalam hal mencuci.
Pertama-tama, saya tanya kawan-kawan tentang teknik mencuci. Mereka mengatakan bahwa cara mencuci adalah memasukkan pakaian ke mesin cuci dengan terlebih dahulu mengatur waktu cuci. Untuk yang satu ini mungkin saya pikir sama dengan mesin cuci di tanah air. Kemudian, saya harus memasukkan sabun ke tempatnya. Sabun yang dimaksud adalah sabun cair, seperti sabun cair untuk mandi. Diterjen seperti yang biasa saya pakai, misalnya rinso atau soklin, tidak boleh digunakan. Lho, lalu gimana saya bisa mencuci? Tanya saya dalam hati. Terpaksa, sabun cuci bawaan saya tidak dapat digunakan dan saya harus belanja ke supermarket untuk membeli sabun cair itu. Saya pada awalnya tidak tahu perbedaan hasil cucian jika menggunakan diterjen atau sabun cair tersebut. Namun, setelah beberapa kali mencuci, ada memang hasil yang tidak saya sangka, yakni pakaian bisa langsung digunakan tanpa disetrika.
Setelah mencuci dengan menggunakan mesin cuci dalam waktu sekitar 30 menit, saya harus memindahkan semua baju ke mesin pengering. Nah, untuk tahap ini, saya pernah punya pengalaman saat di Kanada, jaket saya yang masih baru jadi rusak gara-gara panas dalam mesin pengering sudah terstandarkan, tidak bisa diatur. Oleh sebab itu, pada awal mencuci di sini, saya tidak mengeringkan di mesin pengering, tetapi saya jemur saja di kamar dengan menggantungnya di hanger. Kering juga kok cuma butuh waktu agak lama, sekitar dua hari. Tetapi, saya kemudian memberanikan diri untuk mencoba mengerikan dengan mesin setelah saya tahu waktu pengeringan bisa disesuaikan. Saya coba dengan waktu 30 menit, dan ternyata pakaian sudah kering meskipun belum maksimal.
Setelah semuanya selesai, pakaian saya bawa ke kamar dan langsung saya lipat. Nah, di sinilah keanehan terjadi, semua pakaian saya jadi mudah dilipat dan diratakan, persis seperti diseterika, atau seperti diberi pelembut. Kaos saya yang biasanya tidak berani saya pakai kecuali diseterika dengan cukup lama, ternyata hanya dirapikan dengan tangan dan dilipat sudah bisa dipakai esok harinya tanpa malu karena lecek atau kumal. Jadilah saya mengerti mengapa kawan-kawan saya tidak memiliki seterika ketika saya ingin pinjam. Memang, nampaknya, tanpa disterika pakaian-pakaian berbahan katun pun bisa dengan santai digunakan. Ini pengalaman baru yang belum saya peroleh tatkala dulu di Kanada. Asyik bukan? Jadi, kini saya tidak perlu berlelah-lelah mensetrika tumpukan pakaian sebagaimana biasanya. hehehe
Jumat, 16 Juli 2010
KEJADIAN KECIL YANG UNIK
Sejak menginjakkan kaki di bumi Amerika, banyak hal-hal aneh yang menyita perhatian saya. Pertama, saat masuk asrama mahasiswa, saya tidak bisa masuk karena pintu asrama tertutup untuk umum. Artinya, hanya penghuni saja yang bisa masuk dengan menggunakan kartu mahasiswa yang digesek secara elektronik. Untungnya, saya sudah diberitahu oleh pihak pengelola via email untuk menggunakan fasilitas telepon umum yang ada di depat pintu masuk untuk minta bantuan petugas jaga malam. Kalau tidak, pasti deh, tidur di emperan asrama, kasihan banget ya...hehehe
Kedua, Saat masuk kamar, saya ingin mandi. Badan sudah gatal semua dan berkeringat. Tapi, saat ingin mengalirkan air dari kran, ternyata tidak ada air. Lha, gimana nih? Hampir saja saya turun lagi ke lobi untuk meminta tolong Ikea, petugas yang menolong saya, untuk membantu saya agar air bisa mengalir. Untungnya, dengan berbekal pengalaman seadanya, saya putar ke kanan-ke kiri, bahkan saya tarik ke atas ke bawah, ternyata airnya bisa mengalir dengan deras dan bahkan bisa diatur suhunya. Wow, caranya mengucurkan air adalah menarik ke depan dahulu (seperti mencabut), baru diputar ke kanan dan ke kiri. Ada-ada saja ya...
Ketiga, di pagi hari, saya harus ke kampus. Bingung juga, mau ke arah mana, lha wong kampusnya besar banget. Nama-nama gedungnya aneh-aneh, tapi warna dan bentuknya sama semua. Saya pun bertanya kepada petugas, kalau saya mau ke tempat kursus harus ke arah mana. Jawabnya, saya harus naik bis. Lha, bis mana, trus gimana? Sendirian lagi, seperti orang ilang. Saya pun diantar dan dititipkan ke sopir bis, persis anak kecil yang tersesat di tengah kota..hehehe. Bis itu ternyata milik kampus yang melayani rute dari kampus selatan ke kampus utara yang jaraknya sekitar 5 KM, tanpa dikenakan biaya. Lumayan, jalan-jalan pagi dengan gratis. Pintu bis ada di sebelah kanan, bukan di sebelah kiri seperti di Indonesia. Bis berjalan di sebelah kanan juga. Asing banget rasanya...
Keempat, masih tentang bis, ternyata hampir separuh bis yang pernah saya naiki dikendalikan oleh sopir perempuan, padahal ukuran bis tergolong besar lho. Ternyata gender telah sukses mengantarkan perempuan menjadi sopir angkutan umum. Keren ya? hehehe. Para sopir tergolong ramah, setiap ada penumpang yang naik, ia selalu menyapa "good morning" atau "hello"...begitu pula kalau turun, sopir selalu mengucapkan "have a nice day" dengan senyum lebar. Ini menunjukkan bahwa sopir-sopir itu telah dilatih untuk melakukan tugas secara profesional sehingga para penumpang merasa nyaman.
Kelima, Berkaitan dengan jalan di sebelah kanan, saya sering hampir nabrak orang yang berlalu dari arah berlawanan karena di Indonesia biasa berjalan di sebelah kiri. Untung saja orang tersebut langsung pindah jalur, kalau tidak bisa berabe nih. Kalau di jalan umum, kadang saya masih bisa mengingat kalau harus di sebelah kanan, tetapi kalau sedang naik tangga, sering banget kaget saya hampir nambrak orang yang sedang turun atau naik tangga. Lucu sekali kalau ingat hal ini...hhihi
Terakhir, tentang minum. Saat di asrama, saya tidak punya air minum sama sekali. Padahal, saya haus banget. Ingat di Kanada, air minum bisa langsung diambil dari keran. Tapi, di Amerika, sama nggak ya? Sebelum memutuskan minum air keran, saya baca-baca sebendel map informasi yang diberikan petugas tadi. Saya pun mendapatkan satu informasi kalau air keran siap untuk diminum. Wah, langsung saja saya ambil gelas dan minum sepuasnya.
Itu dulu untuk sementara. Nanti disambung lagi...bye bye...wassalam...
Kedua, Saat masuk kamar, saya ingin mandi. Badan sudah gatal semua dan berkeringat. Tapi, saat ingin mengalirkan air dari kran, ternyata tidak ada air. Lha, gimana nih? Hampir saja saya turun lagi ke lobi untuk meminta tolong Ikea, petugas yang menolong saya, untuk membantu saya agar air bisa mengalir. Untungnya, dengan berbekal pengalaman seadanya, saya putar ke kanan-ke kiri, bahkan saya tarik ke atas ke bawah, ternyata airnya bisa mengalir dengan deras dan bahkan bisa diatur suhunya. Wow, caranya mengucurkan air adalah menarik ke depan dahulu (seperti mencabut), baru diputar ke kanan dan ke kiri. Ada-ada saja ya...
Ketiga, di pagi hari, saya harus ke kampus. Bingung juga, mau ke arah mana, lha wong kampusnya besar banget. Nama-nama gedungnya aneh-aneh, tapi warna dan bentuknya sama semua. Saya pun bertanya kepada petugas, kalau saya mau ke tempat kursus harus ke arah mana. Jawabnya, saya harus naik bis. Lha, bis mana, trus gimana? Sendirian lagi, seperti orang ilang. Saya pun diantar dan dititipkan ke sopir bis, persis anak kecil yang tersesat di tengah kota..hehehe. Bis itu ternyata milik kampus yang melayani rute dari kampus selatan ke kampus utara yang jaraknya sekitar 5 KM, tanpa dikenakan biaya. Lumayan, jalan-jalan pagi dengan gratis. Pintu bis ada di sebelah kanan, bukan di sebelah kiri seperti di Indonesia. Bis berjalan di sebelah kanan juga. Asing banget rasanya...
Keempat, masih tentang bis, ternyata hampir separuh bis yang pernah saya naiki dikendalikan oleh sopir perempuan, padahal ukuran bis tergolong besar lho. Ternyata gender telah sukses mengantarkan perempuan menjadi sopir angkutan umum. Keren ya? hehehe. Para sopir tergolong ramah, setiap ada penumpang yang naik, ia selalu menyapa "good morning" atau "hello"...begitu pula kalau turun, sopir selalu mengucapkan "have a nice day" dengan senyum lebar. Ini menunjukkan bahwa sopir-sopir itu telah dilatih untuk melakukan tugas secara profesional sehingga para penumpang merasa nyaman.
Kelima, Berkaitan dengan jalan di sebelah kanan, saya sering hampir nabrak orang yang berlalu dari arah berlawanan karena di Indonesia biasa berjalan di sebelah kiri. Untung saja orang tersebut langsung pindah jalur, kalau tidak bisa berabe nih. Kalau di jalan umum, kadang saya masih bisa mengingat kalau harus di sebelah kanan, tetapi kalau sedang naik tangga, sering banget kaget saya hampir nambrak orang yang sedang turun atau naik tangga. Lucu sekali kalau ingat hal ini...hhihi
Terakhir, tentang minum. Saat di asrama, saya tidak punya air minum sama sekali. Padahal, saya haus banget. Ingat di Kanada, air minum bisa langsung diambil dari keran. Tapi, di Amerika, sama nggak ya? Sebelum memutuskan minum air keran, saya baca-baca sebendel map informasi yang diberikan petugas tadi. Saya pun mendapatkan satu informasi kalau air keran siap untuk diminum. Wah, langsung saja saya ambil gelas dan minum sepuasnya.
Itu dulu untuk sementara. Nanti disambung lagi...bye bye...wassalam...
Kamis, 15 Juli 2010
NIAGARA FALLS, WOW SO LOVELY...
Rabu, 14 Juli 2010
TAMU DARI PHILADELPHIA
Kemarin sore, saya kedatangan tamu spesial dari Philadelphia. Kawan satu ini sudah lama tinggal di Amerika, sekitar 3 tahun. Nuraini--demikian namanya--dan suaminya datang ke rumah untuk sekedar silaturahmi. Nuraini adalah kawan waktu kuliah di Jakarta, sama-sama mengambil program Interdisciplanary Islamic Studies (IIS). Teringat waktu masih kuliah, saya dan beberapa kawan termasuk Nur membuat study group untuk membahas berbagai materi kuliah sekaligus persiapan ujian-ujian. Terkadang, saat diskusi, ada hidangan sederhana yang dimakan bareng-bareng.
(Wow senangnya jadi anak kos...hehe)
Nur mendapat kesempatan ke Amerika melalui Fulbright untuk program guru bahasa Indonesia selama 9 bulan. Setelah program selesai, ia meminta ijin ke Fulbright untuk memperpanjang masa kontrak dengan perjanjian baru. Akhirnya, hingga kini, ia masih bisa menghirup udara bebas di Amerika dan bahkan telah menikah dengan orang Banjarmasin yang bekerja di Philadephia. Saat ini Nur sudah mempunyai anak perempuan yang lahir di Amerika. Ini berarti, anak mereka secara otomatis menjadi warga Amerika. (Wah ini jadi inspirasi untuk memperpanjang masa kunjung di US nih, tapi kayaknya nggak mungkin, soalnya harus segera balik untuk menyelesaikan disertasi...sayang banget ya...hehehe)
Semalam Nur sekeluarga nginap di rumah tempat saya tinggal. Untungnya mas Faisal tidak keberatan. Kami menggelar makan malam bersama dengan menu ala Indonesia. Uih, serasa tidak di Amerika: ketemu orang Indonesia, bicara Indonesia, dan makan masakan Indonesia. Hal ini beda banget dengan situasi ketika saya berada di Goodyear Hall atau saat berada di kampus. Tak ada seorang melayu pun dan mau nggak mau bicaranya harus casciscus alias bukan Indonesia.
Nur dan keluarga akan jalan-jalan hari ini. Sebenarnya mereka mengajak saya untuk turut serta menikmati wisata alam di New York. Tapi sayang, karena saya hari ini harus masuk kelas mengikuti kursus intensif, saya tidak bisa ikut mereka berkeliling kota. Saya pingin absen tetapii saya sudah absen sekitar 10 hari akibat visa saya yang terlambat. Jadi, malu kalau nanti dinyatakan tidak lulus gara-gara sering jalan-jalan (hehehe, sok rajin nih yeee). Tapi, saya rencananya ikut gabung jalan-jalan ke air terjun Niagara seusai kursus sore hari. Niagara adalah salah satu tujuan wisata internasional yang dimiliki Amerika. Semoga saja rencana ini dapat terlaksana. amin.
(Wow senangnya jadi anak kos...hehe)
Nur mendapat kesempatan ke Amerika melalui Fulbright untuk program guru bahasa Indonesia selama 9 bulan. Setelah program selesai, ia meminta ijin ke Fulbright untuk memperpanjang masa kontrak dengan perjanjian baru. Akhirnya, hingga kini, ia masih bisa menghirup udara bebas di Amerika dan bahkan telah menikah dengan orang Banjarmasin yang bekerja di Philadephia. Saat ini Nur sudah mempunyai anak perempuan yang lahir di Amerika. Ini berarti, anak mereka secara otomatis menjadi warga Amerika. (Wah ini jadi inspirasi untuk memperpanjang masa kunjung di US nih, tapi kayaknya nggak mungkin, soalnya harus segera balik untuk menyelesaikan disertasi...sayang banget ya...hehehe)
Semalam Nur sekeluarga nginap di rumah tempat saya tinggal. Untungnya mas Faisal tidak keberatan. Kami menggelar makan malam bersama dengan menu ala Indonesia. Uih, serasa tidak di Amerika: ketemu orang Indonesia, bicara Indonesia, dan makan masakan Indonesia. Hal ini beda banget dengan situasi ketika saya berada di Goodyear Hall atau saat berada di kampus. Tak ada seorang melayu pun dan mau nggak mau bicaranya harus casciscus alias bukan Indonesia.
Nur dan keluarga akan jalan-jalan hari ini. Sebenarnya mereka mengajak saya untuk turut serta menikmati wisata alam di New York. Tapi sayang, karena saya hari ini harus masuk kelas mengikuti kursus intensif, saya tidak bisa ikut mereka berkeliling kota. Saya pingin absen tetapii saya sudah absen sekitar 10 hari akibat visa saya yang terlambat. Jadi, malu kalau nanti dinyatakan tidak lulus gara-gara sering jalan-jalan (hehehe, sok rajin nih yeee). Tapi, saya rencananya ikut gabung jalan-jalan ke air terjun Niagara seusai kursus sore hari. Niagara adalah salah satu tujuan wisata internasional yang dimiliki Amerika. Semoga saja rencana ini dapat terlaksana. amin.
Selasa, 13 Juli 2010
CERITA DALAM FOTO
Atas saran pak Kuat (thank you, Pak Kuat), saya buat satu album tentang New York. Karena saya juga belum lama di Amerika, jadi mungkin ceritanya belum komplit. Pertama-tama, perlu saya tekankan di sini bahwa tempat tinggal saya adalah di kabupaten Buffalo, Propinsi New York. Jadi, New York itu bukan nama kota, tetapi propinsi. Untuk nama kota, ada memang, namanya New York City. Jarak antara kabupaten Buffalo dengan Kota New York sekitar 7 jam perjalanan darat. Oleh sebab itu, nampaknya saya tidak mungkin berkunjung ke patung Liberty (sayang banget ya...tapi gimana lagi...tidak ada waktu dan.....eem...biaya hehehe). Tetapi, Buffalo punya banyak keunikan dan tempat wisata terkenal di dunia, di antaranya adalah air terjun Niagara (Nigara Falls). Letaknya tidak jauh dari kampus di mana saya sekarang berada, sekitar 20 menit. Saya belum ke sana, tapi Insya Allah akan menyempatkan ke sana (kalau ini murah dan harus itu...hehehe).
Kembali ke album, dari foto-foto itu saya cantumkan sedikit informasi di bawahnya. Lengkapnya sebagai berikut. Palagan SUNY (State University of New York) Buffalo adalah bangunan semacam tiang-tiang yang terdiri dari tiga pilar. Saya belum tahu filosofinya, tetapi yang jelas, palagan itu selalu muncul di beberapa atribut kampus, seperti kartu mahasiswa dan buku panduan. Saya mengambil gambar palagan itu saat ikut menghadiri perayaan kemerdekaan Amerika tanggal 4 Juli lalu. Di tempat itu, yang bersebelahan dengan danau luas, sedang digelar pesta kembang api. Bagus banget, seperti gambar-gambar di atas.
Ada juga satu foto tentang kampus. Itu adalah salah satu gedung di kampus SUNY Buffalo bagian utara. Ada kampus lain di bagian selatan. Mahasiswa yang belajar di sini sekitar 27 ribu orang dengan jumlah mahasiswa internasional yang sangat banyak dan beragam. Sekedar info, kawan satu kelas saat ini tidak ada yang bicara bahasa melayu, apalagi Indonesia. Mereka datang dari berbagai negara, seperti Kostarika, Saudi, Senegal, China, Taiwan, Hongkong, Syiria, dan Korea. Wow...keren...
Kemudian, ada foto tentang jalan-jalan ke Rochester. Kota ini cukup terkenal dengan penemu Kodak (saingan Fujifilm) dan Xerox (jenis mesin fotokopi). Di sana saya menemui salah satu teman, lalu di ajak jalan-jalan ke Rochester View yang dapat melihat kota Rochester dari atas bukit. Cantik sekali, serasa di Gunungharjo, atau Bogor atau Batu...Di Rochester, saya sempat mampir ke rumah makan untuk sekedar nonton piala dunia yang seru itu...
Foto yang lain menunjukkan hiruk pikuk di kota Buffalo yang sedang menggelar festival makanan khas Amerika tanggal 10-11 Juli lalu. Nama kegiatan itu adalah "Taste of Buffalo" artinya rasa masakan khas Buffalo. Puluhan masakan dengan aneka rasa tumpah ruah di jalan, berkilo-kilo meter. Capek juga jalannya. Lumayan, bisa menikmati hidangan dengan prosi kecil dan harga terjangkau.
Oke...itu dulu kayaknya...cerita akan disambung dengan gambar-gambar yang lain, Insya Allah...
Kembali ke album, dari foto-foto itu saya cantumkan sedikit informasi di bawahnya. Lengkapnya sebagai berikut. Palagan SUNY (State University of New York) Buffalo adalah bangunan semacam tiang-tiang yang terdiri dari tiga pilar. Saya belum tahu filosofinya, tetapi yang jelas, palagan itu selalu muncul di beberapa atribut kampus, seperti kartu mahasiswa dan buku panduan. Saya mengambil gambar palagan itu saat ikut menghadiri perayaan kemerdekaan Amerika tanggal 4 Juli lalu. Di tempat itu, yang bersebelahan dengan danau luas, sedang digelar pesta kembang api. Bagus banget, seperti gambar-gambar di atas.
Ada juga satu foto tentang kampus. Itu adalah salah satu gedung di kampus SUNY Buffalo bagian utara. Ada kampus lain di bagian selatan. Mahasiswa yang belajar di sini sekitar 27 ribu orang dengan jumlah mahasiswa internasional yang sangat banyak dan beragam. Sekedar info, kawan satu kelas saat ini tidak ada yang bicara bahasa melayu, apalagi Indonesia. Mereka datang dari berbagai negara, seperti Kostarika, Saudi, Senegal, China, Taiwan, Hongkong, Syiria, dan Korea. Wow...keren...
Kemudian, ada foto tentang jalan-jalan ke Rochester. Kota ini cukup terkenal dengan penemu Kodak (saingan Fujifilm) dan Xerox (jenis mesin fotokopi). Di sana saya menemui salah satu teman, lalu di ajak jalan-jalan ke Rochester View yang dapat melihat kota Rochester dari atas bukit. Cantik sekali, serasa di Gunungharjo, atau Bogor atau Batu...Di Rochester, saya sempat mampir ke rumah makan untuk sekedar nonton piala dunia yang seru itu...
Foto yang lain menunjukkan hiruk pikuk di kota Buffalo yang sedang menggelar festival makanan khas Amerika tanggal 10-11 Juli lalu. Nama kegiatan itu adalah "Taste of Buffalo" artinya rasa masakan khas Buffalo. Puluhan masakan dengan aneka rasa tumpah ruah di jalan, berkilo-kilo meter. Capek juga jalannya. Lumayan, bisa menikmati hidangan dengan prosi kecil dan harga terjangkau.
Oke...itu dulu kayaknya...cerita akan disambung dengan gambar-gambar yang lain, Insya Allah...
Kamis, 08 Juli 2010
INDONESIA TERNYATA LEBIH BAIK DARI AMERIKA
Indonesia ternyata lebih menyenangkan dibanding Amerika. Percaya? Kalau tidak, di sini akan saya paparkan betapa hidup di Indonesia lebih nyaman ketimbang hidup di Amerika.
Pertama, dalam hal transportasi, saya sangat kesulitan untuk bisa hanya sekedar pergi ke pasar atau swalayan. Mengapa? Karena saya tidak punya mobil. Adapun transportasi umum, jumlahnya tidak banyak dan tidak selalu melewati tempat-tempat strategis. Bus atau kereta hanya melayani rute khusus yang sangat terbatas. Alhasil, ketika mahasiswa ingin jalan-jalan, mereka lebih sering carter bis atau mobil ketimbang menggunakan fasilitas umum. Hal ini tentu berbeda dengan situasi di Indonesia. Kita bisa kemana saja dan kapan saja. Bisa pakai bis, kereta, angkot, hingga ojek. Di Amerika, tidak ada motor apalagi ojek. Hanya mobil pribadilah yang memenuhi jalan dan lapangan parkir.
Kedua, tentang telepon. Di Amerika yang luasnya lebih besar dari Indonesia, provider komunikasi hanya dua perusahaan, T-Mobile dan T&T Mobile. Alhasil, komunikasi menjadi sangat mahal di Amerika. Masyarakat tidak punya pilihan. Kemudian, sistem yang berlaku adalah langganan bulanan atau sistem kontrak. Jadi, kita tidak bisa sesuka hati beli kartu dan tidak mudah pula menemukan konter-konter isi ulang pulsa. Berbeda dengan Indonesia, provider telepon banyak sekali jumlahnya. Kita bisa memilih dan membeli kartu perdana hingga di jembatan penyebrangan sekalipun. Biaya komunikasi juga sangat murah. Aneka paket gratis juga ditawarkan. It is really amazing!!!
Ketiga, cuaca. Di Amerika sebagai salah satu negara yang memiliki empat musim, kita tidak mudah menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca yang ekstrim. Di musim panas seperti sekarang ini yang katanya musim paling menyenangkan, ternyata panasnya tidak menentu, kadang dingin, kadang panas biasa, hingga menyengat. Besok bahkan diprediksikan akan ada hujan deras. Wow, beda kan dengan hidup di Indonesia yang hanya punya dua musim, panas atau hujan. Kita tak perlu beli pakaian dingin yang mahal, sepatu boot, hingga pemanas ruangan.
Alhasil, hidup di Indonesia nampaknya lebih nyaman dan menyenangkan di Amerika. Setuju kan?
Pertama, dalam hal transportasi, saya sangat kesulitan untuk bisa hanya sekedar pergi ke pasar atau swalayan. Mengapa? Karena saya tidak punya mobil. Adapun transportasi umum, jumlahnya tidak banyak dan tidak selalu melewati tempat-tempat strategis. Bus atau kereta hanya melayani rute khusus yang sangat terbatas. Alhasil, ketika mahasiswa ingin jalan-jalan, mereka lebih sering carter bis atau mobil ketimbang menggunakan fasilitas umum. Hal ini tentu berbeda dengan situasi di Indonesia. Kita bisa kemana saja dan kapan saja. Bisa pakai bis, kereta, angkot, hingga ojek. Di Amerika, tidak ada motor apalagi ojek. Hanya mobil pribadilah yang memenuhi jalan dan lapangan parkir.
Kedua, tentang telepon. Di Amerika yang luasnya lebih besar dari Indonesia, provider komunikasi hanya dua perusahaan, T-Mobile dan T&T Mobile. Alhasil, komunikasi menjadi sangat mahal di Amerika. Masyarakat tidak punya pilihan. Kemudian, sistem yang berlaku adalah langganan bulanan atau sistem kontrak. Jadi, kita tidak bisa sesuka hati beli kartu dan tidak mudah pula menemukan konter-konter isi ulang pulsa. Berbeda dengan Indonesia, provider telepon banyak sekali jumlahnya. Kita bisa memilih dan membeli kartu perdana hingga di jembatan penyebrangan sekalipun. Biaya komunikasi juga sangat murah. Aneka paket gratis juga ditawarkan. It is really amazing!!!
Ketiga, cuaca. Di Amerika sebagai salah satu negara yang memiliki empat musim, kita tidak mudah menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca yang ekstrim. Di musim panas seperti sekarang ini yang katanya musim paling menyenangkan, ternyata panasnya tidak menentu, kadang dingin, kadang panas biasa, hingga menyengat. Besok bahkan diprediksikan akan ada hujan deras. Wow, beda kan dengan hidup di Indonesia yang hanya punya dua musim, panas atau hujan. Kita tak perlu beli pakaian dingin yang mahal, sepatu boot, hingga pemanas ruangan.
Alhasil, hidup di Indonesia nampaknya lebih nyaman dan menyenangkan di Amerika. Setuju kan?
PINDAH TEMPAT TINGGAL
Setelah satu minggu tinggal di asrama, saya merasakan sepi sekali. Saya ibarat burung dalam sangkar yang sunyi. Belum lagi perubahan cuaca yang cukup ekstrim di New York. Hari ini dingin segar seperti Malang, besok panas menyengat serupa Jakarta. Meskipun begitu, saya harus betah dengan situasi tersebut. Jika tidak, misi mulia belajar bahasa di negeri Paklik Sam bisa berantakan.
Di saat galau, datang pertolongan Allah SWT yang tak saya duga. Saat Shalat Jumat di masjid, saya bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang bernama Faisal. Ia sempat menanyakan keadaan saya di asrama. Saya pun bercerita kalau di asrama saya tak punya kawan. Semua sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mas Faisal sempat janji akan mencarikan alternatif tempat baru jika ada. Ia pun sempat menawarkan kalau-kalau saya mau pindah ke rumah kontrakannya. Katanya ada kamar kosong yang belum berpenghuni. Sekedar informasi tentang sistem yang berlaku di Amerika, jika ada rumah dengan beberapa kamar, maka kamar-kamar itu bisa dikontrakkan secara mandiri oleh pemilik rumah. Artinya, jika ada kamar kosong di rumah itu, maka siapapun bisa daftar untuk menjadi penghuni dengan menghubungi pemiliknya. Jadi, kalau saya mau, ia akan menanyakan kepada sang empunya rumah tentang boleh tidaknya saya ngontrak di salah satu kamar miliknya.
Alhamdulillah, sang pemilik tidak keberatan menerima saya meskipun hanya satu bulan. Padahal, biasanya, kontrak itu minimal untuk satu semester. Oleh sebab itu, saya patut bersyukur ternyata ada jalan untuk bisa lebih leluasa menikmati Amerika dengan panduan salah satu kawan Indonesia yang kebetulan punya mobil itu. Jika tidak, maka saya hanya termenung di kamar di saat kegiatan belajar di kampus usai.
Sekarang, saya sudah tinggal di tempat baru, Jalan Sweet Home Nomor 2021 Buffalo, NY. Saya merasa betah tinggal di rumah itu. Kamarnya bersih, berkarpet dengan AC yang nyaman. Peralatan dapur juga lengkap. Kulkas, TV, kompor listrik, dan mesin cuci telah tersedia. Kalau mau pergi belanja atau ke masjid bisa ikut mas Faisal. Sungguh, betapa banyak nikmat yang harus saya syukuri. Hamdan Laka Ya Allah...
Di saat galau, datang pertolongan Allah SWT yang tak saya duga. Saat Shalat Jumat di masjid, saya bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang bernama Faisal. Ia sempat menanyakan keadaan saya di asrama. Saya pun bercerita kalau di asrama saya tak punya kawan. Semua sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mas Faisal sempat janji akan mencarikan alternatif tempat baru jika ada. Ia pun sempat menawarkan kalau-kalau saya mau pindah ke rumah kontrakannya. Katanya ada kamar kosong yang belum berpenghuni. Sekedar informasi tentang sistem yang berlaku di Amerika, jika ada rumah dengan beberapa kamar, maka kamar-kamar itu bisa dikontrakkan secara mandiri oleh pemilik rumah. Artinya, jika ada kamar kosong di rumah itu, maka siapapun bisa daftar untuk menjadi penghuni dengan menghubungi pemiliknya. Jadi, kalau saya mau, ia akan menanyakan kepada sang empunya rumah tentang boleh tidaknya saya ngontrak di salah satu kamar miliknya.
Alhamdulillah, sang pemilik tidak keberatan menerima saya meskipun hanya satu bulan. Padahal, biasanya, kontrak itu minimal untuk satu semester. Oleh sebab itu, saya patut bersyukur ternyata ada jalan untuk bisa lebih leluasa menikmati Amerika dengan panduan salah satu kawan Indonesia yang kebetulan punya mobil itu. Jika tidak, maka saya hanya termenung di kamar di saat kegiatan belajar di kampus usai.
Sekarang, saya sudah tinggal di tempat baru, Jalan Sweet Home Nomor 2021 Buffalo, NY. Saya merasa betah tinggal di rumah itu. Kamarnya bersih, berkarpet dengan AC yang nyaman. Peralatan dapur juga lengkap. Kulkas, TV, kompor listrik, dan mesin cuci telah tersedia. Kalau mau pergi belanja atau ke masjid bisa ikut mas Faisal. Sungguh, betapa banyak nikmat yang harus saya syukuri. Hamdan Laka Ya Allah...
Senin, 05 Juli 2010
SUSAHNYA MENDIRIKAN SHALAT
Selama di Indonesia, masalah shalat hanya masalah keinginan. Kalau mau, shalat bisa dilakukan di mana saja, dari kota hingga pelosok desa. Air wudhu tersedia di jutaan masjid an mushalla. Kalau dalam perjalanan, belanja atau rekreasi sekalipun, mendirikan shlat bukan perkara susah. Pendeknya, kalau adzan terdengar, shalat bisa langsung dilakukan.
Namun, berbeda dengan kondisi di Amerika. Seperti kata Mas Yas, di negara sekuler ini harus pandai mengatur diri sendiri. Tak ada adzan, tak banyak masjid, tak mudah menemukan mushalla. Jadi, kalau sedang bepergian, waktu shalat sering begitu saja lewat tanpa bisa berbuat apa-apa.
Masalah ini sebenarnya sudah saya rasakan semenjak meninggalkan Jakarta. Tatkala berada di Bandara Changi, Singapura, saya tidak mudah melaksanakan shalat. Saya harus bertanya kepada pada petugas Bandara, kalau-kalau ada semacam prayer room atau worship room. Alhamdulillah, saya pun bisa menemukan ruang tersebut di salah satu pojok bandara. Agak sulit juga menemukan ruang terpencil ini. Tetapi, senangnya bisa shalat dengan normal.
Kemudian, ketika sampai di Jepang, saya tak dapat menemukan tempat semacam itu. Juga, saat mendarat di San Fransisco. Saya sempat bertanya kepada salah satu petugas konter informasi, tetapi hasilnya nihil. Yah...terpaksa salat sebisanya dengan cara seadanya.
Kini ketika saya di New York, bayangan saya benar-benar seperti kenyataan. Saya akan sering dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit. Mau shalat tetapi tak ada tempat shalat dan tak ada tempat wudhu. Kalau bepergian, jelas tak mudah menjaga shalat. Akhirnya, saya masih sering menjalankan shalat dengan dijama saat sampai di rumah. kalau sekarang masih mungkin karena masih tergolong musafir, tetapi kalau udah lebih dari satu minggu (ada sih yang berpendapat 3 hari, satu bulan, hingga selama di luar tempat tinggal termasuk musafir), saya agak sulit kalau masih juga menjama' shalat.
Masalah lain yang saya hadapi terkait dengan shalat adalah soal waktu. Di sini, waktu shubuh adalah pukul 4 pagi, pukul 5.30 udah terang benderang. Lalu dhuhur, pukul 13.30, ashar 17.30, maghrib, 21.00 dan isya 23.00. Jadi, ashar itu waktunya sama dengan magrib di Indonesia, lalu shalat isya itu waktunya sudah larut malam di saat mata udah ngantuk. Bangun-bangun udah subuh. Untungnya saat ini saya masih mengalami jetleg sehingga saat malam sulit tidur karena biasanya pada saat tersebut saya biasanya sedang aktif melakukan kegiatan. tetapi jika nanti sudah terbiasa dengan jam malam, maka bisa jadi shalat Isya saya sering tergadaikan. Saya hanya berdoa, dengan kekuatan-Nya serta luas pengampunan-Nya, saya masih bisa mendirikan shalat sebagaimana mestinya. Amin.
Namun, berbeda dengan kondisi di Amerika. Seperti kata Mas Yas, di negara sekuler ini harus pandai mengatur diri sendiri. Tak ada adzan, tak banyak masjid, tak mudah menemukan mushalla. Jadi, kalau sedang bepergian, waktu shalat sering begitu saja lewat tanpa bisa berbuat apa-apa.
Masalah ini sebenarnya sudah saya rasakan semenjak meninggalkan Jakarta. Tatkala berada di Bandara Changi, Singapura, saya tidak mudah melaksanakan shalat. Saya harus bertanya kepada pada petugas Bandara, kalau-kalau ada semacam prayer room atau worship room. Alhamdulillah, saya pun bisa menemukan ruang tersebut di salah satu pojok bandara. Agak sulit juga menemukan ruang terpencil ini. Tetapi, senangnya bisa shalat dengan normal.
Kemudian, ketika sampai di Jepang, saya tak dapat menemukan tempat semacam itu. Juga, saat mendarat di San Fransisco. Saya sempat bertanya kepada salah satu petugas konter informasi, tetapi hasilnya nihil. Yah...terpaksa salat sebisanya dengan cara seadanya.
Kini ketika saya di New York, bayangan saya benar-benar seperti kenyataan. Saya akan sering dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit. Mau shalat tetapi tak ada tempat shalat dan tak ada tempat wudhu. Kalau bepergian, jelas tak mudah menjaga shalat. Akhirnya, saya masih sering menjalankan shalat dengan dijama saat sampai di rumah. kalau sekarang masih mungkin karena masih tergolong musafir, tetapi kalau udah lebih dari satu minggu (ada sih yang berpendapat 3 hari, satu bulan, hingga selama di luar tempat tinggal termasuk musafir), saya agak sulit kalau masih juga menjama' shalat.
Masalah lain yang saya hadapi terkait dengan shalat adalah soal waktu. Di sini, waktu shubuh adalah pukul 4 pagi, pukul 5.30 udah terang benderang. Lalu dhuhur, pukul 13.30, ashar 17.30, maghrib, 21.00 dan isya 23.00. Jadi, ashar itu waktunya sama dengan magrib di Indonesia, lalu shalat isya itu waktunya sudah larut malam di saat mata udah ngantuk. Bangun-bangun udah subuh. Untungnya saat ini saya masih mengalami jetleg sehingga saat malam sulit tidur karena biasanya pada saat tersebut saya biasanya sedang aktif melakukan kegiatan. tetapi jika nanti sudah terbiasa dengan jam malam, maka bisa jadi shalat Isya saya sering tergadaikan. Saya hanya berdoa, dengan kekuatan-Nya serta luas pengampunan-Nya, saya masih bisa mendirikan shalat sebagaimana mestinya. Amin.
SUKA DUKA TINGGAL DI APARTEMEN
Tinggal di apartemen ternyata tak selamanya enak. Memang, saat datang, ketersediaan penginapan yang siap huni sangat membantu. Bayangkan, jika pihak kampus tidak memesankan satu kamar untuk saya, tentu saya akan terlantar di saat tiba di tengah malam. Saya patut bersyukur, namun, hampir seminggu ini saya seperti berada di dalam sangkar. Tak ada teman, tak ada kawan. Kalaulah ada kawan yang sama-sama menginap di apartemen, mereka tentu memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Saya pun tak bisa sesuka hati mengganggu mereka.
Untungnya, saya dapat mengontak satu kawan Indonesia yang sedang belajar di sini. Namanya Mbak Nuning. Dialah orang yang paling berarti di hari-hari pertama di negeri asing ini. Saya diantar untuk keliling Buffalo untuk membeli ricecooker agar saya bisa hidup normal kembali. Wow, dengan punya alat memasak nasi itu, saya sekarang bisa masak sayur dan goreng ikan di dapur umum apartemen. Selain itu, saya juga diantar ke konter T-Mobile untuk membeli kartu perdana yang aturannya sama sekali berbeda dengan provider di Indonesia. Dengan kartu itu, komunikasi dengan keluarga dapat lebih mudah terjalin dengan biaya terjangkau. (Untuk kawan-kawan yang ingin kontak, silakan dicatat nomor saya: +1 716 235 6042. Kalau nelpon dari Indonesia lebih murah dari pada nelpon dari Amerika. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kode 01016 lalu nomor 17162356042. Ini khusus untuk pengguna indosat. satu menit sekitar Rp 1000)
Ada kejadian yang mengejutkan baru-baru ini. Dua hari yang lalu, sehabis shalat Jumat, saya pulang dan ingin istirahat. Baru saja merebahkan diri dan mulai mengantuk, tiba-tiba terdengar suara lonceng keras di kamar melalui speaker yang memberitahukan bahwa ada kebakaran di salah satu bagian apartemen. Uh, saya yang masih lemes lari tunggang langgang dari lantai lima melalui tangga. Bagaimana tidak panik, suara itu benar-benar keras dan mengharuskan seluruh penghuni keluar untuk menyelamatkan diri. Setelah di luar, saya duduk terdiam, sambil mengamati para petugas pemadam kebakaran yang mulai berdatangan. Mata masih ngantuk akibat jetleg.
Tak lama kemudian, para petugas itu meninggalkan lokasi. Lho? Ternyata, tidak terjadi apa-apa, mungkin tadi alat pendeteksi kebakaran menangkap ada asap mengepul di salah satu bagian apartemen. Dengan perasaan kesal dan kecewa,saya pun kembali ke kamar. Jantung pun masih berdebar. Itulah salah satu konsekuensi tinggal di apartemen besar yang pengamanannya sangat ketat.
Saya nampaknya akan mencari tempat baru untuk lebih dekat dengan kawan-kawan Indonesia. Kemarin, saya ketemu lagi dengan mahasiswa Indonesia di sini. Namanya mas Faisal. Dia menawarkan diri untuk mencarikan tempat tinggal yang lebih dekat dengan rumahnya. Harganya juga lebih murah. Moga saja dalam waktu dekat, saya bisa mendapatkan penginapan baru yang lebih baik.
Untungnya, saya dapat mengontak satu kawan Indonesia yang sedang belajar di sini. Namanya Mbak Nuning. Dialah orang yang paling berarti di hari-hari pertama di negeri asing ini. Saya diantar untuk keliling Buffalo untuk membeli ricecooker agar saya bisa hidup normal kembali. Wow, dengan punya alat memasak nasi itu, saya sekarang bisa masak sayur dan goreng ikan di dapur umum apartemen. Selain itu, saya juga diantar ke konter T-Mobile untuk membeli kartu perdana yang aturannya sama sekali berbeda dengan provider di Indonesia. Dengan kartu itu, komunikasi dengan keluarga dapat lebih mudah terjalin dengan biaya terjangkau. (Untuk kawan-kawan yang ingin kontak, silakan dicatat nomor saya: +1 716 235 6042. Kalau nelpon dari Indonesia lebih murah dari pada nelpon dari Amerika. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kode 01016 lalu nomor 17162356042. Ini khusus untuk pengguna indosat. satu menit sekitar Rp 1000)
Ada kejadian yang mengejutkan baru-baru ini. Dua hari yang lalu, sehabis shalat Jumat, saya pulang dan ingin istirahat. Baru saja merebahkan diri dan mulai mengantuk, tiba-tiba terdengar suara lonceng keras di kamar melalui speaker yang memberitahukan bahwa ada kebakaran di salah satu bagian apartemen. Uh, saya yang masih lemes lari tunggang langgang dari lantai lima melalui tangga. Bagaimana tidak panik, suara itu benar-benar keras dan mengharuskan seluruh penghuni keluar untuk menyelamatkan diri. Setelah di luar, saya duduk terdiam, sambil mengamati para petugas pemadam kebakaran yang mulai berdatangan. Mata masih ngantuk akibat jetleg.
Tak lama kemudian, para petugas itu meninggalkan lokasi. Lho? Ternyata, tidak terjadi apa-apa, mungkin tadi alat pendeteksi kebakaran menangkap ada asap mengepul di salah satu bagian apartemen. Dengan perasaan kesal dan kecewa,saya pun kembali ke kamar. Jantung pun masih berdebar. Itulah salah satu konsekuensi tinggal di apartemen besar yang pengamanannya sangat ketat.
Saya nampaknya akan mencari tempat baru untuk lebih dekat dengan kawan-kawan Indonesia. Kemarin, saya ketemu lagi dengan mahasiswa Indonesia di sini. Namanya mas Faisal. Dia menawarkan diri untuk mencarikan tempat tinggal yang lebih dekat dengan rumahnya. Harganya juga lebih murah. Moga saja dalam waktu dekat, saya bisa mendapatkan penginapan baru yang lebih baik.
Sabtu, 03 Juli 2010
JADI DUTA BANGSA, REALLY?
Sejak di New York, saya harus beradaptasi dengan banyak hal.
Kawan-kawan kursus berasal dari berbagai negara, China, Taiwan, Hongkong, Costarica, Turki, Saudi, Senegal, dan masih banyak lagi.
Ternyata banyak yang belum tahu dimana letak Indonesia.
Wow, saya harus menjelaskan dengan semangat 45 agar bangsa yang besar itu dikenal generasi muda berbagai negara
Serasa jadi duta bangsa nih
Promosi kekayaan alam, budaya, dan karakter bangsa
Kawan-kawan kursus berasal dari berbagai negara, China, Taiwan, Hongkong, Costarica, Turki, Saudi, Senegal, dan masih banyak lagi.
Ternyata banyak yang belum tahu dimana letak Indonesia.
Wow, saya harus menjelaskan dengan semangat 45 agar bangsa yang besar itu dikenal generasi muda berbagai negara
Serasa jadi duta bangsa nih
Promosi kekayaan alam, budaya, dan karakter bangsa
Jumat, 02 Juli 2010
HARI PERTAMA DI NEW YORK
Senang campur sedih, begitulah kira-kira perasaan saya ketika saya memasuki asrama kampus, Goodyear Hall. Saya senang karena saya telah selesai melakukan panjang menyeberangi lautan dan benua yang luas, hampir separuh bumi saya lewati. Ketegangan-ketegangan kecil yang terjadi selama berada di setiap bandara yang saya singgahi pupus sudah. Tempat yang sebelumnya seperti jauh dan mustahil dikunjungi kini sudah di depan mata. Kekhawatiran tentang keamanan sesampai di bandara terakhir Buffalo-Niagara di tengah malam telah hilang. Allah SWT telah menurunkan rahmat dan bantuan-Nya melalui tangan-tangan banyak orang. Begitulah, saya bisa mendapat kunci kamar di saat orang-orang sedang lelap tidur termasuk petugas jaga pada pukul 00.30 dini hari.
Pagi, pukul 5 saya sudah bangun. Hari masih gelap dan saya pun melakukan shalat shubuh. Karena tidak bisa tidur lagi, saya memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kampus untuk sekedar menghilangkan penat duduk 30 jam di pesawat. Pemandangan kampus SUNY Buffalo masih asri, banyak pepohonan dan lapangan rumput. Jalan-jalan masih lengan, maklum hari masih pagi. Udara dingin menyengat begitu saya keluar gedung, persis seperti di Kota Batu. Di sini, cuaca masih terpengaruh musim semi yang baru berakhir. Sekarang, di musim panas, kampus sedang libur panjang sehingga suasananya tidak terlalu ramai.
Gedung kampus terlihat unik. Semuanya berwarna coklat dan berbentuk balok dan kubus. Tidak ada atap seperti gedung-gedung di Indonesia. Tak ada warung dan toko di sekitar kampus. Juga tidak ada perumahan warga yang biasa ditempat mahasiswa. Benar-benar murni kampus. Kalau ada warung, itu bukan kaki lima, tetapi toko besar dengan fasilitas supermarket atau rumah makan. Jadi, mereka berada di dalam kampus di ruang-ruang tertentu.
Setelah cukup berkeliling, saya balik ke kamar untuk siap-siap ke tempat kursus. Saya tidak tahu harus kemana karena masih buta dengan peta kampus. Saya akhirnya bertanya ke petugas asrama untuk menunjukkan lokasi kursus. Ternyata, saya harus naik bus sekitar setengah jam menuju kampus Utara. O ternyata SUNY Buffala ini punya dua are kapus, Utara dan Selatan. Asrama saya kebetulan berada di wilayah selatan.
Sesampai di kampus utara, saya bingung lagi. Gedung-gedungnya sangat banyak dan saya harus menuju Baldy Hall yang entah dimana lokasinya. Saya pun bertanya kepada beberapa orang dan ahirnya saya bisa sampai di gedung tersebut. Di tempat kursus, saya menemui Kathy yang selama ini kontak via email. Ia begitu gembira menyambut kedatangan saya yang memang ditunggu-tunggu. Saya mendapat sejumlah dokumen dan instruksi seputar kursus. Saya diajak Kathy keliling kampus sambil ditunjukkan pos-pos kegiatan yang akan saya lalui. Saya juga diajak ke ruang administrasi utuk membuat kartu mahasiswa, UB Card namanya.
Setelah cukup lengkap petunjuk dari Kathy, saya pun diarahkan untuk segera membuka rekening di M & T Bank. Saya pun mencari lokasi bank milik kampus itu. Cukup lama juga saya berjalan-jalan mengitari gedung-gedung kampus sambil tanya sana-sini. Akhirnya, sampai juga saya di bank tersebut.
Setelah itu, saya mampir ke pusat belanja milik kampus, TOPS namanya. Di swalayan itu, saya beli penggorengan, telur, roti, dan kebutuhan harian. Wah, saya bisa masak nih. Sayangnya saya belum bisa beli ricecooker untuk masak nasi. Terpaksa deh, makan roti dengan telur ceplok. hehehe. tapi lumayan, setidaknya saya bisa lebih irit dan sehat dalam memilih makanan.
Kesimpulannya, kari pertama berlalu dengan baik, kartu nama, rekening bank, dan keperluan makanan dapat saya peroleh dengan baik. saya masih tidak masuk kursus karena disarankan Kathy untuk istirahat. Besoknya, saya baru mengikuti kursus di English Language Institute (ELI) SUNY Buffalo yang sebenarnya telah dimulai seminggu yang lalu.
Pagi, pukul 5 saya sudah bangun. Hari masih gelap dan saya pun melakukan shalat shubuh. Karena tidak bisa tidur lagi, saya memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kampus untuk sekedar menghilangkan penat duduk 30 jam di pesawat. Pemandangan kampus SUNY Buffalo masih asri, banyak pepohonan dan lapangan rumput. Jalan-jalan masih lengan, maklum hari masih pagi. Udara dingin menyengat begitu saya keluar gedung, persis seperti di Kota Batu. Di sini, cuaca masih terpengaruh musim semi yang baru berakhir. Sekarang, di musim panas, kampus sedang libur panjang sehingga suasananya tidak terlalu ramai.
Gedung kampus terlihat unik. Semuanya berwarna coklat dan berbentuk balok dan kubus. Tidak ada atap seperti gedung-gedung di Indonesia. Tak ada warung dan toko di sekitar kampus. Juga tidak ada perumahan warga yang biasa ditempat mahasiswa. Benar-benar murni kampus. Kalau ada warung, itu bukan kaki lima, tetapi toko besar dengan fasilitas supermarket atau rumah makan. Jadi, mereka berada di dalam kampus di ruang-ruang tertentu.
Setelah cukup berkeliling, saya balik ke kamar untuk siap-siap ke tempat kursus. Saya tidak tahu harus kemana karena masih buta dengan peta kampus. Saya akhirnya bertanya ke petugas asrama untuk menunjukkan lokasi kursus. Ternyata, saya harus naik bus sekitar setengah jam menuju kampus Utara. O ternyata SUNY Buffala ini punya dua are kapus, Utara dan Selatan. Asrama saya kebetulan berada di wilayah selatan.
Sesampai di kampus utara, saya bingung lagi. Gedung-gedungnya sangat banyak dan saya harus menuju Baldy Hall yang entah dimana lokasinya. Saya pun bertanya kepada beberapa orang dan ahirnya saya bisa sampai di gedung tersebut. Di tempat kursus, saya menemui Kathy yang selama ini kontak via email. Ia begitu gembira menyambut kedatangan saya yang memang ditunggu-tunggu. Saya mendapat sejumlah dokumen dan instruksi seputar kursus. Saya diajak Kathy keliling kampus sambil ditunjukkan pos-pos kegiatan yang akan saya lalui. Saya juga diajak ke ruang administrasi utuk membuat kartu mahasiswa, UB Card namanya.
Setelah cukup lengkap petunjuk dari Kathy, saya pun diarahkan untuk segera membuka rekening di M & T Bank. Saya pun mencari lokasi bank milik kampus itu. Cukup lama juga saya berjalan-jalan mengitari gedung-gedung kampus sambil tanya sana-sini. Akhirnya, sampai juga saya di bank tersebut.
Setelah itu, saya mampir ke pusat belanja milik kampus, TOPS namanya. Di swalayan itu, saya beli penggorengan, telur, roti, dan kebutuhan harian. Wah, saya bisa masak nih. Sayangnya saya belum bisa beli ricecooker untuk masak nasi. Terpaksa deh, makan roti dengan telur ceplok. hehehe. tapi lumayan, setidaknya saya bisa lebih irit dan sehat dalam memilih makanan.
Kesimpulannya, kari pertama berlalu dengan baik, kartu nama, rekening bank, dan keperluan makanan dapat saya peroleh dengan baik. saya masih tidak masuk kursus karena disarankan Kathy untuk istirahat. Besoknya, saya baru mengikuti kursus di English Language Institute (ELI) SUNY Buffalo yang sebenarnya telah dimulai seminggu yang lalu.
SEKILAS CERITA SAAT MASUK PORT ENTRY DI SAN FRANSISCO
Saat saya menginjakkan kaki di bumi Amerika, saya mulai khawatir akan sulitnya urusan imigrasi di Port entry, San Fransisco. Banyak berita beredar bahwa seorang pendatang dari negara yang masih dicurigai sebagai sarang teroris, termasuk Indonesia, akan dipersulit untuk meneruskan langkah ke proses selanjutnya. Saya yang sebelumnya sudah berstatus “pending visa” tentu wajar jika nantinya akan masuk daftar orang yang patut dicurigai. Meskipun begitu, mendarat setelah perjalanan panjang 6 jam dari Singapura ke Jepang, lalu 9 jam dari Jepang ke Amerika, saya harus tetap mengucap syukur karena telah selamat menyentuh bumi kembali. Badan yang lelah, mata yang sulit dipejamkan, hati yang berdebar, mengiringi tapak kaki untuk memasuki area imigrasi.
Petugas yang kebetulan lumayan ramah menyampaikan beberapa pertanyaan. Saya pun menjawab sejujurnya dengan energi yang tersisa. Saya harus diambil gambar dan sidik jari. Kemudian, sang petugas menyilakan saya untuk masuk ke ruang khusus untuk wawancara kedua. Ini ternyata persis dengan banyak cerita kawan bahwa saya tidak begitu saja langsung mengambil bagasi. Di ruang inilah, banyak kawan yang kemudian ketinggalan pesawat gara-gara prosesnya yang berbelit dan lama. Saya pun pasrah mengikuti prosedur ini.
Masuk ruang ‘secondary interview” saya diminta untuk mengisi formulir yang isinya berupa sejumlah pertanyaan tentang latar belakang keluarga, termasuk nama ayah, nama ibu, pekerjaan, dan kontak kawan di Amerika. Setelah semua lengkap saya diarahkan menuju ruang wawancara. Di sana ada dua petugas, satu perempuan dan satu laki-laki.Petugas yang memproses saya adalah petugas laki-laki yang namanya sulit saya lupakan, yakni Ngliyen, yang mirip dengan nama kecamatan tempat IAIN Walisongo berada, yakni Ngaliyan. Tentu saya tidak bisa tertawa tatkala menyadari hal itu. Saya harus konsentrasi menjawab sejumlah pertanyaan yang kemudian diluncurkan.
Peserta yang kebetulan hanya saya diminta maju untuk menjelaskan sejumlah dokumen dan formulir isian. Saya ditanya tentang banyak hal, seperti siapa yang mensponsori, berapa lama akan tinggal, apa yang akan dikerjakan, dan alamat tinggal.Tak lama kemudian, saya diminta untuk meletakkan jari telunjuk kanan untuk pengambilan sidik jari. Setelah itu saya diambil foto degan membawa berkas NSEERS yang diletakkan di dada. Setelah semua selesai, saya pikir, saya masih harus menjalani proses selanjutnya. Ternyata dokumen saya yang sudah disahkan diserahkan kembali dengan secarik kertas I-94 yang menerangkan bahwa saya boleh tinggal di Amerika sampai batas waktu yang ditentukan oleh pihak Fulbright. Wah, alhamdulillah, senangnya hati ini karena saya bisa melanjutkan perjalanan ke New York yang masih butuh 5 jam lagi dengan dua kali penerbangan, ke Chicago dulu, baru ke Buffalo New York. Tetapi, sudah terbayang bahwa saya akan lancar tanpa harus repot mengurus penerbangan yang tertunda. Saya langsung menuju Gate keberangkatan yang cukup jauh. Kaki sempat kram dibuatnya. Tapi tak masalah, saya sudah sah masuk Amerika.
Petugas yang kebetulan lumayan ramah menyampaikan beberapa pertanyaan. Saya pun menjawab sejujurnya dengan energi yang tersisa. Saya harus diambil gambar dan sidik jari. Kemudian, sang petugas menyilakan saya untuk masuk ke ruang khusus untuk wawancara kedua. Ini ternyata persis dengan banyak cerita kawan bahwa saya tidak begitu saja langsung mengambil bagasi. Di ruang inilah, banyak kawan yang kemudian ketinggalan pesawat gara-gara prosesnya yang berbelit dan lama. Saya pun pasrah mengikuti prosedur ini.
Masuk ruang ‘secondary interview” saya diminta untuk mengisi formulir yang isinya berupa sejumlah pertanyaan tentang latar belakang keluarga, termasuk nama ayah, nama ibu, pekerjaan, dan kontak kawan di Amerika. Setelah semua lengkap saya diarahkan menuju ruang wawancara. Di sana ada dua petugas, satu perempuan dan satu laki-laki.Petugas yang memproses saya adalah petugas laki-laki yang namanya sulit saya lupakan, yakni Ngliyen, yang mirip dengan nama kecamatan tempat IAIN Walisongo berada, yakni Ngaliyan. Tentu saya tidak bisa tertawa tatkala menyadari hal itu. Saya harus konsentrasi menjawab sejumlah pertanyaan yang kemudian diluncurkan.
Peserta yang kebetulan hanya saya diminta maju untuk menjelaskan sejumlah dokumen dan formulir isian. Saya ditanya tentang banyak hal, seperti siapa yang mensponsori, berapa lama akan tinggal, apa yang akan dikerjakan, dan alamat tinggal.Tak lama kemudian, saya diminta untuk meletakkan jari telunjuk kanan untuk pengambilan sidik jari. Setelah itu saya diambil foto degan membawa berkas NSEERS yang diletakkan di dada. Setelah semua selesai, saya pikir, saya masih harus menjalani proses selanjutnya. Ternyata dokumen saya yang sudah disahkan diserahkan kembali dengan secarik kertas I-94 yang menerangkan bahwa saya boleh tinggal di Amerika sampai batas waktu yang ditentukan oleh pihak Fulbright. Wah, alhamdulillah, senangnya hati ini karena saya bisa melanjutkan perjalanan ke New York yang masih butuh 5 jam lagi dengan dua kali penerbangan, ke Chicago dulu, baru ke Buffalo New York. Tetapi, sudah terbayang bahwa saya akan lancar tanpa harus repot mengurus penerbangan yang tertunda. Saya langsung menuju Gate keberangkatan yang cukup jauh. Kaki sempat kram dibuatnya. Tapi tak masalah, saya sudah sah masuk Amerika.
Rabu, 30 Juni 2010
TELAH SAMPAI DI NEW YORK
Tiada kata selain ucapan syukur alhamdulillah, akhirnya say sampai juga di New York. Perjalanan jauh yang melelahkan selama sekitar 30 jam berakhir sudah. Lelah, ngantuk, sampai kram mewarnai perjalanan saya. Kini, saya sudah terdaftar sebagai mahasiswa di State University of New York di Buffalo untuk periode musim panas ini. Saya telah mendapat satu ruang kamar di Goodyear hall.
Ksempatan menulis ini dapat saya peroleh setelah saya mendapatkan kartu mahasiswa, alamat email, dan password untuk dapat mengakses komputer di perpustakaan kampus. Sementara ini tak ada pilihan lain kecuali harus menggunaka fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan saya.
Banyak hal berbeda yang harus saya lakukan untuk menyambung hidup. Saya harus rela tidak makan nasi beberapa hari. Menu yang selalu ditawarkan oleh toko-toko makanan adalah pizza, sandwich, burger, dan semacamnya yang berbahan dasar roti. Daripada kelaparan, saya pun harus menyatap makanan-makanan itu meskipun rasanya sulit diterima perut. Saya belum menemukan satu kawan pun dari Indonesia di sini. Alhasil, saya harus berekperimen menggunakan fasilitas yang belum pernah saya alami sebelumnya, seperti beli minuman di mesin (vending machine), peralatan yang serba optomatis (masuk ruangan, lampu bisa nyala sendiri lho, bukan karena ada hantu hehehe), masuk gedung harus pakai kartu gesek seperti ATM (kalau tak punya, jangan harap bisa masuk), dan yang paling penting, tak ada orang yang ngerti bahasa indonesia, jadi harus ngomong Inggris dari mulai Singapura hingga di sini. (Wah, bisa lupa nih...hehe)
Ksempatan menulis ini dapat saya peroleh setelah saya mendapatkan kartu mahasiswa, alamat email, dan password untuk dapat mengakses komputer di perpustakaan kampus. Sementara ini tak ada pilihan lain kecuali harus menggunaka fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan saya.
Banyak hal berbeda yang harus saya lakukan untuk menyambung hidup. Saya harus rela tidak makan nasi beberapa hari. Menu yang selalu ditawarkan oleh toko-toko makanan adalah pizza, sandwich, burger, dan semacamnya yang berbahan dasar roti. Daripada kelaparan, saya pun harus menyatap makanan-makanan itu meskipun rasanya sulit diterima perut. Saya belum menemukan satu kawan pun dari Indonesia di sini. Alhasil, saya harus berekperimen menggunakan fasilitas yang belum pernah saya alami sebelumnya, seperti beli minuman di mesin (vending machine), peralatan yang serba optomatis (masuk ruangan, lampu bisa nyala sendiri lho, bukan karena ada hantu hehehe), masuk gedung harus pakai kartu gesek seperti ATM (kalau tak punya, jangan harap bisa masuk), dan yang paling penting, tak ada orang yang ngerti bahasa indonesia, jadi harus ngomong Inggris dari mulai Singapura hingga di sini. (Wah, bisa lupa nih...hehe)
Langganan:
Postingan (Atom)