Jumat, 22 Januari 2010
BERSANDAR KEPADA ALLAH: SOLUSI MUJARAB MUKMIN SEJATI
Masalahnya, bisakah kita terus-menerus mengatakan bahwa kita selalu unggul ketimbang orang lain? Sepertinya, tidak ada lagi makhluk yang lebih baik dan cerdas ketimbang kita. Jika pikiran ini dipelihara, bukannya kepuasan hidup yang kita dapat, tetapi sebaliknya, kekecewaan mendalamlah yang akan kita peroleh. Mari kita renungi beberapa fase hidup kita yang menggambarkan betapa lemahnya kita dan betapa kita bergantung kepada orang lain. Sejak dari awal penciptaannya, kita sangat tergantung kepada makhluk lain. Kita lahir di muka bumi ini dengan perantara ayah dan ibu kita. Lalu kita tumbuh bergaul dengan sesama hingga dewasa yang selalu membutuhkan energi yang disuplai oleh tumbuhan dan hewan. Akhirnya, saat waktu telah berakhir, kita pun meninggal dan harus meminta bantuan orang lain untuk menguburkan jasad kita. Saat dalam tanah, untuk mengembalikan ke bentuk awal kita, kita memerlukan bantuan binatang tanah untuk memprosesnya.
Dengan memperhatikan beberapa fase tersebut, pertanyaannya kemudian, apa yang dapat kita banggakan pada diri kita yang sangat lemah ini? Tentu saja, jika kita masih sehat kesadarannya, kita hanya bisa menunduk dan kalau perlu menangisi kebodohan kita. Ternyata tak ada yang patut disombongkan. Tak ada yang benar-benar milik kita. Subhanallah, pesona hidup ini telah membutakan kita.
Kemudian, hal yang yang patut kita sadari selanjutnya, kepada siapa kita bergantung? Ketika kita masih ada kawan, kita tentu akan meminta pertolongannya. Tetapi, seberapa banyak seorang kawan dapat menemani dan mememenuhi seluruh permintaan kita? Apalagi ketika kita susah, tak banyak orang yang sudi duduk berdampingan dengan kita walau hanya untuk sekedar mendengar keluh-kesah kita. Penyandaran yang terbaik adalah hanya kepada sang pencipta, Allah SWT. Hidup ini akan tenang, jiwa ini akan tentram jika kita sadar bahwa Allah-lah pemilik segala. Dari-Nya semua berasal dan kepada-Nya semua akan kembali.
Mari kita bandingkan dua keadaan ketika kita menghadapi sebuah masalah. Tentu saja kita harus mencari solusi. Tetapi, bagaimana caranya? Umumnya orang akan menyampaikan keluhannya kepada kawan atau keluarganya. Hanya saja, betapa banyak kekecewaan yang sering timbul dari hubungan ini. Kalau semua bergantung kepada kawan dan keluarga, siap-siaplah kecewa. Alih-alih memberi bantuan, justru cibiranlah yang kita terima. Belum lagi, efek samping dari keluhan kita yang telah diungkapkan, ini akan jadi momok buat kita di masa mendatang karena kita akan dicap sebagai orang yang sangat rapuh dan tidak mandiri. Jadi, belum tentu dapat bantuan, tetapi sudah pasti aib kita sudah terpampang. Beda halnya kalau kita mengadu kepada Allah, seperti yang dilakukan Nabi Ishak ketika Yusuf hilang dan Benyamin dipenjara. Ia berkata, “Aku adukan kesedihanku kepada Allah. Hanya Dialah yang Maha Tahu mengapa ini semua terjadi. Dia Maha Penyayang kepada makhluk-Nya yang beriman.” Ya, bersandar kepada Allah menjadi amunisi paling produktif untuk meredakan kekesalan dan kekecewaan dalam hidup kita. Memang, kita boleh berbagi cerita dengan sesama, tetapi itu bukan yang paling utama. Yang jelas, ketika kita dekat hubungannya dengan Allah, Allah akan membukakan pintu penyelesaian terbaik buat kita. Tentu bukan Allah akan datang sekonyong-konyong kepada kita, tetapi Allah akan mengutus seorang makhluk, entah kawan atau handai tolan untuk memberikan solusi kepada kita. Misalnya, ketika kita kehabisan uang, tiba-tiba datang seorang tamu yang memberikan sejumlah uang tanpa kita minta. Itulah skenario Allah bagi hamba-Nya yang bertakwa. Dengan kepasrahan yang tinggi kepada Allah disertai usaha maksimal, semoga kita dapat menghadapi aneka warna hidup ini dengan senyuman yang ikhlas dan hati yang luas. Amin.
Selasa, 12 Januari 2010
LIVE TOGETHER WITH PARENTS OR NOT?
Living together with family is one of wonderful experience. Moreover, young people will be able to rely much on their parents in terms of food, clothing, and shelter. However, some of them think the opposite. They feel free and independent if they can support their expenditure by themselves. In my opinion, being independent is more challenging for some reasons.
First, young adult will be able to decide their own dreams. Since they have enough knowledge and experience how to solve the problem and to earn money, they can easily decide their own goals. For example, when they want to be a trader, they can build the relation and communication with their friends directly without being burdened by the permission from parents. They may go wherever and whenever they require as long as they consider beneficial.
Second, they can reduce the tension with the parents. It is quite common that young adults have the problems with their parents. They feel that parents too much control their activities. As a result, parents are often angry with them and the young adult feel disappointed by this attitudes. Therefore, living independently may become a wise solution to reduce the tension among them.
Third, young people will have more experience and responsibility. For instance, when they want to have a car, they just ask parents. They do not have the chance to experience the process to have a car. Furthermore, they just ride the car and do not understand how to maintain the machine. They lack the sense of responsibility since they just rely on parents' role. Therefore, the longer they stay with parents, the less experience and responsibility they have.
Finally, young people may choose their preference whether they want to live together with the parents or they stay away from them. For me, independent life when possible is better than dependent life with family since it will help young people have more responsibility and experience to prepare for their future.
Minggu, 10 Januari 2010
MANUSIA TRIPLEK DAN MANUSIA BATU BATA
Hampir tak ada yang menyangkal bahwa hidup ini penuh dengan masalah. Tiap hari, manusia dihadapkan kepada situasi yang menuntut kerja keras, baik fisik maupun pikiran. Bagi orang yang menyukai tantangan, hidup ini begitu dinamis sehingga setiap lembar waktu selalu berubah dengan tampilan barunya. Sebaliknya, bagi orang yang mencintai kemapanan, laju kehidupan membuatnya selalu tegang dan berjaga-jaga kalau-kalau ada sesuatu yang mengancam kenyamanannya. Itu berarti, menjalani hidup di muka bumi ini tergantung pada sikap kita merespon fenomena.
Tulisan ini ingin mengungkap model manusia dalam merealisasikan impiannya. Tipe pertama adalah manusia triplek. Manusia jenis ini adalah orang yang memiliki keinginan tinggi untuk sukses namun dengan cara instan. Ia bercita-cita menjadi orang sukses, maju, terkenal, dan kaya dalam waktu singkat. Cara yang ditempuh persis seperti orang ingin membangun rumah secara cepat dengan menggunakan triplek. Memang, dalam waktu yang relatif pendek, rumah tersebut akan segera dapat dinikmati. Ia tidak terkena teriknya panas dan tetesan hujan. Pendek kata, tujuannya bisa dicapai dalam hitungan tidak begitu lama.
Sebaliknya, tipe kedua adalah manusia batu bata. Maksudnya, manusia tipe ini adalah orang yang ulet dan gigih dalam memperjuangkan harapannya secara istiqamah. Ia ibarat rumah yang dibuat dari batu bata. Dari bawah, rumah itu ditopang satu persatu dengan batu bata yang direkatkan satu sama lain. Memang, impian manusia jenis ini tidak lekas terwujud sebagaimana manusia triplek, akan tetapi dengan kesabarannya, ruma pun akan berdiri megah dan kokoh. Dalam perjalanannya, tak sedikit orang mencelanya sembari melabelinya sebagai manusia lambat. Namun, dengan kebulatan tekad dan manajemen yang baik, akhirnya impiannya pun dapat terwujud.
Ada persamaan dan perbedaan yang dapat diamati dari kedua jenis manusia ini. Persamaannya adalah adanya usaha yang dilakukan dan tujuan yang diharapkan. Dalam hal usaha, kedua tipe manusia ini sama-sama melakukan beberapa langkah untuk meraih impian. Mereka juga sama-sama ingin meraih impian yang telah ditetapkan sebelumnya.
Hanya saja, perbedaan mendasar dari keduanya adalah model usaha yang dilakukan dan ketahanan prestasi yang mereka capai. Dari sisi usaha, manusia triplek lebih cenderung ingin mewujudkan cita-citanya dalam waktu singkat. Kalau bisa cepat mengapa harus lambat, begitulah kira-kira slogannya. Mungkin, tipe ini bagus, karena ia dapat mencapai tujuannya tanpa harus berpayah-payah terlalu banyak. Sekali dayung, seribu pulau terlampaui. Namun, dari sisi ketahanannya, mereka ibarat rumah triplek. Satu dua tahun mungkin masih bisa bertahan. Tapi, pada tahun ketiga, ia mulai digerogoti rayap dan mulai lapuk. Tak lama kemudian, rumah ini terancam roboh.
Kenyataan ini tentu bertolak belakang dengan manusia batu-bata. dari sisi usaha, ia memang relatif membutuhkan waktu yang lebih lama. Ia harus berjuang mati-matian jika ingin menyamai prestasi manusia triplek. Tetapi, jika ia mau, ia juga tidak kalah cepat dengan manusia triplek yang santai, asalkan ia tidak kenal lelah menata sebongkah demi sebongkah batu bata untuk membangun impiannya. Ia pun berpeluang mendahului prestasi manusia triplek. Kemudian, dari sisi ketahanan prestasi, jelas manusia batu bata tak tertandingi. Manusia triplek hampir dipastikan tidak pernah menandingi prestasi manusia batu bata. Rumah yang dibangun dengan batu bata selalu lebih kuat dan kokoh daripada rumah yang terbuat dari triplek. Ia akan melindungi penghuninya dari panas dan hujan dalam waktu yang lama. Dengan demikian, manusia batu bata akan memberikan manfaat dan menikmati kejayaannya lebih langgeng ketimbang manusia triplek yang cepat memberikan manfaat namun hanya bersifat sementara.
Alhasil, kita dapat memilih tipe yang sesuai dengan karakter dan keinginan kita, tentunya dengan kesadaran penuh akan konsekuensi yang mengiringinya. Perpaduan antara keduanya mungkin bisa diharapkan, namun tentu sulit dilakukan. Oleh sebab itu, masa depan kita sangat bergantung keputusan kita hari ini. Wa Allah a'lam.
Rabu, 06 Januari 2010
STUDY ABROAD
Study abroad is a dream of many students. They think that study in a foreign country is really challenging. There are several advantages and disadvantages of studying in a oversee university.
The advantages of study abroad are many. Some of them are as follow. First, access of library. I believe that an excellent university will provide a huge number of books for students. The books will facilitate them to develop their knowledge and to broaden their understanding about a certain subject. The library will give the chance for students to read, copy, or even borrow the books. Hence, the more diligent the students visit the library, the more the information they get. Second, warming professors. The students can access professors during office hours if they have a particular problem. They can consult with them about the materials in the class or even discussing a personal handicap. Most professors will be available for their students and are willing to help them overcome their problems.
On the other hand, there are some disadvantages experienced by a foreign student that should be taken into account. First, adaptation is the most common challenge. A student should adapt with the current situation, such as their meal, housing, and friends. It is not easy for students to eat something that they are not accustomed to. Also, they have to prepare their mind to stay together with the completely different partners. They have to adjust quickly if they want to be safe from adaptation suffer. Once they can establish a good relationship with food as well as friend, they may become comfortable with the new situation. Second, missing the family. When staying in other country, they will feel lonely. They cannot meet their family. Some students who usually depend much on their family, will suffer from loneliness feeling. If they cannot overcome this problem, they will decide to return to their home country regardless their study. Of course, it will make them loose their chance to be quality people.
Finally, study in an oversea country has advantages as well as disadvantages. Nevertheless, I am certainly sure that the advantages outweigh the disadvantages. Therefore, study abroad should be one choice for people who want to advance their knowledge and experience.
Kamis, 31 Desember 2009
SELAMAT JALAN GUS DUR
Duka mendalam membalut negeri
Kehilangan sosok negarawan sejati
Pembela kaum lemah, Penyemai demokrasi
Gus Dur...
Sosok manusia cerdas dan pemberani
Memperjuangkan nasib rakyat tanpa basa-basi
Di tengah pluralitas anak negeri
Kau mampu melawan arah
Kau telah merubah sejarah
Selamat jalan, Gus Dur...
Bangsa ini tak akan lupa akan jasamu