Rabu, 28 Oktober 2009

HATI YANG HAMPA


Pernahkah Saudara merasakan hati yang hampa dan kosong? Hidup terasa hanya rutinitas belaka dan penuh sandiwara? Pernahkah Saudara merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini? Ketika Saudara menyadarinya, seringkali Saudara tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya merenung dan meratap. Entah harus berbuat apa, yang jelas Saudara tidak bisa melawan arus hidup kecuali hanya mengikutinya saja. Kalau ditelusuri lebih dalam, sesungguhnya kehilangan yang paling nyata dalam hati kita adalah lenyapnya sinyal ketuhanan yang biasa terakses dengan baik. Allah pemilik diri kita, seluruh jiwa raga kita dan seluruh apa saja. Itu semua telah tertulis dalam kitab-Nya yang mulia. Tatkala kita terlalu sibuk mengejar dunia dengan sedikit melupakan akhirat, memang kita seakan dapat menguasai dunia, atau dunia sudah berada dalam genggaman kita. Tetapi masih saja ada sisi ruang hati yang tetap teraso kosong. Mengapa? Itulah tempat cahaya Allah bersemayam. Nilai-nilai ketuhanan dan kebutuhan akan kekuatan yang maha dasyat berada. Tempat ini terus mencari kesempatan untuk diisi. Ibarat anak kecil yang kehausan, ia akan merintih, menangis, dan bahkan meraung kesakitan akibat tidak terpenuhinya kebutuhan ini.

Tibalah saatnya kita melongok hati kita, Apakah sudah tenang atau masih gundah. Saat melihat kehidupan materi sudah tercukupi, kini kita beralih memperhatikan kebutuhan rohani yang merintih. Mungkin di sana Allah menitipkan pesan keselamatan, bukan hanya untuk diri dan keluarga kita, tapi kolega dan lingkungan kita. Ada satu ruang yang menjadi perantara bagi Allah dan seorang hamba-Nya, yakni hati yang hampa. Ia ingin segera dipenuhi kebutuhannya sebelum meranggas, mengering dan mati. Hati yang mati tidak dapat lagi melihat keajaiban kekuasaan Allah. Hati yang mati akan beringas dan kejam kepada sesama. Cahaya Allah sudah tercerabut dari akarnya. Tinggallah kegelapan hidup yang merana. Jiwa gersang, hati bimbang, kehidupan kering kerontang. Lalu untuk apa hidup lebih lama jika kemudian hanya akan membuat malapetaka? Untuk itulah, mumpung cahaya Allah masih tertangkap oleh hati kita dengan perasaan hati kosong dan hampa, segeralah bangkit, ambil air wudhu, baca al-Qur’an, baca wirid, ingat Allah, niscaya sinyal-sinyal ketuhanan akan segera menguat dan hati kita akan berbinar penuh cahaya ilahi. Dengan begitu, hidup ini benar-benar hidup karena ada kekuatan Allah dalam setiap langkah kita. Allah bersama kita, kita pun hidup damai bersama-Nya.

Ketika kehidupan manusia sudah diwarnai dengan cahaya ilahi, ia tidak hanya memiliki budi pekerti yang agung, tapi ia bisa menjadi orang paling bermanfaat buat sesamanya. Tidak ada orang yang tersakiti oleh sikapnya sebab setiap langkahnya rapi terukur dan mendapat panduan dari cahaya ilahi. Tatapan matanya yang lemah lembut, senyumnya yang manis, tatakramanya yang sopan dan serasi, membuat setiap yang melihatnya merasa teduh dan nyaman. Setiap keputusannya selalu beorientasi kepada kemaslahatan umat. Seringkali bahkan kepentingan diri sendiri dan keluarganya dikesampingkan demi untuk kebaikan masyarakat banyak. Lihat Abu Bakar yang begitu ikhlas menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan di jalan Allah dengan memasrahkan kebutuhan diri dan keluarganya kepada Allah dan rasul-Nya. Hatinya telah dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan ia yakin bahwa Allah akan memenuhi kebutuhannya secara sempurnanya melalui kekuasaan-Nya yang tak terbatas.

Saudaraku, marilah menyongsong hidup ini dengan cahaya ilahi di hati. Semoga jalan kita semakin bersinar dan hidup kita yang tak seberapa lama ini terasa berbinar. Semoga hati kita yang awalnya terasa kosong dan hampa dapat terisi dengan kekuatan cahaya Allah yang maha Perkasa. Amin

3 komentar:

  1. Alhamdulillah setelah membaca tulisan ini saya tau bgm mengisi kehampaan hati saya. Mendekatkan diri kpd Allah adl jwb terbaik.

    BalasHapus
  2. Tolong bantu saya pak, sy kok malah terasa hampa hati ini sekarang sudah ke hari 23 ramadan. sy tiap malam baca al quran dan sudah hatam dan sekarang mau hatam yg ke 2 tinggal 10 juz lagi ( maaf ini bukan mau menyombongkan hanya memberi keterangan kok hati tetep hampa). Siang sy mendengarkan kaset dari buku tafir al quran al ahzar karangan hamka. Pertanyaan sy kok hati ini HAMPA !! biasanya tiap2 ayat yg sy baca sy merasakan nikmat sampai keluar air mata. tapi ini kok cuma sy baca aja tanpa ada rasa. boleh kasih sy solusinya pak kenapa jadi begini? biar hati ini enak lagi seperti dulu. oh ya perasaan sy tdk melakukan hal2 buruk tp kenapa al quran tdk bisa masuk ke dalam hati saya ?? Mohon penjelasan nya atau email ke evafaigacantik@gmail.com Terima kasih banyak pak

    BalasHapus

Introduction