Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2015

KURANGI BEBAN PIKIRAN DENGAN TIPS INI

Hidup ini selalu memberikan tantangan. Masalah yang kita hadapi senantiasa memberikan warna hari tersendiri. Perubahan masa seakan mewajibkan kita untuk selalu siap siaga bergulat dengan segenap problematika. Terkadang  terbersit dalam hati, kuatkah kita melalui rintangan demi rintangan yang tak berujung? Haruskah kita bertahan dalam situasi yang menyesakkan? Atau segera saja kita mengambil jalan pintas dengan pasrah dan putus asa?
Menjadi juara memang tidak mudah walau kebanyakan orang menginginkannya.  Kita cenderung lebih senang dengan cara instan untuk menyelesaikan masalah dan ingin segera lari dari situasi yang kurang menyenangkan. Meratapi nasib adalah sikap umum yang biasa dilakukan. “Mengapa aku harus mengalami ini?” “Mengapa Tuhan setega ini padaku?” atau “Tuhan, aku sudah nggak kuat” adalah pernyataan yang lazim keluar dari mulut orang-orang yang kehilangan harapan. Beban pikiran yang terasa berat sepertinya menghapus berbagai kenikmatan yang sejatinya masih dirasakan. Semua karunia Tuhan yang masih mengalir seolah-olah sirna dengan cara berpikir pendek yang negatif ini.
Bagaimana kita bisa mengurangi perilaku yang merugikan ini? Ada beberapa tips yang bisa kita gunakan sebagai senjata ampuh mengatasi masalah ini.
Pertama, konsisten bersyukur. Syukur atau rasa terima kasih sangat mujarab untuk mengobati hati yang terluka. Perasaan terbuang atau tersiksa sering muncul tatkala kita merasa lebih rendah atau lebih hina dari orang lain. Hati serasa tercabik, muka serasa dicampakkan, dan jiwa seakan tak berguna dapat dinetralisasi dengan melihat kehidupan ini secara lebih utuh dan adil. Jika kita merasa hina, apakah di sana tak ada orang lain yang lebih merana ketimbang kita? Jika merasa paling “apes”, apakah tidak ada lagi nikmat yang masih kita terima? Bila kita gagal meraih mimpi, apakah hanya kita di dunia ini yang gigit jari? Ternyata jawabannya adalah kita masih beruntung. Sejumlah kenikmatan dan karunia masih bersama kita. Tubuh yang lengkap, indera yang sempurna, darah masih mendesir, udara masih segar ke paru-paru,  dan nyawa masih bersemayam adalah sekian nikmat yang sangat mahal. Kita harus menyadari bahwa rasa terima kasih kepada Tuhan akan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa tuhan masih sayang dan selalu bersama kita.
Kedua, dunia terus berputar. Kesadaran bahwa hidup ini ibarat roda yang terus berputar akan mendorong kita untuk tetap semangat menyongsong matahari di keesokan hari. Setiap matahari tenggelam, kegelapan akan merayap. Kesan sunyi dan seram sering muncul sepanjang lama. Namun, keyakinan bahwa sinar esok masih ada akan membuat seseorang untuk selalu optimis bahwa masa-masa suram akan segera berganti dengan masa-masa jaya. Bendera kemenangan akan segera dikibarkan. Nah, ketika saat kesuksesan datang, seseorang yang sadar perputaran dunia akan selalu waspada bahwa hidupnya tak akan selalu lurus dan mulus. Goncangan dan dinamika hidup akan selalu pasang surut. Oleh karenanya, ia akan selalu siap siaga ketika situasi berubah sewaktu-waktu di luar kendalinya dan ia akan selalu rendah hati.
Ketiga, kesadaran robbani. Ini adalah kunci utama seseorang untuk sukses. Mengapa demikian? Manusia itu sangat terbatas pengalaman dan ruang geraknya. Ia hanya hadir pada masa tertentu dan akan berakhir pada waktu tertentu pula. Ia tak akan sukses selamanya atau susah sepanjang masa. Ia pun tak kuasa untuk menahan laju ujung usia yang akan menjemputnya. Kesadaran ini akan membuatnya selalu bersandar dan bergantung kepada sang pemilik kehidupan. Ia berserah diri secara total dan meminta perlidungan kepada-Nya. Ia selalu khusyuk dalam ibadah di kala suka dan selalu tersenyum sabar di kala duka. Hidupnya sudah digaransikan untuk Tuhannya dan ia bekerja keras untuk selalu mendapatkan cinta-Nya. Kesadaran ini akan menuntunnya untuk selalu di jalan-Nya apapun kondisinya. Inilah puncak kesadaran yang mampu menyeimbangkan hati dan pikiran tatkala beban pikiran mendatanginya. Wa Allah a’lam

Selasa, 03 Februari 2015

ARSITEKTUR MAKAM, PERLUKAH?

Hari ini salah satu kawan ceramah di masjid tentang arsitektur makam. Pak Agung, sang kajur Aristektur itu, menguraikan bahwa kini penting kita pikirkan tentang tata ruang tanah makam. Selama ini, makam dianggap sebagai tempat peristirahatan terakhir yang tidak masuk dalam kategori layak arsitektur, kecuali pada lokasi pemakaman khusus, seperti makam wali, pejabat, atau tokoh. Lokasi makam umat Islam umumnya berserakan, tidak simetris, dan terkesan asal-asalan sesuka hati petugas penggali liang lahat. Mengingat tanah makam adalah fasilitas umum yang tidak produktif, jarang sekali ada petugas yang khusus menangani pengelolaannya. Padahal, jika tanah pemakaman itu ditata secara tertib dan rapi, maka kesan angker, kumuh, dan kotor dapat dihindari. Selain itu, daya tampung makam akan dapat maksimal jika pengukurannya tepat.

Sebagai misal, tanah makam di wilayah Malang, banyak ditemukan pemakaman yang padat sehingga menyulitkan bagi peziarah untuk menemukan makam keluarganya. Selain itu, jalan setapak yang seharusnya ada seringkali tidak lurus alias zigzag sehingga pengunjung atau petugas makam tidak bisa menghindarkan diri dari menginjak makam yang sudah ada. Otomatis, penghormatan terhadap jasad para almarhum tidak tercapai.  Ditambah lagi, ada beberapa kawasan makam yang dekat dengan pusat keramaian, seperti pasar atau warung. Para penjual barang seringkali menyimpan barangnya di kawasan makam. Begitu pula para pemilik warung acapkali mencuci piring dan meletakkan perabotnya di dalam kawasan makam. Kondisi ini lebih parah lagi para pengunjung warung makan dan minum di atas makam. Jadilah makam menjadi tempat yang jauh dari nilai sakral dan spiritual.

Dari kenyataan ini, kajian agama sekaligus tata ruang makam nampaknya layak untuk dibuat. Sejumlah pakar harus berkumpul untuk membicarakan tentang solusi dari kesemrawutan pengelolaan tanah makam sehingga ajaran agama tentang penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dunia tetap terjaga.  Semoga...

Rabu, 31 Desember 2014

SENTUHAN ROBBANI

Setiap hari kita beraktifitas dengan beragam kegiatan. Ketika mata terbuka dengan napas panjang pemberian-Nya, sering kita lupa mengucap syukur pada-Nya. Bayangan kita langsung tertuju pada kamar mandi tempat membersihkan diri. Saat memasuki toilet, kita jarang memperhatikan kaki mana yang masuk dan bacaan yang perlu dilafalkan. Begitu pula saat keluar pintu kamar mandi. Kita anggap itu semua rutinitas belaka dan tak perlu ada tuntunan yang mesti dihiraukan. Hal yang diingat daam benak kita hanyalah perkara-perkara besar yang efeknya cepat dan di depan mata. Padahal, sesungguhnya tidaklah begitu cara pandangnya. Banyak hal-hal kecil yang memiliki kekuatan besar yang dapat merubah hidup kita. Marilah sejenak kita merenung dan sekedar membandingkan kebiasaan kita di atas dengan uraian di bawah ini.

Sesungguhnya, Islam mengajarkan setiap langkah kita potensial bernilai ibadah. Hal-hal kecil seperti doa bangun tidur, doa masuk toilet, dan doa makan bukanlah aktifitas sekedar biasa saja. Namun lebih dari itu, panjatan doa senyatanya sebuah panduan betapa kita ini membutuhkan kekuatan sang Maha Khaliq yang membuat kita wujud hingga hari ini. Basmalah dan hamdalah adalah dua doa paling populer yang mengajari kita untuk menyadari hakikat kita sebenarnya. Basmalah menunjukkan betapa Allah dibutuhkan untuk mendampingi langkah kita, apapun itu, hingga akhirnya selesai. Basmalah merupakan manifestasi kebutuhan pengayoman dan perlindungan yang selalu kita idam-idamkan. Dengan basmalah, kita mengakui bahwa apa yang kita perbuat adalah cerminan permohonan petunjuk kepada Allah yang sangat mencintai hamba-Nya. Meskipun kita tidak membaca basmalah, kita masih bisa beraktifitas. Namun hasilnya akan terasa beda. Kesuksesan yang diraih tanpa basmalah bisa jadi dikagumi banyak orang namun justru membuat kita takabur. Beda halnya kesuksesan yang dihasilkan dengan iringan basmalah. Kesuksesan itu, baik dikagumi atau tidak, akan menambah keyakinan dan kesadaran bahwa Allah sebagai pemberi kekuatan dan inspirasi sungguh luar biasa. Kesadaran ini mengajari kita untuk tetap tawadhu dan siap memberikan manfaat kepada orang lain tanpa pamrih. Kemampuan kita yang dimanfaatkan orang lain hanyalah salah satu bentuk cara tuhan untuk memberikan pertolongan-Nya kepada para hamba-Nya. Dengan kata lain, kita hanyalah kepanjangan "tangan" Allah dalam mengatur kehidupan ini. Dengan begitu, kalimat hamdalah akan mudah terucap oleh lisan kita sebagai pengakuan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Jadi, tak akan ada congkak dalam hati karena jika Allah sebagai sang empu menarik segala potensi yang ada pada diri kita, niscaya kita kembali ke titik nol yang sama sekali tidak memiliki nilai guna.

Dari sini dapat ditarik benang merah bahwa setiap awal kegiatan dalam kehidupan kita, perlu untuk diberi sentuhan robbani. Sentuhan robbani maksudnya kesadaran keberadaan Allah di sekitar kita, di setiap hirup nafas kita, di setiap kedip mata kita, dan disetiap degup jantung kita. Allah begitu dekat dengan kita dan Allah begitu sayang kepada kita. Kita yang mungkin selama ini lupa mengingat-Nya dan merasa kuasa dengan kekuatan sementara yang kita rasakan perlu kembali menata hati dan pikiran kita bahwa kita adalah hamba-Nya yang hanya dapat berbuat jika Dia menghendaki. Rutinitas kita yang selama ini terasa hambar mungkin karena tidak diberi sentuhan robani di dalamnya. Oleh sebab itu, di akhir tahun 2014 dan di awal tahun 2015 ini, marilah kita benahi diri dengan menjadikan Allah sebagai tujuan hidup kita. Semoga kita semua berada di bawah lindungan dan ridha-Nya Amin.

Minggu, 08 September 2013

MAKIN PINGIN JADI PROFESOR, NIH, BISA NDAK YA?

“Mau jadi profesor? Gampang kok!” kalimat itu meluncur dari prof Imam Suprayogo tatkala mengisi acara akselerasi profesor di Auditorium Gedung Ir Soekarno UIN Maliki Malang, siang tadi (7/9/13). Kehadiran beliau sangat dielu-elukan oleh segenap civitas akademika kampus yang pernah dipimpinnya. Suasana begitu cair, syahdu dan haru. Canda tawa khas beliau membuat orang tertawa dan selalu merindukannya. Prof Imam kali ini diundang dalam kapasitasnya sebagai salah satu anggota tim penilai usulan profesor yang diajukan oleh berbagai perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Beliau diminta untuk menyemangati lahirnya para guru besar baru yang siap mengemban amanat pengembangan kampus yang berslogan Ulul Albab itu.
Gelar guru besar atau profesor memang satu kebanggaan yang bukan hanya milik para penerimanya namun juga satu prestise bagi universitas pengusulnya. Bisa dibayangkan, kampus besar dengan mahasiswa ribuan akan jatuh reputasinya ketika jumlah guru besarnya sedikit. Guru besar sebagaimana namanya merupakan sosok ilmuwan sejati yang telah teruji keahliannya. Dalam hal finansial, seorang guru besar dengan segala kemampuannya berhak untuk mendapatkan tunjangan kehormatan yang jumlahnya cukup menggiurkan, sekitar tiga sampai lima gaji pokoknya. Banyak orang yang sangat menginginkannya. Namun sayang harapan itu tidak segera dapat diwujudkan. Masalahnya biasanya sangat tergantung pada keaktifannya dalam menulis. Menulis sebenarnya tidak berat. Menulis hanya membutuhkan ketekunan dan semangat. Tulisan-tulisan yang sudah diterbitkan akan mempermudah jalan seseorang untuk menjadi seorang profesor.
Prof Imam kemudian bercerita tentang kegagalan sejumlah dosen yang tidak bisa diterima usulan gurubesarnya. Menurut beliau, baru-baru ini, dari 50 kandidat profesor di Kementerian Agama, hanya 4 orang yang layak dianugerahi gelar profesor. Mengapa? Apakah ini indikasi bahwa meraih kedudukan profesor sulit? Jawabannya berkali-kali beliau tegaskan: tidak, tidak, dan tidak! Mereka gagal sebenarnya bukan karena mereka tidak cukup mengajar, kurang pengabdian, atau kurang tulisan. Kalau untuk poin terpenuhinya tridarma perguruan tinggi, hampir semua mumpuni. Masalahnya hanya satu, yakni tulisannya kurang relevan dengan keahliannya. Sebagai contoh, seseorang mengusulkan dirinya untuk diangkat menjadi guru besar di bidang Hukum Islam, namun ternyata tulisannya banyak berbicara tentang sejarah. Contoh lain, seseorang yang keahliannya di bidang biologi, namun karya-karyanya bernuansa tasawuf. Memang tidak salah, seseorang memiliki dua atau lebih kecenderungan ilmu, namun harus satu rumpun. Jika satu rumpun, tulisannya pasti tidak akan yang diragukan.
Selain tulisan, nampaknya tidak ada lagi masalah krusial yang menghalangi seseorang untuk menjadi guru besar. Kalaulah ada hanya masalah teknis. Demikian penegasan prof Muhaimin yang juga diundang mendampingi prof Imam. Misalnya berkaitan dengan lokasi penerbitannya. Tulisan dapat diterbitkan dalam bentuk artikel dalam jurnal dan buku. Nah, jurnal mana? Biasanya untuk setiap kenaikan pangkat, ada sejumlah syarat, di antaranya harus diterbitkan di jurnal terakreditasi, minimal tingkat nasional, syukur-syukur kalau internasional. Untuk jurnal terakreditasi nasional, hampir setiap perguran tinggi besar memilikinya. Adapun jurnal internasional tidak selalu berkonotasi bahwa jurnal itu terbitan luar negeri. Sejumlah lembaga pendidikan tinggi Indonesia juga banyak yang berhasil memiliki jurnal internasional terakreditasi, misalnya jurnal dari UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta.
Jadi, intinya, untuk jadi guru besar yang kesejahteraannya cukup tinggi itu hanya membutuhkan ketekunan dalam meneliti dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Kalau sudah begitu, tinggal kemampuan kita untuk mempublikasikan sesuai dengan kebutuhan. Nah, betul kan, jadi guru besar itu mudah? Ayo nulis, nulis dan publish!

Rabu, 06 Februari 2013

WASPADA PEMICU PUTUSNYA PERKAWINAN: EKONOMI DAN PERSELINGKUHAN

Satu bulan sudah saya menjalani profesi mediator. Tugas utama saya adalah menghadapi kasus-kasus yang diajukan ke Pengadilan Agama setelah sidang pertama. Awalnya saya merasa kikuk, galau, dan bingung saat berhadapan langsung dengan para pihak yang tak jarang beruaian air mata atau berwajah garang menahan amarah, tapi makin lama saya pun bisa menyesuaikan diri dan dapat berperilaku lebih santai. Dari sekian banyak kasus yang saya tangani, ada benang merah yang patut dituangkan dalam tulisan ini terkait dengan kasus perceraian. Di antaranya adalah pelaku utama perceraian dan alasan perceraian.
Pada umumnya, kebanyakan orang mengira bahwa kasus perceraian adalah dominasi kaum lelaki. Ternyata tidak! Malang yang dikenal memiliki angka perceraian tertinggi di Indonesia menempatkan perempuan sebagai aktor utama perceraian alias sebagai penggugat. Tidak kurang dari 60 persen perceraian diajukan oleh perempuan. Jadi, lelaki kini harus siap-siap untuk menerima panggilan dari pengadilan karena istrinya melayangkan gugat cerai. Para istri ternyata lebih berani hidup sendiri ketimbang hidup bersama suami yang tidak bisa membuatnya bahagia.
Lalu, apa saja yang menjadikan rumah tangga tidak lagi nyaman? Ada dua motif utama yang sering ditemukan, yakni motif ekonomi dan motif perselingkuhan. Hidup rumah tangga tidak hanya sekedar bermodalkan cinta namun juga harus disertai dengan segala piranti hidup yang layak. Masalah keuangan menempati posisi penting sebagai alasan perceraian. Misalnya, ketika sang suami hanya bekerja sebagai buruh atau sopir yang penghasilannya tidak tetap, apalagi istri tidak bekerja, maka sang istri lebih rela hidup sendiri daripada menahan sedih karena tidak dinafkahi suami. Meskipun suami sudah banting tulang dari pagi hingga malam dan penghasilannya tidak jelas, istri tidak bisa terima karena ia dan anaknya tetap harus makan. Kasus model ini akan semakin parah kalau sang suami tidak bisa menahan emosi akibat rengekan istri untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ketika suami dengan kekuatan fisiknya sudah melakukan kekerasan, seperti memukul, mengumpat, atau bahkan mengusir istrinya, umumnya istri tidak tahan dan kembali ke rumah orang tuanya. Dari sinilah, muncul keinginan besar untuk berpisah dengan suaminya karena sudah tak tahan hidup menderita.
Motif kedua yang juga sangat populer di ruang mediasi adalah perselingkuhan. Kalau seseorang sudah mapan secara ekonomi, hal yang harus dijaga adalah hawa nafsunya. Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang yang sama untuk tergoda mencari kesenangan pribadi dengan orang lain yang bukan pasangannya. Di saat aktif bekerja di kantor atau perusahaan, godaan dari lawan jenis acapkali terjadi. Mulanya hanya sekedar curhat, berbagi cerita suka duka hidup, lalu jalan-jalan bersama, dan akhirnya jatuh cinta. Sikap mendua ini membuat biduk rumah tangga menjadi goyah. Kalau tidak bisa memegang amanah dari sebuah ikatan perkawinan, godaan hawa nafsu ini bisa mengaramkan pondasi rumah tangga yang sudah lama dibangun. Seorang suami bisa nikah sirri dengan rekan kerjanya. Juga, seorang istri dapat menduakan suaminya tatkala mendapat perhatian lebih dari kawan dekatnya.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkawinan dapat saja berakhir ketika suami dan istri kurang memahami esensi ikatan pernikahan. Permasalahan apa saja bisa terjadi sepanjang perjalanan berumahtangga. Oleh sebab itu, persiapan matang sebelum menikah dan kesabaran ekstra selama menikah sangat diperlukan agar tidak terjadi putusnya perkawinan yang sangat sakral itu.

Kamis, 01 November 2012

INTERNET, SMARTPHONE, DAN PERGAULAN BEBAS

Hampir semua orang yang sudah pernah menjelajahi dunia internet pasti merasakan manfaatnya yang luar biasa. Sebelum adanya internet, informasi begitu sulit didapat dan kalaupun bisa masih perlu usaha keras dan biaya yang cukup tinggi. Sebagai akademisi, saya mengakui bahwa pekerjaan saya sangat terbantu dengan adanya internet. Saya sering mencari informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan profesi dan keahlian saya. Buku-buku, jurnal, artikel, dan tulisan-tulisan lepas banyak bertebaran di dunia maya yang dilengkapi gambar full color. Belanja online, pesan tiket hingga komunikasi langsung via webcame sudah menjadi menu harian yang tak asing bagi banyak orang. Jagat hiburan pun mudah didapat dan gratis pula melalui game online maupun situs penyedia film. Pendeknya, internet bukan hal asing dan kian menjadi kebutuhan pokok di era globalisasi ini.
Akses internet kini semakin mudah dan murah. Dulu, seseorang yang ingin mengakses internet harus berjalan dulu ke warnet dan dengan sabar menghadapi antrian panjang dan biaya yang cukup mahal. Kini, telah hadir ponsel pintar atau smartphone dengan harga kacang goreng yang dapat ditemukan di mana-mana. Banjirnya produk-produk luar negeri yang murah meriah menyebabkan telepon genggam sudah biasa dikonsumsi anak-anak pra sekolah sekalipun. Telepon rumah banyak yang diputus dan beralih ke telepon mobile. Internet pun tidak kalah seru. Hampir setiap telepon telah dilengkapi gadget untuk akses internet. Tawaran bonus dari provider semakin memanjakan para netter. Akhirnya, akses informasi semakin mudah dan sangat murah.
Permasalahannya kemudian, apakah teknologi canggih itu hanya memberikan dampak positif saja? Ternyata tidak. Kemajuan teknologi selalu bersifat value free. Ia bersifat netral dan dapat digunakan untuk apa saja tergantung si pemiliknya. Dulu, sebelum adanya televisi, pro kontra hadirnya teknologi gambar jarak jauh itu kerap muncul dan bahkan hingga sekarang. Begitu pula saat internet menjadi tren gaya hidup manusia modern. Perbedaan pendapat selalu saja bermunculan. Permasalahannya adalah apakah semua orang akan menyikapi perkembangan teknologi itu dengan baik dan akan memanfaatkan semua fasilitas itu untuk kebaikan hidup? Pasti jawabnya sangat klasik: tergantung orangnya.
Internet yang kini dengan mudah dapat diakses via ponsel pintar telah banyak membuat resah banyak kalangan. Setidaknya penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika  pada 2011 yang melibatkan 1.800 pelajar di Los Angeles berusia 12-18 menunukkan bahwa smartphone dapat memicu pergaulan bebas para remaja (www.kompas.com, 31 Okt 2012). Mereka bisa mencari pasangan via internet dan melakukan pergaulan bebas tanpa ikatan pernikahan. Miris bukan?
Menurut saya, smartphone bagi orang dewasa sangat bermanfaat. Tetapi, bila disalahgunakan oleh mereka yang belum dewasa dan hanya mencari kesenangan belaka, maka internet yang diakses melalui ponsel pintar dapat memicu kriminalitas baru seperti perdagangan anak, penipuan, dan pergaulan bebas. Anak-anak yang hidup di pedesaan tak kalah mahirnya menggunakan smartphone. Kasus hamil di luar nikah tak jarang diawali dengan komunikasi via telepon dengan orang tak dikenal dan informasi-informasi tanpa sensor yang dapat diakses via handphone di dalam kamar tertutup. Bonus pulsa dan internet gratis semakin menyuburkan perilaku negatif bagi orang-orang yang tak dapat menguasai hawa nafsunya. Prihatin memang, tapi sekali lagi ini merupakan tantangan untuk anak-anak kita dan generasi penerus bangsa yang harus siap mental menghadapi arus informasi yang kian menggila tanpa batas.
Untuk mengantisipasi hal ini, saya mempunyai beberapa usulan. Pertama, hendaklah orang tua selalu menjalin komunikasi dengan anak-anak sambil menjelaskan plus minus smartphone. Banyak orang tua yang malu ketika anaknya dibilang anak jadul karena teleponnya tidak ada video atau akses internet. Bagi saya, handphone bagi anak remaja masih sebatas berfungsi untuk alat komunikasi. Jadi, jika mereka ingin mengakses internet cukup melalui komputer yang ada di ruang terbuka yang dapat dikontrol oleh orang tua.
Kedua, pendidikan agama telah terbukti menjadi filter mujarab bagi anak-anak agar mereka memiliki rasa bersalah ketika melakukan perbuatan buruk. Perasaan selalu diawasi oleh zat yang maha agung dan  adanya pertanggungjawaban atas segala perbuatan kelak di akhirat layak untuk ditanamkan sejak dini. Meskipun ini terdengar klise, tapi bagi saya tak ada yang bisa mengatur diri seseorang kecuali dirinya sendiri. Sebanyak apapun pengawasan, sesering apapun nasehat, kalau tidak dibarengi dengan kesadaran robbani kehidupan ini akan semakin hancur. Tidak hanya dalam hal akses internet yang tidak sehat, kehidupan ini secara luas juga akan rusak bisa manusia hanya mengikuti hawa nafsunya yang cenderung mengajak kepada keburukan. Korups misalnya akan tetap tumbuh subur selama manusia tidak memiliki kesadaran robbani. Jadi, pendidikan agama yang mengajarkan budi pekerti luhur tetap masih nomor satu untuk perbaikan moralitas dalam kehidupan.
Demikian, sekilas unek-unek senja yang cukup menggundahkan saya. Semoga ada manfaatnya. Salam hangat!

Selasa, 23 Oktober 2012

RUH KURBAN DALAM DUNIA HUKUM

Jika menilik kembali kisah kurban nabi Ibrahim dan nabi Ismail, kurban memiliki beberapa syarat. Di antaranya adalah  pelaku harus memiliki niat yang ikhlas dan kesadaran ketuhanan yang tinggi. Ketika syarat ini tidak ada, maka pengurbanan apapun yang dilakukan seseorang, ia pasti menginginkan imbalan yang setara atau bahkan lebih besar dari pada apa yang ia kurbankan. Seharusnya, “berdagang amal” kali ini adalah dengan Allah SWT. Jadi, keuntungannya berorientasi akhirat, bukan dunia belaka. Syarat berikutnya adalah bahwa  benda yang dikurbankan merupakan benda yang  dicintai atau bahkan benda yang paling berharga. Ibrahim sangat mencintai Ismail. Namun, demi cintanya kepada zat yang lebih agung, barang yang dicintainya pun diserahkan untuk meraih cinta hakiki. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan, perbuatan baru dikatakan berkurban ketika apa yang menjadi daya pikat dan kekuatan kita diserahkan untuk kepentingan dan kemaslahatan umat yang lebih tinggi tanpa pamrih. Sikap ini kian hari kian langka seiring dengan maraknya perdagangan pekerjaan yang dimotori oleh watak kapitalisme. Untuk itu, semangat berkurban hendaknya dimulai dari diri kita dengan menjadikan apa yang kita cintai sebagai washilah untuk menggapai cinta dari tuhan yang menciptakan. Bukankah kekayaaan atau jabatan yang kita miliki hanyalah sementara? Suatu saat semua yang kita banggakan akan hilang lenyap. Oleh sebab itu, mumpung masih bisa, selagi ada waktu, ruh berkurban hendaknya menjadi nafas kita dalam menjalankan kehidupan ini.
Semangat berkurban merupakan salah satu ajaran yang dapat diwujudkan dalam berbagai segi kehidupan, termasuk dalam penegakan hukum. Indonesia merupakan negara hukum namun tidak dipungkiri banyak ditemukan penyimpangan-penyimpangan hukum yang melukai hati masyarakat. Baru-baru ini muncul kasus pengangkatan pejabat negara yang pernah dipidana korupsi. Para tahanan tertentu juga banyak yang masih menikmati fasilitas hidup mewah. Mengapa ini terjadi? Salah satunya ruh kurban belum masuk secara mendalam ke relung-relung kehidupan. Masih banyak orang yang mementingkan diri sendiri, keluarga atau golongan. Hukum masih berpihak ke kelompok kuat baik dari sisi jabatan atau kekayaan. Peradilan belum memberikan rasa adil yang sebenar-benarnya. Untuk itu, jika ruh kurban dapat diterapkan dalam kehidupan senyatanya seperti kurban Ibrahim yang tulus tanpa pamrih, maka manusia dapat menyembelih sifat “kehewanan”nya yang suka serakah dan menang sendiri. Hukum dan peradilan akhirnya bisa menjadi pelindung sekaligus penjaga kehidupan semua orang tanpa kecuali.
Dalam hukum, pengorbanan yang penting antara lain dengan menjalankan hukum sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Peradilan harus bebas intervensi dari orang lain. Hukum harus tegak di atas semua golongan tanpa kecuali. Juga, hukum dibuat bukan hanya melayani segelintir orang yang ingin kepentingannya terlindungi. Banyak hukum di Indonesia yang muncul hanya karena keinginan sekelompok orang untuk mendapat legitimasi, seperti perda-perda yang bernuansa sara atau diskriminasi. Hal ini tentu sangat urgen di tengah situasi masyarakat yang sering tidak yakin tentang kepastian hukum dan keadilan hukum.
Hakim harus memutus perkara dengan hati nurani karena keputusannya tidak hanya berkorelasi dengan para pihak yang bersengketa tetapi dengan sang pencipta yang selalu mengawasinya. Kesadaran robbani inilah yang akan mampu menahan seseorang untuk berbuat curang dan hanya memenangkan ego dan hawa nafsunya. Hal ini juga berlaku untuk para penegak hukum lainnya, seperti aparat kepolisian dan KPK. Mereka harus jujur dan rela melaksanakan kewajiban dengan tulus tanpa harus takut menghadapi siapapun. Jika suatu saat mereka meninggal dalam rangkaian tugas, mereka harus yakin bahwa mereka tergolong orang-orang yang mati syahid.
Jadi, kurban bukan sebuah serimonial tahunan belaka. Semangat kurban harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata kita di mana pun kita berada. Semoga perayaan kurban tahun ini menjadi momen penting kita untuk menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa pamrih dan tanpa tebang pilih. Amin.

Jumat, 17 Agustus 2012

MUDIK UNIK DENGAN KERETA API EKONOMI



Sebagai orang kampung, tradisi mudik rasanya jadi satu keharusan bagi saya. Tak mudik sepertinya tak afdhol. Oleh sebab itu,  saya sudah jauh-jauh hari merencanakan acara ritual tahunan itu. Berhubung saya dari Jombang sedangkan isteri dari Bekasi, kami sepakat untuk membuat jadwal mudik yang berbeda setiap tahunnya. Tahun lalu, kami melakukan mudik ke Jombang dan tahun ini jatahnya mudik ke Bekasi. Kalaulah ke Jombang, kami tak perlu banyak persiapan karena Jombang hanya butuh waktu tempuh 3 jam dari tempat tinggal kami di Malang. Berbeda dengan itu, mudik ke Bekasi perlu persiapan ekstra yang matang mulai dari biaya, tiket, perlengkapan perjalanan hingga oleh-oleh. Selain itu kondisi fisik juga harus dijaga agar tidak ngedrop atau sakit di perjalanan. Maklum, untuk sampai di rumah mertua, kami butuh waktu tidak kurang dari 20 jam dengan menggunakan kereta api. Beragam kereta api pernah kami naiki. Mulai kereta eksekutif seperti Gajayana dan Bangunkarta hingga ekonomi semisal Matarmaja dan Gayabaru. Hanya saja, hampir 10 tahun, saya tidak lagi menggunakan kereta ekonomi karena kualitasnya yang kian memprihatinkan. Tapi, berhubung mudik kali ini tidak dapat tiket eksekutif atau bisnis, dengan sedikit terpaksa kami putuskan untuk mudik dengan kereta ekonomi. Itu pun untuk mendapatkannya, saya harus berebut dengan penumpang lain. 

Naik kereta ekonomi tahun ini menjadi pengalaman unik bagi kami. Dalam bayangan saya, kereta ekonomi masih seperti dulu ketika saya masih kuliah di Jakarta yang penuh sesak dengan fasilitas yang terbatas. Apalagi ketika menjelang lebaran seperti sekarang ini, hampir tidak ada ruangan yang tersisa. Untuk sekadar selonjor kaki saja tidak ada, bahkan toilet pun penuh sesak dengan orang. Itulah gambaran kereta ekonomi saat saya masih jadi mahasiswa dulu. Ternyata, bayangan buruk itu sedikit terhapus dengan pengalaman kemarin. Meskipun tidak terlalu sempurna, perjalanan dengan kereta ekonomi cukup menyenangkan. Tak ada lagi penumpang yang memadati gang antar kursi di dalam kereta. Lampu dan kipas angin berjalan dengan normal. Hanya saja, air di toilet masih seperti dulu, tidak selalu ada di setiap gerbongnya. Alhasil, untuk sekedar buang air kecil, penumpang harus bawa air kemasan untuk bersuci meskipun tidak sedikit mereka yang tak pakai air sama sekali sehingga aroma toilet cukup menusuk hidung.

Hal unik lain yang kami dapati selama di perjalanan adalah maraknya pedagang asongan yang setia menemani sepanjang perjalanan. Suara mereka yang khas saat menjajakan dagangannya sempat mengurangi kenyamanan berkereta. Cara mereka menjual pun berbeda-beda. Ada yang membagikan dagangannya ke setiap penumpang, seperti penjual minyak angin, mainan anak, buku, alat tulis dan sabuk, ada yang sekedar menunjukkan ke setiap penumpang semacam penjual bakpia, brem, kain batik, dan nasi bungkus, dan ada pula yang  hanya berteriak keras sambil berlalu semisal penjual air minum kemasan dan koran. Satu pedagang lewat akan disusul oleh pedangan lainnya di belakangnya. bahkan, ada sejumlah penjaja yang mondar-mandir antar gerbong. Suasana ini tidak hanya saat berhenti di stasiun tetapi sepanjang perjalanan. Dapat dibayangkan, rasanya tidak ada waktu cukup bagi penumpang untuk sekedar istirahat. Kewaspadaan diri juga terus dijaga karena bila lengah sedikit, bisa saja ada barang milik yang pindah tangan. Itulah tantangan yang jadi agenda tersendiri bagi penumpang ekonomi.

Kesimpulannya, kereta ekonomi saat ini lebih nyaman dibanding dengan kereta ekonomi beberapa tahun yang lalu. Hal ini seiring dengan kebijakan PT KAI bahwa tidak boleh lagi ada penumpang tanpa tempat duduk. Selain itu, ada aturan baru bahwa nama penumpang dalam tiket harus sama dengan KTP. Jika tidak, tiket dinyatakan hangus. Ketentuan lain bahwa penjual asongan tidak boleh berjualan di dalam kereta api rupanya masih belum efektif. Bahkan, para penjual dengan bebasnya berjualan di dalam kereta sepanjang perjalanan, bukan hanya saat kereta berhenti di stasiun. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi pemudik lain yang akan melakukan perjalanan jauh dengan kereta api ekonomi. Selamat menikmati perjalanan yang unik!


  

Jumat, 06 Juli 2012

BANGKITLAH SAUDAGAR MUSLIM

Kemarin, saya mengikuti sebuah talk show yang menghadirkan pembicara utama, Sandiaga S Uno. Sandi–demikian sapaan akrabnya– adalah salah satu pengusaha muslim muda yang sukses menjadi salah satu dari 40 orang terkaya Indonesia. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pelantikan Pengurus ICMI Orda Malang Raya di gedung Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Kebetulan saya menjadi salah satu orang yang dilantik pada kesempatan tersebut. Sandi ternyata menjadi Bendahara ICMI Pusat.

Mengawali ceramahnya, Sandi memberikan gambaran betapa bangsa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang maju dan kaya. Ragam bahasa, budaya, aneka hayati, kekayaan hasil bumi, tambang, keindahan alam, dan jumlah penduduk yang besar merupakan bekal untuk menjadi salah satu negara terdepan di jagad  raya ini. Tapi yang mengenaskan, kemiskinan masih jadi masalah laten, impor bermacam-macam bahan makanan, sampai garam pun yang seharusnya diproduksi dalam negeri masih harus didatangkan dari negara lain.

Pada bagian selanjutnya, ia mengajak pemuda muslim untuk berani menatap hidup dengan tegar dan gigih berjuang. “Tak ada sukses yang instan” begitu semboyannya. Hidup harus rela jatuh bangun, berputar dan berpendar, hingga kegagalan menjadi menu abadi. Dengan kesiapan mental yang sudah terlatih, ide-ide cemerlang akan tumbuh. Tak ada kata mundur atau putus asa dalam kamus hidup. Hanya orang-orang yang tak pernah berhenti mencoba dan berusahalah yang akan menguasai dunia. Ia mencontohkan pendiri KFC yang baru mendapat resep ayam goreng setelah melakukan percobaan 1000 kali. Apa jadinya jika ia berhenti di kali ke 900, pasti KFC tidak pernah wujud atau tak sepopuler sekarang.

Lalu, Sandi menceritakan sosok Muhammad, nabi mulia yang menjadi panutan Umat Islam. Ia adalah sosok pejuang yang tak kenal lelah. Ia adalah saudagar sejati. Ia telah berhasil menunjukkan jalan kebenaran melalui alur kehidupannya. Karena itulah, tak heran kalau kemudian riwayat hidupnya menjadi salah satu tolok ukur kesuksesan hidup yang salah satunya adalah hidup sebagai pedagang.

Berkaitan dengan profesi atau pekerjaan, Sandi tak sepakat bahwa jadi pegawai adalah pilihan utama. Kalaulah setiap orang ingin menjadi pegawai, hal itu dapat dimaklumi karena dengan menjadi pegawai, ia tidak terlalu banyak berpikir tentang kelangsungan lembaga atau perusahaan. Hidupnya terjamin meskipun dalam tarap sederhana. Tetapi, berapa banyak orang yang bisa menjadi pegawai? Inilah hidup! Jalan hidup tidak hanya menjadi pegawai, tapi justru sebagai saudagar sebagaimana yang dicontohkan Nabi adalah jalan terbaik. Semangat-semangat Islam yang telah diajarkan seperti jujur, gigih, humanis, dan profesional dapat mengantar seseorang untuk menjadi pengusaha yang handal yang jauh dari sikap korup dan memperkaya diri sendiri.

Akhirnya,  Sandi menyimpulkan bahwa gerakan enterpreneurship harus digalakkan untuk mendorong sikap kemandirian setiap anak bangsa. Berani bergerak dan berkarya akan mendorong kemajuan umat sehingga dapat sejajar dengan bangsa lain. Hidup saudagar muda! Ayo bangkitlah pengusaha muda!

Minggu, 01 Juli 2012

PROVOKASI UNTUK MASJID BERMUTU

Belakangan ini, topik yang sedang saya geluti adalah topik manajemen mutu. Hal ini tak lepas dari proyek penelitian saya untuk menyelesaikan studi S3 di IAIN Walisongo. Kerena 'wiridan'nya manajemen mutu, tak dapat dihindari ketika saya diminta untuk mengisi acara-acara pembekalan atau pendampingan masyarakat tak jauh-jauh dari topik mutu.

Belum lama ini, saya diminta oleh kawan-kawan pejuang Masjid Jatisari yang sedang merintis pembangunan masjid dan islamic center untuk memotivasi mereka. Ya, saya pun menggunakan judul "Manajemen Mutu untuk Masjid." Alhamdulillah, respon para jamaah cukup bagus. Berikutnya, saya diminta untuk mengisi pelatihan manajemen wakaf di Kementerian Agama. Saya pun mempresentasikan topik tentang manajemen mutu untuk wakaf. Nah, hari ini, saya dapat tugas untuk membuka wawasan pengurus masjid di sebuah perumahan dekat rumah, saya sudah punya materi. Bahan yang pernah saya presentasikan di Jatisari, Semarang, kembali saya tampilkan dengan sedikit modifikasi.

Sabtu, 30 Juni 2012

TATA CARA PENGABDIAN DI MASYARAKAT

Bergaul dengan masyarakat itu gampang-gampang susah. Hal itu dianggap gampang karena masyarakat adalah tempat di mana kita  hidup dan tumbuh. Saat mata kita terbuka, kita sudah berada di masyarakat. Jadi, rasanya tak mungkin kita bertahan hidup hingga hari ini tanpa masyarakat yang telah melingkupi kita. Pendek kata, masyarakat adalah induk kita. Sebaliknya bergaul  dengan masyarakat dianggap susah karena masyarakat mempunyai norma dan aturan tersendiri.  Mereka paling tidak suka ketika aturan yang sudah sekian lama berlaku tiba-tiba dihapus atau diubah. Hukuman masyarakat malah terkadang lebih keras dan lebih besar dampaknya bagi seseorang. Oleh sebab itu, hati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku menjadi suatu keniscayaan agar tidak menimbulkan masalah.
Ada beberapa tata cara bermasyarakat, khususnya dalam rangka pengabdian diri bersama mereka.
1. Mengenal dan memahami karakter masyarakat. Mengenal masyarakat bisa diawali dengan mengenal para tokohnya. Silaturahim dengan mereka akan memudahkan pemahaman tentang tradisi masyarakat tersebut. Dengan begitu, sikap-sikap yang akan ditunjukkan harus sesuai dengan aturan yang telah menjadi budaya masyarakat.
2. Menjalin hubungan lebih dekat tanpa kontroversi. Meskipun tiap orang mempunyai kecenderungan untuk mengutamakan ego, saat bergabung dengan masyarakat, egoisme harus benar-benar ditekan.
3. Mengutamakan evolusi daripada revolusi. Ketika ada keinginan untuk merubah, langkah yang dilakukan adalah step by step dan dalam waktu yang cukup panjang. Merubah perilaku masyarakat yang dianggap negatif membutuhkan kesabaran ekstra dan langkah-langkah yang tidak frontal.

MEMBANGUN BANK BERBASIS ZAKAT

Ide memberdayakan dan mengembangkan masyarakat melalui zakat sudah banyak dibicarakan para pakar. eL-Zawa UIN Maliki Malang melalui program BMTnya berencana mendeklarasikan bank berbasis zakat akhir tahun ini. Dana zakat yang semakin banyak diterima eL-Zawa akan digunakan sebagai dana awal bank syariah yang benar-benar syariah di kampus UIN. Dana yang bukan dari pihak ketiga ini akan dikelola untuk memberikan bantuan permodalan bagi UMKM yang selama ini sudah dibina.

Berbagai program pembiayaan akan terus dikembangkan. Di antaranya adalah program Qordhul Hasan, murobahah, dan mudharabah. Uniknya, program Qardhul Hasan yang merupakan pembiayaan tanpa bunga dan tanpa sedikitpun tambahan dari pokok pinjaman dijadikan sebagai program unggulan. Ini artinya, bank berbasis zakat eL-Zawa tidak mencari keuntungan dalam memproduktifkan dana zakat. Dengan demikian, dana zakat akan terus disalurkan namun bersifat mendidik dan memberdayakan masyarakat berdasarkan sistem bank yang mapan.

Rabu, 27 Juni 2012

ORANG CERDAS YANG SESUNGGUHNYA

Menjadi orang cerdas adalah dambaan setiap insan. Bisa kita kihat betapa sekolah-sekolah di seluruh penjuru dunia bekerja keras untuk memberikan pelayanan terbaik untuk peserta didik agar mereka cerdas. Di Indonesia, pemerintah melakukan gawe besar untuk mengukur kecerdasan dengan UAN atau UN. Beberapa pelajaran inti dijadikan tolok ukur kecerdasan itu, antara lain bahasa Inggris, IPA, dan IPS. Hal itu sudah disepakati oleh banyak pihak bahwa kecerdasan intelektual itu menjadi bagian keberhasilan seseorang dalam menjalani hidupnya kelak.

Sayangnya, tidak semua orang sepakat dengan pendapat di atas. Kecerdasan yang hanya mengagungkan IQ ternyata banyak melahirkan orang-orang berpendidikan tinggi namun dalam perilakunya tidak mnecerminkan ilmua yang dimiliki. Tak jarang ditemukan bahwa ilmu yang didalami justru memuluskannya untuk melakukan manipulasi halus dan penipuan licik. Akibatnya, rakyat banyak menjadi korban sikapnya yang egois dan korup.

Nah, apa sebenarnya kecerdasan yang rekomendasikan agama Islam? Salah satu indikator yang layak diperhitungkan adalah kesiapan mental menghadapi kematian. Lho, mengapa kematian menjadi ukuran? Jawabnya sangat mudah, bahwa setiap orang pasti mati. Persoalannya, sejauh mana seseorang mempersiapkan kematiannya? Seberapa banyak bekal yang akan mendampingi perjalanan panjangnya?

Bagi mereka yang tak percaya Tuhan apalagi kehidupan pasca kematian, bolehlah tulisan ini diabaikan. Tetapi, bagi seorang Muslim, kehidupan akhirat adalah haq dan pasti terjadi. Hanya saja, kehidupan dunia yang gemerlap dan menyilaukan mata terkadang telah membutakan hati tentang perlunya persiapan kehidupan akhirat. Dengan berpikir bahwa setiap amal perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban langsung oleh sang Khaliq, niscaya kita tidak akan berani melanggar aturan Tuhan yang sudah tertuang dalam al-Qur'an dan hadis. Sekali melanggar, apalagi menganiaya orang banyak, niscaya kita akan menanggung dosa dan siap-siap menyesal. Oleh sebab itu, kematian akan menjadi nasehat terbaik agar manusia kembali mengingat fitrahnya sehingga akan hati-hati dalam menjalani sisa-sisa hidupnya.  Inilah kecerdasan yang sesungguhnya, hidup arif dan santun, tanpa perlu menyakiti orang lain...

Sabtu, 19 Mei 2012

SYAHID...!!! SURGA UNTUK KURBAN SUKHOI...!!!

Berita tentang jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 hingga hari ini masih hangat dibicarakan. Berbagai sudut pandang sudah dipaparkan oleh para pengamat, pejabat, hingga rakyat kecil di warung-warung kopi. Hebohnya peristiwa itu menyisakan duka yang amat dalam, terutama bagi keluarga yang menunggu informasi dari tim forensik dengan harap-harap cemas. Identifikasi kurban nampaknya tidak mudah. Hingga kini proses yang sudah melibatkan ratusan tenaga ahli dalam dan luar negeri itu belum jua selesai. Perhatian dan energi publik telah dicurahkan sepenuhnya untuk meng-update perkembangan info mutakhir.

Namun, ada satu hal yang nampaknya belum pernah saya dengar. Saya ingin ada satu tokoh atau ustad yang memberikan siraman ruhani yang menyejukkan untuk keluarga kurban. Memang, doa-doa sudah dipanjatkan akan tetapi doa itu perlu dilengkapi dengan pembekalan batin bagi keluarga bahwa mereka yang dijemput Tuhan melalui peristiwa itu merupakan manusia-manusia pilihan yang layak mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Mereka yang  jatuh bersama pesawat Sukhoi itu dapat dikategorikan sebagai syahid yang sangat mulia.

Banyak dalil agama yang mendukung pernyataan ini. Salah satunya adalah hadis  shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Hadis tersebut menyatakan bahwa orang-orang yang mati syahid ada lima kelompok. Mereka adalah orang yang mati karena penyakit tha’un (semacam kolera), sakit perut, tenggelam, jatuh/tertimpa, dan meninggal di jalan Allah. Dari hadis ini, saya berkesimpulan bahwa mereka yang meninggal di lereng gunung Salak itu dapat digolongkan sebagai syahid atau syuhada’ melalui dua alasan. Pertama mereka wafat karena jatuh dan tertimpa badan pesawat. Alasan ini dapat dipastikan tidak ada yang berbeda pendapat karena memang demikian keadaan lahirnya. Kedua, mereka meninggal di jalan Allah. Untuk poin ini, alasannya adalah bahwa ada beberapa orang yang ikut rombongan dalam rangka melaksanakan tugas dan kewajibannya. Misalnya wartawan, pramugari, dan pilot. Mereka kala itu sedang melakukan tugas pekerjaan mereka. Kalau mereka meniatkan diri bahwa bekerja adalah salah satu bentuk pengabdian diri mereka kepada tuhan, maka mereka otomatis berada di jalan Allah. Dengan demikian, mereka layak mendapatkan julukan sebagai syahid dan berhak mendapatkan kehidupan akhirat yang penuh dengan kebahagiaan.

Nah, siraman ruhani semacam di atas seharusnya didengungkan dan disebarluaskan kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak hanya dicekam oleh rasa takut, miris, shock, dan ngeri, tetapi mereka akan berpikiran positif atau kalau perlu harus iri kepada mereka yang dipanggil ilahi dengan cara tersebut. Alhasil,  peristiwa apapun yang menimpa kita akan dapat disikapi dengan bijaksana dan kita senantiasa bisa mensyukuri apapun nasib yang diberikan kepada kita. Jadi, kita pun bisa menikmati hidup dan damai dengan kehidupan. Betul kan? Wassalam…

Rabu, 09 Mei 2012

TIGA JENIS PEMIMPIN

Kalau kita diberi amanah sebagai seorang pemimpin, apapun tingkatannya, ada tiga model kepemimpinan yang bisa kita pilih.

1. Pemimpin penjaga. Sebagai penjaga, pemimpin jenis ini lebih mengutamakan bagaimana cara untuk menjaga agar organisasi yang dipimpinnya tetap berjalan.Ia tidak butuh banyak energi untuk memikirkan cara mengajukan lembaga itu. Dalam pikirannya, ketika lembaga itu tidak mundur atau bangkrut, itu sudah suatu prestasi. Ibarat seorang security, ketika tidak ada pencurian atau kehilangan, kepemimpinannya dianggap sukses.

2. Pemimpin pelayan. Pemimpin jenis ini adalah pemimpin yang berusaha melakukan perbaikan-perbaikan sana sini agar pelayanan kepada masyarakat lebih baik. Ia membuat perencanaan yang cukup matang agar seluruh aset yang dimiliki lembaga tetap terjaga dan dapat meningkat. dengan demikian, citra lembaga itu kian bersinar. Namun, kekurangannya, pemimpin ini tidak berani melakukan perubahan mendasar yang prinsip karena masih belum berani melanggar pakem yang sudah ditetapkan pendahulunya.

3. Pemimpin perubah, tipe pemimpin ini adalah pemimpin yang pemberani dan siap dikritik. dengan semangatnya, ia melakukan perubahan drastis organisasi sehingga kemajuan yang dicapai ibarat lompatan besar yang membuat banyak orang terbelalak kagum. Ia tidak harus mengikuti kebiasaan pemimpin sebelumnya. Lebih dari itu, ia berani menanggung resiko diturunkan ketika ia tidak  berhasil.

Nah, kalau begitu, kita masuk jenis pemimpin yang mana ya?

Kamis, 26 April 2012

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Mengeluh adalah satu aktifitas yang hampir setiap orang pernah melakukannya. Keluhan bisa disebabkan oleh sedikitnya rezeki, menurunnya kesehatan atau waktu yang terasa sempit. Tak ayal, dalam al-Qur'an watak manusia ini diabadikan dengan istilah "haluu'a". Bagaimana cara agar tidak cepat mengeluh?

Dalam al-Qur'an, rumusnya ada dua, yakni shalat secara istiqamah dan bersedekah. Mengapa shalat dan mengapa pula sedekah? Sungguh, ketika shalat dipahami sebagai sebuah kebutuhan, niscaya tidak ada seorang pun yang menyia-nyiakan waktu berlalu tanpa shalat. Shalat ibarat udara yang senantiasa dibutuhkan. Shalat yang merupakan wujud penyerahan diri total seorang hamba kepada Tuhannya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Shalat sambil berjalan, shalat dalam bekerja, shalat dalam bergaul dengan sesama. Kalau shalat sudah menyatu dalam gerak langkah seorang muslim, niscaya hidupnya akan cerah, bungah, ceria, dan gembira. Ia tahu lebih dari manusia pada umumnya. Hatinya telah menyatu dengan setiap taqdir yang ia terima. Di depan matanya, ada Tuhan. Di setiap nafasnya ada Tuhan. Di setiap gerak langkahnya, ada Tuhan. Tuhan ada di mana-mana. Tuhan begitu dekat dan sayang kepadanya. Lalu, patutkah ia mengeluh? Rasanya tidak akan ada komplain ketika seseorang tahu apa yang telah direncanakan untuknya. Ia mengerti Tuhan membuat jalan berliku untuknya agar ia semakin ingat dan dekat dengan-Nya. Ia akan bisa selalu damai dengan dirinya.

Di sisi lain, sedekah menjadi obat mujarab karena dapat melembutkan hati. Orang akan mudah terenyuh ketika tangannya bersedia mengulurkan bantuan kepada sesamanya. Ia akan merasakan kepedihan yang dialami saudaranya. Dari situ, teringatlah ia akan berbagai nikmat tuhan yang masih ia kenyam, jauh lebih baik dari orang yang dilihatnya. Kekayaan, jabatan, popularitas, dan segudang ilmu yang dimiliki ternyata tak ada apa-apanya bila ia tidak bisa mensyukuri karunia ini dengan berbagi dengan orang lain yang banyak tidak sesukses dirinya. Sedekah dengan senyuman, sapa ramah, uluran tangan persahabatan atau nasihat kebaikan tak mengurangi harta sedikitpun. Justru, kita akan bisa menjadi gembira dan bahagia. Kesadaran  bahwa di dalam hartanya ada hak orang lain akan membuatnya kian mulia karena telah menjadi perantara tuhan untuk kebahagiaan saudaranya. Sungguh, dengan demikian, dua resep Tuhan untuk mengatasi keluh kesah sangat ampuh dan tak dapat disangkal. Ajaran Islam memang indah apalagi kalau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Islam is my way of life!


Rabu, 25 April 2012

MENBUAT HIDUP BERMUTU

Kawan,
Setiap hari kita selalu memanjatkan doa sapu jagat yang sangat populer, setidaknya 5 kali dalam sehari sehabis shalat wajib. Dalam doa itu, ada kata-kata indah yang kita mohonkan, yakni "hasanah" di dunia dan "hasanah" di akhirat. Dalam pemaknaan sederhana, hasanah sering diartikan sebagai kebaikan, keberuntungan, kebahagiaan atau  keselamatan. Lebih dari itu, hasanah bisa dimaknai sebagai hidup berkualitas atau hidup bermutu.

Hidup bermutu mengharuskan kita menjadi manusia unggul yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Tentu, hal ini tidak mudah. Kita harus mampu memenuhi sejumlah indikator hidup unggul sehingga kita bisa menikmati manfaat keunggulan itu. Dalam bahasa manajemen, unggul atau mutu disebut sebagai quality. Setiap saat ini menuntut adanya quality dalam hidup kita. Pakaian, makanan, rumah, pendidikan, kendaraan, hingga perabot sederhana kita meminta adanya quality di sana. Pertanyaannya, bagaimana kita mengukur sesuatu telah ber-quality?

Seorang pakar mutu atau quality, Lesley Monroe menyebut tiga indikator sesuatu layak dikatakan bermutu. Pertama, quality of design atau mutu perencanaan. Segala sesuatu baru dikatakan bermutu kalau sesuatu itu dirancang terlebih dahulu dengan matang. Dalam istilah manajemen, planning menjadi kegiatan pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan sesuatu. Saya jadi teringat dengan hadis nabi bahwa sebagai sesuatu itu ditentukan oleh niatnya. Kalau niatnya baik, alias kalau designnya baik, maka ke depan dapat diharapkan ada kebaikan yang akan diperoleh. design yang bagus harus bernilai maslahat dan memberikan sentuhan inovatif dari  produk lama. Dengan demikian, perenungan mendalam untuk design berkualitas mutlak dilakukan untuk mutu terbaik.

Kedua, quality of conformance. Dalam hal produk barang, quality of conformance dapat diartikan sebagai kesesuaian antara design yang telah dibuat dengan produk yang dihasilkan. Kesesuaian ini menjadi terukur karena sudah ada patokan sebelumnya. Ketika produk itu sesuai dengan patokannya, maka produk itu bisa dikatakan bermutu. Jika banyak kesalahan atau kekurangan meskipun kelihatannya bagus, maka barang itu tidak bisa dikatakan bermutu. Ini sepertinya sesuai dengan harapan Nabi agar kita selalu jujur dalam berkata dan bekerja. Kita jangan hanya pandai bicara tetapi tidak bisa beramal. Atau sebaliknya, pekerjaan kita bagus tetapi kalau diminta untuk menuangkan dalam konsep bentuknya kacau balau. jadi, kesesuaian ini menjadi penting untuk mengukur mutu tidaknya sesuatu.

Ketiga, quality of performance. Maksudnya adalah mutu yang berlangsung terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama. Suatu barang dikatakan berkualitas manakala setiap saat barang itu dibutuhkan dan ditemukan di pasaran, bentuk dan kualifikasinya sama dan memberikan manfaat yang panjang. Mutu ditemukan secara konsisten dalam produk itu. Dengan demikian, pengguna tidak akan kecewa ketika suatu saat ia percaya akan kualitas suatu barang namun menjadi kecewa berat karena barang yang ditemui belakangan  tidak sesuai harapan. Dengan demikian, bermutu meniscayakan kita untuk istiqamah. Kita harus terus bekerja keras dengan memberikan pengabdian terbaik sehingga kita dapat meraih "hasanah" baik di dunia maupun di akhirat.

Alhasil, untuk bermutu, kita harus mempunyai niat baik yang ikhlas, selalu jujur dalam segala aktifitas, dan istiqamah mengemban tugas yang menjadi tanggung jawab kita. Layaklah kemudian, kita menjadi manusia berkualitas yang sesungguhnya. Semoga. Wa Allah A'lam.

Selasa, 17 April 2012

LIMA ASET PENTING UNTUK MEMBANGUN ORGANISASI SUKSES



Hari Minggu kemarin lusa (15/4), saya mengikuti sebuah seminar yang dihadiri Prof. Tolchah Hasan, ketua Badan Wakaf Indonesia. Dalam orasinya, prof Tolchah menyampaikan 5 aset yang harus dimiliki oleh sebuah lembaga jika lembaga tersebut ingin sukses dan maju. Berikut ini kelima poin itu sekaligus penjelasannya.

1.      1.  Aset intelektual
Aset intelektual adalah aset yang berupa ketersediaan para pemikir keilmuan yang memahami arah dan tujuan lembaga. Sebagai contoh, sebuah lembaga yang bergerak di bidang wakaf harus memiliki sejumlah pakar yang mendalami ilmu wakaf. Fungsi para intelektual adalah untuk memberikan arahan dan bimbingan agar program yang  dijalankan sesuai dengan konsep wakaf yang sebenarnya. Dalam istilah organisasi, aset intelektual ini biasanya berkedudukan sebagai dewan penasehat, dewan syariah atau wali amanah.

2.      2.  Aset finansial
Siapa yang tidak butuh uang? Uang alias aset finansial dalam organisasi sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas lembaga. Meskipun tidak setiap program membutuhkan dana, namun kegiatan operasional lembaga yang harus didanai akan macet jika ketersediaan dana lembaga terbatas. Gaji karyawan, biaya telepon, biaya listrik dan semacamnya harus dipikirkan agar seluruh fungsi organisasi dapat berjalan sesuai harapan.

3.      3.  Aset manajerial
Selain aset intelektual, sebuah lembaga harus memiliki pemimpin yang handal. Sang pemimpin itu harus memahami fitrah organisasi dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Ia dapat memerankan fungsi manajer yang bertugas merencanakan, melaksanakan, memimpin, dan mengontrol setiap kegiatan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Jika tidak, lembaga hanya akan bergerak lamban, jalan di tempat, atau bahkan mundur. Betapa banyak contoh lembaga yang berantakan setelah pemimpinnya berganti. Oleh sebab itu, aset manajerial merupakan salah satu syarat yang tidak dapat ditawar lagi keberadaannya.

4.      4. Aset sosial
Aset sosial ini penting karena sebuah lembaga selalu berada di sebuah lingkungan tertentu dan membutuhkan dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya. Kepercayaan masyarakat yang tinggi dapat memudahkan sebuah lembaga untuk melaksanakan program tanpa hambatan. Misalnya, ketika sebuah lembaga akan mengadakan acara khitanan massal, aset sosial nampak perannya dalam bentuk keikutsertaan anak-anak yang akan dikhitan, dukungan ruang kegiatan, dan bisa jadi dukungan finansial ketika program tersebut dirasa bermanfaat untuk masyarakat.

5.      5. ASet jaringan
Nah, yang terakhir ini sangat penting untuk meningkatkan peran lembaga ke level yang lebih tinggi. Berkembangnya sebuah lembaga salah satu syaratnya adalah lembaga itu harus terbuka. Lembaga ini harus berani melakukan perluasan jaringan sehingga program-programnya lebih mudah diakses dan cepat mendapat respon dari pihak-pihak yang memiliki konsentrasi serupa. Jaringan ini bisa jadi akan memberikan keuntungan finansial bagi lembaga tersebut selain pencitraan lembaga yang kian positif.

Demikian 5 poin penting yang harus dimiliki oleh sebuah lembaga yang ingin berkembang mengikuti roda zaman yang penuh tantangan dan kompetisi. Semoga bermanfaat. Amin.

Senin, 16 April 2012

LEGANYA SETELAH UJIAN TERTUTUP

Sejak mulai serius mengerjakan disertasi setahun yang lalu, aku hampir kehilangan segala kebebasan. Kebebasan berekspresi, kebebasan tertawa, kebebasan berbagi cerita! Aku serasa terpasung dalam penjara yang sunyi dan mencekam. Hari-hari berlalu dengan berat. Ada  beban menggunung yang senantiasa enggan berpindah dari pundak dan punggungku. Kadang aku sedih, kadang aku cemas, acapkali aku frustasi, dan tak jarang aku kehilangan semangat untuk menyelesaikan tugas akhir studi itu. Duh, kalau bukan karena pertolongan Sang Khalik yang Maha Luas kasih sayangnya, mustahil rasanya aku bisa menyelesaikan disertasi yang super berat itu.

Kini, ketika rintangan demi rintangan telah kulalui, setelah letih berkeringat dan berdarah-darah, akhirnya sampailah aku di depan gerbang kemerdekaan. Ya, sebuah kemerdekaan sejati yang sempat terampas itu sudah di depan mata. Ujian tertutup disertasi yang menegangkan telah kulalui dengan lancar dan bahkan jauh lebih mudah daripada bayanganku. Para penguji yang biasaya dikenal sangat garang melontarkan berbagai pertanyaan yang memojokkan dan menjatuhkan saat itu sungguh santun dan penyayang kepadaku. Hanya satu dua pertanyaan saja yang mengharuskanku mengeluarkan energi. Selebihnya, pertanyaan-pertanyaannya terkesan datar dan banyak bermuatan saran. Tak ada lagi kewajiban bagiku untuk merombak total susunan disertasi. Tak ada lagi keharusan bagiku untuk turun lapangan guna mengumpulkan data. Alhamdulillah, ujian yang paling mendebarkan sepanjang studiku di IAIN Semarang sudah berlalu. Ya, sudah menjadi salah satu masa laluku yang cukup manis untuk dikenang.

Sekarang, tugasku adalah merevisi naskahku. Tak banyak yang harus kulakukan. Cukup menuruti sejumlah keinginan para penguji yang tak terlalu sulit kupenuhi. Insya Allah, bulan depan aku sudah bisa daftar ujian terbuka.Amin.

Senin, 06 Februari 2012

UJIAN PAK REKTOR: DITUDUH KORUPSI UANG KAMPUS UNTUK MEMBANGUN MASJID

Sudah sempat mendengar berita tentang korupsi di UIN Malang? Tentu kita akan terkejut setengah tak percaya. Mana mungkin kampus besar yang kini kian naik daun dihembus berita tak sedap murahan semacam itu? Siapa sang penuduh? Siapa  pula yang dituduh?

Saya sebagai salah satu penghuni kampus UIN Malang merasa risih dengan pemberitaan media masa yang menyudutkan pak rektor. Saya turut prihatin dengan cobaan yang menerpa Prof Imam. Saya selalu berdoa semoga beliau dikuatkan oleh Allah SWT sebagaimana niat tulus hatinya bahwa bekerja bukan untuk manusia tetapi untuk sang Pencipta yang Maha Agung dan Bijaksana.

Sungguh dalam hati saya terbersit rasa geram dan kesal kepada sang penuduh yang ternyata salah satunya adalah mahasiswa Syariah yang pernah mengambil mata kuliah saya. Ia sebenarnya pendiam. Tetapi rupanya di balik diamnya itu, ia berani memfitnah rektornya dan tak tanggung-tanggung melaporkannya ke kejaksaan.

Kasus ini bergulir diawali dengan adanya demo mahasiswa penurunan SPP untuk mahasiswa baru. Aneh, demo SPP dilakukan di awal semester genap. Kalau mau, semestinya demo SPP digelar di awal semester ganjil ketika mahasiswa baru mulai membayar SPP. Para orang tua sudah lunas membayar tapi ternyata segelintir mahasiswa meneriakkan demo penurunan SPP. Yang bikin heboh, demo itu diekspos di media masa dan menampilkan wajah-wajah mahasiswa yang beringas, rambut gondrong, dan mencaci para dosennya dengan kata-kata kotor. Siapa mereka itu? Saya tidak yakin mereka adalah mahasiswa UIN. Sebagai akibatnya,  citra kampus Islam yang selama ini dikenal dengan terobosannya yang meroket dapat sontak jatuh berkeping-keping.

Tak lama kemudian, sekelompok mahasiswa tadi mendatangi Kantor Kejaksaan untuk melaporkan pak Rektor karena telah melakukan korupsi. Laporan itu didasarkan pada berita online BPK bahwa ada penyalahgunaan dana UIN dalam pembangunan masjid. Data itu bertahunkan 2004-2005. Dalam salah satu kesempatan, Rektor menanggapi berita itu dengan santai. Memang benar, UIN Malang pernah melakukan kesalahan penggunaan dana kampus untuk pembangunan masjid. Tetapi, setelah diperiksa BPK, Rektor langsung mengembalikan pinjaman dana kampus itu dan masalah sudah selesai. Jadi, temuan kesalahan kebijakan itu sudah ditindaklanjuti dan sudah dianggap selesai oleh BPK. Anehnya, karena berita itu tidak dihapus di laman online BPK (dan kini sudah dihapus), mahasiswa UIN yang "kreatif" itu menggunakan data itu untuk menuduh rektor korupsi. Padahal, UIN saat ini sudah dinyatakan bebas dari penyimpangan anggaran dan mendapat penghargaan dari Kementerian Agama atas prestasi tersebut.

Rektor yang begitu santun dan dermawan itu rasanya sulit untuk dikatakan korupsi. Kederwanannya dapat dilihat dari penyerahan rutin setiap bulan gaji tunjangannya sejumlah Rp. 3.000.000,-  kepada lembaga zakat di kampus. Tak habis-habis pula beliau berkurban untuk kebesaran kampus. Namun, inilah dunia. Tak semua orang suka dengan kebaikan yang dilakukan orang lain. Jika tak bisa mengikuti perbuatan baik itu, ia malah menuduh yang macam-macam. Rektor UIN Malang dituduh korupsi karena kebaikannya untuk membangun masjid di kampus. Kesalehan ini ternyata jika tidak dilihat secara cermat dan hanya berdasarkan berita sepotong-sepotong, maka akan terlihat tidak baik. Padahal, senyatanya,  rektor tidak korupsi. Beliau hanya pinjam dana kampus untuk sementara waktu sambil menunggu bantuan dari donatur timur tengah koleganya. Beliau juga sudah bertanggung jawab mengembalikan pinjaman itu secara total. Jadi, masihkah beliau dianggap melakukan korupsi? Apalagi untuk pembangunan masjid kampus? Ada-ada saja....
 

Introduction