Minggu, 21 Maret 2010

UJIAN KESABARAN


Yuk Ning sejak pagi bermuram durja. Pikirannya kalut karena Gus Muh tidak pulang-pulang. Sudah tiga hari ini Gus Muh pergi ke luar kota dengan membawa truk untuk mengantar barang-barang pesanan kolega Bos Jono. Yuk Ning percaya kalau suaminya itu sudah tobat, tidak lagi mabuk dan judi seperti dulu. Pengajian rutin yang diadakan ustad Usman rajin diikutinya. Setahap demi setahap perilaku shalehnya makin terlihat. Tapi, mengapa gus Muh tidak kunjung pulang? Janjinya sih cuma satu hari.

Bukannya kangen seperti anak remaja yang lagi jatuh cinta, Yuk Ning hanya khawatir kalau penyakit gus Muh kumat. Lalu siapa yang menolong? Obat yang biasa diminum rupanya tertinggal di laci lemari. Yuk Ning juga lupa mengingatkan untuk membawanya. Usia gus Muh sudah mulai tua. Tetapi semangat kerjanya kian giat. Makanya bos Jono sering kali meminta gus Muh untuk menjadi sopir truknya.

“Yuk…Yuk…” suara panggilan di luar rumah sambil tergopoh-gopoh. Yuk Ning yang sedari tadi melamun sambil membereskan baju cuciannya langsung lari menuju pintu.

“Ada apa kang Karyo? Kok sepertinya ada yang kurang beres?” tanya yuk Ning dengan nada khawatir.

“A..a..nu…Yuk, Gus…Gus Muh…ditangkap polisi…!” jawab kang Karyo terbata-bata. Yuk Ning terkejut bukan kepalang.

“Lho…emang kenapa, Kang…apa salah suamiku? Mabuk lagi?”

“Gus Muh nabrak sepeda motor…, Yuk, pengendaranya meninggal!”

“Ayo, Kang, anter aku ke kantor polisi…!!!” pinta yuk Ning buru-buru.

Kang Karyo merasa kasihan kepada yuk Ning dan gus Muh. Baru saja gus Muh sembuh dari sakit, lalu dapat pekerjaan di bos Jono, kini ia harus berurusan dengan polisi. Bagi orang awam seperti dia, polisi sungguh menjadi momok. Entahlah, dirinya sudah tak percaya lagi dengan kelakukan polisi. Polisi sama dengan uang. Urusan akan beres bila ada uang yang cukup. Lalu gus Muh dapat darimana? Kerja saja belum genap sebulan. Sekarang ….ah…sudahlah…

***

“Yang sabar ya, Kang!” kata yuk Ning saat bertemu suaminya di ruang tahanan sambil terisak.

“Aku nggak apa-apa kok, Dik! Memang Allah sedang menguji kita. Semoga cobaan ini segera berlalu.” Bisik Gus Muh menenangkan istrinya. Ia tatap mata istrinya dalam-dalam. Ada ribuan untaian kalimat yang terhubung antara kedua pasang mata itu. Senyumnya tetap mengembang, seperti tidak ada kejadian apapun.

Yuk Ning begitu bangga pada suaminya. Ia sudah berubah total. Pasrahnya kepada sang Maha Pencipta begitu tulus. Tidak seperti dulu, sedikit-sedikit menyalahkan Tuhan, sedikit-sedikit memprotes keadilan Tuhan. Yuk Ning berdoa semoga Gus Muh makin khusyuk di usianya yang kian lanjut. Cobaan dan ujian semoga menjadi pintu taubat baginya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Introduction