Senin, 28 September 2009

JALAN MASIH PANJANG

Pernahkah Saudara putus asa? Pernahkah Saudara hilang kesabaran? Pernahkah Saudara berada dalam situasi yang membingungkan sekaligus menegangkan? Saya yakin, hampir semua di antara kita pernah mengalaminya dengan tingkat dan kadar yang bervariasi. Dalam hidup yang bergelombang, ada siang ada malam, ada suka ada duka, ada sulit ada longgar, terus saja bergelinding dari waktu ke waktu. Tatkala kita dirundung masalah, misalnya di seputar pekerjaan atau keluarga, kita sering kali mengeluh, aduh mengapa harus begini, mengapa harus kita yang mengalami...dan semacamnya. Ujung-ujungnya, kita diterpa rasa putus asa dan hilang harapan. Hidup sepertinya redup dan gelap. Tanpa sinar, tanpa jalan. Semua tertutup dan beku. Jika rasa itu telah hinggap di hati, itu berarti kita telah putus asa.

Kadang saat menghadapi ganjalan, sikap yang muncul adalah marah. Mengapa orang memperlakukan kita seperti itu, mengapa agenda kita tidak berjalan seperti rencana, mengapa kita yang disalahkan....merupakan awal kemarahan. Apalagi, kita merasa bahwa kita telah melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan melayani orang setulus-tulusnya. Giliran kita yang butuh, nampaknya orang di sekeliling kita bersikap acuh tak acuh dan mengabaikan kita. Marah adalah ekspresi ketidakpuasan antara cita dan realita. Marah yang wajar dapat mengurangi ketegangan, namun jika berlebihan justru akan memunculkan ketegangan baru yang lebih rumit. oleh sebab itu, pikiran kita harus longgar, kita harus mampu menghadapi segala situasi dan beradaptasi dengan karakter orang yang berbeda-beda. Andai saja kita bisa sedikit mengalah dan memahami situasi dengan lebih bijak, niscaya kita akan melihat banyaknya celah jalan keluar yang bisa kita ambil. Bila kita mengutamakan marah sebagai bentuk ekspresi kekecewaan, alih-alih menyelesaikan masalah, justru yang muncul adalah masalah-masalah baru yang akan menambah beban pikiran kita. Dengan demikian, sikap bersabar dan memandang jalan masih panjang akan membuat kita mampu tersenyum di kala situasi sedang kalut. Senyum simpul kita yang tulus akan meredakan emosi yang tak terkendali. Memang, masalah tidak dengan begitu saja hilang dengan senyum kita, namun setidaknya sikap dewasa kita akan menjadikan masalah cepat terselesaikan oleh pikiran yang dingin.

Mengaca dari berbagai peristiwa yang pernah kita alami dan respon kita terhadap situasi itu, nampaknya dapat disimpulkan bahwa sikap ikhlas menerima setiap jengkal kenyataan hidup dengan tetap terus menerus berusaha agar kita mampu menanganinya dengan baik adalah sikap pilihan yang dapat kita jadikan bekal untuk fase kehidupan kita berikutnya. Sebaliknya, jika kita lebih mengutamakan emosi yang tak terkendali dengan dalih mencurahkan kekesalan agar plong, malah berbuah sebaliknya. Masalah tetap ada dan justru bertambah panjang.

Sebagai kata akhir, marilah kita sejenak menenangkan diri dengan tetap berdoa dan berusaha sekuat tenaga sebagai bagian dari bentuk ikhtiyar kita, agar kita mampu menghadapi segala masalah dengan sikap tenang dan bijaksana. Allah akan menolong seorang hamba jika ia menyerahkan diri dan memohon pertolongan kepada-Nya. Amin.

Minggu, 27 September 2009

SYUKUR NIKMAT

Kalau kita mau jujur, betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, bahkan tanpa kita minta. Tubuh yang indah, pikiran yang sehat, rezeki yang cukup, anak-anak tumbuh, istri patuh, pekerjaan mapan, dan masih banyak lagi nikmat yang kita terima. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah bersyukur?

Seringkali kita tidak menyadari bahwa nafas yang kita hirup secara gratis setiap saat adalah bagian dari nikmat yang tak terperi. Jantung yang berdegup tanpa komando, darah yang mengalir, mata yang berkedip dan alatalat tubuh yang berjalan sempurna adalah karunia tak terhingga. Nikmat sehat ini akan terasa kehadirannya di kala kita dirundung sakit. Batuk saja yang wilayah kerjanya di bagian leher sudah menyiksa kita hingga tidak dapat melakukan aktifitas dengan optimal. Sakit kepala yang lokasinya hanya di bagian atas kepala sudah dapat merobohkan kinerja kita.

Dengan merenungi nikmat yang tak terhitung, niscaya kita akan menyadari betapa agungnya karunia Allah yang dicurahkan kepada kita. Lantas, sudahkah kita menjadi hamba yang sebenarnya? Sudahkah kita melaksanakan perintah-Nnya dan menjauhi larangan-Nya? Sungguh, kalau kita mampu mendekatkan diri kepada-Nya melalui sarana ibadah, baik ritual maupun sosial, niscaya kita akan menjadi hamba terpilih yang kelak mewarisi surga-Nya. Amin.

Sabtu, 26 September 2009

INDIKATOR KESUKSESAN IBADAH RAMADHAN

Ramadhan telah pergi. Umat Islam pun merayakan hari kemenangannya di hari raya Idul Fitri. Agenda silaturrahim menjadi kewajiban integral di bulan Syawal ini. Kegembiraan di mana-mana. Baju bagus dan aneka hidangan khas lebaran menjadi menu utama. Ya, sebuah pesta kecil atas usaha berat menahan nafsu sebulan penuh memang patut dihargai, namun juga perlu dihayati.

Ramadhan adalah bulan latihan. Berbagai macam ujian harus dihadapi demi meraih takwa sejati. Tidak diperkenankannya makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa merupakan tantangan tersendiri bagi setiap muslim. Di malam hari, ritual shalat tarawih menjadi bagian unik dari kemegahan Ramadhan. Di akhir bulan menjelang Syawal, umat Islam yang memenuhi syarat diwajibkan meningkatkan ibadah sosialnya dengan membayar zakat. Dengan demikian, pendidikan lahir dan batin selama Ramadhan diharapkan akan menjadi bekal bagi umat Islam untuk menjadi orang-orang yang bertakwa pada 11 bulan berikutnya. Permasalahannya, adakah indikator keberhasilan seseorang setelah menempuh ujian selama bulan Ramadhan?

Secara khusus memang tidak ada formula khusus untuk mengukur tingkat ketaqwaan seseorang, apalagi dikaitkan dengan sukses tidaknya ibadah di bulan Ramadhan. Hanya saja, ada kaidah umum yang dapat digunakan untuk mengetahui keberhasilan seseorang seusai beribadah, yakni munculnya sikap positif yang lebih banyak, baik menyangkut ibadah ritualnya yang kian intensif atau ibadah sosialnya yang makin mempesona. Kebiasaan shalat sunnah dan membaca al-qur’an selama Ramadhan telah mengajarkan kepada umat Islam untuk senantiasa dekat dengan sang pencipta. Rasa ini akan lebih bermakna jika tetap dipelihara sepanjang tahun seusai lebaran. Sebagai contoh, shalat tarawih yang umumnya dilakukan sehabis Isya dapat digantikan dengan shalat malam sebelum subuh atau shalat dhuha sebelum berangkat kerja. Jika masih terasa berat, setidaknya, shalat sunnah yang ditambahkan menjadi kebiasaan adalah shalat rawatib yang mengiringi shalat wajib. Selain itu, kebiasaan merenungi kandungan al-Quran dapat dilakukan dengan melibatkan diri dalam berbagai majelis taklim, baik di masjid, mushala, atau organisasi sosial. Pesawat HP atau laptop bisa juga menjadi salah satu sarana untuk mendengarkan ayat-ayat suci al-qur’an agar selalu merasa dekat dengan Allah. Kesemuanya itu akan menjadikan nilai taqwa yang sudah tertanam di bulan Ramadhan dapat dijaga kelestariannya.

Ibadah sosial yang juga penting untuk dilanjutkan pasca Ramadhan adalah kebiasaan bersedekah dan empati terhadap penderitaan orang lain. Pahala sedekah di bulan Ramadhan yang berlipat ganda tidaklah perlu menyurutkan semangat untuk tetap bersedekah sepanjang tahun. Bagaimanapun, sebagai makhluk sosial yang telah terlatih untuk merasakan betapa berat menanggung rasa lapar dan haus setiap hari, kepedulian kepada sesama khususnya kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung akan memenuhi rongga dadanya sehingga mudah empati saat melihat penderitaan orang lain. Mereka seakan-akan merasakan sendiri penderitaan itu sehingga segera mengulurkan bantuan kepada penerima musibah. Dengan begitu, rajutan kasih sayang sesama munusia yang dilandasi iman kepada Allah akan menjadikan hidup di dunia ini semakin indah. Akhirnya, sudahkah indakator itu melekat dalam keseharian kita? Semoga…

Kamis, 17 September 2009

MUDIK DAN SILATURRAHIM: RENUNGAN ULANG

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Saat yang paling intim menjalin kasih sesama saudara adalah momen idul fitri. Entah sejak kapan, tradisi kumpul keluarga di tempat asal menjadi suatu kewajiban yang sulit dihindari. Jika tidak pulang, ada rasa bersalah di dalam hati karena tidak bertemu dengan keluarga besar di hari fitri.

Mudik hari lebaran adalah kebutuhan untuk silaturrahim. Biasanya di hari lebaran meskipun orang-orang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka sehari-hari, mereka akan menyempatkan diri untuk untuk berlibur dan pulang untuk berkumpul dengan keluarga. Oleh karena itu di hari yang fitri ini merupakan momen yang paling penting untuk berkumpul dengan sanak keluarga dan handaitaulan.

Hanya, apakah silaturrahim terbatas pada hari lebaran saja? Tentunya tidak, karena meminta maaf atau saling memaafkan tidak hanya berlaku pada hari idul fitri saja. Ketika seseorang melakukan kesalahan, sebaiknya langsung meminta maaf dan pihak yang menjadi korban disarankan dengan lapang dada memberikan keagungan maaf. Ketika hati sudah bersatu kembali oleh semangat kebersamaan dengan saling memaafkan, dunia ini terasa damai dan tenang kembali. Rasa kesal bercampur panasnya hati akan terkikis oleh senyuman dan sejuknya pemaafan. Wajah yang murung dan sedih akan segera cerah dan berseri kembali tatkala kata maaf terucap dari bibir orang yang mengakui kesalahan. Efek kata maaf ternyata lebih besar daripada pengucapannya.

Di Indonesia, tradisi saling memaafkan biasanya dikemas dalam bentuk acara halal bi halal. Istilah halal bi halal anehnya tidak dikenal dalam kosa kata bahasa arab yang menjadi sumber pembentukan istilah tersebut. Namun, jika dipahami secara mendalam, kata halal bihalal merupakan perwujukan dari semangat untuk membebaskan satu sama lain dari dosa dan kesalahan sesama manusia. "Saya halalkan kesalahanmu dan kauhalalkan kesalahanku" merupakan semangat yang terkandung dalam kegiatan mulia tersebut. Dengan demikian, meskipun bahasa halal-bihalal adalah produk asli Indonesia, namun semangatnya dapat ditelusuri dari asal katanya yang saling membebaskan.

Mudik dan silaturrahim yang sudah mentradisi bukannya tidak menyisakan masalah. Okelah saling meleburkan dosa bisa terwujud, namun kegiatan mudik untuk menjalin silaturrahim tidaklah suatu kegiatan yang murah dan mudah. Banyak orang yang harus melakukan perjalanan jauh dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Lebaran bahkan terkesan menjadi momen menghabiskan dan menghamburkan uang sehingga banyak orang yang kehabisan dana setelah pesta lebaran. Dalam agama, boros bukanlah perbuatan yang disarankan, apalagi setelah bulan puasa yang melatih manusia untuk menahan hawa nafsu. Jadi, latihan sebulan tersebut rasanya lenyap begitu saja ketika di awal Syawal, bahkan sudah dimulai di akhir ramadhan, hawa nafsu dipompa kembali. Baju baru, makanan banyak, boros bahan bakar, dan semacamnya sudah menjadi suatu yang jamak disaksikan. Bukan berarti hal tersebut tidak perlu, namun akan lebih baik jika dilakukan dengan sekedarnya dan tidak memaksakan diri dengan berhutang atau gadai.

Semoga mudik tahun ini dapat berjalan dengan lancar demi melestarikan rajutan silaturrahim dalam kelaurga besar. Sikap sederhana perlu dibudayakan kembali seiring dengan kebiasaan konsumtif yang merambah masyarakat kita.

Selasa, 15 September 2009

KESEIMBANGAN IBADAH RITUAL DAN IBADAH SOSIAL

Di akhir bulan ramadhan, khususnya 10 hari terakhir, para ustad dan muballigh tak segan-segan menyarankan kaum muslimin untuk meningkatkan kualitas ibadah, seperti memperbanyak shalat sunnah, membaca al-Qur'an, dan dzikir. Seruan ini didasarkan kepada hadis Rasulullah bahwa ibadah di hari-hari istimewa ini akan memberikan kesempatan seseorang untuk meraih malam seribu bulan. Beliau membangunkan keluarganya untuk menghidupkan malam-malam tersebut sebagai tanda cintanya kepada Allah SWT.

Hanya kemudian, ibadah ritual tersebut tidaklah sempurna jika tidak dibarengi dengan ibadah sosial. Ibadah jenis satu ini sering diabaikan karena tak jarang dianggap bukan ibadah. Padahal kalau kita memperhatikan posisi shalat dan zakat yang lebih dari 25 kali disebut secara beriringan dalam al-Qur'an, niscaya pikiran kita akan berubah, bahwa ibadah ritual tidak akan sempurna tanpa ibadha sosial.

Introduction