Untung ada Youtube....
Suasana lebaran di tempat kerja dapat segera kuciptakan
Dengan memutar beberapa versi takbiran
Setidaknya gema takbir tahmid tasbih tahlil memenuhi ruangan
Membantuku mengobati rasa rindu kampung halaman
Sembari menerawang jauh ke bagian lain dunia
Yang sedang semarak memperingati hari bahagia
Sungguh begitu haru dan syahdu terasa
Selamat Idul Fitri...para sahabat setia
Sabtu, 11 September 2010
LATIHAN MENJADI LEBIH BAIK

Puasa ibarat masa latihan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dalam bahasa al-Qur'an biasa disebut sebagai orang yang bertaqwa. Berbagai ujian selama tiga puluh hari setidaknya memberikan inspirasi positif kepada kita agar kita mampu menjalani bulan-bulan berikutnya dengan akhlak yang mulia.
Akhlak memang merupakan tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad ke muka bumi ini. Ralullah saw ini bertugas untuk menyempurnakan agama sekaligus akhlak manusia. Sebagai penyempurna agama, Islam mengemban amanat untuk me'remaja'kan agama samawi yang sudah diputarbalikkan ajarannya, yakni agama Yahudi dan Nasrani. Ritualitas Islam bukan sama sekali baru, melainkan mengadopsi sebagian dari ajaran para nabi sebelumnya seperti puasa dan haji. Begitu pula, Islam datang ditujukan untuk memberikan contoh prilaku terbaik yang bisa dilakukan manusia agar status "makhluk paling mulia dan paling indah" masih tetap bisa dipertahankannya, yakni dengan hiasan akhlak mulia. Untuk itu, Allah mengutus nabi Muhammad untuk menjadi teladan dalam bertindak tanduk di kehidupan ini.
Salah satu akhlak mulia yang bisa kita jadikan pijakan untuk berbenah diri adalah menjaga lisan dan tangan kita agar tidak menyakiti orang lain. Rasulullah pernah bersabda, "Seorang muslim sejati adalah seseorang yang dapat menjaga lisan dan tangannya agar tidak mengakiti orang lain." Saat puasa, kita dianjurkan untuk tidak berkata bohong dan selalu membantu orang lain. Lidah memang tipis dan ringan, namun jika sekali salah kata, perihnya hunjaman kata itu bisa lebih perih dan menyakitkan ketimbang mata sebilah pedang. Jika kita menipu atau menciderai hati orang lain, niscaya status puasa kita di ujung tanduk atau bahkan bisa batal total. Kebiasaan baik untuk selalu menjaga lisan seharusnya diteruskan untuk bulan-bulan berikutnya karena dianggap sudah menjadi salah satu watak barunya yang kian mulia.
Hadis di atas juga mengajari kita untuk menggunakan kemampuan kita untuk selalu dalam jalur kebajikan. Bgai kita yang kebetulan diberi amanah berupa kekuasaan, baik menjadi ketua RT, lurah atau bahkan presiden, kekuatan dan wewenang kita seharusnya dimanfaatkan untuk menyejahterakan masyarakat luas, bukan untuk memperkaya diri sendiri. Dengan puasa, kita bisa merasakan betapa nelangsanya hati ketika perut lapar. Empati kepada penderitaan orang lain akan menumbuhkan kesadaran agar kita selalu terdorong untuk berbuat terbaik untuk lingkungan kita. Bukan malah sebaliknya, kita bersenang-senang di atas luka derita orang lain.
Akhirnya, dengan berakhirnya ramadhan, hendaklah kita hiasi hidup kita dengan akhlak mulia sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Barangkali kita tidak harus muluk-muluk dalam mengaplikasi akhlak terpuji itu. Kita bisa memulai dari hal-hal yang kecil semisal murah senyum dan ringan tangan. Dengan demikian, kita sudah bisa terhindar dari sikap mencacimaki orang lain, berperilaku korupsi, atau menyalahgunakan wewenang kita. Semoga training Tuhan yang diselenggarakan pada bulan suci ramadhan tahun ini benar-benar bisa melebur seluruh dosa dan kesalahan kita sekaligus mengubah prilaku buruk kita menjadi akhlak yang mulia. Alangkah indahnya hidup ini jika setiap hari kita bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Wa Allah a'lam.
MALAM TAKBIRAN DAN SHALAT IED
Apa yang saya rasakan ketika tiba beduk magrib di hari terakhir Ramadhan? Senang campur haru (padahal tidak dengar azan lho, apalagi beduk hehe). Saya tentu senang karena ternyata saya bisa tuntas menyelesaikan kewajiban puasa satu bulan penuh. Padahal kalau saya mau absen, tidak ada seorang pun yang tahu. Apalagi, semua toko makanan buka setiap hari. Saya juga beberapa kali ikut acara resepsi makan-makan bersama Fulbright dan kawan-kawan, tetapi untungnya saya masih bisa bertahan untuk tidak mencicipi hidangan lezat yang tersedia meski secuil. Padahal, tentunya ketika semua orang makan, saya bisa "nakal" sedikit, comot sepotong dan telan, mumpung tak ada orang yang mengerti kalau saya sedang puasa.
Hari Kamis kemarin, kebetulan saya bersama temen-temen Indonesia mendapat undangan khusus dari pak Heru untuk berbuka puasa di rumahnya sekaligus merayakan malam takbiran. Saya numpang mobil mas Eri untuk pergi kesana. Sesampai di rumah pak Heru, ternyata bu Heru sudah menyediakan makanan khas lebaran, berupa opor ayam, rendang sapi, dan sambal goreng kentang ati. Mbak Meli, istrinya mas Eri, juga bawa lontong sebagai pengganti ketupat. MBak Cecil yang katolik pun tak mau ketinggalan. Dia membuat tempe mendoan hasil karyanya sendiri. Mbak Cecil berhasil membuat tempe setelah mencoba beberapa kali. Raginya diperoleh dari kawan Indonesia yang baru datang. Wah, lebaran di kampung orang begini ternyata masih bisa syahdu meskipun tak terdengar genderang takbiran. Saya hanya bisa takbiran dalam hati.
Pagi ini, saya pergi mencari lapangan tempat shalat Ied. Kebetulan tempatnya tidak jauh, sekitar 10 menit naik bis. Saya sudah cukup paham suasana kota ini sehingga untuk kali ini saya tidak mengganggu mas Eri seperti biasanya. Saya telusuri jalan yang katanya akan dijadikan sebagai tempat jamaah Ied. Saya sempat bingung karena lapangan yang katanya dekat perpustakaan kota itu tidak ada. Setelah tanya seorang wanita berjilbab di sekitar perpustakaan, barulah saya tahu bahwa shalat iednya dilaksanakan di lantai dua sebuah gedung depan perpustakaan. Wajar saja kalau saya tidak melihat orang hilir mudik menggelar sajadah sebab lapangan yang dimaksud adalah ruang besar di hotel tersebut.
Sambil menaiki tangga saya coba lihat kerumunan orang di sekitar saya barang kali saya bertemu kawan-kawan yang saya kenal. Tapi, kali ini saya hanya melihat lautan orang dari berbagai negara, seperti Saudi, Asia, Afrika, dan warga Amerika. Jadilah shalat idul fitri ini seperti shalat di masjidil haram (hanya membayangkan lho...). Orang bicara dengan bahasanya masing-masing meskipun Arab merupakan bahasa yang paling dominan. Lantunan takbir terdengar dari para jamaah. Saya termangu haru membayangkan situasi shalat ied di kampung halaman. Batapa nikmatnya shalat ied bersama keluarga dan kawan-kawan karib. Di sini, saya sendirian, tak mengenal seorang pun. Mas Eri atau pak Heru pun tak kelihatan batang hidungnya. Maklum, karena berangkat tidak bersamaan, mereka bak ditelan lautan manusia yang menyesaki balroom hotel itu.
Model khutbah shalat dan khutbah relatif sama dengan praktik di Indonesia. Shalat dua rakaat dilangsungkan dengan khusyu'. Setelah itu, dua khutbah pun disampaikan oleh sang imam. Hanya ada beberapa hal yang agak berbeda. Pertama, sebelum shalat ied dilaksanakan, beberapa kali panitia penyelenggara mengumumkan bahwa bagi siapa saja yang belum membayar zakat dihimbau segera membayarkan zakatnya dengan uang sebesar 10 dolar. Bahkan, beberapa petugas siap berkeliling untuk memberi layanan bagi jamaah yang belum berzakat fitrah. Hal ini tentu berbeda dengan tradisi di Indonesia yang sepertinya tidak memberikan kesempatan kepada seorang pun membayar zakat di arena shalat ied. Mungkin, masyarakat Indonesia menganut pemahaman bahwa zakat fitrah itu harus sudah sampai ke tangan mustahiq sebelum shalat ied. Hal ini tentu berbeda dengan kaum muslimin di Iowa. Mereka lebih menekankan kepada kewajiban pembayaran zakat yang harus dilakukan sebelum shalat ied, sementara pembagiannya bisa dilakukan setelah shalat ied.
Hal kedua yang terasa agak aneh adalah sang imam bisa merangkap sekaligus sebagai panitia, baik dari sisi menenangkan dan menegur jamaah yang ramai atau menyampaikan pengumuman di sela-sela khutbahnya. Hal ini kalau di Indonesia tentunya dianggap janggal. Khatih biasanya hanya konsentrasi kepada penyampaian materi khutbah tanpa memberikan teguran atau pengumuman selama ia berceramah. Tugas untuk menegur atau menyampaikan pengumuman lazimnya ditangani oleh panitia, baik sebelum atau sesudah khutbah.
Hal yang terakhir adalah saran dari imam kepada jamaah untuk bebas memilih untuk ikut shalat Jumat atau tidak karena shalat ied di hari Jumat dianggap sudah bisa mewakili shalat Jumat. Kejujuran informasi semacam ini jelas jarang terjadi di Indonesia. Biasanya, hanya beberapa orang saja yang tidak menghadiri shalat Jumat ketika ia sudah mengikuti shalat ied di pagi harinya. Kalau di Iowa, jamaah bisa memilih untuk hadir atau tidak pada ibadah shalat Jumat. Setelah saya renungkan, hal ini memang sangat sesuai dengan situasi umat Islam di Amerika yang harus tetap masuk kantor di hari raya idul fitri. Pemerintah tidak memberikan hari libur khusus nasional seperti yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, jika seseorang mengikuti shalat ied dan shalat Jumat pada hari yang sama tentu akan menyebabkan pekerjaan kantornya terbengkalai.
Akhirnya, hari lebaran pun telah tiba dan segera berlalu. Semua orang kembali konsentrasi kepada pekerjaannya masing-masing seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tak ada tradisi halal bi halal apalagi mudik. Meskipun begitu, saya setidaknya cukup terhibur dengan model perayaan idul fitri di perantauan bersama kawan-kawan Indonesia dan ikhwan muslim dari berbagai penjuru dunia yang bermukim di Iowa. alhamdulillah.
Hari Kamis kemarin, kebetulan saya bersama temen-temen Indonesia mendapat undangan khusus dari pak Heru untuk berbuka puasa di rumahnya sekaligus merayakan malam takbiran. Saya numpang mobil mas Eri untuk pergi kesana. Sesampai di rumah pak Heru, ternyata bu Heru sudah menyediakan makanan khas lebaran, berupa opor ayam, rendang sapi, dan sambal goreng kentang ati. Mbak Meli, istrinya mas Eri, juga bawa lontong sebagai pengganti ketupat. MBak Cecil yang katolik pun tak mau ketinggalan. Dia membuat tempe mendoan hasil karyanya sendiri. Mbak Cecil berhasil membuat tempe setelah mencoba beberapa kali. Raginya diperoleh dari kawan Indonesia yang baru datang. Wah, lebaran di kampung orang begini ternyata masih bisa syahdu meskipun tak terdengar genderang takbiran. Saya hanya bisa takbiran dalam hati.
Pagi ini, saya pergi mencari lapangan tempat shalat Ied. Kebetulan tempatnya tidak jauh, sekitar 10 menit naik bis. Saya sudah cukup paham suasana kota ini sehingga untuk kali ini saya tidak mengganggu mas Eri seperti biasanya. Saya telusuri jalan yang katanya akan dijadikan sebagai tempat jamaah Ied. Saya sempat bingung karena lapangan yang katanya dekat perpustakaan kota itu tidak ada. Setelah tanya seorang wanita berjilbab di sekitar perpustakaan, barulah saya tahu bahwa shalat iednya dilaksanakan di lantai dua sebuah gedung depan perpustakaan. Wajar saja kalau saya tidak melihat orang hilir mudik menggelar sajadah sebab lapangan yang dimaksud adalah ruang besar di hotel tersebut.
Sambil menaiki tangga saya coba lihat kerumunan orang di sekitar saya barang kali saya bertemu kawan-kawan yang saya kenal. Tapi, kali ini saya hanya melihat lautan orang dari berbagai negara, seperti Saudi, Asia, Afrika, dan warga Amerika. Jadilah shalat idul fitri ini seperti shalat di masjidil haram (hanya membayangkan lho...). Orang bicara dengan bahasanya masing-masing meskipun Arab merupakan bahasa yang paling dominan. Lantunan takbir terdengar dari para jamaah. Saya termangu haru membayangkan situasi shalat ied di kampung halaman. Batapa nikmatnya shalat ied bersama keluarga dan kawan-kawan karib. Di sini, saya sendirian, tak mengenal seorang pun. Mas Eri atau pak Heru pun tak kelihatan batang hidungnya. Maklum, karena berangkat tidak bersamaan, mereka bak ditelan lautan manusia yang menyesaki balroom hotel itu.
Model khutbah shalat dan khutbah relatif sama dengan praktik di Indonesia. Shalat dua rakaat dilangsungkan dengan khusyu'. Setelah itu, dua khutbah pun disampaikan oleh sang imam. Hanya ada beberapa hal yang agak berbeda. Pertama, sebelum shalat ied dilaksanakan, beberapa kali panitia penyelenggara mengumumkan bahwa bagi siapa saja yang belum membayar zakat dihimbau segera membayarkan zakatnya dengan uang sebesar 10 dolar. Bahkan, beberapa petugas siap berkeliling untuk memberi layanan bagi jamaah yang belum berzakat fitrah. Hal ini tentu berbeda dengan tradisi di Indonesia yang sepertinya tidak memberikan kesempatan kepada seorang pun membayar zakat di arena shalat ied. Mungkin, masyarakat Indonesia menganut pemahaman bahwa zakat fitrah itu harus sudah sampai ke tangan mustahiq sebelum shalat ied. Hal ini tentu berbeda dengan kaum muslimin di Iowa. Mereka lebih menekankan kepada kewajiban pembayaran zakat yang harus dilakukan sebelum shalat ied, sementara pembagiannya bisa dilakukan setelah shalat ied.
Hal kedua yang terasa agak aneh adalah sang imam bisa merangkap sekaligus sebagai panitia, baik dari sisi menenangkan dan menegur jamaah yang ramai atau menyampaikan pengumuman di sela-sela khutbahnya. Hal ini kalau di Indonesia tentunya dianggap janggal. Khatih biasanya hanya konsentrasi kepada penyampaian materi khutbah tanpa memberikan teguran atau pengumuman selama ia berceramah. Tugas untuk menegur atau menyampaikan pengumuman lazimnya ditangani oleh panitia, baik sebelum atau sesudah khutbah.
Hal yang terakhir adalah saran dari imam kepada jamaah untuk bebas memilih untuk ikut shalat Jumat atau tidak karena shalat ied di hari Jumat dianggap sudah bisa mewakili shalat Jumat. Kejujuran informasi semacam ini jelas jarang terjadi di Indonesia. Biasanya, hanya beberapa orang saja yang tidak menghadiri shalat Jumat ketika ia sudah mengikuti shalat ied di pagi harinya. Kalau di Iowa, jamaah bisa memilih untuk hadir atau tidak pada ibadah shalat Jumat. Setelah saya renungkan, hal ini memang sangat sesuai dengan situasi umat Islam di Amerika yang harus tetap masuk kantor di hari raya idul fitri. Pemerintah tidak memberikan hari libur khusus nasional seperti yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, jika seseorang mengikuti shalat ied dan shalat Jumat pada hari yang sama tentu akan menyebabkan pekerjaan kantornya terbengkalai.
Akhirnya, hari lebaran pun telah tiba dan segera berlalu. Semua orang kembali konsentrasi kepada pekerjaannya masing-masing seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tak ada tradisi halal bi halal apalagi mudik. Meskipun begitu, saya setidaknya cukup terhibur dengan model perayaan idul fitri di perantauan bersama kawan-kawan Indonesia dan ikhwan muslim dari berbagai penjuru dunia yang bermukim di Iowa. alhamdulillah.
Jumat, 10 September 2010
KETUPAT AMERIKA? MIMPI KALEEE...

Jelas untuk yang satu ini tak bakalan ada di Amerika. Ketupat merupakan makanan khas Indonesia yang umumnya dimakan di hari pertama lebaran bagi masyarakat Betawi atau di hari ke tujuh bagi masyarakat Jawa. Di Amerika, tradisi Islam banyak dipengaruhi budaya Timur Tengah. Hal ini jelas wajar karena kebanyakan warga muslim Amerika adalah imigran dari Arab Saudi, Turki, Mesir, Pakistan dan beberapa negera di daratan Afrika. Orang Asia semacam Indonesia termasuk makhluk langka. Kalaulah orang Indonesia, umumnya mereka adalah orang etnis cina kelahiran Indonesia. Malahan dalam hal makanan, mereka lebih suka masak makanan Cina ketimbang Indonesia. Jadi, ketupat adalah makanan langka yang mustahil ditemukan, setidaknya di Iowa City, tempat saya berada saat ini.
Selama bulan Ramadhan, saya sempat mengikuti buka puasa bersama yang dihelat oleh masjid Iowa. Ketika masuk waktu Magrib, para pengunjung langsung mendatangi tenda iftar yang berada di belakang masjid. Sajian kurma dan minuman dingin bisa diambil di meja saji. Setelah itu, mereka bergantian mangambil air wudhu dan mendirikan shalat maghrib berjamaah. Tak lama kemudian, antrian panjang mulai terjadi di depan tenda. Semua berbaris dengan tertib dan satu persatu mendapat bagian dari pengelola iftar.
Menu yang disajikan setiap harinya berbeda, setidaknya tiga kali saya datang selalu ganti menu. Meskipun begitu, sajian utamanya adalah makanan khas Arab, yakni nasi kebuli, ayam goreng bumbu kare khas Timur Tengah, dan pasta makroni. Terkadang, masakan Pakistan juga ikut serta meramaikan buka puasa. Bagi saya, makanan-makanan tersebut terasa agak aneh di lidah. Namun, atas nama perut lapar, apapun yang disediakan harus disantap. hehe
Mengingat masakan di Iowa jarang yang bernuansa Indonesia, apalagi ketupat, saya harus puas dengan masakan lainnya yang berbau Indonesia. Misalnya gulai ayam dan rawon. Bumbu kedua masakan itu bisa saya peroleh dari toko khas Asia, Chong's, yang berada di tengah kota. Saya biasa numpang teman untuk belanja kebutuhan saya selama satu minggu, termasuk beras, sayur, lauk, dan bumbu. Lumayan, setidaknya kerinduan akan masakan rumah bisa sedikit terobati.
Di hari lebaran ini, saya teringat betapa nikmatnya makan ketupat dengan gulai ayam. Ibuk Jombang biasanya sudah menyiapkan sarapan pagi di hari Idul Fitri berupa gulai ayam atau ayam bakar. Beda halnya kalau lebaran di rumah mertua di Bekasi. Umi biasanya sudah membuat opor ayam dan sambal goreng ati kesukaan saya. Makanan kiriman dari tetangga juga biasa berdatangan di malam takbiran. Hemmm, dari aromanya terbayang kelezatannya. hehehe. Alhasil, tahun ini saya harus benar-benar puasa, termasuk puasa masakan-masakan nikmat buatan Ibuk dan Umi. Semoga saja saya bisa dapat jatah dobel di tahun depan. Isya Allah....Selamat idul Fitri...mohon maaf lahir batin...
Kamis, 09 September 2010
ZAKAT, MUDIK, DAN ANGPAO
Ketika bulan Ramadhan hendak berakhir, setiap umat Islam yang sadar akan kewajibannya akan berpikir tentang zakat. Umumnya, zakat yang hendak mereka tunaikan adalah zakat fitrah yang umumnya diserahkan di malam takbiran. Beberapa orang akan mendatangi masjid dan mushalla untuk membayar zakatnya. Sebagian lain akan menyerahkan langsung kepada mustahiq dengan caranya sendiri. Tak sedikit pula mereka yang menitipkan zakat fitrahnya ke lembaga amil zakat, baik milik pemerintah maupun swasta.
Satu hal yang mereka sering lupa adalah zakat mal. Tidak jarang dari kita yang diberi karunia Tuhan berupa harta benda yang melimpah. Rumah luas, mobil mewah, dan seperangkat perhiasan yang tersimpan di almari nampaknya tidak menggerakkan hatinya untuk berzakat. Mungkin, keyakinannya menuturkan bahwa dirinya hanya punya kewajiban zakat fitrah, bukan zakat mal.
Fenomena lainnya adalah banyak orang yang begitu sibuknya dengan mudik. Biaya sebesar apapun ditanggungnya demi mudik ke kampung halaman. Segepok uang pun disiapkan termasuk oleh-oleh untuk orang-orang tercinta di tanah kelahiran. Baju baru pun siap dikenakan untuk merayakan hari besar umat Islam, idul Fitri. Pertanyaannya, sudahkah mereka membayar zakat mal? Terkadang tidak logis ketika kita melihat bahwa zakat mal begitu berat terasanya namun untuk keperluan lebaran begitu ringannya. Padahal, jika dikalkulasi, besarnya zakat mal jauh lebih kecil ketimbang biaya opersional lebaran. Kalau sedemikian fenomenanya, hal-hal yang wajib telah dikalahkan dengan hal-hal yang sunah. Ini berarti telah terjadi 'malapetaka' di tengah-tengah umat kita.
Lebaran dengan beragam acara ritualnya tidak dilarang. Memakai baju bagus dibolehkan dalam Islam. Berbagi angpao kepada handai tolan dan kerabat sangat disarankan. Namun, jelas, itu semua harusnya baru dilakukan setelah seluruh kewajiban kita telah dilaksanakan. Bukan malah sebaliknya, rutinitas sosial diutamakan mengalahkan kewajiban agama. Rasa malu tidak berbagai angpao mengalahkan rasa malunya tidak membayar zakat. Ini tentu menjadi tugas para tokoh agama untuk menyadarkan masyarakat agar tidak terperosok dengan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Barangkali ada satu kompromi yang bisa diajukan di sini, yakni pembagian angpao atau sedekah kepada handai tolan, khususnya yang kurang mampu diniatkan sebagai zakat. Misalnya, si Ahmad berkewajiban untuk mengeluarkan zakat malnya sebesar 1 juta rupiah. Ia kemudian mendata orang-orang di kampungnya yang layak memperoleh santunan. Ia bisa rupakan zakatnya dalam bentuk barang maupun uang. Dengan demikian, saat Ahmad pulang kampung, uang zakatnya sudah dipersiapkan untuk diberikan kepada mereka yang berhak menerima. Hal ini berarti pembagian angpao/sedekah bisa sekaligus sebagai pembayaran zakat.
Satu hal yang harus diingat dalam kasus ini adalah bahwa penerima zakat hanya terbatas kepada kelompok tertentu, yakni delapan golongan yang antara lain adalah fakir miskin dan orang yang banyak hutang. Kita tentu tidak bisa membagikan angpao yang diniati zakat kepada ayah ibu kita atau saudara kita yang secara ekonomi telah mapan. Zakat semacam ini tentu salah sasaran. Di sinilah kemudian pemahaman zakat secara komprehensif patut dimiliki oleh setiap insan yang mengaku dirinya muslim. Wa Allah A'lam.
Satu hal yang mereka sering lupa adalah zakat mal. Tidak jarang dari kita yang diberi karunia Tuhan berupa harta benda yang melimpah. Rumah luas, mobil mewah, dan seperangkat perhiasan yang tersimpan di almari nampaknya tidak menggerakkan hatinya untuk berzakat. Mungkin, keyakinannya menuturkan bahwa dirinya hanya punya kewajiban zakat fitrah, bukan zakat mal.
Fenomena lainnya adalah banyak orang yang begitu sibuknya dengan mudik. Biaya sebesar apapun ditanggungnya demi mudik ke kampung halaman. Segepok uang pun disiapkan termasuk oleh-oleh untuk orang-orang tercinta di tanah kelahiran. Baju baru pun siap dikenakan untuk merayakan hari besar umat Islam, idul Fitri. Pertanyaannya, sudahkah mereka membayar zakat mal? Terkadang tidak logis ketika kita melihat bahwa zakat mal begitu berat terasanya namun untuk keperluan lebaran begitu ringannya. Padahal, jika dikalkulasi, besarnya zakat mal jauh lebih kecil ketimbang biaya opersional lebaran. Kalau sedemikian fenomenanya, hal-hal yang wajib telah dikalahkan dengan hal-hal yang sunah. Ini berarti telah terjadi 'malapetaka' di tengah-tengah umat kita.
Lebaran dengan beragam acara ritualnya tidak dilarang. Memakai baju bagus dibolehkan dalam Islam. Berbagi angpao kepada handai tolan dan kerabat sangat disarankan. Namun, jelas, itu semua harusnya baru dilakukan setelah seluruh kewajiban kita telah dilaksanakan. Bukan malah sebaliknya, rutinitas sosial diutamakan mengalahkan kewajiban agama. Rasa malu tidak berbagai angpao mengalahkan rasa malunya tidak membayar zakat. Ini tentu menjadi tugas para tokoh agama untuk menyadarkan masyarakat agar tidak terperosok dengan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Barangkali ada satu kompromi yang bisa diajukan di sini, yakni pembagian angpao atau sedekah kepada handai tolan, khususnya yang kurang mampu diniatkan sebagai zakat. Misalnya, si Ahmad berkewajiban untuk mengeluarkan zakat malnya sebesar 1 juta rupiah. Ia kemudian mendata orang-orang di kampungnya yang layak memperoleh santunan. Ia bisa rupakan zakatnya dalam bentuk barang maupun uang. Dengan demikian, saat Ahmad pulang kampung, uang zakatnya sudah dipersiapkan untuk diberikan kepada mereka yang berhak menerima. Hal ini berarti pembagian angpao/sedekah bisa sekaligus sebagai pembayaran zakat.
Satu hal yang harus diingat dalam kasus ini adalah bahwa penerima zakat hanya terbatas kepada kelompok tertentu, yakni delapan golongan yang antara lain adalah fakir miskin dan orang yang banyak hutang. Kita tentu tidak bisa membagikan angpao yang diniati zakat kepada ayah ibu kita atau saudara kita yang secara ekonomi telah mapan. Zakat semacam ini tentu salah sasaran. Di sinilah kemudian pemahaman zakat secara komprehensif patut dimiliki oleh setiap insan yang mengaku dirinya muslim. Wa Allah A'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)