Selasa, 11 Mei 2010

PANTAI SANUR


Sebelum berangkat, saya sudah mendapat informasi kalau nanti saya akan menginap di Inna Grand Bali Hotel yang berlokasi di Sanur. Berhubung saya belum pernah menginap di hotel itu, saya tidak tahu pasti apakah lokasinya dekat dengan pantai Sanur atau tidak. Satu hal yang penting, saya berpeluang untuk menikmati kembali salah satu keindahan ciptaan Allah di sebuah lokasi yang terkenal di Bali. Memang, saya pernah berkunjung ke tempat itu, tapi jujur, saya sudah lupa detail panoramanya. Namun, ada satu kekhawatiran di hati, jangan-jangan saya tidak sempat ke sana karena acara yang harus saya ikuti benar-benar padat. Tapi, sudahlah, saya hanya berharap bisa berkunjung ke tempat itu, namun bila tidak, saya juga tidak akan menyesal. Toh, itu bukan tujuan utama.

Saat turun dari bis jemputan, saya disambut ramah oleh petugas Fulbright di pintu masuk hotel. Saya pun dipersilakan menuju meja registrasi untuk mengambil perlengkapan peserta orientasi. Kemudian, saya menemui petugas receptionist untuk check in. Setelah itu, saya diantar oleh seorang room boy menuju kamar penginapan. Sambil berjalan, saya bertanya ke pengantar itu tentang lokasi pantai Sanur. Subhanallah, tak disangka, pantai Sanur itu berada tepat di sebelah hotel. Jadi, saya bisa berkunjung ke pantai itu karena memang penginapan saya berada di pinggir pantai.
Saya kaget sambil terharu. Dulu, saat saya berlibur ke Sanur, saya sempat heran saat melihat ada hotel yang lokasinya tepat di pinggi pantai. Ternyata, alhamdulillah, hotel bitang lima itu kini menjadi tempat bermalam saya. Dengan begitu, saya dapat menyaksikan suasana pantai Sanur hanya dua menit berjalan kaki.

Senin, 10 Mei 2010

KETEMU LAGI, BALI...!


Hari ini, saya harus bangun pagi agar dapat mengejar pesawat yang akan mengantar ke Bali. Pukul 3 saya sudah terjaga. Saya langsung mandi dan sarapan...(mirip sahur ya...). Setelah meyakini semua telah terbawa, saya pun berangkat menuju bandara tepat pukul 4. Wah, lumayan menantang...jalan-jalan menyusuri kebun karet di pagi buta.

Sesampai di bandara, saya parkirkan motor sambil pesan ke petugas bahwa saya akan kembali ke Semarang pada hari Kamis malam. Berhubung menginap, kunci motor saya diminta si petugas parkir itu untuk keperluan relokasi motor ke tempat yang aman di malam hari. Setelah beres, saya langsung menuju mushalla yang berada di ujung gedung bandara. Saya patut bersyukur karena tidak ada halangan selama perjalanan sehingga saya masih punya waktu untuk shalat sebelum check in. Padahal, seminggu yang lalu, ban motor sempat kempes lho...

Seusai shalat, saya menuju pintu masuk. Di pintu ini semua barang termasuk telepon genggam harus disensor oleh sinar X. Saya yakin bahwa barang-barang saya akan lolos karena saya kan bukan bandar narkoba (hehehe). Setelah itu, saya harus menuju counter Lion Air untuk check in. Koper saya harus rela dimasukkan bagasi karena pesawat yang akan mengantar saya tergolong kecil. Padahal biasanya, kalau saya naik Sriwijaya atau Batavia Air, koper kecil saya biasanya saya bawa masuk kabin. Keuntungannya adalah saya bisa cepat meninggalkan bandara karena tidak harus ngantri menunggu barang di ruang pengambilan. Paling tidak bisa hemat 30 menit-lah.

Sebelum masuk ruang tunggu, saya harus melintasi kounter pajak bandara. Biaya yang harus saya keluarkan sebesar Rp 25.000,-. Beda halnya kalau saya berangkat dari Jakarta. Airport taxnya lebih besar, yakni Rp 40.000,-. Nah kalau dari Bandara Malang, jauuuuuuhh lebih murah, cuma Rp 6.000,-. Ini disebabkan oleh status bandara Malang yang tergolong baru dan numpang di pangkalan udara milik angkatan udara.

Setelah menunggu sekitar satu jam, petugas bandara mengumumkan bahwa pesawat udara dengan tujuan Denpasar akan segera berangkat. Pesawat ini tergolong paling awal terbang sesaat setelah pesawat dengan tujuan Jakarta lepas landas. Seluruh penumpang berdiri dan antri di pintu sensor keluar untuk diperiksa tiket airport tax dan tiket boardingnya. Kemudian, kami berjalan kaki menuju pesawat Lion yang parkirnya agak jauh di ujung bandara.

Perjalanan menuju Bali memakan waktu sekitar 3 jam. Rinciannya adalah 1 jam untuk menempuh jarak Semarang-Surabaya, 1 jam untuk transit di Surabaya, dan 1 jam lagi untuk waktu tempuh Surabaya-Denpasar. Asyik juga perjalanan saya kali ini. Sang pilot memberi tahu ke seluruh penumpang bahwa kami akan melintasi puncak gunung Semeru dan Bromo. Wow, subhanallah, indah sekali, puncak gunung yang menjulang dengan sejumlah awan putih yang ditemani sinar matahari pagi. Belum lagi saat melihat panorama indah yang disajikan oleh hamparan daratan dan bentangan lautan. Keramaian kota, keheningan hutan, dan kesejukan area persawahan benar-benar menyejukkan mata. Jalan-jalan seperti jalur semut yang ramai. Aliran sungai ibarat tali benang yang diurai berliku. Ombak lautan laksana hamparan emas yang berkilau oleh terpanaan sinar. Pokoknya, keindahan alam kali ini sungguh terpampang di depan mata. Kalau perjalanan malam atau saat mendung, tentu panorama itu tidak akan tampak.

Tiga jam telah berlalu. Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Kami turun bergantian lalu menuju bus transit yang akan mengantarkan ke pintu keluar. Di sana, para petugas dari Fulbright sudah menunggu. Saya pun masuk mobil jemputan untuk diantar ke tempat penginapan. Alhamdulillah, akhirnya saya kembali lagi ke Bali setelah tujuh tahun yang lalu sempat tinggal di Denpasar selama 6 bulan. Kita ketemu lagi, Bali...I miss U so much....!!! Weleh-weleh...

Sabtu, 08 Mei 2010

MENCURI ILMU DI TOKO BUKU

Siapa mau jadi pencuri? Saya yakin, tak ada seorang pun yang bangga ketika dirinya digelari sebagai pencuri. Meskipun begitu, ada fasilitas bagus yang memberikan pelayanan gratis bagi para pecinta ilmu, yakni toko buku. Seseorang yang gemar berkunjung ke toko buku dapat dipastikan akan mendapat siraman ilmu baru tanpa harus merogoh saku. Ia cukup berkeliling dan berdiri sejenak pada rak buku yang diminati untuk membaca isi buku yang menarik perhatiannya. Ia tak perlu was-was atau ragu karena memang pada era sekarang para pembaca di toko buku diberikan fasilitas lengkap agar mereka krasan berlama-lama di toko itu. Mereka bahkan dimanjakan dengan ruangan ber-AC, tempat duduk yang empuk, dan suasana yang nyaman. Alhasil, pencurian ilmu di toko buku justru menjadi misi toko buku itu. Nah, kalau begini caranya, para pencuri ilmu akan merasa bangga karena mendapat dukungan 100% dari pemilik toko. Semakin banyak para pencuri ilmu (bukan pencuri buku lho) datang, pengusaha toko semakin senang. Pencurian semacam ini sangat diharapkan oleh semua pihak dan pasti dijamin halal.

So, siapa mau jadi pencuri ilmu? Saya pun tak keberatan.

Jumat, 07 Mei 2010

CEK KESEHATAN DI PRODIA

Sejak bulan lalu, saya mempunyai program besar yang belum terselesaikan hingga awal bulan ini, yakni cek kesehatan. Saya sebenarnya agak malas berurusan dengan laboratorium karena biayanya pasti mahal. Tetapi, karena hal ini merupakan salah satu syarat untuk imigrasi guna riset di negeri Paklik Sam, saya akhirnya harus nurut.

Pertama-tama, saya berkonsultasi dengan dokter keluarga. Menurut saran sang dokter, saya harus menjalani serangkaian tes kesehatan untuk melengkapi isian formulir. Tes tersebut bisa dilakukan di rumah sakit atau di laboratorium swasta. Sejauh pengalaman saya, pelayanan laboratorium rumah sakit pemerintah tergolong pas-pasan plus prosedur yang berbelit. Oleh sebab itu, atas saran seorang kawan, saya pun memutuskan untuk melakukan cek kesehatan di Prodia Semarang yang letaknya di sekitar Simpang Lima.

Waktu sampai di lokasi, saya agak terkejut, ternyata pengunjung Prodia cukup banyak hingga antri ke luar ruangan. Namun, meskipun agak ragu, saya akhirnya mendaftarkan diri. Selang beberapa saat, tiba giliran saya. Saya cukup senang karena meskipun pasien yang daftar sangat banyak, ternyata para pegawainya pun tidak sedikit. Saya mendapat pelayanan yang bagus dari mereka, mulai pengambilan sampel darah, rekam jantung, hingga rongsen. Rasanya tidak lebih dari setengah jam, semuanya telah beres. Saya berkesimpulan bahwa memang lembaga-lembaga yang berlabel swasta biasanya sangat mengutamakan pelayanan prima sehingga para pelanggan akan merasa nyaman dan terkesan, ya..seperti saya. Jadi, meskipun harus mengeluarkan biaya agak lebih, namun hati menjadi puas dan plong....(ini bukan promosi lho...hehe)

Selasa, 04 Mei 2010

DASYATNYA SEBUAH DOA

Sejak tahu bahwa sang istri mengandung calon anak kedua, pak Ari semakin gigih berdoa supaya anaknya nanti lahir sehat, normal, dan kelak menjadi anak yang berguna. Hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan ritual agar semakin dekat dengan Allah SWT. Ia yakin, apapun yang ia minta kepada Tuhan Yang Maha Agung tentu akan terkabul dengan mudah jika ia giat beribadah.

Menginjak bulan keenam, dokter yang selama ini memeriksa istrinya memberitahukan kepada pak Ari bahwa posisi bayi dalam kandungan sungsang. Ini berarti bayi itu kemungkinan besar akan lahir melalui operasi cesar. Mendengar berita itu, hati pak Ari seperti disambar petir. Pikirannya melayang kepada sejumlah uang yang harus ia persiapkan untuk operasi itu. Padahal, saat ini kondisi keuangannya sedang seret.

Selama ini, ia sudah memohon dengan sungguh-sungguh agar sang bayi tak bermasalah. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Ingin rasanya ia berontak. Tapi ia sadar, apalah artinya putus asa. Ia pun akhirnya berpasrah diri dan bertekad meneruskan doanya dengan cara yang lebih khusyu'.

Pak Ari memutuskan untuk menambah kegiatan spiritualnya. Berkat ajakan kawannya, ia turut serta program mujahadah kubra yang dilaksanakan di Masjid Agung setiap malam Jumat. Dalam iringan dzikir itu, Pak Ari berkali-kali menitikkan air mata pengaduan atas kegalauan pikirannya. Di tengah kesedihannya itu, ia tetap menyematkan satu harapan bahwa Allah SWT pasti mendengarkan rintihan hamba-Nya dan pasti akan memberikan jalan terbaik untuk keluarganya.

Selang beberapa minggu, ketika usia kandungan istrinya menginjak bulan kedelapan, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Bayi yang semula divonis akan lahir dengan cara cesar, ternyata saat itu posisinya berbalik normal, tidak sungsang lagi. Betapa gembira hati Pak Ari. Ia pun sujud syukur atas kebesaran kekuasaan Allah SWT. Ia kian pantang menyerah untuk mengisi waktunya dengan bermunajat kepada-Nya agar persalinan istrinya dapat berlangsung lancar tanpa kendala. Dengan begitu, ia tidak lagi terbebani oleh besarnya dana yang dibutuhkan untuk keperluan itu.

Pada bulan kesembilan, pertumbuhan bayi tetap terjaga. Seperti perkiraan, bayi itu akhirnya lahir normal sesuai dengan harapan Pak Ari. Pak Ari tidak dapat menyimpan rasa harunya. Tangisnya meledak seiring dengan terdengarnya tangis bayinya yang baru lahir. Dalam kebahagiaan itu, ia semakin percaya akan kekuatan sebuah doa. Jika doa dilantunkan dengan hati ikhlas dan penuh kesungguhan, niscaya Allah akan memberikan pertolongan dengan segala kemudahan. Persis dengan nasehat salah satu gurunya bahwa Allah akan memberikan seribu satu jalan keluar bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya. Wa Allah a'lam.

Introduction