Jumat, 11 November 2011

MUSIBAH ITU....

Hari itu, tepat dua minggu lalu
Salah satu hari terkelam
Dalam sejarah hidupku


Kamis malam,
Saat mentari mulai terbenam
Di jalan raya yang sangat ramai
Di sela-sela kendaraan yang berpacu tinggi

Tak terpikir olehku akan datangnya petaka
Ya, musibah kecelakaan yang hampir saja membuatku tak bernyawa


Kuterpelanting keras bak terjun bebas
Kepala duluan mencium aspal nan terjal
Tangan dan kaki terluka parah
Pakaian robek dan berdarah

Sesaat kutak sadar
Lalu kubuka mata memeriksa keadaan sekitar
O...ternyata aku baru saja terlempar
 Tergolek lunglai tanpa tikar

Sejumlah orang berkerumun
Bertanya apakah aku bisa bicara
Apakah aku bisa berjalan?
Apakah aku perlu bantuan untuk dipapah pulang?

Aku diam
Lidahku kelu
Sambil menahan perihnya luka yang menganga
Kubilang aku sudah siuman

Aku ingin pulang
Meski baju compang-camping
Walau darah belum kering
Aku harus pulang

Duh, seandainya mobil di belakangku tak segera mengerem
Andai kendaraan lain tak mau mengalah
Mungkin aku sudah pindah alam
Dan... menyatu kembali dengan tanah

Kurasa hidupku sekarang tinggal sisa
Untung malaikat maut bersedia istirahat sementara
Sampai detik ajalku benar-benar tiba
Lalu, apa yang bisa kuperbuat untuk bekal kehidupan abadi
Yang hampir saja kuawali...?

Duh Gusti...
La Haula wa La Quwwata illa Bika ya Robbi...

Sabtu, 05 November 2011

KURBAN DUA SAPI EL-ZAWA

Sebagai salah satu bentuk kepedulian UIN Malang kepada masyarakat, tahun ini eL-Zawa menyerahkan 2 sapi untuk dikurbankan. Hal ini  menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya satu ekor. Sapi-sapi itu merupakan hasil peternakan eL-Zawa di daerah Tumpang, Kab Malang yang sudah dirintis dua tahun yang lalu. Sapi pertama akan diserahkan ke masyarakat desa Kucur, Kec. Dau, Kab. Malang. Desa Kucur adalah sasaran empuk program kristenisasi yang cukup sukses. Masyarakat di daerah ini didominasi oleh aliran kejawen yang mudah dibelokkan menjadi kristen dengan santunan dan bingkisan sosial yang deras. Komposisi Muslim hanya tinggal sekitar 30% setelah sekian tahun termakan program kristenisasi. Oleh sebab itu, eL-Zawa bertekad membantu meringankan beban hidup mereka dengan menyembelih kurban di daerah tersebut. Sejumlah program juga sudah disiapkan untuk membantu masyarakat desa Kucur.

Sapi yang kedua akan disembelih di kampus. Sapi ini akan dibagikan kepada kaum dhuafa dan yatim yang menjadi binaan eL-Zawa. Saat ini, eL-Zawa mempunyai 40 anak yatim dan dhuafa yang disantuni. Selain itu, karyawan kontrak dan harian lepas akan mendapat porsi serupa. Karyawan kontrak dan harian lepas yang menjadi ujung tombak administrasi dan kebersihan UIN sangat layak untuk menikmati sepotong daging di hari raya kurban sebagai penghargaan dari jerih payahnya yang belum mendapatkan imbalan maksimal. Gaji mereka yang terbatas rasanya sulit untuk menghidupi keluarga secara layak. Untuk itu, eL-Zawa turut membantu membahagiakan mereka dengan berbagi daging kurban. Semoga  kegiatan semacam ini dapat berlangsung terus di masa-masa mendatang. Amin.

Kamis, 03 November 2011

BUKU SUFISM AND THE SPIRIT OF CAPITALISM MASUK KATALOG DUNIA

Alhamdulillah,
Tak Kusangka,
Buku yang berjudul "Sufism and the Spirit of capitalism" masuk katalog dunia. Buku tersebut sudah masuk di 14 perpustakaan bergengsi Amerika, termasuk Harvard University, Yale University, University of California, dan Cornell University, University of Iowa. Ah, betapa gembira dan bangganya diriku. Buku itu juga dapat ditemukan di perpustakaan Singapura, Australia, dan Belanda. Siapa sangka buku hasil daur ulang tesis itu kini telah menjadi salah satu koleksi penting ke beberapa kampus papan atas di jagad raya ini? Sebut saja, Monash University, Australia. Kampus megah dan mentereng ini sudah menyimpan buku tersebut. Harvard University yang merupakan kampus terbaik dunia sudah membeli buku tersebut. Semoga saja, tulisan yang sederhana itu bisa memberikan manfaat yang sesungguhnya. Amin. 


Rabu, 02 November 2011

PELATIHAN MEMBUAT TAHU SEHAT TANPA CUKA

Sabtu lalu, tepatnya tanggal 29 Oktober, eL-Zawa menggelar kegiatan pembuatan tahu nigarin. Tahu ini tergolong unik karena tidak mengeluarkan limbah. Biasanya, tahu yang biasa dikonsumsi adalah tahu yang dalam proses pembuatannya menggunakan cuka. Air perasan tahu ini pasti dibuang karena tidak bisa diminum. Jumlah air limbah tahu dari cuka ini tidak tanggung-tanggung, bisa sampai tujuh kali air yang dibutuhkan untuk pembuatan tahu yang menggunakan nigarin. Apa sebenarnya nigarin?

Nigarin adalah  ekstrak air laut yang mengandung mineral mikro yang sangat dibtuhkan oleh tubuh. Meliki kandungan lebih dari 80 jenis mineral, termasuk Magnesium, Kalium, Besi, Kalsium, Boron, Selenium & Zinc. Merupakan cairan isotonis yang dapat membantu menjaga keseimbangan reaksi metabolisme di dalam tubuh. Khasiatnya banyak sekali, antara lain melangsingkan badan, detoksifikasi (mengeluarkan racun tubuh, merawat kulit, mencegah osteoporosis, mencegah/mengatasi diabetes, dan memblokir/membakar lemak. Dari sekian khasiat di atas, nigarin juga bisa dijadikan sebagai bahan pembuat tahu.

Dalam proses pembuatan tahu, nigarin difungsikan sebagai pengental sari kedelai yang sudah dididihkan sebagai pengganti cuka. Pada awalnya, kedelai yang sudah direndam beberapa jam digiling menggunakan blender atau juicer. Air perasan itu dipanaskan hingga mendidih. Setelah itu, beberapa tetes (sekitar 10-20 ml) nigarin dimasukkan ke dalam air itu. Air susu kedelai itu langsung menghasilkan gumpalan-gumpalan protein bahan tahu di bagian atasnya. Gumpalan itu diambil dengan serok/penyaring dan dimasukkan ke dalam cetakan tahu dan dipres. Jadilah tahu sehat dan higienis yang siap dimakan langsung. Adapun air yang tersisa, bisa dibuat muniman sari kedelai dengan mencampurkan gula dan aneka perasa.

Pelatihan pembuatan tahu yang digelar eL-Zawa ini diharapkan akan memberikan wawasan bagi para peserta untuk menjadi pengusaha-pengusaha baru dengan permodalan yang sudah disiapkan eL-Zawa. Dengan begitu, sinergi antara lembaga pengelola zakat dan pengusaha akan dapat melahirkan masyarakat yang benar-benar berdaya dan sejahtera. Semoga tercapai...amin...
 

Kamis, 29 September 2011

ANAK NAKAL=ANAK HEBAT, LHO KOK BISA?

Seringkali kita dengar banyak orang tua yang begitu kesal melihat tingkah polah anaknya yang dianggap sudah berada di luar kontrol. Anak, apalagi di usia empat hingga enam tahun , akan mengalami masa petualangan yang dasyat. Mereka akan berusaha mengeksplorasi lingkungannya dengan segala kemampuan indrawinya. Ia akan sering ditemukan di selokan, tempat sampat, lapangan bola, atau gorong-gorong dengan pakaian yang luar biasa kotor. Ia mungkin juga sering kepergok mengobrak-abrik lemari ibunya sambil menghabiskan lipstik dan sejumlah peralatan kecantikan.  Mainan yang baru dibeli satu jam yang lalu sudah rusak berantakan. Ketika bertamu, tak ada rasa malu sedikit pun mengambil makanan sebanyak-banyaknya sambil mengacak-acak ruang keluarga. Peringatan orang tua untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya ibarat lagu dangdut yang kian membuat mereka rajin mencari “mainan” baru yang menantang. Gejala apa ini?

Menghadapi anak di usia “nakal” ini  seringkali membuat kepala ini serasa mau pecah. Kesal bercampur marah dan malu. Anak-anak itu begitu senang ketika perbuatannya telah membuat gelisah orang seisi rumah. Mereka bak pahlawan yang telah berhasil memborbardir medan pertempuran. Teriakan ibunya dibalas dengan gelak tawa. Kadangkala, anak-anak semacam ini usilnya bukan main. Ketika ada orang berjalan di depannya, tangan mungilnya menarik baju orang tersebut. Saat jalan-jalan di Mall, semua makanan dan mainan dimasukkan keranjang. Bila tidak dituruti, tangisnya meledak sehingga membuat merah padam muka orang tua. Hemm, adakah cara “menikmati” situasi seperti ini? Ada, dong!!!

Pertama, anak adalah anugerah. kalimat ini jika diresapi lebih jauh pastilah akan membuat hati kita akan syukur. Bersyukur punya keturunan, bersyukur memiliki teman bermain, dan bersyukur dipercaya membimbing satu generasi yang akan mengisi dunia masa depan. Tanpa kita, mereka tidak akan pernah ada. Sebagai anugerah, sudah selayaknya kita merawat dan menyayangi sang buah hati, apapun kondisinya. Dulu, sebelum mereka dititipkan kepada kita, bukankah siang malam hati berdebar jangan-jangan kita tak akan mempunyai penyambung garis keturunan? Tatkala kita diberi tahu bahwa ada janin milik kita, tentu sungguh gembira, bukan? Apalagi, ketika bayi mungil nan suci lahir ke dunia, tangisannya meredakan segala rasa sakit dan lelah yang kita derita. Gembira! Ya, sangat gembira!

Nah, ketika anak beranjak tumbuh besar, kelucuannya kian nampak. Cara merangkak, latihan berdiri, hingga komat-kamit melafalkan kata yang kita ajarkan membuat kita tersenyum. Sungguh pengalaman yang tak ternilai harganya. Namun, di saat anak memasuki usia pra sekolah, kelucuannya yang dulu lugu kini terasa menyebalkan dan kadang memang dibuat-buat. Tawa renyah kini berganti wajah yang tegang. Kalau itu terjadi pada kita, ada baiknya kita “flash-back” pada pengalaman masa lalu, saat indahnya awal menikmati hidup sebagai orang tua. Dengan begitu, kita akan bisa meredam hati yang mulai gerah.

Kedua, hindari mengukur cara berpikir anak dengan pola pikir kita. Anak adalah anak. ia akan tetap anak dengan dunianya sendiri. Haruskah mereka kita paksa untuk mengikuti gaya hidup kita? Lumrahkah mereka kita tekan agar bisa memahami kemauan orang tua? Jawabnya, mungkin, tapi caranya harus sesuai dengan tingkat berpikir anak.   Sungguh aneh sekali jika kita ajari anak untuk bisa berperilaku seperti kita yang sudah dewasa dan kaya pengalaman. Intimidasi kita bisa berakibat buruk pada tumbuh kembang mereka. Trauma masa kecil tak akan bisa mudah hilang dari ingatan mereka dan bahwa bisa menghancurkan masa depannya. Oleh sebab itu, kita harus bijak menghadapi tingkah laku anak-anak kita yang tergolong “nakal”.

Anak yang aktif sebenarnya justru merupakan indikasi bahwa otak mereka hebat. Ia tak ingin bertingkah biasa-biasa saja. Ia justru haus tantangan dan ingin memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, tutur kata yang lembut akan membuat anak tetap nyaman menikmati dunianya. Bolehlah sekali-kali kita bertindak akan tegas kepada anak jika perilaku anak sudah dianggap kelewatan. Pemanjaan berlebihan juga bukan pilihan bijak. Ibaratnya kita sedang bermain layang-layang, sikap kita kepada anak kadangkala perlu sedikit keras namun harus segera dibarengi dengan sikap penuh kasih sayang. Kelak, ketika anak-anak kita dewasa, mereka akan bisa memahami betapa perilaku mereka dahulu memang tidak elok untuk dilakukan.

Kesimpulannya, sebagai orang tua, kita harus pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah SWT berupa anak yang harus kita didik sedemikian rupa sehingga akan menjadi generasi penerus yang membanggakan. Reaksi berlebihan terhadap tingkah polah anak dapat menyebabkan anak-anak kita trauma yang bisa jadi akan membunuh kreatifitas mereka. Semoga kita dapat menjadi pintu bermulanya generasi unggul masa depan. Amin!!!

Introduction