Tampilkan postingan dengan label Chicago. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chicago. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Desember 2010

TEORI DAN FUNGSINYA DALAM PENGEMBANGAN ILMU

Apa sih teori itu? Pertanyaan sederhana ini ternyata seringkali membuat kita gelagapan menjawabnya. Sebenarnya, makna dasar dari teori adalah pokok pikiran atau buah renungan dari seseorang yang umumnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Teori si A, sebagai contoh, adalah pendapat si A yang dapat ditemukan dalam sebuah karyanya. Si A mengajukan sebuah konsep tentang terjadinya hukum dalam masyarakat. Teori si A ini akan menjadi perbicangan banyak ilmuwan baik yang setuju maupun yang menolaknya.

Mengapa harus mengenal teori? Teori sebenarnya tidak harus kita ketahui. Namun, dalam sebuah proses mencari ilmu, ternyata berbagai ahli telah mendahui kajian kita sehingga mereka telah lebih awal menunjukkan pikiran-pikirannya. Nah, karena kita bukan sama sekali manusia baru, maka kita perlu mengapresiasi pikiran-pikiran lama kemudian kita menjelaskan posisi kita, baik setuju, menolak, atau merevisinya. Inilah alasan utama tentang perlunya kita menelaah buku, jurnal, atau data-data tertulis lainnya sehingga kita tidak terlepas dari diskusi keilmuan yang sudah dibangun oleh orang-orang sebelum kita.

Apakah teori harus sama dengan apa yang kita kaji? Sebaiknya, teori yang kita angkat memiliki kedekatan ilmu dengan kajian kita. Tetapi, bila kita kesulitan memperoleh pendapat orang yang berada dalam jalur kita, kita bisa menggunakan teori lain yang memiliki kedekatan bahasan. Misalnya, saat kita membahas tentang otentisitas al-Qur'an, lalu kita tidak mendapatkan bahan bacaan tentang hal itu, kita bisa melacak pembahasan orang tentang otentisitas bibel atau injil. Lalu, kita mengembangkan teori tersebut sebagai bahan untuk bertanya lebih lanjut tentang otentisitas al-qur'an. Begitulah seterusnya.

Lebih lanjut, ada sebagian pakar yang mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, keberadaan teori tidak terlalu dibutuhkan. Kita hanya menemukan data di lapangan lalu membangun teori baru tanpa perlu mempertimbangkan pendapat pakar-pakar sebelumnya. Namun, dalam kenyataannya, kita tidak bisa berjalan sendiri sebelum ada orang lain yang menuntun langkah kita. Oleh sebab itu, keberadaan teori menjadi mutlak dibutuhkan. Lalu, langkah yang lebih sempurna dari sebuah penelitian kualitatif lapangan adalah ketika kita bisa mereview seluruh diskusi para pakar di bidang kajian kita dan menunjukkan posisi kita di antara bangunan diskusi mereka. Labih baik lagi, apabila kita mampu menawarkan konsep baru atau dikenal dengan men-challenge teori lama dan menunjukkan teori kita yang kuat dengan dukungan argumen yang mendalam dan masuk akal. Di sinilah posisi seorang ilmuwan dalam melahirkan teorinya.

Dilihat dari derajat popularitasnya, teori bisa diklasifikasikan ke dalam dua golongan: teori besar dan teori kecil. Teori besar adalah sebuah pendapat atau pikiran seseorang yang diakui banyak orang dan menjadi rujukan di setiap diskusi. Misalnya, teori Weber tentang hubungan agama dan kapitalis akan selalu disebut orang tatkala membahas tentang bisnis berbasis religi. Adapun teori kecil adalah pendapat para penulis tertentu yang belum dianggap populer oleh banyak kalangan. Hanya perlu ditekankan di sini, bahwa teori besar selalu lahir dari teori-teori kecil yang awalnya belum dikenal. Dengan berjalannya waktu, teori kecil itu menjadi diakui banyak kalangan sebagai salah satu pijakan untuk pengembangan keilmuan.

Akhirnya, teori merupakan buah pikiran seseorang terkait dengan sesuatu. Skala teori ada yang besar dan ada pula yang kecil. Setiap teori besar selalu bermula dari teori yang kecil. oleh sebab itu, jangan pernah takut untuk berteori, siapa tahu teori kita akan populer di masa mendatang. Tapi, ada satu catatan, jangan asal berteori, bangunlah teori dengan dukungan data yang kuat sehingga kita bisa memberikan alternatif penjelasan baru tentang sesuatu yang belum dipikirkan orang sebelumnya.Semoga...

Sabtu, 25 September 2010

ENAM TAHUN SUDAH

ENAM TAHUN SUDAH
KU JALANI HIDUP BERSAMA
KEKASIH HATI YANG AMAT KUCINTA
DALAM SUKA DAN SUKA

ENAM TAHUN SUDAH
KUARUNGI SAMUDERA RUMAH TANGGA
MENATA ASA DARI TIADA
MENJELMA JADI TAK TERHINGGA

ENAM TAHUN SUDAH
KUPUPUK CINTA DEPA DEMI DEPA
KADANG HAMPA KADANG MEMBAHANA
PERIH LUKA CANDA TAWA
SUDAH BIASA

ENAM TAHUN SUDAH
KUTATA HATI TUK TETAP SETIA
MESKI TANTANGAN DATANG MENGGODA
HINGGA AKHIR MENUTUP MATA

BERGURU DENGAN SANG 'SUHU'

Bertemu Mas Mun'im, saya seperti disadarkan kembali bahwa tugas mahasiswa adalah mendalami ilmu secara jeli dan tajam. Saya merasa bangga, senang, gembira sekaligus malu. Saya ditantang untuk berlatih menjadi manusia kritis yang harus mampu berpikir terstruktur dan logis. Contohnya, saya diajari untuk selalu bertanya ketika membaca buku. Model baca semacam ini akan melahirkan pikiran berantai untuk terus menelusuri jejak sejarah pemikiran hingga sebuah ujung. Menelaah, merenung, dan menulis disertai kerja keras dan doa adalah kunci sukses seorang ilmuwan.

Saya sesungguhnya sangat setuju ketika idealisme berpikir kritis dilakukan di negeri yang kaya buku dan sumber ilmu, Amerika. Perpustakaan Chicago benar-benar memanjakan para mahasiswa dan dosennya untuk selalu berkarya setiap saat. Jutaan buku dan jurnal baik online maupun cetak bisa diakses kapan saja dengan waktu peminjaman yang lama. Bagaimana tidak pandai dan maju? Ini mungkin salah satu jawaban kegelisahan saya yang ingin tahu penyebab kemajuan Amerika. Kalau Indonesia bisa memberikan kesempatan seluas-luasnya seperti di Chicago, saya yakin, manusia Indonesia pasti akan segera duduk satu meja dengan negara maju di pentas dunia. Mas Mun'im adalah salah satu contohnya. Ia berhasil mengalahkan profesornya dalam kompetisi tulisan imiah yang diselenggarakan sejumlah penerbit internasional. profesornya pun harus angkat topi atas kejeniusannya.

Meskipun begitu, mas Mun'im ibarat seorang suhu. Tinggal di rumahnya selama tiga hari serasa mondok tiga tahun. Setiap saat saya diarahkan untuk lebih mampu memahami hidup. Ilmunya mengalir deras bak sungai tanpa karang. Ia begitu rendah hati dan murah ilmu. Baginya tak ada rahasia yang harus ditutup-tutupi sepanjang menyangkut pengembangan ilmu. Saya sebenarnya baru kenal akrab di sini, tetapi rasanya saya sudah dianggap sebagai adik yang lama tak jumpa. Ia begitu sayang dan perhatian. Ah, saya jadi begitu tersanjung.

Meski ilmunya menjulang, Mas Mun'im tidak menunjukkan tinggi hati. Padahal kalau mau, saya pasti akan tunduk terkapar di hadapannya. Tetapi ia tidak, ia tetap menganggap bahwa saya punya bagian tertentu yang tidak dimilikinya. Ia lebih senang bertukar pikiran ketimbang mendekte. Ia lebih cenderung membimbing daripada menggurui. Ia memang ilmuwan sejati, ilmuwan yang ditunggu-tunggu kiprahnya untuk membangun negeri. Pantas, cak Nur yang dulu sekolahnya di Chicago mampu menjadi guru bangsa dan mas Mun'im adalah kandidat kuat sebagai penerusnya, insya Allah.

Jumat, 24 September 2010

MENIKMATI INDAHNYA CHICAGO

Hari Kamis ini saya telah menghabiskan waktu untuk keliling kota Chicago. Saya berhasil mengunjungi dua lembaga filantropi di kawasan utara kota, yakni Muslim Community Center dan al-Takaful Islamic Society. Sebelum ke sana, saya sempat diajak terlebih dahulu mengunjungi rumah sakit khusus gigi untuk memeriksakan gigi Kemal, putra mas Mun'im.

Di Medical center itu, saya menyaksikan teknis rumah sakit modern dalam melayani pasien. Ya, seperti biasanya, model pelayanan publik sudah banyak diganti dengan mesin. Misalnya, untuk pendaftaran pasien, pengunjung tidak harus mendatangi loket pendaftaran yang memang tidak ada, namun ia tinggal memasukkan identitas pasien di sebuah mesin di sebelah kanan pintu masuk. Kemudian, muncullah kertas urut pasien sebagai tanda bahwa data pasien sudah terekam dengan benar. Selanjutnya, pengunjung menuju deretan tenpat duduk di lobi rumah sakit hingga nomornya dipanggil. Tak beberapa lama, nomor Kemal dipanggil untuk masuk ke ruang periksa. Mas Mun'im meminta saya menunggu sebentar sementara ia mengantar Kemal menemui dokter. Ia berkata bahwa ia tidak akan lama karena anaknya tidak boleh ditemani agar ia terlatih mandiri. Orang tua harus kembali ke kursi tunggu sementara dokter akan bekerja menangani pasien. Nanti, kalau sudah selesai, dokter akan mengantar si anak ke orang tuanya sekalian menjelaskan hasil diagnosanya. Aneh bukan? Kalau di Indonesia, orang tua tentu wajib menunggui anaknya sambil mendengarkan penjelasan dokter di ruang periksa. Dokter pun tidak akan pernah sempat mengantarkan sang anak ke orang tuanya di luar ruangan. Tapi itulah rumah sakit di Chicago, Illinois, ini.

Setelah mengunjungi rumah sakit, saya diajak ke lokasi penelitian. Saya senang sekali ternyata lembaga-lembaga berlabel Islam yang saya datangi begitu antusias menerima kedatangan saya walau tanpa perjanjian terlebih dahulu. Untuk at-Takaful Islamic Society, orang yang bertugas melayani tamu penelitian sedang tidak ada di tempat. Saya dijanjikan untuk diberi kesempatan untuk dialog esok hari. Kemudian, manajer Muslim Community Center begitu antusias melayani setiap pertanyaan yang saya ajukan. Hampir dua jam saya berada di lembaga ini. Saya cukup puas mendapatkan data yang saya inginkan.

Sepulang dari penelitian, saya diajak menikmati indahnya Chicago. Di kota yang cukup padat itu, saya sempat melihat kemacetan lalulintas beberapa saat. Tapi tentunya tidak separah Surabaya. Semua orang sabar menunggu kesempatan untuk jalan. Tak ada suara klakson atau tindakan saling srobot. Para pengendara itu seakan tahu bahwa budaya antri sudah menjadi harga mati. Setelah itu, saya diantar mas Mun'im ke lake Michigan di tengah kota Chicago. Indah nian pemandangan danau itu. Air jernih menghampar mengelingi panorama apik bangunan pencakar langit yang berada pusat kota itu. Banyak orang yang memanfaatkan tempat wisata itu untuk berjemur, berenang atau main jetski. Penataan ruang yang indah menjadikan danau itu sebagai tempat yang eksotik untuk beristirahat dengan nyaman. Angin semilir nan sejuk di sore hari membuat saya betah untuk duduk-duduk di atas bebatuan yang tertata di tepi danau.

Menjelang maghrib, saya dan mas Mun'im pun beranjak. Lokasi terakhir yang saya kunjungi adalah Dunkin Donuts tempat Mbak Nung bekerja. Saya senang bisa menyantap donut dan teh hangat gratis di gerai makan cepat saji itu. Sambil berdiskusi ringan dengan Mas Mun'im, saya mengamati suasana toko itu dengan cermat. Di beberapa sudut terpampang lukisan grafiti yang unik. Grafiti merupakan lukisan abstrak yang menggambarkan hiruk pikuk manusia dalam menjalankan profesinya. Biasanya diawali dengan garis-garis tebal membentuk karakter manusia dengan pesan kritik sosial. Namun, grafiti yang berada di Dunkin itu menyiratkan kedamaian dan semangat kerja tinggi dalam meraih kesuksesan. Warna-warna yang dipilih memberikan suasananya hangat bagi para pengunjung. Setelah puas menikmati donut, kami pun pamit pulang. Lega hati saya dapat menjalankan sejumlah rencana dengan lancar. Alhamdulillah.

Kamis, 23 September 2010

RIHLAH KE CHICAGO

Setelah lama tidak melakukan perjalanan jauh, kemarin, saya menyempatkan diri untuk rihlah ilmiyah ke Chicago. Tujuan utama saya adalah ingin mengunjungi beberapa lembaga filantropi yang berada di kota terbesar ketiga Amerika itu. Saya juga ingin melihat dari dekat kampus University of Chicago yang telah melahirkan banyak pakar terkenal Indonesia, antara lain Cak Nur, Amin Rais,dan Syafi'i Maarif. Di kampus itu, saat ini salah satu kawan Indonesia sedang menuntut ilmu, Mas Mun'im. Dialah yang menjemput saya di terminal 95 Chicago setelah tujuh jam perjalanan dari Iowa.

Sejak meninggalkan Iowa, saya selalu berusaha menikmati segenap pemandangan yang terpampang di sepanjang jalan. Iowa City termasuk kota kecil yang jika sudah keluar dari downtownnya, kira-kira 20 menit, kita akan dihadapkan pada panorama alami yang terdiri dari hutan-hutan kecil dan lautan sawah jagung. Hutan-hutan itu saat ini mulai berubah warna. Daun-daun yang tadinya hijau ranau, kini menjadi kuning dan kemerahan. Untuk yang satu ini, saya selalu takjub akan kebesaran Tuhan. Alam ini harus tunduk kepada aturan-Nya. Warna hijau itu berganti kuning, kemudian merah lalu coklat dan berjatuhan. Ini pertanda bahwa musim gugur sudah tiba dan akan diikuti oleh musim salju yang dingin. Hawa sejuk yang dibawa angin musim Fall memberikan sinyal kepada pepohonan untuk segera menanggalkan serpihan 'baju' hijaunya agar tetap bisa bertahan hidup tatkala es menyelimutinya. Kelak pepohonan itu akan menjadi kerangka berupa ranting dan dahan hingga tiba musim semi. Subhanallah...

Panorama lain adalah sawah jagung yang luasnya sejauh mata memandang. Jumlahnya bukan satu atau dua petak, tetapi puluhan atau bahkan ratusan hektar. Saya tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi di Indonesia. Jelas, untuk proses menanam saja butuh ribuan tenaga untuk menyelesaikannya. Juga, di saat panen, jumlah manusia yang diperlukan untuk menuai jagung dari pohonnya jelas lebih besar. Tetapi anehnya, di sini tidak ada orang yang berprofesi sebagai petani tradisional yang kerjanya musiman. Kata kawan saya, para petani ini telah menggunakan teknologi canggih sehingga tidak perlu bantuan tenaga manusia yang berlimpah. Mereka cukup menggunakan mesin penanam hingga mesin perontok jagung. Barangkali untuk menyelesaikan semua tugas itu tak lebih dari satu atau dua orang yang mengerjakan di setiap hektarnya. Jagung-jagung yang sudah tua akan dipanen dengan menggunakan mesin yang bisa mengambil langsung tongkol jagung dari pohonnya. Luar biasa bukan? Berapa banyak tenaga yang bisa dihemat dari adanya mesin ini.

Sesampai di Chicago, saya segera menghubungi Mas Mun'im. Kawan satu ini adalah mahasiswa S3 di Divinity School, University of Chicago. Ia mendapatkan beasiswa penuh dari kampus bergengsi itu. Bahkan ia mampu memberikan prestasi membanggakan bagi kampusnya. Ia beberapa kali masuk dalam penulis jurnal-jurnal ilmiah yang hanya bisa dimasuki oleh para profesor jenius. Dosen-dosennya sering geleng-geleng kepala atas kemampuannya menembus tembok raksasa tim editor. Atas prestasinya itu, ia mendapat fasilitas lebih dalam pendidikannya, termasuk kesempatan untuk ujian lebih awal dan lulus lebih dulu. Saya jelas tak dapat menyembunyikan rasa kagum kepada calon pemimpin masa depan ini.

Tadi malam saya menginap di rumah mas Mun'im. Di rumah itu, ia tinggal bersama dengan istrinya, Mbak Nung dan anak semata wayang mereka, Kemal. Mbak Nung mengisi waktu luangnya dengan berkerja di Dunkin Donut. Kemal rupanya memperoleh warisan kecerdasan dari orang tuanya. Ia mendapat prestasi juara satu berturut-turut setiap tahun sehingga berhak mendapat piala dan piagam yang ditandatangani presiden Obama. Bangga sekali saya bisa menikmati hari bersama keluarga sukses ini. Semoga, pengalaman ini dapat memacu kita untuk bekerja lebih serius agar mampu menorehkan prestasi untuk masa depan kita. Dengan begitu, semboyan manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain dapat kita raih. Wa Allah a'lam.

Introduction